
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (61)
" Kita harus menguatkan diri, Bu. Bagaimanapun apa yang dilakukan Dewi itu salah. Kita selalu orang tuanya sebaiknya menemui Salma secara baik-baik. Meminta maaf pada mereka. Walaupun kecil kemungkinan Rama akan menarik laporannya. Tapi, setidaknya kita ada itikad baik untuk meminta maaf,"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Eunggghhh " Dewi mengerjap-ngerjapkan matanya.
Perlahan kesadarannya kembali.
" Ini dimana?," Dewi memperhatikan sekitarnya.
Sebuah kamar sederhana namun, bukan kamar yang beberapa hari ini ia tempati.
Dewi duduk dan bersandar ke headboard. Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Namun, ia hanya ingat bahwa terakhir dia di ajak ke rumah sakit entah untuk tujuan apa.
Dewi menyingkap pakaiannya, ia meraba perutnya. Tidak ada hal yang aneh. ia juga tidak merasakan apa-apa.
" Syukurlah, aku tidak kenapa-kenapa. Aku pikir akan kehilangan salah satu organku." lirihnya.
Setelah merasa kuat, Dewi segera berdiri dan mengecek jendela dan pintu. Semua terkunci rapat. Hal ini membuat Dewi khawatir. Saat ini mungkin ia selamat.Tapi, esok lusa akankah tidak terjadi apapun? Ia sendiri tidak tahu.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan masuk dengan nampan di tangannya.
Tanpa banyak bicara, ia meletakkan makanan di atas meja. Lalu segera undur diri.
" Bisa tolong bantu aku? Aku ada dimana,?" tanyanya memelas.
" Maaf saya tidak bisa membantu apapun." jawabnya segera berlalu. Tak ingin sampai terlibat.
Dewi akhirnya hanya bisa pasrah. Kalau ada kesempatan dia lebih memilih untuk dipenjara saja dari pada harus berada di sana dengan nasib yang tidak jelas.
"Ssst .. " Dewi berdesis. Ia memegang perut bagian bawahnya yang terasa nyeri.
" Kenapa akhir-akhir ini perutku sakit? Apa karena aku akan kedatangan tamu bulanan?," gumamnya pelan.
Dewi pikir ia akan kedatangan tamu bulanannya. Namun, beberapa hari yang lalu pun ia merasakan hal yang sama tapi haid nya tidak kunjung datang.
Merasa badannya tidak enak, ia merebahkan tubuhnya. Rasa nyeri itu kembali datang. Bulir-bulir keringat membasahi keningnya.
" Kalau saja Salma mau menerima aku jadi madunya, aku tidak harus melakukan itu padanya. Aku juga tidak akan mengalami nasib seperti ini." lirihnya.
Bukannya sadar atas apa yang sudah ia perbuat, Dewi malah mengkambinghitamkan orang lain.
Sementara di Villa tempat Dewi awalnya tinggal, Robi berjalan sambil menuntun keponakannya. Di belakangnya ada sang adik.
"Tempatnya tidak banyak berubah ya, Kak?," tanya Reina pada kakaknya.
" Iya. Semuanya masih sama." jawabnya singkat. " Berapa lama kamu akan tinggal disini?," tanya Robi pada sang adik.
" Mungkin semingguan."
Robi mengangguk. " Kalian beristirahat dulu saja. Kakak akan keluar dulu."
__ADS_1
Robi berjalan meninggalkan adik dan keponakannya di dalam kamar.
" Wanita itu sudah kamu amankan?," tanya Robi pelan.
" Sudah tuan.Dia ada di rumah di tengah hutan. Kami tidak sempat membawanya keluar dari vila jadi kami membawanya kesana."
Hutan yang dimaksud adalah hutan yang ada di belakang Vila yang jauh dari manapun. Dewi yang awalnya akan dibawa ke rumah sakit, segera di bawa ke rumah yang memang masih milik Robi namun letaknya terpencil di tengah hutan.
Kedatangan Reina yang mendadak membuat rencana berubah. Tak ingin keberadaan Dewi di ketahui Reina, akhirnya Robi memerintahkan agar Dewi di bawa ke tempat itu.
" Jadi, pemeriksaan belum sempat di lakukan?,"
" Belum, tuan." Robi mengangguk.
Untuk sementara sampai Reina dan keponakannya pergi meninggalkan Villa, Robi akan membiarkan Dewi disana dengan penjagaan yang ketat.
...******...
" Ayah, ayo kita balapan yang terbanyak mendapatkan poin!!," Ajak Faisal.
