
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (52)
Tahun ini, Faisal akan masuk sekolah dasar. Sesuai kesepakatan, Faisal akan di sekolahkan di sekolah milik keluarga besar David.
Kini, apapun yang berhubungan dengan Faisal, Rama selalu melibatkan David selaku ayah kandungnya. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Karena mereka berjanji akan mengasuh Ical bersama-sama.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Perjalanan menuju taman hiburan terasa menyenangkan. Mobil yang hanya berisikan David dan Faisal itu ramai oleh celotehan Faisal.
Sering bertemu, membuat keduanya tidak lagi canggung. Faisal sudah cukup dekat dengan David.
" Papa, apa nanti aku boleh menaiki wahana apapun yang aku mau?," tanya Faisal antusias.
" Tentu " jawabnya membuat Faisal bersorak gembira.
Mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Suasana yang sangat ramai karena akhir pekan tidak menyurutkan langkah keduanya saat harus mengantri agar bisa naik wahana yang di inginkan.
David melihat sekitarnya, banyak sekali pasangan yang menghabiskan waktu di sana. Entah itu pasangan kekasih ataupun pasangan suami-istri. Bahkan ada keluarga kecil.
Sudut bibir David terangkat melihat bahagianya keluarga kecil di depannya naik bianglala.
David juga berharap bisa memiliki keluarga kecil bahagia seperti itu. Namun, entah dengan siapa. Jika dulu ia sangat mudah bergunta-ganti pacar, kini ia lebih berpikir matang.
Ia mencari pasangan yang bisa menerima anaknya. Walaupun di KTP masih lajang, nyatanya ia seorang ayah.
" Kamu senang?," tanya David saat melihat Faisal antusias melihat pemandangan dari atas.
" Sangat.' jawab Ical.
Selepas menaiki bianglala, mereka mencoba menaiki bom bom car. Faisal sangat senang saat mobil-mobilan yang mereka naiki menabrak mobil lain.
Tidak lupa mereka pun menaiki komedi putar. Wahana yang tidak menyeramkan namun menenangkan untuk anak seusai Faisal.
Meninggalkan pasangan ayah dan anak yang tampak sedang menikmati waktunya, sepasang suami istri yang hanya tinggal berdua di rumah pun tampak menikmati momen berdua mereka.
" Aku harap, kita bisa merasakan ketenangan ini selamanya." Ucap Rama sambil merangkul pundak Salma di ruang tamu.
Menonton film menjadi pilihan keduanya.
" Aamiin " Salma mengaminkan.
Rasanya tenang saat gangguan dari mantan suaminya itu tak lagi ada.
Mencoba berbaik sangka. Mungkin Dewi sudah menyerah dan tidak berniat lagi mengusik kehidupan keluarga mereka.
__ADS_1
Walaupun dalam lubuk hati yang paling dalam, mereka sangsi.
" Besok, mama mengajak untuk membeli keperluan anak kita yang kurang. Menurut mas bagaimana?,"
Salma sebenarnya ingin langsung mengiyakan ajakan ibu mertuanya. Ia hanya bosan karena selalu berdiam di rumah. Keluar jika bersama suaminya, selebihnya tidak.
Namun, akhir-akhir ini, Rama cukup di sibukkan dengan pekerjaannya. Lahan di samping rumah makannya sudah berhasil ia dapatkan walaupun dengan harga yang lumayan karena memang posisinya yang strategis.
Namun, berbicara bisnis peluangnya cukup bagus. Karena itu, Rama tak ingin melakukan kesalahan dari mulai pembangunannya.
" Apa kamu bosan di rumah, sayang?," tanya Rama sebelum mengambil keputusan. Sebenarnya, ia merasa khawatir ketika membiarkan istrinya keluar tanpa dirinya.
Mengingat Dewi yang pernah mengatakan bahwa anak yang di kandung Salma akan menjadi ancaman baginya, Rama jadi khawatir jika Dewi bisa bertindak macam-macam.
Apalagi ia bisa menggugurkan janin yang ia kandung tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Jika pada anak kandungnya sendiri ia tega, apalagi pada anak orang lain?
" Sebenarnya, aku bosan di rumah." jawab Salma jujur.
" Tapi, besok sepertinya aku masih sibuk." jelasnya.
" Kalau hanya berdua dengan Mama, apa tidak boleh?," tanyanya lirih.
