
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (43)
Kenapa melihat wajahnya mengingatkanku pada diriku sendiri saat seusianya. Apa hanya mirip atau....
Batin David, orang yang saat itu berbicara dengan Salma.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Faisal sudah kembali lagi ke sekolah. Rama pun mulai kembali sibuk di rumah makan. Apalagi kini ia sedang melakukan negosiasi dengan pemilik rumah terbengkalai di sebelahnya yang identitasnya sudah ia ketahui belum lama ini.
" Nanti siang aku jemput ya? Sekalian jemput Ical ke sekolah."
" Iya, katanya Ical mau ikut lihat adik bayi " jelas Salma.
Hari ini adalah jadwal periksa kandungan ke rumah sakit. Mereka akan berangkat nanti siang setelah Faisal pulang sekolah.
" Oh iya, Sabtu ini David minta izin untuk kemari. Untuk membicarakan masalah Ical. Dia juga ingin bertemu Ical."
Semenjak pertemuan di tempat wisata saat itu, hubungan David dan Ical semakin dekat. Apalagi saat dia melakukan tes DNA ( dengan izin Rama) pada Faisal dan ternyata Faisal benar anak kandungnya, David berusaha untuk bisa lebih dekat dengan anak yang baru ia ketahui itu.
Namun, sejauh ini Faisal hanya tahu bahwa David adalah teman orang tuanya. Tidak lebih.
Rama sendiri belum menjelaskan pada Faisal karena merasa belum tepat waktunya.
Rama sebenarnya tetap terkejut saat hasil Tes DNA positif bahwa Faisal adalah anak kandung David, sekalipun ia sudah bisa menebaknya.
" Apa Dewi sudah tahu bahwa kita sudah tahu siapa ayah kandung Faisal?,"
" Sepertinya belum. Bahkan aku minta agar David merahasiakannya jika kita sudah tahu."
Salma mengangguk.
Setelah berbicara panjang lebar dengan David, terungkap satu rahasia yang cukup mencengangkan. Tentang alasan Dewi mendekati Rama juga tentang sejak kapan David dan Dewi dekat.
" Bagaimana kalau David berusaha mengambil hak asuh Ical dari kita. Bagaimana pun, ia lebih berhak dari kita?," tiba-tiba Salma terpikirkan hal tersebut.
" Kita akan lihat nanti. Apa yang ingin David bicarakan. Kita bisa sampaikan juga apa yang mengganjal. Di hati kita." jawab Rama.
Salma mengangguk. Salma terlanjur menyayangi Faisal sekalipun perkenalan ia dengan Faisal baru beberapa tahun ini. Apalagi Rama dan Bu Marisa yang sudah menganggap Faisal anak dan cucuk kandung namun kemudian terpatahkan oleh fakta yang ada.
Tidak ada perbincangan lagi setelah Rama akhirnya pergi ke rumah makan setelah mengantarkan Faisal ke sekolah terlebih dahulu.
Di tempat lain, Dewi uring-uringan. Ia masih berusaha menghubungi seseorang. Seseorang yang ia anggap akan bisa membantu melancarkan tujuannya untuk kembali pada Rama.
Dewi melemparkan ponsel ke atas kasur. Ia berteriak sekeras-kerasnya.
__ADS_1
Dewi terdiam beberapa saat hingga ia pun terpikirkan untuk menemui Rama. Menelpon Rama terlebih dahulu pun mustahil. Sekalipun pakai nomor baru. Karena Rama langsung mematikan telponnya saat tahu dialah yang menelpon.
Dewi menyeringai. Dia akan tetap menjalankan rencananya dengan atau tanpa bantuan orang lain. Apapun akan ia lakukan agar bisa kembali bersanding dengan mantan suaminya itu.
Sebuah obsesi yang harus terlaksana. Itulah tujuan Dewi.
Hingga siang berganti menjadi sore. Keluarga kecil Rama sudah kembali dari dokter kandungan. Faisal tak henti-hentinya berceloteh tentang apa yang akan ia lakukan dengan adik perempuannya.
Usia kandungan Salma yang sudah cukup untuk bisa mengetahui jenis kelamin anaknya, membuat mereka tahu akan hadirnya putri kecil di dalam keluarga mereka.
Faisal terlihat antusias. Ia bercerita akan menjaga adiknya, mengajaknya bermain. Semua hal yang terbayang olehnya akan mereka lakukan nanti.
