
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (54)
Sebuah telpon masuk dari pria yang sudah memberikannya kartu sakti.
" Iya, sayang. Aku akan bersiap." Ucapnya.
Benar-benar berbeda. Ia dan Bella memang berbeda.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Sebuah aula mulai ramai di penuhi para anak-anak dengan usia yang berbeda. Ada anak yatim, piatu, yatim piatu atau anak yang memang sengaja di titipkan oleh orang tua mereka dengan berbagai alasan kehidupan.
Semua sedang berbaris mengantri untuk mendapatkan Snack, makanan dan amplop berisi uang yang sudah di sediakan.
Bu Marisa melakukan apa yang menjadi rencananya. Membagikan sedikit rezeki yang ia miliki pemberian kedua adiknya. Bersama menantu, cucu juga anaknya, Rama yang ternyata memilih ikut untuk ikut berbagi juga meminta doa dari anak-anak yang katanya do'anya mustajab.
Berharap tidak lama lagi putri kecil yang ia nantikan lahir dengan selamat, begitu pula dengan ibunya.
" Jazakakllahu Khoiron katsiron. Atas semua yang ibu dan bapak berikan pada anak-anak kami," ucap ibu panti mengantar kepergian Bu Marisa dan keluarganya.
" Ammin. Mudah-mudahan bermanfaat." senyum Bu Marisa tulus.
" Aamiin."
Merekapun pergi dari panti asuhan dan menuju rumah makan milik Rama dengan sahabatnya.
" Salma ingin makan siang di sini." ucap Rama menjelaskan pada ibunya sekalipun tidak ada pertanyaan.
" Mama tidak apa-apa kalau mampir dulu?," tanya Salma.
" Tidak apa-apa. Pasti cucu Mama di dalam perut yang mengingkannya." Bu Marisa tersenyum.
Salma tidak pernah mengidam yang aneh-aneh. Namun, ia selalu ingin makan makanan yang ada di rumah makan suaminya. Bahkan terkadang Rama sengaja mengirimkan makanan untuk makan siang atau makan malam.
Salma hanya tersenyum. Benar. Entah kenapa lidahnya seolah pahit jika makan makanan lain. Sekalipun tetap makan, porsinya sedikit.
Mereka berjalan memasuki rumah makan yang tampak ramai.
" Marisa?," panggil seorang perempuan dari salah satu meja.
" Mama kesana dulu, ya." Pamit Bu Marisa di jawab anggukan Salma yang melanjutkan langkahnya menuntun. Faisal ke dalam ruangan suaminya.
Ruangan yang tidak bisa di masukin sembarang orang. Apalagi pelayan perempuan.
" Apa kabar?," Bu Marisa memeluk sahabat lamanya yang sudah lama tidak bertemu.
" Alhamdulillah, baik." jawab Intan
" Budi, apa kabar?," sapa Bu Marisa pada suami dari intan.
" Alhamdulillah baik. Kamu sendiri? Lama tidak bertemu."
" Alhamdulillah. Kalian yang sibuk, pejabat sekaligus pengusaha, sedang aku hanya sibuk dengan cucu saja." timpal Bu Marisa tersenyum ikut duduk di meja mereka.
__ADS_1
" Tidak juga."
" Itu yang tadi, menantu barumu?," tanya Intan yang memang tidak sempat datang di pernikahan Rama walaupun mengirimkan hadiah yang di kirimkan melalui kurir.
" Iya, menantuku."
" Sepertinya Sadang hamil besar?,"
" Kamu benar. Aku sedang menunggu kelahiran cucuku. Cucu perempuan."
" Bagaimana, apa dia menantu idaman?" selidik Intan penasaran.
" Iya, menantu pilihan cucuku memang tidak salah." Bu Marisa tertawa.
Intan pun sama. Ia yang tahu awal mula pernikahan anak dari sahabatnya itu berawal dari Faisal yang menginginkan Salma jadi ibunya.
"Aku tenang sekarang, kehidupan putraku sudah baik-baik saja. Memiliki Istri yang baik, anak juga usaha yang perlahan maju "
" Benar. Pilihan meninggalkan mantannya itu bagus. Aku juga akan memilih cerai jika suamiku ketahuan selingkuh. Walaupun umur sudah tua begini, aku tak masalah jadi janda."
" Uhuk ..Uhuk... Uhuk...."
Budi sang suami terbatuk mendengar ucapan istrinya.
" Kenapa kaget sampai tersedak begitu?," tanya Intan mengerutkan keningnya.
" Tidak apa-apa," jawab Budi saat tenggorokannya terasa lega.
