Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 63 Dewi Akhirnya Tahu


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (63)


Robi sendiri sebenarnya selalu mengawasi apapun yang di lakukan Dewi melalui Cctv yang ia pasang.


" Semoga kamu sedang merasakan akibatnya." Robi menyeringai sambil melihat laptop yang memperlihatkan kondisi Dewi di sana.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Bagaimana hasilnya?,"


"Positif," jawaban dokter Anton membuat Robi tersenyum senang.


Akhirnya ia bisa melihat orang yang membuat adiknya menderita.


" Aku rasa kehancuran memang akan segera menghampirinya tanpa aku harus turun tangan." ucapnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku menghadap ke luar jendela melihat pemandangan kota.


Tak ingin menimbulkan kecurigaan, Robi meminta sahabatnya datang ke kantor untuk menjelaskan hasil pemeriksaan yang di lakukan pada Dewi.


" Sudah aku bilang, benar kata Reina, tak perlu membalas kejahatannya. Karena setiap orang akan menuai apa yang ia tanam." Anton mengatakan apa yang selalu di katakan Reina saat Robi berkata akan membalaskan apa yang telah Jimmy dan Dewi lakukan padanya.


" Aku tahu. Hanya saja aku tidak memiliki kesabaran untuk menunggu sampai dia merasakan apa yang pernah ia lakukan. Karena itu aku ingi membantunya mempercepat semuanya."


" Aku tidak tahu jika kamu sebaik itu." ejek Anton namun Robi tak peduli.


" Sekarang apa yang akan kita lakukan padanya?,"


" Berikan obat penghilang ingatan padanya. Agar dia tidak bisa mengingat apa yang terjadi beberapa hari ini. Setelah itu buat polisi menemukannya tanpa tahu bahwa kita di balik semuanya."


" Baiklah."


" Lakukan dengan bersih."


" Ck, aku tahu." Anton berdecak kesal sambil melangkah pergi meninggalkan Robi.


...******...


Langit sangat cerah saat sepasang suami istri bertamu ke rumah Rama. Namun, hanya ada Salma. Rama sedang pergi ke rumah makan sedangkan Bu Marisa sedang membeli sesuatu ke minimarket terdekat dan Faisal ikut dengan neneknya.


" Boleh Tante menggendongnya?," pinta Ana, ibunda Dewi.


" Boleh, Tan."


" Namanya siapa?," tanyanya lagi sambil menimang bayi mungil itu.


" Sheza Almahyra Khairina, panggilannya Airin." jawab Salma.


" Nama yang bagus."puji Bu Ana.


" Ical kemana?,"


" Ical ikut Mama ke minimarket."


" Selain itu menengok Airin, kamu juga ingin minta maaf. Ternyata apa yang menimpa kamu memang ulah Dewi."


" Tidak apa-apa, Tan."


" Kalau dia sudah di temukan, kami akan menyuruhnya untuk meminta maaf pada kalian." ucap suami Bu Ana.


" Dewi belum di temukan?,".


" Iya. Kami tidak tahu dia dimana."


" Assalamu'alaikum ," salam Faisal dan Bu Marisa bersamaan sebelum masuk ke rumah


" Wa'alaikumussalam."


" Apa kabar?," Bu Marisa menyalami keduanya.

__ADS_1


" Nenek!! Kakek!!," seru Faisal senang.


Setelah melepas rindu pada kakek dan neneknya, Faisal ke kamarnya.


" Kami minta maaf atas nama Dewi," Bu Ana mengucapkan permintaan maafnya di depan Bu Marisa.


" Sebenarnya saya sangat kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi."


" Kmi paham. Kami pun kecewa atas apa yang Dewi lakukan. Hanya karena ambisinya, dia mencelakai Salma. Bersyukur Salma dan bayinya baik-baik saja."


" Aku dengar Dewi kabur?," tanya Bu Marisa.


" Kami pun tidak tahu dia kemana. Jika tahu, mungkin kami akan membujuk Dewi untuk menyerahkan diri daripada malah sembunyi dari kejaran polisi."


" Kami tidak meminta untuk mencabut laporan kalian atas Dewi, kami sadar kesalahan Dewi sangat besar. Kami hanya berharap semoga Dewi sadar setelah ia mendapatkan hukuman itu." timpal ayah Dewi.


...******...


Seperti yang di rencanakan, orang-orang suruhan Robi membawa Dewi dalam keadaan pingsan.


Mereka meletakkan Dewi di sebuah halte bis yang sepi. Namun, mereka mengawasi dari kejauhan, agar semua rencananya berjalan lancar.


Hingga tiba-tiba seorang pemulung menemukannya dan mulai menarik perhatian orang yang berada tidak jauh dari sana.


" Apa dia sudah mati?,' bisik seseorang.


" Nafasnya masih ada,"


" Panggil ambulan,"


" Panggil polisi saja. Dia kan buronan yang sedang di cari," ucap seorang di antara mereka hingga semuanya terdiam dan melihat ke sumber suara.


