Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 55 Insiden


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (55)


Bagi Dewi, laki-laki di depannya hanya batu pijakan untuk menggapai apa yang ia inginkan. Jadi, bersusah sebentar dengan menjadi istri dari pria tua pun tak masalah baginya.


" Kamu siap hidup susah bersamaku?," tanya sang pria.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Mau mampir ke suatu tempat dulu?," tanya Rama pada istrinya setelah mereka selesai menemani Faisal melihat sekolah barunya.


" Bagaimana kalau ke taman dulu?," tanya Rama lagi.


Jalan-jalan sore di taman, hanya berdua. Karena Faisal di ajak David menemui Oma dan Opa nya yang memang kebetulan ada di kota itu karena suatu urusan.


" Iya, sudah lama kita tidak ke taman." ucap Salma antusias.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Melihat sekitarnya yang cukup ramai.


" Mau beli sesuatu?," tawar Rama saat melihat aneka jajanan yang di jajakan dalam gerobak itu berjajar di hadapannya.


" Mau itu, itu dan itu." tunjuk Salma pada jajanan yang ingin ia makan.


" Baiklah. Kamu tunggu di sini ya." Rama meminta Salma menunggu di kursi taman, karena tak ingin membuat istrinya lelah jika ikut mengantri.


" Aku mau ke toilet sebentar,"


" Aku temani."


" Aku sendiri saja, mas. Lagi pula toiletnya ada di sana," tunjuk Salma pada toilet yang ada di sekitar mereka. Cukup menuruni anak tangga di sebelah kanan mereka.


" Baiklah. Tapi, hati-hati." pinta Rama.


Merasa tidak ada yang terlalu di khawatirkan, Rama pun memperbolehkan Salma ke toilet sendiri. Lagi pula tangga itu tidak terlalu curam atau membahayakan.


Mereka pun berjalan ke tempat tujuan masing-masing.


Tanpa mereka sadari, seseorang tersenyum melihat keduanya berpisah.


Siapa lagi jika bukan Dewi. Menahan diri terlalu lama melihat orang yang ia benci bahagia, membuatnya tak tahan.


Benci? Ya, benci karena ia tidak bisa berada di posisi Salma. Mungkin lebih tepatnya iri. Merasa apa yang Salma miliki seharusnya menjadi miliknya.


Kali ini, ia tidak ingin gagal. Menyingkirkan Salma adalah tujuannya. Berharap jika Salma tidak ada, Rama mau kembali padanya.


Semenjak pagi, Dewi sudah berada di sekitar rumah Rama. Memantau keadaan. Mencari celah melakukan rencana yang ia susun matang.


Hingga saat ia melihat keluarga kecil itu keluar dan membuntuti mobil Rama dengan menjaga jarak.


Memasuki sebuah gedung sekolah milik keluarga David, yang Dewi sendiri tidak tahu jika itu milik keluarga David.

__ADS_1


Mau tak mau ia menunggu dengan terus mengawasi, memastikan mobil Rama tidak keluar tanpa pengawasannya.


Sekarang, saat Salma terpisah dari Rama, ia merasa bisa menjalankan rencananya.


Dengan perlahan, ia melewati orang-orang berjalan mendekati Salma, hingga..


Brakkk


Dengan sekali dorongan, Salma terjatuh berguling-guling di antara anak tangga.


" Aaa ...!!!!" Salma berteriak. Begitupun orang yang menyaksikan Salma terjatuh. .wreka terkejut.


Saat orang-orang terfokus pada Salma dan berusaha menolongnya, Dewi berjalan meninggalkan tempat kejadian dengan perlahan tak ingin menimbulkan kecurigaan.


Setelah di rasa aman, Dewi berlari menuju mobilnya. Dengan secepat kilat, ia meninggalkan taman.


" Semoga Salma dan anaknya celaka," Dewi tertawa karena berhasil membuat Salma terjatuh.


Ingin memastikan kondisi Salma, namun itu cukup beresiko. Sehingga memilih pergi sebelum Rama menyadari keberadaannya disana.


Dewi mengarahkan mobilnya ke luar kota. Ia akan bersembunyi sementara waktu.


Sementara itu, mendengar ada teriakan dan orang-orang berlarian ke arah tangga menuju toilet, Rama langsung teringat sang istri.


Ia berlari tanpa menghiraukannya penjual batagor berteriak memanggilnya karena pesanannya sudah selesai.


Mendekati kerumunan, Rama semakin berdebar apalagi saat mendengar kasak kusuk di antara mereka bahwa yang terjatuh adalah ibu hamil.