" Semua aset sudah atas namaku. Jika suamiku berselingkuh, silahkan pergi tanpa apapun." jelasnya tenang kembali menyantap makan siangnya.
Glek
Jika intan tenang-tenang saja, berbeda dengan Budi sang suami yang sulit menelan makanannya. Bahkan air putih pun serasa tersangkut di tenggorokan.
" Kamu tidak selingkuh, kan?" Intan mulai curiga dengan sikap aneh sang suami.
Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban. Lidahnya terlalu Kelu untuk berdusta.
Sementara Bu Marisa menemani sahabatnya makan siang dan ikut makan siang bersama di meja yang sama, si ruang Rama keluarga kecil itu pun sedang menyantap makan siangnya.
" Kamu juga harus makan, Mas. Jangan hanya mengurusi pekerjaan."
Salma menyuapi suaminya dari piring yang sama. Begitu pun dengan Faisal.
" Lusa, kita akan melihat sekolah tempat Ical nanti bersekolah. Kamu masih kuat? Atau mau menunggu di rumah saja?,"
Tawar Rama mengingat usia kandungan Salma yang sudah mendekati hari kelahiran.
" Ikut saja, Mas. Aku bosan jika hanya di rumah. Lagi pula dengan mas Rama juga kan?," Salma balik bertanya.
Beberapa bulan lagi masuk tahu ajaran baru. Faisal akan bersekolah di sekolah dasar yang di naungi yayasan milik keluarga David.
Sekolah yang tidak di ragukan akan fasilitas atau pengajarnya. Juga kurikulumnya yang merupakan sekolah plus.
__ADS_1
" Iya, tentu saja. Ical pasti senang jika kita menemaninya berkeliling di sekolah barunya."
...******...
Dewi mengeluarkan kartu pemberian sugar Daddy nya. Dengan tenang, ia menunggu pembayarannya selesai.
" Maaf, kartunya sudah di blokir."
Dewi mengerutkan keningnya.
" Tapi, barusan masih bisa di pakai. Tolong coba lagi." Dewi kembali menyodorkan kartu yang tadi di kembalikan.
Demi kesopanan dalam melayani pelanggan, permintaan Dewi pun di turuti dengan senyuman manis. Padahal dalam hatinya perempuan berseragam itu mengumpat.
" Maaf masih tidak bisa."
Dewi mengeluarkan semua uang cash miliknya sejumlah belanjaan yang harus ia bayar. Pergi meninggalkan toko dengan menenteng paper bag berisi belanjaannya.
" Kamu dimana?," tanya Dewi ketus menelpon sang sugar Daddy. Tidak ada kata-kata manis setelah kartu pemberiannya tak lagi bisa di gunakan.
Brakkk
Dewi meletakkan belanjaannya dengan kesal di hadapan pria paruh baya yang sedang menikmati kopinya.
Di ruangan privat yang sudah ia pesan, Sang pejabat leluasa untuk berbicara berdua dengan wanita yang mungkin sebentar lagi akan meninggalkannya.
" Ini pertemuan kita yang terakhir." Amplop coklat tebal diletakkan di atas meja.
" Kenapa?,"
" Aku memilih mengehentikan semua ini. Istri dan anakku terlalu berharga untuk aku tinggalkan,"
Dewi mengerutkan keningnya. Bisa di pastikan amplop itu berisi uang. Namun, uang terakhir karena setelah ini sumber uangnya akan berhenti.
"Aku tidak pernah meminta kamu memilih."
" Istriku yang meminta. Hubungan kita sudah di ketahui olehnya dan aku tidak ingin kehilangan mereka."
Dewi diam. Ia tidak boleh menyerah. Ia baru akan memulai rencananya. Tapi, penyokong dananya malah berhenti sebelum ia mengutarakan keinginannya.
" Kita sembunyi-sembunyi.Aku akan diam."
" Selama ini kita sembunyi-sembunyi. Kamu juga tidak mengatakan apapun. Namun, istriku bisa mengetahuinya dengan mudah. Ketika uang berbicara, informasi apapun bisa di temukan dengan mudah."
" Kalau begitu, pilih aku saja. Aku lebih muda dari istrimu bukan? Masih bisa memberimu keturunan."
Dewi tak mau menyerah begitu saja. Tidak apalah jika akhirnya harus menikah dengan laki-laki berusia asal bisa mencukupi kebutuhannya.
Bagi Dewi, laki-laki di depannya hanya batu pijakan untuk menggapai apa yang ia inginkan. Jadi, bersusah sebentar dengan menjadi istri dari pria tua pun tak masalah baginya.
" Kamu siap hidup susah bersamaku?," tanya sang pria.
TBC
__ADS_1