Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 42 Hanya mirip ?


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (42)


Salma diam sejenak sambil melihat ke arah suaminya. Salma hanya menggeleng. Sudah jelas sebentar lagi masuk dunia mimpi. Masih banyak meminta. Ralat. Tidak banyak. Hanya satu.


Salma akhirnya hanya tersenyum.


" Benar kan?," monolognya sambil mengusap pipi Rama.


...******...


Pagi ini Salma malas bangun. Setelah melaksanakan sholat subuh tadi, Ia ingin terus berbaring di atas ranjang. Semalam, ia pikir ia tidak akan merasakannya lelah karena suaminya sudah tertidur.


Namun, saat beberapa jam setelah ia ikut tertidur di samping suaminya, Salma terbangun karena tidurnya terganggu. Ia merasa ada yang bermain-main dengan tubuhnya.


Betapa terkejutnya ia, saat ternyata suaminya sedang mengungkung nya. Mereka bahkan sudah tak mengenakan sehelai benang pun.


Rama hanya tersenyum saat tahu Salma terbangun. Ia tetap melanjutkan apa yang ia inginkan. Sepuluh hari berpuasa nyatanya membuatnya tidak tahan. Karena itu saat ia terbangun ia langsung bertindak sekalipun istrinya itu masih tidur.


"Mau sarapan apa?," tanya Rama yang baru selesai dari kamar mandi menyelesaikan hajatnya.


" Apa saja" jawab Salma lirih.


" Sebentar, ya." Rama menelpon pihak hotel untuk memesan sarapan. Setelah selesai menelpon, ia ikut berbaring di samping sang istri.


" Masih lelah?," tanyanya lembut sambil menyisipkan rambut istrinya ke belakang telinga


" Hmm..." jawab Salma hanya berdehem saja. Lebih merapat dan memeluk suaminya.


" Maaf, aku sudah tidak sabar untuk buka puasa. Jadi, aku melakukannya sekalipun kamu belum bangun." Rama mengecup puncak kepala Salma.


" Tidak apa-apa. Aku mengerti. Lagi pula aku tidak mungkin menolak karena aku tak punya alasan kuat untuk menolak, mas"


Rama hanya tersenyum mendengar jawaban Salma. Memang tidak di benarkan seorang istri menolak ajakan suami untuk berhubungan apalagi tanpa alasan yang kuat.


Terdengar pintu kamar di ketuk dari luar. Rama segera membuka pintu dan kembali dengan stroller yang membawa sarapan pagi mereka.


...******...


" Nek, kenapa ayah belum nelpon juga? Apa bundanya tidak ada?" Faisal yang sedang dalam perjalan pulang dari sekolah penasaran karena ayahnya belum juga menelpon.


" Mungkin belum sempat," jawab Bu Marisa. Pasti putranya itu sedang menikmati kebersamaannya tanpa di ganggu siapapun.


" Bagaiman kalau kita saja yang telpon?,"

__ADS_1


Bu Marisa tidak menjawab. Ia melihat jam dulu.


" Baiklah. Nanti kita telpon setelah sampai di rumah."


" Yeay...." teriak Faisal kegirangan.


Saat sampai di rumah, Faisal terus menagih janji sang nenek. Bu Marisa pun akhirnya langsung melakukan video call sebelum keduanya berganti baju.


...******...


" Ical jadi menyusul kesini?," tanya Salma. Ia tadi sedang di kamar mandi saat Faisal menelpon.


" Nanti sore insya Allah berangkat. Nyampe sini malam." jelas Rama sambil sambil memangku laptopnya.


Sebenarnya, rencananya adalah Faisal akan menyusul besok. Namun, karena terus merajuk akhirnya sore itu juga ia akan menyusul bersama Bu Marisa.


Bersyukur, Bu Marisa sudah mempersiapkan semua keperluannya dan Faisal di koper. Sehingga ketika ada perubahan seperti itu, mereka hanya tinggal berangkat saja.


" Kita tidak jadi kemana-mana. Di luar hujan." Salma mengintip ke luar lewat jendela. Hujan deras disertai petir membuat suasana sedikit mencekam.


" Mungkin adik bayi ingin di tengok lagi. Pasti dia kedinginan." Entah sejak kapan Rama beranjak dari duduknya. Kini ia ada di belakang sang istri sambil memeluknya dari belakang.


" Itu mah maunya ayahnya. Bukan anaknya." Perkataan Salma malah membuat Rama tersenyum.


