
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (46)
" Soal permintaan ibuku, apakah kamu mengizinkan Ical menemui mereka?," tanya David penuh harap.
Rama diam sejenak. Memikirkan baik dan buruknya. Juga alasan agar Faisal mau ikut dengan David.
" Tapi, dengan satu syarat."
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Syarat apa?,"
" Bantu aku agar Dewi tidak bisa mengambil hak asuh Ical dariku."
" Hak asuh Ical?," David terkejut.
Rama pun menceritakan tentang pertemuan tadi pagi dengan Dewi.
" Dewi tahu bahwa kelemahan ku adalah Ical. Aku menyayanginya sekalipun dia bukan darah dagingku. Karena itu dia menggertak ku dengan cara akan mengambil hak asuh Ical.
Dengan statusnya sebagai ibu kandung Ical, aku merasa akan sulit menghadapinya. Sementara Kamu kan ayah kandung Ical. Mungkin bantuanmu bisa membuatku tetap memiliki hak asuh Ical." jelas Rama panjang lebar.
David terdiam mendengarkan penuturan Rama. Ia melihat ke arah Faisal y sedang bermain dan tertawa bersama Salma. Anak itu terlihat bahagia.
Ia pun membayangkan seandainya Faisal bersama Dewi. Akankah bahagia seperti saat ini? Sedangkan yang ia tahu pertemuan Dewi dan Faisal saja masih bisa di hitung jari.
Rama ikut melihat ke arah Faisal. " Jadi, bagaimana?,"
Rama sebenarnya tidak ingin mengajukan syarat apapun. Bagaimanapun, David adalah ayah kandung Faisal dan orang yang David adalah Kakek dan nenek kandung Faisal. Namun, ia harus bisa mendapatkan bantuan mereka agar Dewi tidak bisa menang.
" Dav,,,."
Panggilan Rama yang kesekian kalinya akhirnya membuyarkan lamunan David.
" Maaf, malah jadi melamun."
" Jangan bilang kalau kamu juga berpikir untuk mengambilnya hak asuh Faisal."Rama malah jadi khawatir.
" Aku tidak berpikir kesana. Bisa masuk dalam kehidupan Faisal tanpa merusak kebahagiaannya saja aku sudah bersyukur."
" Jadi?,"
"Aku akan membantu semampu ku."
Rama sedikit lega karena David berniat membantunya dan tidak memiliki keinginan mengambil hak asuh Faisal.
Mereka kembali berbicara banyak hal.
" Aku akan memberitahumu jika Faisal sudah mau ikut bertemu kedua orang tua mu." Ucap Rama. Mengingat orang tua David ternyata tidak hanya sekedar ingin bertemu namun, ingin agar Faisal bisa menginap di tempat mereka di kota sebelah.
...******...
" Bun, apa bunda sayang Ical?," tanya Faisal yang kini bersiap tidur. Ia sudah membaringkan tubuhnya di temani Salma.
Salma tersenyum. " Tentu saja sayang. Kenapa Ical nanya begitu?,"
__ADS_1
Ical melihat ke arah bundanya. " Apa ayah juga seperti bunda?," tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaan Salma.
" Ayah juga sayang Ical. Seperti yang Ical lihat dan Ical rasakan." Salma kini merubah posisinya. Ia duduk di ikuti Faisal. Kini keduanya duduk dengan saling berhadapan.
Salma terdiam beberapa saat ia merasa sepertinya Faisal sudah banyak mendengar apa yang mereka bicarakan tadi dengan Dewi di teras.
" Apa yang mau Ical tanyakan. Ayo tanyakan pada bunda." pinta Salma lembut.
Ia khawatir Faisal bertanya kepada orang lain. Yang malah membuat Faisal justru salah paham atas apa yang terjadi.
" Apa ayah juga seperti bunda, bukan ayah kandung Faisal?,"
Salma tertegun. Faisal bisa mengaitkan semua yang ia dengar.
" Apa Ical sayang ayah?," Salma balik bertanya.
" Sayang." jawabnya yakin.
" Kalau ayah seperti bunda, apa Ical tetap sayang ayah?,"
" Sayang." Jawabnya setelah diam sejenak.
" Ayah dan Bunda sama. Ayah bukan orang tua Ical. Tapi, ayah adalah ayah yang membesarkan Ical."
" Apa ayah tidak akan sayang Ical lagi jika ada adik bayi?," tanyanya polos.
