Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 53 Berbeda


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu


" Kita lihat, sebenarnya siapa yang sudah membuat tidak ada satupun pengacara mau membantuku. Aku yakin ada seseorang di balik semua ini." gumamnya pelan.


Dewi membiarkan mereka tenang selagi ia menyusun rencana baru.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Ini bagus. " Bu Marisa menunjukkan baju untuk bayi perempuan berwarna merah muda. Warna yang memang identik dengan gender tertentu.


" Bagus ." Salma setuju dengan pilihan ibu mertuanya.


Awalnya hanya ingin membeli beberapa keperluan yang memang kurang. Namun,saat di hadapkan pada aneka ragam pakaian bayi perempuan yang lucu-lucu, akhirnya jadi membeli lebih banyak.


Keduanya asyik memilih pakaian dan perlengkapan lainnya. Sementara Faisal, kini sedang belajar di sekolah.


" Mau beli apa lagi?," tanya Bu Marisa saat keduanya selesai berbelanja.


" Bagaimana kalau kita makan,Ma," ajak Salma.


" Mau makan apa?,"


" Kita beli bakso aja."


Tunjuk Salma pada kesai bakso yang ada di sebelah.


Keduanya kini sudah duduk di meja sambil menunggu pesanan mereka.


" Bagaimana dengan masalah Ical. Apa Dewi masih mengusik kalian?," tanya Bu Marisa khawatir. Mendengar Dewi akan merebut hak asuh Faisal, Bu Marisa tidak rela.


Faisal memang sudah jelas bukan cucu kandungnya. Namun, ia lah yang menemani Rama membesarkan Faisal sejak ibunya pergi meninggalkannya.


" Alhamdulillah semenjak hari itu, Dewi tidak datang lagi. Panggilan dari pengadilan pun tidak ada." Salma setidaknya bersyukur karena tidak ada panggilan dari pengadilan mengenai gugatan dari Dewi.


" Syukurlah. Walaupun tidak yakin Dewi akan menang. Tapi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Uang bisa melakukan apapun."


" Ya, tapi keluarga dari ayah kandung Ical pun bukan orang sembarangan, Mereka pun sudah bersedia untuk membantu kita."


Bu Marisa mengangguk. Apa yang di katakan Salma ada benarnya.


" Sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, belum?,"


" Belum, Ma."


Dua porsi bakso pun ada di hadapan keduanya. Dengan menambahkan sambal dan kecap, Salma mulai menikmati hidangannya


Salma seolah memuaskan diri makan makanan yang pedas. Apalagi selama ini Rama selalu membatasi tingkat kepedasan makanan yang ia makan.

__ADS_1


" Bagaimana kalau Minggu depan kita ke panti asuhan." ajak Bu Marisa. Kini keduanya sedang berada di taxi online.


" Panti asuhan?," tanya Salma


" Iya, ibu mau sedikit berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung." jelas Bu Marisa singkat.


" Ya, nanti aku izin sama Mas Rama."


Bu Marisa mengangguk.


Bu Marisa akan memakai uang yang Kedua adiknya berikan waktu itu. Awalnya dia enggan, namun kedua adiknya tidak mau menerima sekalipun di paksa di kembalikan.


Sementara di mal, Dewi sedang berbelanja.


" Kamu mau beli sesuatu, biar aku traktir," ucapnya pada seorang perempuan yang menemaninya.


" Benar boleh?" tanyanya ragu.


" Ya, ambil saja apa yang kamu mau." Jawab Dewi pada perempuan yang usianya di bawahnya.


Perempuan yang beberapa Minggu ini baru ia kenal karena pertemuan yang tidak sengaja. Perempuan yang usianya lebih muda dengan profesi yang sama.


Dewi mengerutkan keningnya saat melihat pakaian yang temannya itu beli. Tidak sesuai ekspektasinya.


" Kamu membeli pakaian anak-anak?," tanya Dewi penasaran sambil menyantap makan siangnya di sebuah restoran. Ia kembali mentraktir teman barunya.


" Anak?,"


" Iya, aku sebenarnya sudah punya anak. Usianya lima tahun, laki-laki namanya Farel." Jawab perempuan dengan lesung pipi itu tersenyum.