" Tapi, suasananya benar-benar mendukung loh."


" Tapi, mas harus ingat. Dia tidak sekuat janin lainnya."


" Aku mengerti. Aku tidak akan membuatmu terlalu lelah. Aku hanya ingin menghabiskan waktunya berdua seperti ini sebelum Ical menguasaimu." Ucap Rama sambil menciumi puncak kepala Salma berkali-kali.


Tinggi tubuh Salma yang hanya sedada membuat Rama mudah melakukannya.


Salma mengerti. Kalau ada Ical, pasti dia langsung menempel padanya. Apalagi sudah lama tidak bertemu.


" Semoga dia sehat-sehat di dalam sini." Salma merasa nyaman saat tangan suaminya mengusap perutnya. " Ibunya juga harus sehat-sehat terus agar bisa kembali hamil lagi."


" Aamiin" Jawab Salma.


" Semoga setelah ia lahir nanti, kamu bisa cepat hamil lagi. Biar seperti punya anak kembar." harapnya.


Rama ingin rumahnya ramai tidak seperti dirinya yang hanya anak tunggal. Jadi, sering merasa kesepian.


" Ish, yang ini saja masih sebesar buah lemon. Sudah mikir nambah lagi." Rama hanya terkekeh.

__ADS_1


" Ya, emangnya kenapa? Ini kan baru rencana?,"


Salma hanya menggelengkan kepalanya. Sambil melihat hujan, ia mulai berdo'a dalam hati.


Allahumma syoyyiban naafi'aa. Ya Allah turunkan lah kepada kami hujan yang bermanfaat. Ya Allah semoga rumah tangga kami senantiasa mendapatkan keberkahan. Kami senantiasa mampu untuk selalu bersama dalam menghadapi ujian yang menimpa rumah tangga kami. Aamiin


Saat turun hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa karena penuh dengan rezeki dan rahmat.


Rama pun melakukan hal yang sama. Semoga kita akan selalu berkumpul dengan anak-anak kita. Juga dengan Ical. Semoga ia bisa tetap bersama kita sekalipun kita bukan orang tua kandungnya. Aamiin.


Akhirnya, Rama pun kembali menengok anaknya. Ia benar-benar membuktikan bahwa hanya satu kali. Jangan sampai keinginannya justru menyakiti anak yang sangat ia inginkan.


Pagi ini, suasana di kamar hotel yang di tempati Rama jadi ramai. Menjelang Isya, Faisal datang dan langsung menguasai bundanya hanya untuk dia seorang.


Mereka pun tidur dalam satu ranjang sementara Bu Marisa tidur di kamar lain.


" Bunda, ayah ayo katanya kita mau petik buah strawberry!," Seru Ical bahagia mendengar ia akan di ajak memetik buah strawberry.


" Sebentar." Rama mengunci kamar hotel. Sementara istri dan anaknya sudah berjalan dahulu karena Faisal sangat antusias untuk pergi ke tempat wisata.


Berbeda dengan Bu Marisa yang memilih mengistirahatkan tubuhnya. Walau perjalanannya hanya beberapa jam cukup membuatnya lelah.


Di kebun strawberry, Faisal berlari kesana kemari karena senang melihat buah strawberry yang begitu banyak dan sudah siap panen.


Rama pun tak pernah melepaskan pandangannya sedetikpun pada sang putra. Anak seusia Faisal sangat bahaya kalau lengah sekejap saja. Apalagi sangat aktif seperti sekarang.


Salma hanya berjalan-jalan di sekitar kebun strawberry sambil.melihat Faisal dari kejauhan. Rama melarangnya ikut mengejar Faisal. Karena khawatir berbahaya bagi janinnya.


Salma memetik buah strawberry. Salma membawa keranjang kecil berisi strawberry itu ke salah satu meja dan mulai menikmatinya.


" Kamu di sini juga?," seorang pria duduk di samping Salma dengan menjaga jarak. "Rama nya mana?,"


" Ah,iya. Mas Rama ada di sana dengan Ical." Salma menunjuk ke arah anak dan suaminya berada.


" Itu anak Rama dengan...."


" Iya. Anaknya mas Rama dengan Dewi. Sebentar lagi tujuh tahun "


Kenapa melihat wajahnya mengingatkanku pada diriku sendiri saat seusianya. Apa hanya mirip atau....


Batin David, orang yang saat itu berbicara dengan Salma.


TBC

__ADS_1


__ADS_2