Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 60 Tidak Mudah Memaafkan


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (60)


" Ada acara apa, Ma? Pagi-pagi sudah sibuk masak. Banyak juga masaknya?" Rama heran karena menu masakannya beragam dan porsinya banyak


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Om mu sekeluarga mau kesini. Mereka mau melihat Arini." jawab Bu Marisa singkat.


Rama hanya mengangguk dan tidak berkomentar. Berbicara tentang kedua keluarga Om nya, masih ada rasa sakit hati. Sekalipun ibunya sudah memaafkan.


Hatinya tidak selapang sang ibu. Ia yang mendengar sendiri bagaimana kedua tantenya selalu menjelekkan sang ibu dan memandang rendahnya selalu terbayang saat itu.


Apakah Rama mendendam? Entahlah. Hanya saja ia tak bisa bersikap ramah seperti biasanya kepada mereka yang telah menyakiti ibunya. Ia hanya akan berbicara seperlunya.


Belum lagi ia ingat saat kedua Tantenya itu meminta maaf karena terpaksa.


" Kamu tidak apa-apa kan?," tanya Bu Marisa karena Rama tidak berkata apapun.


" Hmm. Terserah ibu saja." jawab Rama acuh sambil pergi ke teras samping. Melanjutkan tujuannya yang akan berjemur dengan putri kecilnya.


Bu Marisa memandang punggung sang anak. Ia tahu Rama tak mudah memaafkan. Apalagi sikap buruk kedua iparnya bukan sehari dua hari mereka lakukan tapi, bertahun-tahun.


Bahkan apa yang Rama lakukan agar bisa sesukses sekarang salah satunya adalah untuk menunjukkan bahwa ia bisa sukses sekalipun tanpa kedua bantuan pamannya.


" Nenek, ayah mana?," teriak Ical yang sudah wangi. Ia sudah mandi dan berganti pakaian.


" Ayah dan adik Airin sedang berjemur di teras samping. Ical mau kemana sudah wangi begini?,"


" Ayah janji mau ajak Ical pergi. Jadi Ical siap-siap." Ical tersenyum. " Ical mau lihat adik dulu ya, nek." Ical berlari ke tempat ayah dan adiknya berada.


" Mama kenapa?" tanya Salma yang ikut duduk di samping Bu Marisa.


" Hari ini Keluarga Om Bagus dan Om Bagas akan datang melihat Airin. Tapi, Rama sepertinya masih belum memaafkan kedua tantenya. Apa tidak apa-apa?"


Salma mengusap lengan ibu mertuanya. "Tidak apa-apa, Ma. Aku yakin Mas Rama lambat laun juga akan bisa memanfaatkan mereka. Hanya butuh waktu saja." Salma menenangkan ibu mertuanya.


" Mama mau masak apa lagi? Biar aku bantu,". Salma mengalihkan pembicaraan agar Bu Marisa tidak teringat sikap suaminya terus.


Di teras samping, Rama berjemur dengan putri kecilnya yang malah tidur dengan tenang.

__ADS_1


" Ayah!!!," teriak Faisal berlari ke arah ayah dan adiknya yang duduk di atas kursi.


" Ssstttt..." Rama meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Meminta Faisal agar diam.


" Maaf. Adik tidur?," Faisal berbisik saat paham kode dari sang ayah.


Rama tersenyum karena anaknya seolah paham.


" Adik kapan bisa kita ajak jalan-jalan, Yah?," tanya Faisal sambil menoel-noel pipi sang adik.


" Nanti ya. Tunggu beberapa bulan lagi biar adiknya sudah bisa di ajak bermain. Kalu sekarang adiknya masih banyak tidur belum bisa di ajak main walaupun nanti di ajak jalan-jalan."


Faisal mengangguk.


" Kalau hari ini ayah jadi kan ajak Ical jalan-jalan. Ayah sudah janji loh!," Tegas Faisal karena sang ayah suka lupa akan janjinya.


" Iya, insya Allah. Nanti selesai berjemur, ayah mandi dan kita langsung pergi,"


" Hanya berdua?,"


" Iya. Bunda masih belum terlalu sehat. Adik juga belum bisa kita ajak. Sementara Nenek sedang memasak, kakek Bagas dan keluarganya akan datang."


Faisal manggut-manggut.


...******...


Dewi terpaksa melakukan pekerjaan itu karena di ancam akan di serahkan ke polisi. Sementara ia tak ingin merasakan tidur di hotel prodeo dengan memakai seragam tahanan.


