
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (56)
" Alhamdulillah, Salma baik-baik saja. Ia sudah melewati masa kritisnya."
" Alhamdulillah." Bu Marisa mengucap syukur. " Lalu putri kalian?,"
πππππππππππππππ
Beberapa jam berlalu, terdengar lenguhan dari atas brangkar. Salma yang mulai sadar.
Dengan sigap Rama menghampiri Salma. Malam ini, ia menunggui Salma seorang diri. Bu Marisa pulang setelah memastikan kondisi bayi mungil yang sangat mirip bundanya itu.
" Haus?," tanya Rama singkat.
Salma menganggukan kepalanya.
Rama pun membantu Salma minum dari sedotan.
Tiba-tiba ia sadar perutnya yang sudah rata. Perlahan Salma meraba perutnya. Benar-benar rata bahkan ia mendapati perban di atas perutnya.
Salma melihat ke arah suaminya. Rama hanya tersenyum.
" Alhamdulillah anak kita baik-baik saja. Dia masih dalam pengawasan. Karena lahir sebelum waktunya, kita belum bisa membawanya kesini. Kalau kondisinya sudah membaik, besok pagi perawat akan membawanya kesini." Jelas Rama menggenggam tangan Salma.
" Alhamdulillah." serunya sambil meneteskan air mata.
Hal pertama yang ia takutkan saat ia terjatuh adalah kondisi anak dalam kandungannya. Ia tak ingin kembali merasakan kehilangan buah hatinya.
Rama memeluk Salma. " Semua baik-baik saja. Walaupun putri kita lahir sebelum waktunya." bisik Rama menenangkan.
Rama mengambil ponsel miliknya.
" Lihatlah! Ini putri kita. Cantik sepertimu." ucapannya sambil menunjukkan foto bayi mungil yang tertidur lelap.
Juga sebuah video saat bayi itu di azankan oleh ayahnya.
Salma men-zoom foto bayinya. Ingin melihat lebih dekat wajah bayi yang selama ini ada di dalam perutnya.
" Cantik."
"Iya cantik. Seperti kamu." sebuah kecupan mendarat di kening Salma.
Wajah Salma memerah.
" Terimakasih sudah bertahan. Aku benar-benar takut kehilanganmu." Rama menciumi tangan istrinya yang terbebas dari infus.
Rama tak banyak bertanya mengenai penyebab Salma terjatuh. Menundanya sampai besok, karena hari mulai malam. Ingin membiarkan istrinya beristirahat terlebih dahulu.
...******...
__ADS_1
" Sayang, kamu ingat kenapa bisa jatuh, kemarin?," tanya Rama sambil menyuapi istrinya dengan sarapan yang di sediakan pihak rumah sakit.
" Aku merasa seseorang mendorongku. Tapi, aku tidak tahu siapa." jawab Salma.
Salma yakin seseorang mendorongnya. Ia merasakannya dan ia yakin itu.
" Mendorong?," Rama memastikan. Wajahnya jadi serius.
Salma mengangguk.
Rama terdiam. Mungkinkah Dewi? Lama tidak ada kabar apakah dia memang belum menyerah.
" Apa mungkin Dewi?," tebaknya.
Merasa tidak punya musuh, maka hanya satu nama yang terlintas. Orang yang selama ini selalu mengusik hidupnya. Hanya mantan istrinya saja.
" Aku tidak tahu. Karena tidak melihatnya. perempuan atau laki-laki yang mendorong pun aku tak tahu."
Tak ingin membenarkan apalagi tidak ada bukti. Walaupun firasat Salma sama seperti suaminya.
Beberapa jam berlalu, seorang suster mengantarkan bayi mungil di dalam roda. Sedang tertidur lelap.
Mata Salma berkaca-kaca. Tak sabar menanti Rama yang mulai menggendong bayi mungil itu untuk di serahkan kepada ibunya.
Salma tak bisa menahan laju air matanya saat tubuh mungil itu di letakkan di pangkuannya. Bersyukur ia masih bisa melihat sang buah hati walaupun akhirnya terlahir melalui operasi. Bukan kelahiran normal seperti yang di rencanakan.
Manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang menentukan. Terlepas bagaimanapun cara ia terlahir, yang penting ia lahir dengan selamat. Itu yang paling di syukuri keduanya.
...******...
" Maksudmu ini bukan kecelakaan?," tanya Andre bingung. Rama menganggukkan kepalanya.
" Salma bilang ia di dorong seseorang. Namun tidak tahu siapa yang melakukannya." tatapan mata Rama tertuju pada Salma yang sedang bercengkrama dengan Insi dan Aisyah.
" Aku akan membantumu."
