
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (38)
" Ya, sering-seringlah kesini. Ajak istrimu juga. Aku berencana untuk membeli bangunan di sebelah juga." jelas Rama menunjuk bangunan di sebelah rumah makannya yang merupakan rumah terbengkalai.
" Aku masih mencari tahu pemiliknya."
" Kamu memperbesar rumah makan ini atau membuat usaha lain?
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Sepuluh hari sudah berlalu sejak kepergian Salma. Tak ada tanda-tanda bahwa istrinya itu akan kembali.
" Apa aku susul saja?," monolognya. Perasaannya tak enak dari semalam.
Rama mengetuk-ngetuk telunjuknya di atas meja sambil memandangi foto Salma yang menjadi wallpaper di ponselnya.
Sementara itu, orang yang sedang dipikirkan sedang terbaring lemah di atas kasur. Sejak semalam ia merasa tidak enak badan. Bahkan sampai tengah hari pun ia masih tergolek di atas kasur.
Sholat pun ia lakukan dengan susah payah.
Jika sudah begini, ia jadi ingat suaminya. Biasanya ada yang akan membantunya.
Air matanya mengalir. Tiba-tiba Salma teringat suaminya. Merasa berdosa karena telah pergi dengan bermodalkan izin yang entah bisa dikatakan izin atau tidak. Karena itu berasal dari janji suaminya jika kembali berbohong padanya. Bukan izin secara langsung.
Tangannya mencoba meraih ponsel yang ada di sampingnya.
Panggilan pertama tidak di angkat. Panggilan kedua pun sama. Hingga ...
📲 "Assalamu'alaikum, sayang." suara lembut di sebrang sana membuat Salma semakin berderai air mata.
📱 " Wa'alaikumussalam, Mas." panggil Salma dengan suara lirih.
📲 " Kamu sakit?" Rama yang mendengar suara istrinya yang berbeda merasa bahwa istrinya tidak sedang baik-baik saja.
📱 ' Hiks.. Maaf.." Salma menangis sambil meminta maaf.
📲 " Sayang, hei kenapa malah nangis. Kamu sakit. Sakit apa ?," tanya Rama khawatir.
" Sudah makan dan minum obat?," Tidak mendapatkan jawaban selain isakan tangis membuat Rama kembali bertanya.
📱"Aku ..."
📲 " Tunggu sebentar ya ...."
Klik
Sambungan terputus. Mendapati sambungan telponnya putus, Salma semakin menangis. Merasa suaminya tidak perduli padanya. Padahal baru saja Rama bertanya ini dan itu karena khawatir. Tapi, entah kenapa Salma bisa berpikiran seperti itu. Mungkin hormon dari kehamilannya.
Tidak lama berselang, tiba-tiba ada yang berusaha membuka pintu dari luar.
__ADS_1
Ceklek1
Pintu terbuka membuat Salma terkejut dan langsung menutup kepalanya dengan selimut. Di detik kemudian pintu kembali tertutup.
Kosan yang di tempati Salma memang kecil. Ruangan berukuran 5x6 meter itu hanya berisikan kasur busa tebal yang langsung di letakkan di atas lantai dan sebuah lemari kayu.
Di ujung ruangan ada pintu menuju kamar mandi yang juga minimalis. Tidak ada dapur tersendiri. Penghuni kos memang biasanya jarang masak dan mengandalkan membeli dari luar. Atau bila ingin memasak sendiri, biasanya menjadikan ruangan itu sebagai dapur juga.
" Assalamu'alaikum, sayang."
Salma masih bergeming di dalam selimut sekalipun ia membalas ucapan salam itu. Ia sangat mengenal suara itu. Namun, masih berpikir bahwa itu hanya halusinasi saja. Saking rindunya ia pada suaminya.
" Suami datang kok malah sembunyi? Kamu tidak merindukanku?" suara lembut itu kembali terdengar. Salma masih berpikir itu hanya halusinasinya.
Srettt
Selimut itu tersingkap. Menunjukkan wajah yang sangat ia rindukan. Rama benar-benar ada di depannya. Suaminya kini sedang ada di hadapannya.
" Kamu nyata?," tanya Salma membuat Rama terkekeh.
" Aku jelas begini masih tidak percaya?," ucap Rama dengan mata berkaca-kaca.
Salma berusaha bangun. Rama pun membantu istrinya agar bisa merubah posisinya.