Ingin berleha-leha juga tidak bisa. Ada orang yang selalu memperhatikan apa yang ia lakukan.


" Kenapa hidupku jadi seperti ini? Kenapa bukan tugas yang lain saja yang aku lakukan sebagai bayaran karena telah membantuku kabur?," keluhnya.


Padahal kalau melakukan hal biasa seperti yang sering ia lakukan, pasti tidak akan seperti ini.


Dalam benak Dewi, ia masih mengira apa yang ia kerjakan adalah bayaran atas bantuan yang di lakukan laki-laki itu padanya. Ia tidak tahu bahwa Robi melakukan semuanya karena niatnya membalaskan dendam pada Dewi yang telah menyakiti adiknya dengan apa yang ia lakukan dan katakan.


" Cepat bersiap. Kita akan ke rumah sakit." ucap seorang laki-laki berpakaian hitam menghampiri Dewi.


Orang yang sama yang selalu memperhatikan apa yang Dewi kerjakan.

__ADS_1


" Untuk apa ke rumah sakit?," tanya Dewi heran.


" Bersiap-siap saja. Jangan banyak bertanya."


Tiba-tiba pikiran Dewi berkelana. Ia khawatir menjadi korban human trafficking yang akan di jual org@n dalamnya.


" Kalau aku tidak mau??," teriak Dewi berani.


Ia jadi merasa di penjara jauh lebih baik daripada bersama dengan orang-orang yang tidak jelas ini.


" Anda tidak punya pilihan selain mengikuti perintah tuan saya." ucap laki-laki itu menyeringai dan melangkah mendekati Dewi.


Dewi yang takut segera melangkah mundur. Saya ia berbelok dan hendak berbalik, ia menabrak seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangnya.


" Jangan berpikir untuk kabur" bisik laki-laki yang berhasil mencekal Dewi. Hingga perlahan kesadarannya menghilang saat sebuah sapu tangan di bekap ke mulutnya.


" Suruh pelayan mengganti pakaiannya. Lalu kita bawa saat ia belum sadarkan diri."


...******...


Di rumah, Ibu Ana ibunda Dewi merasa khawatir atas Dewi yang tidak diketahui keberadaannya sampai saat ini.


Ingin melaporkan ke kantor polisi juga rasanya tidak perlu. Karena saat ini sang anak sudah menjadi buronan. Yang otomatis tanpa di buat laporan kehilangan orang pun, Dewi pasti sedang di cari polisi.


" Apa yang harus kita lakukan, Pak? Ibu sangat khawatir dengan Dewi." Bu Ana mengadu pada sang suami.


" Kita serahkan saja pada polisi. Kita tidak bisa melakukan apapun. Jika ia tidak bisa di hubungi, itu artinya dia memang sedang melarikan diri. Dia sepertinya tahu kalau saat ini sedang jadi buronan." jelas ayah Dewi.


" Kira-kira dua bersembunyi dimana ya , Pak? Ibu berharap Dewi pulang dan menyerahkan diri. Bukannya kabur. Karena malah akan menambah hukumannya."


" Itu konsekuensi dari apa yang Dewi perbuat, Bu. Kita sudah sering mengingatkan agar jangan melakukan hal yang nekad. Tapi, dia tak pernah mengindahkan apa yang kita katakan,"


Bu Ana menganggukan kepalanya. Dewi sangat keras kepala juga terlalu terobsesi pada Rama.


" Bagaimana kalau kita pergi ke rumah Rama untuk meminta maaf sekaligus menengok anak mereka juga Ical. Sudah lama Bapak tidakmelihat cucu Bapak."


Saat kejadian menimpa Salma, baru Bu Dewi saja yang menengok Salma. Saat itu juga belum ada kabar penetapan tersangka pada Dewi atas jatuhnya Salma. Karena memang saat itu belum ada laporan apapun. Pihak Rama baru mulai menyelidikinya.


" Iya. Tapi, rasanya ibu tidak punya muka di hadapan mereka, Pak. Ibu terlalu malu dengan perbuatan-perbuatan Dewi."

__ADS_1


" Kita harus menguatkan diri, Bu. Bagaimanapun apa yang dilakukan Dewi itu salah. Kita selalu orang tuanya sebaiknya menemui Salma secara baik-baik. Meminta maaf pada mereka. Walaupun kecil kemungkinan Rama akan menarik laporannya. Tapi, setidaknya kita ada itikad baik untuk meminta maaf,"


TBC


__ADS_2