
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (38)
" Mulai saat ini, Rama tidak akan lagi menemuimu. "
" Kenapa? Pasti karena Salma melarangnya kan? Dia takut Rama kembali padaku?. Ya, dia pasti takut karena Rama masih perhatian padaku. Dia takut menerima kenyataan bahwa Rama masih mencintaiku." Ucapnya percaya diri
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Wi, sudahlah. Jangan terus mengusik rumah tangga Rama. Biarkan dia bahagia dengan istri dan anaknya."
" Lalu aku? Apa ibu lebih senang melihat aku menderita?," bentaknya.
Bu Ana hanya menggelengkan kepalanya. Terkadang ia berpikir apa mungkin ia telah salah mendidik anaknya.
" Siapa yang senang melihat anaknya menderita?" tanya Bu Ana. Ibu manapun pasti akan sedih dan ikut sakit saat anaknya menderita. Begitu pula dengan Bu Ana.
" Tapi, penderitaan kamu alami, adalah akibat dari pilihanmu sendiri. Kamu yang memilih pria lain dibandingkan suami dan anakmu saat itu."
Bu Ana lelah. Jika menceritakan masalah Dewi, pasti akan kembali pada awal kesalahan yang ia lakukan.
" Belum lagi, fakta yang sangat mengejutkan yang baru kamu katakan bahwa Ical adalah anakmu dan seling_kuhanmu. Tidakkah itu menambah kesalahan yang pastinya tidak akan bisa Rama maafkan?," tambah Bu Ana.
" Jika Rama bisa menerima Ical, kenapa dia tidak bisa memaafkan aku? Bukankah Ical adalah hasil dari kesalahanku?,"
" Itu berbeda. Sekalipun Ical ada karena kesalahanmu, tapi dia adalah korban sama seperti Rama. Sementara kamu dan ayah biologisnya adalah pelaku yang melakukan kesalahan itu. Lagipula, Ical tidak bisa memilih terlahir dari rahim mana."
Dewi diam ia mulai memikirkan tentang Faisal yang memang bukanlah anak Rama.
Bu Ana yang melihat Dewi diam, berpikir bahwa mungkin anaknya sedang mencerna apa yang ia katakan.
Namun, Bu Ana tidak sadar saat Dewi menunjukkan senyum misteriusnya. Dewi memikirkan sesuatu. Entahlah apa yang sedang ia rencanakan. ( Hanya author yang tahu ðŸ¤)
" Sekarang, kita pulang. Dokter bilang kamu sudah jauh lebih baik. Berubah lah , Wi. Ibu yakin kamu bisa menemukan laki-laki lain yang bisa membahagiakanmu. Dan itu bukan Rama.
Ibu malu padanya. Kamu yang melakukan kesalahan, kamu pula yang memaksa kembali. Melihat betapa besarnya kesalahanmu dan tidak ada kemungkinan kamu bisa kembali, lebih baik kamu instrospeksi diri...." Bu Ana terus menasehati Dewi sambil membereskan pakaian yang akan ia bawa pulang.
Dewi hanya diam. Bukan memikirkan apa yang ibunya katakan. Tapi, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
Perkataan sang ibu tak sedikitpun masuk ke telinganya.
...******...
" Sal, aku pulang sekarang ya? Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal?," tanya Aisyah pada Salma yang sedang asyik melihat ke arah perkebunan yang ada di sebelah kos-kosan yang ia tempati. Karena berada di lantai dua, maka pemandangannya sangat indah.
Salma kini tinggal di kos-kosan yang ada di sebuah perkampungan di kaki gunung. Kampung yang biasa di datangi oleh anak kampus atau anak sekolah kejuruan untuk melakukan praktek kerja di instansi yang ada di sana.
Kos-kosan yang ia tempati sendiri sebenarnya adalah milik keluarga Aisyah yang memang asli sana namun karena pindah, mereka tidak lagi tinggal disana. Sehingga, tanah yang mereka miliki mereka bangun untuk di jadikan kos-kosan. Lumayan untuk menambah pemasukan.
" Iya tidak apa-apa. Lagipula ada Bi Yuyun dan Mang Jajang." Ucap Salma menyebutkan nama sepasang suami istri yang di percaya mengawasi kos-kosan milik keluarga Aisyah. Mereka masih kerabat Aisyah yang tinggal di sana. Tepat di bawah kos-kosan.
