
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (36)
Dewi memang benar-benar depresi sampai melakukan upaya yang nekad itu. Namun, saat ternyata Rama justru bersimpati padanya, ia pun memanfaatkan apa yang menimpa dirinya.
Di balik pintu, seseorang mendengarkan apa yang Dewi katakan. Rasa bersalah pun menghampirinya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
...Assalamu'alaikum...
...Maaf, aku memilih pergi untuk menenangkan diri. Seharusnya mas ingat janji yang pernah mas ucapkan dulu saat meminta aku untuk memberimu kesempatan....
...Aku menunggu mas untuk jujur, tapi mas memilih bertindak tanpa bicara padaku. Menanyakan pendapatku. Aku kecewa....
...Aku pernah bilang, aku lebih baik kehilanganmu daripada kehilangan janin yang aku kandung. Begitu pun dengan saat ini. Bagiku Apa yang ada di dalam rahimku jauh lebih penting....
...Kita sudah menikah, apapun yang akan kamu lakukan apalagi itu melibatkan perempuan lain, harusnya kamu melibatkan aku....
...Jangan cari aku. Aku akan pulang jika sudah merasa jauh lebih baik....
...*Tenang saja, aku akan baik-baik menjaga diri dan dia *...
...Wassalamu'alaikum...
...Salma...
Rama menatap surat itu dengan perasaan bersalah. Merasa bodoh melakukan kesalahan lagi di saat ia telah di berikan kesempatan.
Setelah diam beberapa saat, ia pun akhirnya meninggalkan ruang rawat Salma yang sudah kosong. Bahkan tas pakaian milik Salma dan tas berisi pakaian kotornya pun sudah tidak ada.
Dalam perjalanan pulang, Rama masih memikirkan bagaimana menyampaikan apa yang terjadi pada ibunya.
Hari ini, seharusnya ia pulang bersama bersama Salma yang memang sudah di izinkan pulang.
Rama menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Setelah merasa lebih tenang, ia mulai masuk ke dalam rumah, dimana sudah ada ibu dan anaknya.
" Kamu baru pulang?," tanya Bu Marisa.
" Maaf..." Rama bingung harus berkata apa.
" Ayah, malam ini aku tidur sama ayah ya?," Faisal menghampiri ayahnya yang masih berdiri di ruang tamu.
" Kenapa? Tumben mau tidur sama ayah?," Rama duduk di sofa sambil mendudukkan Faisal di pangkuannya.
"Bunda bilang, selama bunda pergi, katanya Ical di suruh menemani ayah. Kasihan ayah tidak ada temannya."
Deg
__ADS_1
Rama melihat ke arah Bu Marisa yang mengangguk.
Apa Salma menghubungi Mama?
Rama kembali mengalihkan pandangannya pada Faisal.
" Kalau begitu, sekarang Ical ke kamar duluan, nanti ayah nyusul. Ayah mau bicara dulu dengan nenek."
" Siap." Faisal langsung naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.
" Ma..."
" Salma tadi menelpon." Jelas Bu Marisa singkat seolah tahu apa yang akan di tanyakan oleh putranya.
" Dia tidak bilang pergi kemana?,'
" Tidak."
Rama menyandarkan punggungnya ke sofa. Sudah jelas Salma menjauhinya.
" Kenapa tidak jujur pada Salma tentang apa yang kamu lakukan?," tanya Bu Marisa lembut.
" Aku tidak ingin membuatnya kepikiran, Ma. Dokter bilang kandungannya lemah. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada calon anak kami."
" Tapi, tindakanmu sudah membuatnya kecewa "
" Kamu tahu, apa yang kamu lakukan akan membuat salah paham?,"
" Rama murni menolongnya, Ma. Bukan karena masih menaruh rasa pada Dewi."
" Menurutmu, apa Salma akan berpikir seperti itu saat kamu melakukannya tanpa persetujuannya? Kamu melakukannya sembunyi-sembunyi?
Lalu, apa Dewi tidak akan berpikir lain lagi saat kamu memperhatikannya?,"
Rama diam. Ia mencerna perkataan ibunya.
" Salma mungkin akan salah faham atas apa yang kamu lakukan. Itu malah akan menambah beban pikirannya. Dewi pun akan berpikir lain dan merasa memiliki kesempatan untuk dekat denganmu lagi."