Kini keduanya berada di taman bermain di salah satu Mall. Rama mengajak Faisal bermain bersama disana.
Mereka sedang bersiap bermain memasukkan bola basket ke dalam ring. Keduanya berdiri berdampingan dengan ring berbeda.
Setelah permainan di mulai, keduanya mulai memasukkan bola demi bola. Faisal yang sekalipun tertinggal jauh poinnya tetap bersemangat untuk memasukkan bolanya.
" Yah.... Aku kalah." Seru Faisal.
" Tidak apa-apa," Rama mengacak-acak rambut Faisal. " Ini hanya permainan."
" Pastinya. Ayo kita main yang lainnya," Rama mengajak Faisal menjajal satu persatu permainan yang ada.
Keduanya begitu menikmati momen kebersamaan mereka. Hingga keduanya merasa leleh dan memutuskan untuk membeli makanan di food court terdekat.
" Ayah, ayo ambilkan ini," Faisal menunjuk pada permainan Capit boneka. Dimana ada banyak sekali boneka yang lucu di dalam sana.
" Kamu mau boneka?,"
" Bukan untuk Ical. Tapi, untuk Airin." jelas Faisal.
" Ayah coba dulu." Rama sebenarnya tidak yakin bisa memainkannya. Namun,ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan Faisal.
" Yah ...." Berkali-kali Rama mencoba namun, ia tidak berhasil juga.
" Ayo , Yah. Ayah pasti bisa!," Faisal berteriak menyemangati ayahnya.
...******...
Di rumah Rama, tamu yang di tunggu sudah datang. Mereka benar-benar membawa keluarganya.
Bahkan mereka sudah menikmati masakan Bu Marisa.
" Rama kemana? Om tidak melihatnya." Tanya Om Bagas pada Salma yang duduk sambil menggendong Airin yang tadi terbangun dan menangis.
" Mas Rama sedang menemani Ical jalan-jalan. Maaf Mas Rama sudah terlanjur janji pada Ical, jadi tidak bisa membatalkan mendadak rencananya. Khawatir Ical kecewa, Om."
__ADS_1
" Tidak apa-apa. Kami juga yang mendadak memberitahukan kedatangan kami,"
Salma pun permisi masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Airin.
" Apa Rama masih marah pada kami?," tanya Bagus bertanya pada sang kakak saat keduanya sedang duduk di ruang tamu.
Pertanyaan Bagus sontak membuat yang lainnya melihat ke arah keduanya. Melihat sikap Rama terakhir kali bertemu, mereka yakin Rama masih marah pada mereka.
" Dia masih butuh waktu. Tolong di maklumi."
Kedua adik Bu Marisa mengangguk.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil masuk dan berhenti tepat di samping mobil Pak Bagus.
" Ayah, nanti kita jalan-jalan lagi ya?!," ajak Faisal. Hari ini ia merasa senang karena bisa pergi berdua bersama ayahnya.
Keduanya sudah turun dari mobil. Faisal memeluk boneka kelinci yang akan ia berikan pada sang adik.
" Insya Allah. Kapan-kapan kita akan pergi lagi."
" Dengan bunda dan Airin juga"
Rama hanya mengangguk.
Mereka pun masuk setelah mengucapkan salam.
" Wah, itu boneka untuk siapa?," tanya Bu Marisa saat melihat Faisal membawa boneka kelinci di tangannya.
" Ini untuk Airin, Nek." jawab Faisal antusias.
" Adik di kamar, Nek?,"
" Iya. Barusan Bunda menidurkannya."
Faisal yang tidak sabar ingin segera memberikan boneka kelinci di tangannya segera masuk ke kamar untuk menemui adiknya.
Dikamar, Salma terkejut saat faisal sudah ada di dekatAirin yang tertidur saat Ia keluar dari kamar mandi.
" Ical sudah pulang?,"
" Iya, bunda."
" Itu boneka punya siapa?,"
" Ini untuk adik. Dari Ical dan Ayah." jawab Faisal.
Salma mengambilnya dan melihatnya.
" Tadi, Ical lihat ada mainan boneka capit jadi, Ical minta ayah untuk memainkan itunahar dapat hadiah bonekanya."
" Ayah berhasil mengamankan satu untuk Airin?," tanya Salma terkejut. Karena setahunya, suaminya tak pernah bisa memainkan itu saat dulu ia pernah memintanya.
" Hehe, ayah tidak bisa mengambilnya bunda" Faisal nyengir
" Lalu ini boneka dapat dari mana?,"
__ADS_1
TBC