
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (46)
" Aku tidak akan menggugat hak asuh anak padamu asal kamu mau menuruti satu syarat dariku." Dewi memberi tawaran.
" Apa?,"
" Menikahlah kembali denganku."
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Salma tertunduk mendengar syarat yang diajukan Dewi. Haruskah ia kembali berada menjadi sebuah pilihan? Jika sebelumnya saingannya adalah Dewi, apakah kini ia harus bersaing dengan anak sambungnya hanya agar bisa bersama dengan suaminya?
Salma mende_sah. Kedua tangannya meremas samping gamis yang ia pakai. Rasa khawatir mulai menderanya.
Sementara Rama diam. Ia melirik sang istri yang hanya tertunduk.
" Bagaimana?" Dewi menjeda pertanyaannya saat Rama tak langsung menjawab pertanyaannya. " Kamu bisa tetap bersama Ical tanpa khawatir mengenai hak asuh. Penawaran yang bagus bukan?," Dewi tersenyum penuh arti. Ia tahu Rama sudah sangat menyayangi Faisal.
" Kalau aku tidak mengizinkan?," Salma mengangkat kepalanya. Kali ini ia tidak ingin kalah.
Selama ini Rama selalu mengatakan mencintainya. Jadi, bolehkah ia merasa percaya diri bahwa Rama akan tetap di sampingnya apapun yang terjadi? Bahkan jika hal buruk misalnya mereka harus kehilangan Faisal?
Dewi menatap tak suka pada Salma atas jawabannya.
" Laki-laki tak perlu meminta izin istrinya untuk menikah lagi kan? Lagipula kamu tenang saja. Aku tak masalah jika jadi yang kedua."
Salma menggelengkan kepalanya. " Aku tahu. Tapi, aku tak sebaik itu untuk berbagai suami. Bagiku,jika suamiku memilih yang lain, aku yang mundur." tegas Salma.
Salma tahu poligami di perbolehkan. Namun, tidak semua wanita sanggup untuk dimadu. Begitu pula dengannya.
" Kenapa kamu keras kepala? Aku sudah berbaik hati untuk tetap membiarkanmu menjadi istri Rama?," Dewi kesal.
Salma terkekeh. " Baik hati katamu? Perempuan yang ingin menjadi yang kedua atau mungkin menjadi pelakor dalam rumah tangga orang lain kau sebut baik?
Ck..Ck...Ck... Kamu memang aneh." Salma berdecak.
" Apapun alasannya, aku takkan pernah membiarkan suamiku menikah lagi kecuali dia menceraikan aku " Tegas Salma.
Namun, di dalam hatinya Salma sedang khawatir. Ia justru takut Rama memilih Faisal ketimbang bersama dirinya. Apa Salma belum percaya pada suaminya? Jawabannya masih ada keraguan di hati Salma. Karena ini mengenai Faisal bukan lagi mengenai Dewi. Dewi menjadikan Faisal jalan untuk memudahkan niatnya masuk kembali ke kehidupan Rama.
__ADS_1
" Kau lihat Rama! Istri yang kau bilang menyayangi Ical ternyata lebih mementingkan dirinya sendiri." Dewi merasa senang. Ia seolah menemukan celah untuk menjatuhkan Salma yang katanya ibu sambung yang baik.
Salma melihat ke arah Rama. Diamnya Rama membuat ia khawatir. Namun, saat ia melihat wajah suaminya, suaminya tersenyum ke arahnya. Tersenyum? Aneh bukan. Juga tidak terlihat amarah setelah ia mengatakan hal tadi.
Salma terkesiap saat Rama menautkan tangannya dan menggenggam erat tangannya.
" Aku takkan menikahimu sekalipun dengan alasan Ical." tegas Rama.
Ketakutan yang di rasakan Salma tiba-tiba menguap.
" Kamu lebih memilih kehilangan Ical?," Dewi melotot. Ia tak percaya.
Rencana yang ia pikir akan langsung berhasil nyatanya gagal.
" Kamu yakin, Rama?," tanya Dewi memastikan.
" Aku takkan pernah kehilangan Ical. Silahkan kamu tempuh jalur hukum. Aku ingin lihat apa hanya karena undang-undang mengatakan hak asuh anak di bawah umur akan berada pada ibunya jika ayah dan ibunya berpisah, kamu akan menang dengan mudah?," tanya Rama menantang.
" Ingat! Aku ibu kandungnya. Kamu bukan siapa-siapanya." tekan Dewi. Alasan yang seolah akan menjadi penguat bahwa dirinya akan mendapatkan hak asuh Faisal.
