Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 39 Jika Harus Memilih


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (39)


Aroma harum langsung memenuhi ruangan yang kecil itu saat Rama membuka tutupnya.


" Kenapa hanya diam? Kamu tidak suka?,"


" Bukan itu. Tapi,..."


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Aku mau cuci muka dulu. Rasanya tidak nyaman kalau langsung makan."


Rama bernafas lega. Ia pikir istrinya itu tidak berselera pada makanan yang ia bawa.


Tanpa diminta, Rama langsung menggendong istrinya ke kamar mandi. Setelah selesai, mereka lalu duduk di atas karpet spon yang ada di samping kasur.


Rama membuka gorden dan membuka sedikit jendelanya agar ada udara segar yang masuk.


" Ayo, ini masakan Mama. Kamu pasti suka." Rama mengambil piring dan meletakkan makanan di atasnya.


Keduanya makan bersama. Sampai tidak terasa makanan yang awalnya terasa terlalu banyak untuk di makan berdua pun langsung tandas seketika.


Mungkin karena Salma makan untuk dua orang. Belum lagi sarapan pagi ia lewatkan.


Menjelang sore, Rama mengajak istrinya pergi. Dengan mengendarai mobil, mereka pergi ke sebuah cafe yang memiliki pemandangan yang bagus. Pemandangan di atas bukit yang bisa melihat kita dari atas.


Cukup jauh dari tempat yang di tempati Salma saat ini, tapi masih satu kota.


" Mas tahu dari siapa aku ada disini?," tanya Salma yang penasaran. " Apa dari Aisyah?," tanyanya lagi.


" Bu Aisyah tahu?," Rama balik bertanya.


" Hmm. Kosan tadi milik keluarganya."


Rama manggut-manggut. Dia memang hanya tahu lokasi tempat istrinya berada tanpa tahu siapa pemiliknya.


"Jadi?,"


Rasa penasaran Salma kian menjadi karena suaminya justru malah tidak tahu bahwa Bu Aisyah tahu keberadaannya.


" GPS" jawab Rama singkat.

__ADS_1


" Tapi, ponsel aku matikan."


" Tidak selamanya bukan?," Rama tersenyum.


Salma termangu. Berarti suaminya menunggu terus sampai ponselnya di aktifkan.


" Sejak kapan mas tahu aku disini?,"


" Cukup lama."


" Kenapa mas tidak langsung kesini?,"


" Aku membiarkanmu waktu. Tadinya, aku akan memberikan waktu sebanyak dua Minggu. Namun, entah kenaoa sejak kemarin aku teringat padamu. Aku khawatir."


" Hmm. Aku memang tidak enak badan sejak semalam."


Ikatan batin keduanya cukup kuat.


" Mau menikmati untuk jalan-jalan dulu denganku selama beberapa hari disini? Baby moon mungkin?," tawar Rama dengan senyum menggoda.


" Tapi pekerjaan mas bagaimana?," Salma tidak ingin egois. Padahal dalam hati ia sangat senang.


" Aku menghabiskan waktuku untuk bekerja saat kamu disini. Jadi, sekarang waktunya beristirahat."


" Ical bagaimana?," Dia akan menyusul saat weekend nanti. Jadi, kita sekalian liburan keluarga. Disini banyak tempat wisata keluarga. Pasti Ical senang." Jelas Rama panjang lebar.


Sebagai seorang ayah, mana mungkin ia melupakan anaknya.


" Boleh aku bertanya sesuatu?,".


" Hmm. Tanyakanlah."


" Apa benar Ical bukan ..?,"


" Ya." Rama menjawab pertanyaan Salma yang bahkan belum selesai.


Sekalipun fakta menyatakan ia bukan siapa-siapa Faisal, nyatanya ia selalu merasa berat mengakui anak yang selama ini ia asuh bahkan ia jaga sejak dalam kandungan ternyata bukan anak kandungnya.


Kalau saja Faisal tidak pernah mengalami kecelakaan yang memerlukan transfusi darah, mungkin selamanya ia hanya tahu Faisal adalah anak kandungnya. Namun,saat Ternyata golongan darah Faisal tidak sama dengannya dan Dewi, Rama mulai curiga dan melakukan tes DNA itu.


" Apa tidak apa-apa jika kita mempertahankannya di sisi kita yang bukan siapa-siapa?"

__ADS_1


" Kenapa kamu berbicara seperti itu?,"


Salam menghela nafas. " Seandainya kamu harus memilih antara aku dan Faisal, kamu lebih memilih yang mana?,"


Rama melihat istrinya dengan tatapan tidak suka. "Aku akan memilih kalian berdua. Karena kalian bukan pilihan." tegasnya.


" Kamu tahu, aku menjadi single father saat ia berusia satu tahun. Kami menghabiskan waktu berdua selama bertahun-tahun. Karena itu aku tidak bisa Kehilangannya. Aku menyayanginya sekalipun dia bukan darah dagingku."


Ada rasa berat di lidahnya saat mengatakan Faisal bukan darah dagingnya.


" Sementara kamu adalah pendamping hidupku. Wanita yang aku cintai, ibu dari anak-anakku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kalian berdua sangat berharga." Jelasnya panjang lebar.


" Aku tahu."


" Jadi, jangan tanyakan lagi siapa yang akan lebih aku pilih." pintanya.


" Kamu tahu, aku pun sama sepertimu, Mas. Sekalipun Ical bukan anak kandungku, aku sangat menyayanginya. Aku tak rela jika harus kehilangannya.


Namun, melihat seperti apa Dewi berusaha mengejarmu. Ingin kembali ke sisimu. Entahlah aku tiba-tiba berpikir dia akan melakukan hal yang berhubungan dengan Ical."


Rama diam. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan istrinya.


" Aku bukan menakut-nakuti. Hanya saja jika melihat siapa yang berhak, tentu Dewi yang jauh lebih berhak"


" Tapi,,dia sendiri mengabaikan Ical sejak kecil."


" Aku tahu.Tapi, kita harus waspada. Dewi selalu tak terduga."


Tiba-tiba, Rama merasa menyesal pernah mengenal Dewi. Pernah sangat mencintainya.


" Bisakah kita melupakan sejenak masalah itu. Aku ingin hari ini dan beberapa hari kedepan hanya ada kita. Aku, kamu dan dia." Pinta Rama sambil mengusap perut Salma.


" Baiklah."


Mereka mulai menikmati makanan yang dihidangkan di cafe. Rama merangkul pinggang Salma dan menarik tubuhnya agar semakin mendekat padanya. Padahal mereka sudah tak berjarak sejak pertama kali duduk.


" Jangan jauh-jauh." kilahnya


Salma hanya mencebik. Jarak mereka kalaupun ada paling hanya selebar jarum.


Keduanya menikmati senja yang indah berdua untuk pertama kalinya setelah sepuluh hari berpisah.

__ADS_1


" Setelah ini kita mau kemana dulu?," Rama bertanya pada istrinya yang masih menikmati minumannya.


TBC


__ADS_2