
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (66)
Di salah satu kursi, seorang laki-laki menatap salah satu keluarga mempelai yang ikut berfoto. Seorang perempuan yang menuntun anak laki-laki yang sangat mirip dengannya.
Jantungnya berdetak kencang.
Kalian baik-baik saja. Batinnya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Acara ijab qobul pun selesai. Mempelai pengantin kembali ke ruangan yang sudah di sediakan. Mereka akan berganti Pakaian.
Sementara para tamu undangan di tamu dengan berbagai makanan. Walaupun sebenarnya tamu undangan yang datang di acar ijab kabul tidak banyak dan kebanyakan adalah keluarga atau teman dekat mempelai.
" Salma, aku balik dulu ke kamar ya." Jimmy menghampiri Salma yang sedang menemani Faisal mengambil makanan.
" Oh iya, kak. " Salma mengangguk saat sahabat kakaknya itu pamit pergi.
" Sayang, dia siapa?," tunjuk Rama pada sosok yang hanya terlihat bagian punggungnya.
" itu sahabat kak Zayden, namanya Jimmy." jawab Salma sambil mengambil Airin dari gendongan Rama.
Rama diam sejenak. Ia teringat seseorang.
Namanya sama. Tapi, mungkin orang yang berbeda. Batin Rama
" Kenapa?,"
" Namanya sama dengan s3lingkuhannya Dewi dulu.,"
" Tapi, yang ku tahu dia hanya orang biasa. Bukan pengusaha kaya. Jabatannya saja di bawah kak Zayden." timpal Salma yang sedikit tahu mengenai Jimmy dari cerita sang kakak.
Setau Salma, Dewi berpaling pada laki-laki yang lebih kaya dari suaminya itu.
" Mungkin namanya saja yang sama."
" Mungkin,"
" Bun, ayo aku sudah lapar," Faisal menyadarkan Salma bahwa tujuannya disana adalah mengambil makanan.
" Maaf sayang,"
" Ayo biar ayah yang ambilkan. Ical mau apa?,"
Sementara langkah Jimmy terhenti saat melihat seorang anak kecil yang tampaknya tersesat. Melihat kesana kemari. Bingung harus melewati jalan yang mana.
Deg
Anak itu.
Jimmy mencoba menetralkan debaran jantungnya.
" Kamu tersesat?," tanya Jimmy ramah.
Merasa ada yang bertanya, sang anak mengangkat kepalanya melihat wajah laki-laki yang kini ada hadapannya.
" Iya. Aku mencari Monmy." jawabnya.
" Ayo biar Om antar bertemu mommy mu," tawarnya.
Mata Jimmy berkaca-kaca. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa dia adalah ayahnya. Namun pantaskah? Setelah sekian tahun berpisah. Bahkan ia yang abai saat istrinya mengandung dan malah berbagi peluh dengan wanita lain? Masih layakkah ia di panggil ayah?
Anak laki-laki bernama Raja itu menggelengkan kepalanya. "Mom bilang, tidak boleh ikut orang asing. Daddy juga berpesan seperti itu." jawab Raja tetap menjaga jarak.
" Daddy?,"
Siapa laki-laki yang di panggil Daddy oleh anakku.
" Ya, Daddy Robi." jawabnya.
__ADS_1
Raja sendiri tidak hanya kepada kakak dari ibunya ia memanggil Daddy. Tapi, pada Anton, sahabat dari Robi pun ia memanggilnya Daddy.
Jimmy mengangguk. Ia akhirnya tahu siapa Daddy yang di maksud.
" Tapi, Om bukan orang asing. Om kenal Mommy bahkan Daddymu. Juga Om Anton, sahabat Daddy mu Om mengenalnya." Jimmy menyebutkan nama orang terdekat Robi yang pastinya dikenal Raja.
" Om kenal Daddy Anton?," tanya Raja antusias.
" Kamu juga memanggilnya Daddy?," tany Jimmy tak percaya.
" Hmm. Aku punya dua Daddy." jawabnya polos . " Om pasti kaget ya? Orang lain punya satu aku punya dua. Tapi, mereka masih bertanya Daddy ku yang lain."
" Daddy yang lain?,"
" Katanya aku seharusnya juga punya satu Daddy lagi."
" Kenapa?," tanya Jimmy pemasaran.
" Karena tanpa Daddyku itu, aku tidak akan ada di perut Mommy,"
Jawaban Raja membuat Jimmy terpaku.
" Kamu ingin bertemu dengannya?," tanya Jimmy ingin tahu
" Tidak,"
Deg
Hatinya terasa tercubit saat sang anak tidak ingin bertemu dengannya.
