
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (62)
" Hehe, ayah tidak bisa mengambilnya bunda" Faisal nyengir
" Lalu ini boneka dapat dari mana?,"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Tadi, aku kaget waktu Ical bilang kalau mas main capit boneka. Aku pikir mas berhasil karena Ical membawa boneka untuk Airin," Salma meletakkan secangkir kopi di atas meja dan potongan buah-buahan.
" Hehe itu mas beli. Soalnya beberapa kali gagal terus. Daripada buang-buang waktu dan uang mending langsung beli saja. Kebetulan toko bonekanya ada di sebelah."
" Tumben mas main itu?,"
" Di paksa Ical. Katanya mau ngasih boneka untuk Airin. "
" Pantas saja."
"Kalau Ical tidak memaksa, mas juga takkan main itu."
Rama memang sangat menyayangi Faisal dan ia hanya ingin menyenangkan Faisal. Setidaknya berusaha lebih dahulu. Walaupun pada akhirnya boneka yang di berikan hasil.membeli dari toko boneka.
" Soal permintaan Tante indah, kamu menyanggupi untuk memberikan keponakannya pekerjaan?," tanya Salma.
Rama melihat ke arah Salma. Ia tersenyum.
" Tetap sesuai prosedur, sayang. Sesuai kemampuannya."
" Boleh aku minta kalau seandainya dia memang luus ujian, jangan tempatkan dia di di posisi yang membuatnya bisa sering bertemu denganmu?," pintanya.
Flashback on
Salma kembali setelah selesai menidurkan Airin. Ia pun mengajak Faisal keluar agar tidir Airin tidak terganggu.
Dari kejauhan, ia melihat seorang perempuan yang katanya keponakan dari Tante Indah terus melihat ke arah Rama.
" Jadi, bisakan kamu menerima Tantri untuk bekerja di tempatmu?," tanya Tante Indah, entah apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
" Untuk itu, aku tidak bisa memberikan jaminan. Soalnya bukan hanya aku pemiliknya." kilah Rama.
Sebenarnya ia bisa saja menerima Tantri dengan mudah. Andre pun memberikan hak penuh padanya. Namun, ia tidak ingin gegabah mengambil keputusan.
Rama menggeser memberi ruang agar Salma duduk di sampingnya.
" Tolong bantu Tante, ya." pintanya lagi.
" Masukkan saja dulu surat lamarannya." Rama diam sejenak. "Kenapa tidak mencoba melamar ke tempat lain? Gaji yang ditawarkan di luar pasti lebih besar dari pada rumah makan ku yang kecil.?"
Sangat aneh menurut Rama. Gelar sarjana hanya ingin bekerja sebagai pelayan.
" Saya hanya ingin suasana baru saja," jawab Tantri.
Rama hanya mengangguk. Namun, Salma melihat gelagat lain dari perempuan itu.
Dia pasti punya maksud lain. Batin Salma.
__ADS_1
Sebagai perempuan, ia tahu tatapan mata itu. Juga saat ia memergoki Tantri yang mencuri pandang pada suaminya.
Salma harus mulai waspada.
Flashback end
" Kamu cemburu?," tanya Rama
" Jangan nanya Kalau mas tahu jawabannya." Jawab Salma membuat Rama terkekeh.
Istrinya jadi semakin terlihat menggemaskan.
" Aku juga tidak akan mungkin memberi ruang pada perempuan seperti itu." Jawab Rama memeluk Salma dari samping.
" Aku hanya takut kamu jatuh hati padanya. Dia cantik sedangkan aku? Tubuhku makin gemuk, pipi chubby. Pasti tidak menarik di matamu." jelas Salma.
Salma merasa insecure dengan dirinya saat ini. Melihat Tantri ia jadi rendah diri.
" Jangan memikirkan yang bukan-bukan. Kamu begini karena aku. Mana mungkin aku akan meninggalkanmu, sayang."
Salma hanya diam. Ia sibuk memikirkan hal lain. Tentang perubahan tubuhnya. Juga banyaknya perempuan yang pastinya ada di sekitar suaminya saat berada di luar. Perempuan yang pastinya lebih menarik darinya.
Ia baru sadar saat tadi ada sepupu perempuan Rama yang seumuran dengannya. Salma mulai berpikir, di tempat kerja pun pastinya akan lebih banyak perempuan yang ada di sekitar suaminya.
Genggaman tangan sang suami menyadarkan Salma dari lamunannya.
" Aku mencintaimu bukan karena bentuk tubuhmu. Jangan berpikir untuk diet atau apapun." Rama mengecup puncak kepala Salma.
" Soal Tantri?,"
"Benarkah?,"
" Iya. Om juga khawatir kalau dia hanya mencari kesempatan. Apalagi rumah tangga Tantri sedang tidak baik-baik saja."
Sementara itu di kediaman Bagus, ia sedang berbicara dengan istrinya.