Entah apa yang dipikirkan anak itu. Apakah ia mendengar perkataan tidak baik tentang ayah atau ibu sambung yang bersikap buruk pada anak sambungnya apalagi ketika mereka punya anak sendiri? Entahlah.
Salma memeluk Ical. " Ayah sayang ical sekalipun ada adik bayi. Ical harus percaya bahwa bunda dan ayah sayang Ical. Sekarang, nanti dan selamanya akan selalu sayang Ical."
" Lalu, ayah kandung Ical siapa?," tanya Faisal sambil melerai pelukannya.
" Om David,adalah ayah kandung Ical." jawab Salma sambil melihat raut wajah Faisal.
" Benarkah? Tapi, kenapa Om David tidak bilang?,"
" Om David takut kamu bingung,sayang. Apalagi Om David baru tahu kamu anak kandungnya. Apa Faisal sayang dengan Om David?,"
Faisal mengangguk. " Om David baik, Bun."
" Ical mau panggil Om David dengan sebutan ayah?," tanya Salma hati-hati.
" Tidak." jawab Faisa tegas.
Deg
" Kenapa?"
" Karena Ical sudah punya Ayah. Ayah Rama."
" Jadi, Ical tidak tidak mau memanggil Om David dengan sebutan ayah?,"
" Tidak.."
Salma pasrah. Ia tak ingin memaksa Faisal memanggil David dengan sebutan ayah. Mungkin Faisal masih membutuhkan waktu untuk bisa menerima kenyataan ini.
__ADS_1
" Ya sudah, tidak apa-apa kalau Ical hanya mau memanggil Om David dengan sebutan Om."
" Aku juga tidak mau manggil Om, Bun."
Salma mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti. Faisal bilang tidak ingin memanggil David dengan sebutan ayah, tapi tidak juga dengan sebutan Om.
" Aku mau panggil....."
...******...
" Dav, bagaimana tanggapan orang tuamu?," tanya Rama saat David datang untuk menjemput Faisal ke rumah orang tuanya.
" Mereka bilang tidak apa-apa. Justru itu bagus karena mereka juga ingin dekat dengan kalian. Orang yang telah berjasa membesarkan Faisal selama bertahun-tahun. Orang yang tidak punya hubungan apa-apa namun mau membesarkan Ical di saat Ibu kandungnya sendiri malah meninggalkannya." Jelas David panjang lebar.
Setelah berbicara dengan Faisal, bahwa ayah kandungnya ingin mengajak Faisal bertemu nenek dan kakeknya, Faisal bilang akan pergi jika ayah dan bundanya juga ikut pergi.
Faisal tidak pernah pergi dengan orang lain selain orang tua dan nenenknya. Walaupun ia sudah tahu bahwa David adalah ayah kandungnya, namun untuk pergi hanya berdua dengan David apalagi menginap ia belum mau. Tidak terbiasa.
Orang tua David pun ternyata tidak mempermasalahkan hal itu.
" Soal bantuan yang aku minta tempo hari, apa tanggapan orang tuamu?,"
" Katanya nanti di bicarakan secara langsung saja."
Rama menganggukkan kepalanya. Ia berharap Kakek dan nenek Faisal mau membantunya dan tidak bermaksud mengambil hak asuh Faisal.
Mereka bisa bersama-sama membesarkan Faisal. Tanpa harus saling berebut hak asuh.
Rama melihat ke arah tangga. Memastikan apakah anak dan istrinya sudah siap atau belum.
" Maaf membuatmu menunggu lama."
" Tidak apa-apa. Aku yang terlalu cepat menjemput karena tidak sabar ingin bertemu dengan Faisal." jelas David. Setelah tahu status Faisal, David jadi selalu ingin menghabiskan waktunya dengan Faisal.
" Soal mobil, apa tidak apa-apa kita satu mobil. Aku tidak enak."
" Kenapa tidak enak? Kita malah bisa bergiliran untuk menyetir kan?," tanya David.
Tujuan akhirnya berubah saat tahu Faisal akan datang bersama orang tuanya. Akhirnya kedua orang tua David, mengajak mereka ke vila sekalian liburan bersama.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki . Salma dan Faisal sedang menuruni tangga.
David tersenyum melihat anaknya yang terlihat tampan.
Setelah mendekat ke arah David, Rama meminta Faisal mencium tangan ayahnya.
" Salim dulu sama Papa David." pinta Rama tersenyum.
Deg
David terkejut dengan panggilan Papa. Ia melihat ke arah Rama.
Rama mengaguk. " Ical sudah tahu."
" Papa David ..."
__ADS_1
TBC