" Aku tidak tahu Salma akan mengetahuinya."
" Ibarat bangkai, apa yang kamu lakukan akan diketahui juga oleh Salma. Cepat atau lambat."
" Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingin kehilangannya, Ma?," Rama menutup mukanya dengan kedua tangannya.
" Akhiri apa yang kamu lakukan pada Dewi saat ini juga. Lalu tunggu saja Salma kembali."
" Aku akan menemui Tante Ana besok."
__ADS_1
" Lebih baik begitu. Tunjukkan keseriusan mu."
" Lalu, apa aku hanya diam saja menunggu kepulangan Salma yang entah kapan? Salma sedang hamil Ma, bagaimana kalau dia mengidam sesuatu dan tidak ada yang bisa mewujudkan keinginannya."
" Untuk sat ini lebih baik begitu. Kamu tidak boleh memaksanya pulang. Mama yakin dia di tempat yang aman. Berdo'a saja agar ada yang membantunya memenuhi ngidamnya."
" Aku tidak rela kalau sampai ada orang lain yang memenuhi ngidamnya Salma. Apalagi laki-laki." Tiba-tiba terbayang ada laki-laki yang membantu Salma membelikan ini dan itu, juga makanan ini dan itu.
Ini tidak bisa di biarkan. Batinnya.
Bu Marisa tersenyum. " Kalau kamu tidak rela ada laki-laki lain yang menggantikan peranmu. Maka Salma pun tidak pernah rela melihat suaminya perhatian pada wanita lain selain istrinya."
Jlebb
" Saat kamu berumah tangga, apapun yang akan kamu lakukan apalagi mengenai perempuan atau hal apapun yang akan membuat salah paham diantara kalian, bicarakanlah. Jangan mengambil keputusan sendiri.
Ketika kamu mengambil keputusan sendiri untuk masalah yang menyangkut kalian bersama, Salma pasti akan merasa tidak di hargai keberadaannya sebagai istrimu."
Rama mengangguk membenarkan perkataan ibunya.
...******...
" Maaf. Mulai detik ini aku tidak akan lagi mau menemani Dewi. Lebih baik Tante bawa Dewi ke psikiater. Kalau Dewi masih melakukan hal-hal nekad lainnya." tegas Rama.
Ia memilih menemui Bu Ana daripada Dewi. Ia melakukan semua ini pun atas permintaan Bu Ana. Kini keduanya bertemu untuk membicarakan masalah Dewi di restoran dekat rumah sakit.
" Aku harap Tante bisa memahami keputusan yang ku ambil. Aku tidak ingin salah langkah lagi."
Bu Ana menganggukan kepalanya. Ia pun jadi merasa bersalah pada Salma atas permintaan bodohnya. Hanya demi Dewi yang ternyata memanfaatkan keadaan, dia sudah melibatkan Rama yang notabene adalah suami dari seorang perempuan yang pastinya tidak rela jika suaminya memperhatikan perempuan lain.
Apalagi Rama menceritakan bahwa Salma pergi. Semakin merasa bersalah lah ia pada Salma.
" Maaf sudah melibatkan mu. Tante akui Tante salah. Tante pikir Dewi benar-benar depresi. Tapi, sepertinya dia masih baik-baik saja. Dia hanya memanfaatkan keadaannya untuk bisa kembali dekat denganmu.
Salma benar, Tante malah membuatnya merasa mendapat angin segar saat kamu bersimpati padanya."
" Untuk masalah Dewi, saya tidak akan ikut campur lagi. Terserah Tante mau bagaimana. Sementara untuk Ical, saya hanya akan membuka jalur komunikasi melalui Tante. Bagaimana pun Tante adalah neneknya. Namun, aku akan menutup akses komunikasi ku dengan Dewi untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan." tegas Rama.
Keduanya kembali setelah berbicara panjang lebar.
" Bu, kenapa Rama tidak kesini lagi?," tanya Dewi saat Bu Ana masuk ke ruang rawatnya.
" Mulai saat ini, Rama tidak akan lagi menemuimu. "
" Kenapa? Pasti karena Salma melarangnya kan? Dia takut Rama kembali padaku?. Ya, dia pasti takut karena Rama masih perhatian padaku. Dia takut menerima kenyataan bahwa Rama masih mencintaiku." Ucapnya percaya diri
TBC
__ADS_1