" Kenapa?,"
" Karena Daddy Robi akan marah, dan Mommy selalu terlihat sedih jika aku bertanya,"
Jimmy merasakan sesak di dadanya. Ini semua karena kesalahannya. Menyakiti wanita yang tulus mencintainya.
" Ayo Om antar bertemu Mommy,"
...******...
" Raja!!," 'Panggil Reina mulai panik saat ia menemukan toilet dalam keadaan kosong.
Ia memang menemani Raja ke toilet tapi, karena ada telpon, Reina berjalan sedikit menjauh dari toilet tempat Raji berada. Saat kembali, ia tidak menemukan Raja disana.
Hatinya mulai risau. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Raja.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya, Reina mengambil ponsel dan segera menelpon Robi.
" Mommy!!," panggil Raja saat ia melihat Reina yang berdiri tidak jauh darinya.
Reina segera membalikkan badannya.
" Sayang, kamu...."
Deg
Reina tidak melanjutkan kata-katanya. Ia terkejut mendapati Raja yang di tuntun oleh Jimmy.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Dengan debaran yang sama. Namun, hanya bisa dirasakan oleh masing-masing.
Raja melepaskan tautan tangannya dengan Jimmy dan langsung berlari ke arah Reina.
" Mommy kemana? Aku mencari-cari Mommy,"
Tatapan Reina beralih pada Raja yang kini sedang memeluknya.
" Maaf, tadi Mommy mengangkat telpon sebentar."
" Halo, Rein. Ada apa?,"
__ADS_1
Reina tidak sadar bahwa telponnya sudah tersambung dengan Robi.
" Tidak apa-apa, Kak. Tadi aku cemas karena Raja tidak ada saat aku tinggal sebentar. Tapi, sekarang dia sudah ada."
" Syukurlah kalau begitu."
" Maaf membuat kakak khawatir."
" Ya, sudah. Tidak apa-apa.Yang penting Raja baik-baik saja. Aku tutup telponnya ya."
"Baiklah "
Reina menggenggam ponselnya. Rasa cemas mulai menghampiri saat Jimmy melangkah mendekatinya.
" Terimakasih sudah mengantarkan Raja. Aku permisi,"
Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan laki-laki yang selalu menyakitinya namun masih bertahta di hatinya itu, Reina segera mencoba mengakhiri pertemuan tidak sengajanya itu.
" Apa kabar?," tanya Jimmy lembut.
Kesempatan yang sulit ia dapatkan ini akan ia manfaatkan.
" Aku baik."
" Maafkan aku," lirih Jimmy. Matanya mulai berembun.
Reina terkejut. Pertama kalinya sang suami bersikap lembut padanya.
Tunggu! Dia terlihat berbeda. Badannya lebih kurus. Pakaiannya pun tampak tak seperti biasanya. Batin Reina.
Jimmy seorang pengusaha yang selalu memperhatikan pakaiannya. Pakaian branded yang pastinya ia pilih untuk ka kenakan setiap harinya.
" Untuk?,"
" Semuanya. Aku salah. Aku juga sudah mendapatkan hukumannya,"
Jimmy tertunduk. Ingin rasanya memeluk wanita yang ada di hadapannya.
" Kamu mau memaafkanku kan?,"
" Asal kamu mau menceraikanku."
" Menceraikan?," tanya Jimmy bingung.
" Ya, aku ingin kita sah berpisah secara hukum dan agama."
Jimmy terdiam.
Apa Robi menutupi perihal perceraian mereka yang bahkan sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu?
Robi, memang membuat keduanya berpisah. Dengan kekuasaan dan harta yang ia miliki perceraian itu bisa terjadi tanpa harus keduanya mengetahuinya.
Karena itu, Reina pun tidak tahu bahwa sebenarnya mereka telah bercerai.
" Mom, Om itu siapa Mommy? Kenapa Mommy ingin bercerai dari Om itu?,"
Deg
Reina lupa ada Raja di antara keduanya. Raja sendiri masih bingun dengan pembicara Mommy dan Om yang baru hari ini di temuinya. Ia tidak asing dengan kata cerai. Ia sendiri pernah mendengarnya.
Seperti ayah dan ibu dari temannya yang akhirnya tinggal di tempat terpisah.
" Apa om itu, Daddy Raja yang lain?,"
" Daddy yang lain?," tanya Reina
" Daddy yang membuatku ada di perut Mommy," jawabnya polos.
" Itu...,"
__ADS_1
" Reina, ternyata kalian disini." suara bariton seseorang membuat ketiganya melihat ke sumber suara.
TBC