" Apa mungkin ini ulah Dewi?," tanya Ganjar, suami Aisyah yang juga duduk mendengarkan ucapan Rama.
" Aku tidak bisa menuduhnya tanpa bukti. Sekalipun aku yakin dia pelakunya. Hanya dia orang yang selalu mengusik rumah tangga kami."
" Mantan terindah yang gagal move on." ejek Andre tergelak.
Rama mendengus. Merasa mencintai seorang Dewi di masa lalu adalah kebodohan terbesarnya apalagi sempat tidak bisa move on saat sudah beristrikan Salma.
" Mau bagaimana lagi. Masa lalu tidak bisa di rubah. Sebenci apapun aku padanya, di masa lalu dia pernah jadi istriku."
" Ya, dia sangat pintar menyembunyikan wajah aslinya. Selalu terlihat baik dan cinta padamu, tapi ternyata ada sisi lain yang tidak pernah kita kira "
" Mungkinkah dia punya penyakit mental? Terlalu terobsesi untuk mendapatkan sesuatu sampai menghalalkan segala cara?," timpal Ganjar.
__ADS_1
Mereka mengangguk. Setuju dengan ucapan suami Aisyah.
...******...
Di sebuah penginapan yang cukup kecil, seorang perempuan berdiam diri. Melihat keluar jendela dengan perasaan cemas. Takut seseorang mencarinya. Penginapan di pinggiran kota.
Ia menghindari hotel karena khawatir keberadaannya diketahui.
Awalnya ia merasa senang karena berpikir telah berhasi menyingkirkan penghalang yang menghalanginya dari tujuan utamanya.
Namun, sesaat kemudian ia dilanda ketakutan jika seandainya ulahnya ketahuan dan apa yang ia lakukan berakibat fatal.
" Bagaimana kalau Salma selamat dan Rama mencari tahu semuanya? Bagaimana kalau aku ketahuan mendorong Salma?. Pasti dia semakin membenciku dan tidak akan mau bertemu denganku lagi." monolog Dewi.
Ingin mengetahui kondisi Salma dan kandungannya, namun ia urungkan. Ponsel pun ia matikan karena tak ingin jejaknya bisa di lacak.
" Kalau saja tua Bangka itu masih mau bersamaku, aku takkan melakukan ini dengan tanganku sendiri. Aku lebih memilih membayar orang lain agar semuanya tidak mudah di ketahui.
βSementara sekarang, aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Beruntung aku sempat menggunakan kartu itu untuk membelikan perhiasan sehingga berguna untuk keadaan seperti sekarang." monolognya.
" Kalau saja istrinya tidak tahu, posisiku masih aman sampai saat ini."
Pria paruh baya yang selama ini membiayai semua kebutuhan Dewi tidak lain adalah Budi, suami dari Intan, sahabat Bu Marisa.
Reaksi mencurigakan darinya saat Bu Marisa dan istrinya membahas mengenai selingkuh, membuat sang istri curiga sehingga membayar orang untuk mencari tahu apa yang dilakukan suaminya. Hingga akhirnya ia tahu bahwa sang suami bermain dengan perempuan muda bahkan membiayai semua kebutuhan perempuan itu.
Flashback on
Brakkkk
Foto-foto berisi kebersamaan Budi dan Dewi berserakan di atas meja yang membuat Budi kelabakan.
" Silahkan tetap dengan kebiasaanmu asal ceraikan aku." Ucap Intan, istri Budi tegas.
" Aku akan berpisah dengannya." jawabnya tanpa banyak berfikir.
Sang istri hanya tersenyum sinis. Ia ingin langsung menggugat, namun di urungkan. Karena ini adalah kali pertama sang suami bermain di belakangnya. Sehingga ia ingin memberi kesempatan.
Sebelumnya tidak pernah. Karena orang-orang yang menyelidiki suaminya memberi laporan bahwa suaminya bermain perempuan baru akhir-akhir ini setelah terpengaruh rekan sesama pengusahanya.
Budi langsung menghubungi Dewi namun, Dewi yang sibuk menghamburkan uang darinya tak kunjung menjawab telponnya hingga ia langsung memblokir kartu yang ia berikan pada Dewi. Hal ini menyebabkan Dewi langsung murka dan mendatanginya.
Flashback end
...******...
" Apa mungkin itu Dewi? Cuma dia yang tidak bahagia dengan kebahagiaan kalian?," tanya Insi sambil mengelus perut buncitnya.
" Entahlah. Sebelum ada bukti aku belum berani menuduh."
__ADS_1
" Bagaimana kalau pelakunya benar-benar dia?," timpal Aisyah.
TBC