
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (64)
" Apa? Ibu ingin memarahiku juga?" bentaknya.
Bu Ana menggelengkan kepalanya ikut meninggalkan Dewi seorang diri.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Hari-hari berlalu. Kondisi Dewi berangsur-angsur pulih setelah mendapatkan penanganan. Namun, semenjak pertengkarannya tempo hari, kedua orang tuanya tak pernah lagi datang berkunjung bahkan hingga kini ia sudah di pindahkan ke rutan.
Dewi sedang menunggu kasus yang dihadapinya untuk di sidangkan.
"Ada yang ingin membesuk mu,"
Dewi bertanya-tanya dalam hati siapa yang mendatanginya. Mungkinkah orang tuanya? Atau mungkin Rama?
Tak ingin hanya menduga-duga, ia akhirnya mengikuti sipir penjara. Hingga ia bisa melihat seorang perempuan yang sudah lama tidak ia temui.
Bela
" Apa kabar?," Bela tersenyum sambil memeluk Dewi yang nampak banyak perubahan.
Tubuh semakin kurus dengan wajah yang polos tanpa make up yang membuatnya tampak sangat berbeda. Apalagi dengan baju yang bertuliskan tahanan.
" Seperti yang kamu lihat," jawab Dewi singkat.
" Maaf, aku baru tahu apa yang menimpamu," ucap Bela lirih.
" Tidak apa-apa."
" Ini, aku membawa sedikit makanan untukmu,"
" Maaf merepotkanmu,"
" Tidak. Maknlah,"
Tanpa segan Dewi pun mulai menikmati makanan yang di bawa Bela.
" Kalau boleh, aku ingin membantumu dengan menyewakan pengacara," ucap Bela.
" Jangan. Gunakan saja uangmu untukmu dan anakmu. Aku tahu sulit untuk mendapatkan uang." jawab Dewi tegas menolak bantuan Bela.
Ia teringat pembicaraannya dengan Bela.
" Tidak apa-apa. Suamiku seorang pengacara.' jawab Bela tersenyum.
"Suami?," Dewi terkejut sampai tersedak.
Dewi segera meraih air minum hingga merasa jauh lebih lega.
" Kamu sudah menikah?"
__ADS_1
" Iya,"
" Apa dengan salah satu pelang..."
" Bukan. Di ayah dari anak ku," jawab Bela memotong perkataan Dewi.
Pekerjaannya tempo hari adalah aib baginya. Masa lalu yang ingin ia lupakan walupun tidak akan pernah bisa.
"Kamu bertemu dengannya?,"
" Hmm. Kami bertemu tidak sengaja. Saat aku membawa Farel jalan-jalan.," jawab Bela singkat. Ia pun menceritakan awal pertemuan hingga mereka akhirnya memutuskan menikah.
Bahkan ia pun memeriksakan diri sebelum menikah sampai ia yakin tidak terjangkit penyakit seperti yang di alami Dewi. Barulah setelah dinyatakan negatif, ia bersedia menikah.
" Bagaimana? Aku memang tidak bisa menjamin kamu bebas. Tapi, setidaknya ada yang mendampingimu selama persidangan nanti,"
Bela bukanlah perempuan yang licik ataupun jahat. Jadi ia tidak berfikir memenangkan kasus Dewi dengan berbagai cara hanya agar Dewi bebas. Bagaimana pun tindakan Dewi salah.
Dewi diam menatap Bela. Orang yang bukan siapa-siapanya tapi, peduli padanya.
" Kenapa kamu menolongku?," tanya Dewi penasaran.
" Aku tahu kamu sebenarnya baik. Hanya saja kamu sedang salah jalan. Aku hanya ingin kamu mulai memperbaiki hidup jika bebs nanti. Bukankah kamu juga seorang ibu? Apa kamu tidak ingin melihat dia tumbuh besar?," tanya Bella.
Bagi Bela, Dewi adalah orang baik. Dia tidak segan membantunya. Dia pun mendengar obrolan temannya bahwa sebenarnya Dewi sudah memiliki anak.
" Hubunganku dengan anakku tidak sedekat itu."
Dewi menceritakan semuanya pada Bela. Untuk pertama kalinya Dewi mencurahkan isi hatinya pada orang lain sebanyak ini.
Lagi-lagi untuk pertama kalinya Dewi diam mau mendengarkan. Padahal ia biasanya lantang menyangkal perkataan apapun yang di ucapkan orang lain padanya. Dia akan bertahan dengan egonya.
" Jadikan apa yang menimpamu saat ini sebagai pembelajaran. Tidakkah kamu ingin bebas seperti biasa. Dekat dengan orang yang mencintai dan menyayangimu dengan tulus?,'
Dewi tidak menjawab. Ia teringat akan kedua orangtuanya yang sudah lama tidak menemuinya. Orang tua yang sudah lama ia kecewakan. Namun, tak pernah bosan menasehatinya hingga puncaknya malam itu saat ia membentak keduanya.