" cek saja. Fotonya sudah tersebar," ucapnya lagi membuat semuanya mencari informasi secepatnya.


" Iya. Dia memang di cari polisi." timpal yang lain.


Seseorang diantara mereka pun menghubungi polisi. Hingga mobil polisi datang dan membawanya ke rumah sakit.


" Bagaimana?," seorang laki-laki yang dari tadi memperhatikan kerumunan orang itu langsung bertanya saat orang suruhannya masuk.


" Semua beres. Orang yang menelpon polisi juga masyarakat yang tadi ada disana."


" Bagus,"


Mereka pun pergi meninggalkan TKP. Alasan keberadaan mereka adalah memastikan Dewi di jemput oleh polisi dengan orang lain sebagai pelapor.


Seperti tugas yang diberikan jangan sampai polisi mengetahui keterlibatan mereka.


Kabar penangkapan Dewi sampai ke telinga kedua orang tuanya. Dengan tergesa mereka mendatangi rumah sakit. Sebenci apapun mereka atas apa yang anaknya lakukan, tetap saja hati nurani sebagai orang tua mengalahkan ego mereka.


" Sebenarnya Dewi kenapa, Pak?,"


" Bapak juga tidak tahu. Lebih baik kita temui Dewi dulu."


Ceklek


Pintu terbuka memperlihatkan Dewi yang sedang berbaring sambil memejamkan matanya.


Bu Ana masih tak percaya ada polisi yang berjaga di pintu kamar.


" Anak kita buronan. Mau bagaimana lagi," ucap ayah Dewi.


Wajahnya pucat dengan badan yang tampak lebih kurus.


" Dewi!!," Bu Ana terkejut melihat kondisi sang anak.


Beberapa Minggu tak bertemu kondisinya memprihatinkan.

__ADS_1


" Bu..." lirih Dewi. Perlahan matanya terbuka.


" Dewi, kamu sudah sadar," Ucap Bu Ana bahagia. Sementara ayah Dewi segera memanggil dokter.


Kedua orang tua Dewi memperhatikan dari kejauhan bagaimana sang dokter di temani suster memeriksa Dewi.


" Mari ke ruangan saya. Saya akan memberitahukan kondisi pasien,"


Keduanya segera mengikuti dokter ke ruangannya..


" Anak saya kenapa dokter?,"


Dokter menghela nafas berat. " Apa ibu tahu bagaimana kehidupan pasien sebelumnya?," tanya sang dokter sebelum menjelaskan kondisi Dewi.


" Maksudnya bahaimana, Dok,,?,"


"Putri ibu positif HIV....'


Jeduarrrr


Kedua orang tua Dewi terkejut. Mereka tak percaya. Penyakit itu tidak akan terjangkit begitu saja. Artinya Dewi melakukan perbuatan yang salah.


" Dokter yakin? Tidak salah memvonis?," Ayah Dewi tidak bisa menerima vonis dokter begitu saja.


" Saya yakin." jawab sang dokter kembali melanjutkan penjelasannya.


" Pasien juga tidak mengingat apa yang terjadi beberapa hari ini. Ingatan terakhirnya adalah ketika ia kabur dan tinggal di penginapan. Selebihnya dia tidak mengingatnya."


Tak ingin percaya, tapi tak mungkin dokter membohongi mereka. Apalagi dari yang di jelaskan dokter mengenai ciri-ciri secara fisik, terlihat semuanya ada pada Dewi.


" Apa yang kamu rasakan sekarang?," tanya Bu Ana menanyai Dewi.


Ia ingin memarahi sang anak mencari tahu apa yang menyebabkan putri satu-satunya itu menderita penyakit yang belum ada obatnya sampai saat ini.


" Badanku rasanya sakit, Bu. Kepalaku juga pusing." jelasnya dengan suara parau. " Dokter bilang aku sakit apa, Bu?," tanya Dewi penasaran. Kalau flu biasa tak seharusnya tinggal di rumah sakit. Itu menurutnya.


Bu Ana hanya diam. Ia tak tega mengatakan apa yang di katakan dokter tadi.


" Bu?," tanya Dewi meminta kejelasan.


" Kamu positif HIV, Wi," jawab Ayahnya Dewi.


Jeduarr


" Tidak mungkin..."


" Aku kan bermain aman. Hanya sempat sekali....."


Plakkk


Tamparan keras Dewi dapatkan dari sang ayah sehingga ucapannya terhenti.


Sementara Bu Ana hanya menutup mulutnya karena terkejut suaminya akan bersikap seperti itu.


" Jadi, kamu benar-benar melakukan itu? Dengan banyak pria?," teriakan menggema di dalam kamar rawat.


" Pak, sudah. Ini rumah sakit,"


" Aku tidak percaya anakku melakukan hal bejat seperti itu. Bukannya introspeksi diri malah semakin menjadi."


Dewi hanya diam menatap kepergian ayahnya.


" Wi .."


" Apa? Ibu ingin memarahiku juga?" bentaknya.


Bu Ana menggelengkan kepalanya ikut meninggalkan Dewi seorang diri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2