" Hmm. Kamu hati-hati,ya. Kalau ada apa-apa kamu minta bantuan pada Bi Yuyun dan Mang Jajang ya." pesan Aisyah sambil menuruni tangga.
" Iya, jangan lupa berikan surat pengunduran diri milikku pada Ummi Syahidah, ya." Salma mengingatkan Aisyah.
" Ah, aku jadi kesepian mengajar tanpa kamu." ucapnya sendu.
" Mau bagaimana lagi, aku sepertinya akan betah disini. Pemandangannya indah. Udaranya sejuk. Jelasnya.
" Ya.. Ya . Kalau kamu mau ke tempat wisata itu, ajak saja Lilis. Biar kamu ada temannya." Aisyah ingat jika Salma berkata ingin pergi ke kebun strawberry dimana disana bebas memetik sendiri.
" Maaf ya. kalau kemarin tidak hujan mungkin kita kesana."
" Ya. Nanti saja kalau kamu kesini lagi, kita kesana berdua."
" Siap Bos!!," Aisyah mengangkat tangan kanannya berpose memberi hormat.
Salma hanya terkekeh.
"Tapi, aku harap kamu tidak terlalu lama kabur dari suamimu. Kasian kan kalau adik bayinya minta di tengokin ayahnya, tapi ayahnya tidak ada." Perkataan Aisyah sukses mendapatkan pukulan di lengan kanannya.
Alih-alih marah, Aisyah hanya tertawa melihat wajah cemberut calon adik iparnya.
" Apalagi suasana disini tuh enaknya buat honeymoon..."
" Ish, makin ngawur aja mulutnya. Udah sana pulang." Salma mendorong Aisyah agar cepat masuk ke mobilnya.
__ADS_1
" Aku di usir dari kos-kosan milikku nih ceritanya. Masa tidak sopan sama ibu kos." Ucap Aisyah yang hanya diiringi tawa Salma.
" Kalau ibu kos nya nyebelin kayak kamu sih, mending aku usir. Nambah beban pikiran soalnya."
" Aku pergi ya. Jangan kangen." Aisyah cipika cipiki seperti kebiasaannya saat bertemu atau berpisah dengan teman-teman perempuannya.
Aisyah menyalakan mesin mobilnya lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
" Kalau debay nya sudah mau di tengokin ayahnya, bilang ya. Nanti aku kasih tahu. Assalamu'alaikum." ucap Aisyah ambigu sambil melajukan mobilnya sebelum Salma memarahinya.
" Wa'alaikumussalam." Jawab Salma sambil geleng-geleng kepala.
Salma melihat ke arah langit yang mulai berwarna oranye. Tiba-tiba merindukan suaminya.
" Ah, baru juga beberapa hari jauh darinya." gumamnya.
Di tempat lain di bawah langit yang sama di kota yang berbeda, Rama pun sedang melihat langit senja di rooptop rumah makannya.
" Kamu tidak berusaha mencari Salma?," tanya Andre menghampiri sahabatnya yang berdiri di pinggir pagar.
" Aku membiarkannya menenangkan diri untuk sementara waktu ini. Jika dalam waktu dua Minggu tidak kunjung pulang, aku yang akan mendatanginya." Jelasnya yang kini duduk di kursi yang tersedia.
" Memangnya kamu tahu dia pergi kemana?," Andre memicingkan matanya.
Rama hanya tersenyum tanpa ingin memberi tahu sahabatnya.
" Oh iya, kalau aku lihat-lihat, pengunjungnya tambah ramai ya?," Seru Andre yang memang jarang kesana semenjak ia menggantikan ayahnya di perusahaan.
Andre memang anak pengusaha. Namun, ia memilih bekerja di tempat orang lain untuk menambah pengalaman.
Awalnya ia akan fokus pada rumah makan yang didirikan berdua dengan Rama dan membiarkan perusahaan di pegang adiknya. Namun, adiknya yang lebih memilih menjadi dokter menolaknya. Ia bilang bukan fashionnya.
Kini Andre hanya ikut menanam modal saja tanpa terlibat langsung dan membiarkan Rama mengelola sendiri.
" Ya, sering-seringlah kesini. Ajak istrimu juga. Aku berencana untuk membeli bangunan di sebelah juga." jelas Rama menunjuk bangunan di sebelah rumah makannya yang merupakan rumah terbengkalai.
" Aku masih mencari tahu pemiliknya."
__ADS_1
" Kamu memperbesar rumah makan ini atau membuat usaha lain?
TBC