" Ya. Kau lakukan apapun yang kamu mau. Tapi, ingat!! Aku yang mengurusnya selama ini. membesarkan ia dari usia satu tahun tanpa ada campur tangan mu. Jangankan ikut berperan dalam tumbuh kembang Ical, bertanya soal kondisinya saja kamu tak pernah.
Kamu pikirkan baik-baik. Siapa yang akan memenangkan perkara ini. Kamu, ibu kandung Ical yang bahkan tak pernah peduli pada Ical? Atau aku yang bukan siapa-siapa namun, mengurus Ical lebih dari lima tahun?
Dewi diam. Ia mendengarkan baik-baik perkataan mantan suaminya itu. Namun, hatinya menolak untuk mengakui bahwa apa yang di katakan Rama adalah benar.
" Terserah. Kalau itu pilihanmu. Sampai jumpa di pengadilan. Saat itu tiba, bersiap-siaplah kehilangan Ical selamanya." tekan Dewi berlalu begitu saja dengan amarah di dada.
Sementara Salma merasa kakinya menjadi lemas.
" Ayo duduk dulu." Rama merangkul pundak Salma dan mengarahkannya untuk duduk di kursi.
" Aku ambil air minum dulu." Rama langsung berdiri dan hendak pergi ke dapur.
Namun, langkahnya terhenti saat Salma malah menggenggam tangannya.
" Kenapa?," Rama berjongkok di depan Salma.
Tanpa menjawabnya Salma langsung memeluk suaminya.
__ADS_1
" Terimakasih telah memilihku. Aku pikir..." Tangis Salma akhirnya pecah.
Ia berusaha tidak terlihat lemah di hadapan Dewi. Agar Dewi tidak bisa meremehkannya lagi. Namun, ia sebenarnya rapuh. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Apakah mereka tetap bisa bersama dengan Ical atau tidak.
Rama mengusap punggung Salma. Terdengar isakan dari bibir istrinya.
" Sudah aku katakan, kalian bukan pilihan. Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama. Dua kali kesempatan itu sudah banyak. Aku yakin tidak akan ada kesempatan ketiga jika aku mengulangi kesalahan lagi."
Salma tidak menjawab. Ia hanya mengangguk membenarkan. Jika, suaminya kembali mengulangi kesalahan, ia menyerah.
" Bagaimana dengan Ical?Kamu akan melepasnya begitu saja?," Salma yakin suaminya tidak mungkin menyerah begitu saja. Namun, usaha apa yang bisa mereka lakukan?
" Tidak mungkin aku membiarkan Ical ada di tangan Dewi. Jika tujuan Dewi mengambil hak asuh Ical adalah untuk mengasuh dan mendidiknya, juga memberikan kasih sayang untuk Ical, mungkin aku akan membiarkannya. Bagaimana pun ia ibu kandungnya.
Namun, kita tahu tujuan Dewi bukan itu. Dia hanya ingin aku. Aku tujuannya. Karena itu, aku akan mempertahankan Ical di sisi kita. Kita akan melakukan cara lain. Bukan dengan menjadikan dia madumu. Lagi pula aku tidak yakin dia akan menjadi madu. Dia pasti akan menjadi racun." Kelakar Rama hingga Salma memberikan pukulan di pundak suaminya.
Rama hanya terkekeh. Pukulan itu tidak terasa apa-apa.
Rama melepaskan pelukan Salma. Lalu ia menangkup wajah istrinya.
" Tolong jangan ragukan aku. Aku benar-benar mencintaimu." Ucap Rama dijawab anggukan oleh Salma yang kembali berderai air mata.
" Hei, kenapa menangis lagi?Mana Salma yang berani yang bisa melawan Dewi?," Rama menghapus air mata istrinya.
" Kita akan bersama-sama berjuang mempertahankan Ical."
Di balik pintu, Faisal mengintip kedua orang tuanya. Penasaran apa yang sedang mereka lakukan di luar.
" Ayah... Bunda..."
Deg
Rama dan Salma melihat ke arah Faisal yang sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan Faisal ada di sana.
" Kemarilah" Salma memanggil Faisal. Faisal langsung memeluk Salma.
Rama mengusap kepala Faisal.
" Sejak kapan kamu ada di sini, Sayang? Bukankah tadi ayah bilang agar Ical masuk duluan ke kamar?,"
__ADS_1
" Sebelum Bu Dewi pulang." jawab Faisal jujur.
TBC