Air mata Dewi mengalir. Ia merindukan keduanya. Mulai merasa menyesal tidak mengindahkan nasihat keduanya.
Sampai akhirnya jam besuk habis, Dewi tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan apa yang Bela katakan. Entah kenapa ia mau mendengarkannya. Padahal, ibunya pun dulu menasehatinya dengan nasehat yang sama namun tetap ia abikan.
Hanya satu permintaan Dewi pada Bela, ia ingin bertemu kedua orang tuanya. Meminta maaf? Ya. Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia sudah sangat bersalah.
Bela menyanggupi permintaan Dewi.
Dewi banyak merenung selama berada di penjara. Bertemu dengan banyak orang dengan alasan yang berbeda hingga berakhir disana membuat pikirannya terbuka.
...******...
" Kasus Dewi sebentar lagi akan di sidangkan. Dia akan di dampingi pengacara." jelas Andre memberitahukan kabar terkini mengenai kasus Dewi.
" Siapa yang menyewanya? Bukankah orang tua Dewi lepas tangan?,"
__ADS_1
Setelah Dewi tertangkap, orang tua Dewi menemui Salma kembali. Bahkan mengatakan tidak akan menyewakan pengacara karena sakit hati dengan sikap Dewi.
Mereka hanya berharap Dewi sadar setelah mendapatkan hukuman di penjara. Mereka sudah lelah menasehatinya. Sampai berbusa pun Dewi tak mau mendengarkan. Mungkin dengan hukuman di penjara, ia bisa sadar.
" Ada temannya yang menyewakannya pengacara."
" Kamu tidak berniat membesuk mantan terindahmu?," goda Andre di sertai tawa.
" Ck." Rama hanya berdecak karena kesal selalu di ingatkan dengan masa lalunya.
" Bagaimana istrimu? Tidak hamil aneh-aneh lagi?," tanya Rama bertanya tentang Insi yang selalu meminta ini dan itu dengan alasan ngidam.
Ia sendiri tidak merasakannya. Karena Salma memang tidak ngidam yang aneh-aneh.
" Jangan tanya. Hari ini dia bilang ingin lihat aku makan rambutan."
Rama tertawa. Ia tahu Andra tidak suka rambutan bahkan saat baru melihatnya saja. Alasannya geli.
" Coba saja dulu. Enak ko" jawab Rama
" Geli, Ram. Ah, lihatnya aku udah gak mau." Andre bergidik ngeri. " Ini mah Insi aja yang mau ngerjain aku."
Rama hanya tertawa. Bisa jadi pikiran Andre benar. " Minta bibi bukain dulu rambutannya dari kulitnya. Masa ia masih geli?,"
" Kenapa baru kepikiran?,"
" Ck,"
...******...
" Ayah yakin tidak ingin menemui Dewi?," tanya Bu Ana.
Bela benar-benar melakukan apa yang Dewi minta. Menemui kedua orang tuanya dan mengatakan bahwa Dewi ingin bertemu untuk minta maaf.
" Kalau ibu mau, ibu pergi sendiri saja."
Rasa kecewa masih menyelimuti hati ayah Dewi.
" Dia sedang terpuruk, Yah. Dalam keadaannya yang seperti sekarang, Dewi butuh dukungan kita sebagai orang tuanya."
Rasa sayang seorang ibu tidak akan pernah pudar sekalipun sering di sakiti hatinya. Itulah Bu Ana, sekalipun Dewi adalah anak pembangkang dan tak pernah mau mendengarkan nasehatnya, ia tetap anak yang ia sayangani.
" Apa ibu lihat dia benar-benar merasa bersalah. Benar-benar mau minta maaf?,"
Perkataan Bela yang mengatakan bahwa Dewi ingin minta maaf di ragukan. Dewi yang tak pernah mau mendengarkan orang lain, selalu merasa benar ingin minta maaf?
" Mungkin dia sudah sadar, Yah. Kasihan Dewi. Penyakit itu tidak ada obatnya. Bahkan banyak yang berakhir dengan kema_tian karena merasa depresi, Yah."
" Terserah saja. Aku masih belum mau menemuinya. Kalau Ibu mau pergi membesuknya, pergi saja."
Ayah Dewi beranjak dari duduknya meninggalkan istrinya seorang diri. Sementara Bu Ana hanya terisak melihat suaminya tak bisa ia luluhkan bahkan saat melihat Dewi seperti sekarang.
__ADS_1
" Ayah masih belum mau menemuimu, Wi. Dia kecewa padamu." lirihnya pelan.
TBC