" Aku sudah melarang Rama menerima Tantri bekerja di tempatnya."
" Kenapa?,"
" Aku tahu maksudmu. Jangan menghancurkan kehidupan keponakanku lagi. Jika dulu aku diam karena aku tak tahu apa yang kamu lakukan pada kakak dan keponakan ku. Saat ini jangan harap bisa bertindak semaumu.
Aku tahu kamu sedang mendekatkan keduanya apalagi rumah tangga Tantri sedang dalam masalah. "
" Aku hanya membantu Tantri mencari pekerjaan. Apa salahnya?," kilahnya.
" itu hanya alasan kalian saja. Dengar! Jika kamu tetap melakukan niatmu menghancurkan rumah tangga keponakanku, maka bersiaplah menunggu kehancuran rumah tangga kita.
Jika pun saat ini kita akan bercerai aku tak masalah. Anak-anak sudah dewasa dan hidup sendiri. Tidak ada beban atau alasan yang membuatku tetap bertahan di sisimu."
Bagus meninggalkan istrinya. Ia terkadang jengah dengan sikap sang istri. Namun, dulu ia masih memikirkan nasib anak-anak mereka yang masih kecil.
Namun, sekarang ia merasa tidak masalah jika akhirnya semua harus ia akhiri.
Indah akhirnya diam. Di usia tuanya haruskah ia habiskan dengan seorang diri?
__ADS_1
Pernikahan akan bertahan jika keduanya saling menghargai ikatan ini. Saling memperbaiki dan introspeksi diri. Jangan hanya menuntut.
Sabar memang tak ada batasnya. Tapi, kesabaran bukan berarti pasrah. Membiarkan pasangan dengan tabiat buruknya hanya agar pernikahan tetap bertahan.
...******...
Hari hari berlalu. Semenjak Salma melihat tatapan memuja Tantri tempo hari, ia jadi posesif.
📱" Sayang, kenapa belum pulang?," tanya Salma
Waktu menunjukkan pukul setengah enam. Biasanya Rama sudah ada di rumah dari pukul lima sore.
📲 " Masih di jalan. Terjebak macet." Jawab Rama sambil mengirimkan foto diama ia berada.
📱" Hati-hati," ucapnya mengakhiri telponnya setelah yakinsang suami memang ada di jalan menuju rumahnya.
Di ujung sana Rama hanya menggelengkan kepalanya menyadari keposesifan Salma. Rama pun tak pernah mempermasalahkan selama masih dalam batas wajar.
Jika Rama sedang menikmati keposesifan sang istri, maka Dewi sedang merasakan kesakitan yang seolah tak berakhir.
" Ada apa denganku?" Lirih Dewi yang hanya berbaring di tempat tidur beberapa hari ini.
Demam yang di sertai sakit kepala yang ia rasakan tidak kunjung membaik. Sekujur badannya pun terasa linu.
" Kalau flu biasanya segera sembuh dengan obat-obatan yang biasa aku makan." monolognya.
Setelah merasa tidak enak badan, Dewi memang meminta beberapa obat pada orang yang mengawasinya. Sekalipun dalam kondisi seperti itu ia tetap harus melakukan pekerjaan rumah dari mengepel dan memasak untuk dirinya sendiri.
Sekalipun ia melakukannya dengan banyak beristirahat karena entah kenapa Dewi pun merasa cepat lelah.
Semua kebutuhannya di penuhi namun tidak dengan kebebasan keluar rumah.
" Kita jadi pulang hari ini?," tanya Robi pada Reina dan Raja, keponakannya.
" Ya, kita pulang hari ini." jawab Reina setelah merasa tidak ada yang aneh di vila.
Alasan Reina ingin berlibur ke Vila adalah karena ia merasa curiga dengan sang kakak yang sering membicarakan Vila dengan asistennya di telpon. Yang menimbulkan kecurigaan di benak Reina.
Karena itu, secara mendadak ia berkata ingin berlibur di vila untuk memastikan kecurigaannya. Namun, nihil ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan.
" Kalian istirahatlah, kakak masih banyak pekerjaan," Ucap Robi setelah mengantar adik dan keponakannya pulang. Sementara ia sendiri pergi ke perusahaan.
📱"Bagaimana keadaan wanita itu?,"
📲 " Dia sepertinya kurang enak badan, tuan. Dia juga sempat meminta obat-obatan pada kami,"
📱" Hmm. Awasi terus dia. Dan besok lakukan pemeriksaan yang tertunda ke rumah sakit."
📲 " Baik,"
Robi sendiri sebenarnya selalu mengawasi apapun yang di lakukan Dewi melalui Cctv yang ia pasang.
" Semoga kamu sedang merasakan akibatnya." Robi menyeringai sambil melihat laptop yang memperlihatkan kondisi Dewi di sana.
TBC
__ADS_1