Jantung Rama berdegup kencang. Dari pakaiannya, ia yakin orang yang tergeletak itu adalah istrinya.


" Sayang!!," teriak Rama ia mendekati Salma yang sudah tak sadarkan diri. Ada darah yang membasahi bagian belakang gamisnya.


Degg


Tanpa berkata-kata, Rama langsung mengangkat tubuh istrinya membawanya ke dalam mobil. Dengan kecepatan tinggi ia melakukan mobil.


Perasaannya campur aduk. Khawatir keselamatan istri dan anaknya.


Sampai di rumah sakit, ia segera meminta bantuan hingga beberapa perawat membawa brangkar ke arahnya dan membawa tubuh Salma yang berlumuran darah itu ke UGD.


Rama terduduk di kursi besi di depan ruangan UGD. Tubuh lemasnya ia sandarkan. Ia tak menghiraukan tangannya yang masih berlumuran darah dan kemeja biru nya yang terkena noda darah.


Ceklek


Pintu terbuka, seorang dokter keluar.


" Bagaimana keadaan istri saya dokter?," tanya Rama yang bangkit dari duduknya berdiri di hadapan dokter yang baru melepaskan maskernya.


" Istri bapak kehilangan banyak darah. Anak yang di kandungnya pun harus segera di keluarkan karena jika tidak akan berbahaya bagi keduanya."

__ADS_1


" Tolong lakukan yang terbaik dokter."


" Baik. Silahkan urus administrasinya dan kami akan melakukan tugas kami sebaik mungkin."


Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga, sang dokter masuk kembali ke ruang UGD untuk melakukan tindakan selanjutnya. Sementara Rama mengikuti seorang suster untuk menyelesaikan administrasinya.


Rama kembali terduduk di kursi yang sama yaitu tepat berada di depan pintu UGD setelah menyelesaikan administrasinya.


Ceklek


Dokter yang sama kembali keluar setelah selesai melakukan tugasnya.


" Bagaimana dok?," tanya Rama dengan harap-harap cemas.


...******...


Sementara itu, Bu Marisa yang mendapatkan telpon dari Rama bahwa Salma mengalami insiden yang mengharuskannya melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungannya pun dilanda kecemasan.


Dengan tergesa-gesa, ia pergi menyusul Rama ke rumah sakit. Mengingat Faisal pun ikut dengan keduanya. Bu Salma memang tidak mengetahui bahwa Faisal sedang ikut ayah kandungnya.


Bu Marisa melangkahkan kakinya ke ruanga rawat Salma. Dari informasi yang ia dapatkan saat menelpon Rama, Salma sudah di pindahkan ke ruang rawat.


Ceklek


" Assalamu'alaikum." salam Bu Marisa saat masuk ke dalam ruanga rawat Salma.


" Wa'alaikumussalam." jawab Rama melihat ke arah pintu.


Melepaskan pegangan tangannya pada sang istri dan menghampiri ibunya.


Bu Marisa langsung memeluk anaknya yang nampak kacau dengan pakaian yang masih berlumuran darah.


" Ganti dulu pakaianmu. Setelah itu ceritakan semuanya." Tas berisi pakaian Rama ia serahkan.


Bu Marisa memang pergi ke rumah Rama dulu untuk mengambil pakaian Rama dan tas berisi perlengkapan bayi yang memang sudah di persiapkan pasangan suami istri itu untuk jaga-jaga jika Salma akan melahirkan.


Rama mengangguk dan berjalan memasuki kamar mandi.


Sementara Bu Marisa menghampiri Salma yang masih tak sadarkan diri. Duduk di kursi yang tadi di tempati Rama. Ia menggenggam tangan menantunya.


" Semoga kalian baik-baik saja." harap Bu Marisa yang membg belum tahu keadaan cucu dan menantunya.


" Ical kemana?," tanya Bu Marisa yang mencari keberadaan Faisal dari tadi.


" Ical ikut dengan David. Kebetulan kedua orang tua David ada di kota ini." jelas Rama singkat pada sang ibu.


Bu Marisa mengangguk. " Bagaimana keadaan Salma dan anaknya?." tanya Bu Marisa yang sudah tidak sabar ingin tahu keadaan keduanya.


" Alhamdulillah, Salma baik-baik saja. Ia sudah melewati masa kritisnya."

__ADS_1


" Alhamdulillah." Bu Marisa mengucap syukur. " Lalu putri kalian?,"


TBC


__ADS_2