Rama dan Faisal bersyukur sang putra tidak merasa cemburu. Hingga suasana berubah saat ia melihat bahwa sudah ada seorang perempuan yang duduk di kursi di teras rumahnya.
Dewi, perempuan yang masih belum bisa terima jika sudah tidak ada di hati mantan suaminya itu kini sedang duduk dengan angkuhnya. Menatap sinis keluarga bahagia yang ia anggap harusnya menjadi miliknya.
" Apa lagi tujuannya kemari?," tanya Rama menghela nafas.
" Kita temui saja dulu." Ajak Salma sambil keluar dari mobilnya di ikuti oleh Faisal yang langsung menggenggam tangannya.
Mereka melangkah beringan.
" As...."
" Tidak ada yang menyuruhmu datang," jawab Rama telak. Sementara Dewi hanya mencebik.
" Ada keperluan apa kamu datang kemari?," tanya Rama to the point.
" Tidak membiarkan aku masuk dulu?," tanyanya yang berjalan menghampiri Rama.
" Tidak perlu masuk. Di luar saja."
" Begitu caramu menyambut kedatangan tamu?,"
" Kalau tamunya tidak di undang, kenapa tidak?,"
Salma menyentuh lengan Rama, mengingatkan akan keberadaan Faisal dengan matanya.
Rama berjongkok di depan Faisal. " Ical masuk dulu ya, ayah dan bunda harus bicara dulu dengan ibu Dewi."
Sebenci apapun ia. Dewi adalah ibu kandung Faisal. "Faisal, salim dulu." Salma mengingatkan.
Dengan cepat Faisal mencium tangan Dewi dan bergegas pergi.
" Ical masuk dulu." Faisal langsung berlari tanpa menghiraukan Dewi.
__ADS_1
Faisal sendiri tahu bahwa orang yang ada di depannya tadi adalah ibu kandungnya, ayah dan bundanya selalu mengingatkan itu. Namun, ia merasa asing dengan Ibunya yang memang tidak pernah ia lihat. Baru sekarang-sekarang, Ibunya itu mendatanginya dan mengakui dirinya sebagai ibu kandung Faisal.
" Begitukah cara kalian mendidik anak? Tidak ada sopan santun." sinisnya.
" Maksud kamu apa?," Di komentari cara mendidik anak oleh orang yang bahkan tidak pernah mendidik anak membuat Rama geram.
"Dia melengos begitu saja. Padahal aku ibu kandungnya."
" Ical sudah mencium tanganmu. Kurang apalagi?,"
" Hanya itu?,"
" Jangan berharap lebih. Dia tetap hormat padamu itu sudah bagus. Ibu kandung yang meninggalkan dia hanya demi bisa hidup lebih baik seorang diri tanpa memikirkan nasib anaknya yang masih membutuhkan ASI.
Ibu kandung yang tidak pernah sekalipun menanyakan kabarnya bahkan mungkin tidak peduli padanya. Lalu kamu berharap Ical akan seperti apa saat bertemu denganmu?" tanya Rama.
" Ia tidak memiliki kenangan apapun tentangmu." tambah Rama.
Salma tidak ingin ikut bicara karena khawatir memperkeruh suasana.
Dewi mencebik. Kesal? Sudah pasti. Apa yang Rama katakan memang benar.
" Aku akan mengambil Faisal."
Deg
Rama dan Salma terkejut. Ini yang mereka takutkan. Bagaimanapun Faisal tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Bisakah mereka mempertahankan Fasial agar tetap bersama mereka?
" Tidak bisa. Dia akan tetap bersama kami." jawab Rama tegas.
Dewi tersenyum sinis. " Kamu tak punya hak apapun atas Ical. Dia anak kandungku. Sementara kamu bukan siapa-siapa." ucapnya.
" Aku tak peduli. Aku yang selama ini membesarkannya. Sementara kamu?," Rama bersecih bisa-bisanya Dewi berpikir untuk mengambil Faisal.
" Terserah. Tapi, aku akan tetap mengambilnya. Aku akan mengambil jalur hukum. Kamu pasti kalah." Dewi percaya diri. Bukankah jika berbicara hak asuh anak yang seusia Faisal maka ia akan jatuh pada ibunya. Apalagi Rama bukan ayah biologisnya.
Rama diam. Ada rasa khawatir. Bagaimana pun ia memang tak berhak atas Faisal.
" Aku tidak akan menggugat hak asuh anak padamu asal kamu mau menuruti satu syarat dariku." Dewi memberi tawaran.
" Apa?,"
" Menikahlah kembali denganku."
TBC
__ADS_1