Rama melihat ke arah istrinya, merasa tidak tega untuk melarang. Tidak ingin Istrinya itu tertekan, akhirnya Rama setuju.
" Baiklah. Besok boleh pergi. Tapi, kamu tidak boleh terlalu lelah."
" Boleh minta lebih sebagai ucapan terima kasih?,' tanyanya ambigu.
Salma mengangguk. Ia paham apa yang di minta suaminya.
Rama pun segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar tamu yang ada di lantai satu.
" Aku berat, mas,"
" Tidak apa-apa. Aku kuat mengangkat kalian berdua."
Salma mengeratkan rangkulannya. Walau suaminya berkata kuat, tetap saja ia takut jika terjatuh.
Berbeda dengan mereka yang sedang menikmati waktu berdua, Dewi kini sedang berada di sebuah kamar hotel.
Penolakan demi penolakan dari pengacara yang ia datangi membuatnya geram. Padahal, ia sudah menawarkan bayaran yang besar. Namun, pengacara licik pun enggan menerimanya menjadi kliennya.
Akhirnya, ia kembali mencari kesenangan untuk menghilangkan kekesalan yang ia rasakan. Kesenangan yang menghasilkan pundi-pundi uang baginya.
Di kamar mandi, seseorang sedang membersihkan dirinya. Sementara Dewi sendiri sedang mempersiapkan diri memberi pelayanan yang maksimal .
__ADS_1
Pemesan jasanya bukanlah laki-laki biasa. Laki-laki yang sudah berumur namun cukup berkuasa.
Pengusaha sekaligus p3jabat yang di kenalkan padanya oleh seorang teman.
" Kamu sangat cantik," pujinya saat melihat Dewi yang sudah siap dengan pakaian dinasnya.
" Terimakasih,' jawab Dewi dengan tersenyum manis.
" Minum ini dulu ya," pinta sang laki-laki yang lebih cocok jadi ayah Dewi itu memberikan gelas berisi minuman yang sudah ia masukkan sesuatu.
Sementara dia sendiri meminum minuman dari gelas lain dengan tambahan obat ku@t.
Setelah beberapa saat, obat itu bereaksi membuat keduanya langsung sama-sama saling menyerang dengan buas.
Hingga malam berganti menjadi lagi. Pasangan yang semalam menghabiskan malam panjang itu masih terlelap. Bahkan keduanya melewatkan waktu sarapannya.
" Kalau kamu mau, jadilah partnerku yang hanya melayaniku." Ucap pria paruh baya yang kini sudah kembali tapi dengan pakaian kerjanya.
Istrinya hanya tahu bahwa dia pergi ke luar kota melakukan perjalanan bisnis. Karena itu, saat ia kini akan pulang ia harus sudah kembali berpakaian rapi. Menghilangkan jejak-jejak yang bisa membuat curiga.
" Bayarannya?," tanya Dewi tak ingin rugi.
Sebuah kartu sakti tanpa limit di letakkan di atas meja di hadapan Dewi.
" Pakai ini sepuasnya."
Mata Dewi membola. Ternyata orang di hadapannya ini cukup royal.
" Kamu serius?," tanyanya tak percaya.
" Tentu. Bagaimana?,"
" Ok, aku mau." Dewi langsung mengambil kartu itu dan menyimpannya. Sudah terbayang apa yang akan ia lakukan setelah pulang.
" Bagus."
Keduanya berpisah tanpa melakukan kontak fisik apapun. Alasannya, tidak ingin ada parfum yang melekat pada jasnya.
Laki-laki yang masih tidak ingin kehilangan istri dan anaknya namun, ingin merasakan kehangatan dari daun muda.
Dewi tersenyum puas memasuki toko yang menjual barang branded. Ia sedang mengincar tas limited edition yang baru saja di luncurkan.
" Walaupun dia sudah tua, tapi aku bisa memanfaatkannya. Aku akan membuatnya tidak bisa menolak apapun yang aku inginkan," seringai licik Dewi memikirkan rencana lain dimana ia bisa kembali mengejar ambisinya.
" Kita lihat, sebenarnya siapa yang sudah membuat tidak ada satupun pengacara mau membantuku. Aku yakin ada seseorang di balik semu ini." gumamnya pelan.
__ADS_1
Dewi membiarkan mereka tenang selagi ia menyusun rencana baru.
TBC