Grepp
Salma langsung memeluk suaminya.
Salma teringat akan dosa bagi seorang istri yang keluar rumah tanpa izin dari suami. Lagi-lagi Salma jadi dilema akan izin. Benarkah ia sudah mengantongi izin atau belum.
Mendengar perkataan Salma, Rama mengeratkan pelukannya.
" Tidak. Kamu bukan istri durhaka. Kamu sudah mendapatkan izin untuk pergi. Aku ridho. Hmm."
Rama semakin merasa tidak karuan. Jika bicara dosa, bukankah dia yang lebih dulu melakukan dosa karena membohongi istrinya, mengingkari janji yang pernah ia buat. Kenapa malah istrinya yang merasa bersalah.
" Aku yang minta maaf. Aku sudah berbohong dan mengingkari janjiku. Kamu tidak salah, aku yang salah."
Keduanya diam. Masih saling memeluk menyalurkan kerinduan yang mendalam.
" Tapi, kamu harus percaya, aku sudah tidak mencintainya. Aku hanya kasihan padanya. Tidak ingin hal buruk menimpanya apalagi dia adalah ibu kandung Ical. Hanya sebatas itu. Tidak lebih." tekannya.
Rama tidak ingin da salah paham di antara mereka. Ia sadar melakukan sesuatu diam-diam justru malah menjadi bumerang bagi hubungannya dengan Salma.
" Aku tahu." jawab Salma pelan di tengah isakannya.
Mendengar jawaban istrinya, Rama mengurai pelukannya. Ia memegang kedua bahu Salma dan menatap wajahnya yang mulai sembab.
" Kalau tahu kenapa pergi? Hmm?,"
__ADS_1
" Aku kecewa karena mas kembali tidak jujur. Aku merasa tidak di hargai. Aku merasa..."
" Maaf.. Aku sudah mengabaikan perasaanmu." Rama memotong perkataan istrinya.
Salma hanya mengangguk.
" Kamu mau memaafkan suamimu ini kan?,"
Salma kembali mengangguk.
Rama memeluk Salma kembali. Merasa bersyukur karena istrinya kembali memafkannya.
Salma diam menikmati aroma yang ia rindukan. Apakah ia bodoh karena begitu mudah memafkan suaminya? Jika ada yang menyatakannya begitu, Salma tak peduli.
Selama ia tahu suaminya tidak mengkhianatinya, maka ia akan tetap memaafkan agar rumah tangganya kembali utuh.
Pernikahan itu bukan permainan. Merasa tidak cocok sedikit, lalu di lepaskan dan mencari yang lain. Jika prinsipnya seperti itu, pernikahannya tidak akan pernah abadi. Pasti akan ada alasan untuk berpisah.
Padahal, pasangan sempurna tanpa cela itu mustahil di dapat. Pasangan tanpa salah dan dosa pun mustahil di temukan. Bukankah setiap manusia tak luput dari dosa.
" Jangan ulangi lagi." pinta Salma.
" insya Allah."
" Jangan taubat sambel." Perkataan Salma membuat Rama mengerutkan keningnya.
" Sudah tau sambel itu pedas tapi, malah di makan lagi dan lagi justru malah dinikmati. Sudah tau dosa, tapi malah di ulangi dan di ulangi lagi." jelasnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup
Rama yang gemas pun langsung mencuri satu kecupan yang membuat Salma mendelik kesal padanya.
Namun, Rama tak peduli.
" Iya. Maaf. Karena itu, tetaplah di sisiku. Agar selalu mengingatkan ku agar tidak masuk ke lubang yang sama."
Tiba-tiba terdengar suara perut yang berdemo minta di isi makanan.
" Kamu lapar?,"
Salma malu, perutnya tidak bisa di kondisikan. Tapi, jika mengingat bahwa ia terakhir makan adalah saat malam, itupun sedikit. Maka wajar jika ia sudah lapar. Jangankan ibu hamil, jika dalam keadaan tidak hamil pun pasti sudah sangat lapar apalagi ini sudah masuk jam makan siang. Dia sudah melewatkan jam sarapannya.
Salma mengangguk.
Rama pun meraih kantong berisi kotak makanan yang ia bawa dari rumah.
Aroma harum langsung memenuhi ruangan yang kecil itu saat Rama membuka tutupnya.
" Kenapa hanya diam? Kamu tidak suka?,"
__ADS_1
" Bukan itu. Tapi,..."
TBC