Hampir seusia Ical. Batin Dewi


" Kalau bukan demi dia, aku tidak akan menggeluti dunia ini." lirihnya mulai menceritakan alasannya menjadi kupu-kupu malam.


" Kamu tidak menikmatinya?," tanya Dewi heran.


Mungkin sebuah penyimpangan atau memang suatu kesenangan, Dewi tidak pernah merasa terbebani melakukan hubungan dengan laki-laki berbeda yang bukan suaminya.


Bebannya hanya satu, takut ketahuan saja.


" Mana ada?" kekehnya sambil menggelengkan kepalanya. "Menikmati apa? Saat tangan-tangan itu menja_mahmu tanpa terlewat sejengkal pun, saat tanda-tanda mereka buat di tubuhmu, aku merasa jijik pada tubuhku sendiri. Tapi, apa boleh buat. Aku memilih terjun ke dunia ini,"


" Suamimu?," tanya Dewi mulai penasaran pada kehidupan Bela.


" Aku tidak punya suami. Anakku lahir ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab. Seseorang yang tidak aku kenal." lirihnya mengepalkan tangannya mengingat hari dimana seorang pria mabuk menariknya ke dalam mobil dan membawanya ke penginapan.


Pagi hari, ia bangun seorang diri tanpa ada siapapun. Hanya tumpukan uang dan sebuah kartu ATM dengan nomor pin yang di letakkan di atas meja.

__ADS_1


Menangis, seseorang seolah mempermainkan hidupnya. Ia seperti menjual kepera_wanannya.


" Tapi, kamu menyayangi anak itu?,"


Dewi heran.


" Aku sempat ingin menggugurkannya. Namun, semua usahaku gagal.Anak itu sangat kuat hingga aku mulai berpikir menerimanya. Mencoba kembali menggugurkannya saat kandunganku sudah besar pun beresiko. Dia lahir tanpa cacat saja aku sudah sangat bersyukur." jelasnya


" Hingga lambat laun aku menyayanginya. Apalagi saat dia lahir dan tumbuh bersamaku dengan segala keterbatasan uang yang aku miliki. Dia selalu tersenyum seolah memahami kondisiku."


Dewi tertegun. Bagaiman bisa Bela hidup susah dengan anaknya. Dia saja tidak mau hidup susah. Ditambah harus mengurusi anak kecil pula. Itu pula alasannya meninggalkan Faisal. Tidak ingin terbebani dengan adanya seorang anak.


" Keluargamu dimana?,"


" Mereka mengusirku. Menganggap aku aib keluarga. Hingga akhirnya aku sampai di kota ini. Awalnya aku kerja serabutan. Bahkan jadi pencuci piring pun pernah aku lakukan. Tapi, biaya hidup di kota besar sungguh luar biasa apalagi saat anak ini ada."


Dewi terus menerus mengorek kisah Bela. Ia merasa penasaran. Bela pun terus bercerita.


Dewi termenung setiap mendengar Bela bercerita bahwa anaknya adalah sumber kebahagiaannya. Sumber kekuatannya. Bahkan ia akan berhenti jika semua hutangnya sudah ia lunasi. Hutang pada seseorang yang berlagak pahlawan padahal hanya orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan.


Bukan masalah makan tidak makan, Dewi melakukan profesi ini karena kesenangan dan gaya hidup. Berbeda dengan Bela.


" Wi, teman ibu bilang melihat kamu masuk hotel dengan pria seusia ayahmu. Apa itu benar?," tanya Bu Ana pada Dewi yang sudah berganti pakaian setelah selesai berbelanja seharian


Dewi bungkam. Ia tidak ingin menyangkal atau membenarkan.


" Semoga itu bukan kamu, ya Semoga teman ibu hanya salah lihat." harapannya tulus.


Sekalipun Bu Ana tahu alasan perceraian anaknya adalah karena berselingkuh dan melakukan dosa besar, namun ia berharap itu hanya kesalahan di masa lalu yang tidak akan terulang.


" Cari pria baik-baik. Yang tulus menyayangimu, bukan hanya memanjakanmu dengan hartanya " pesan Bu Ana yang hanya di jawab anggukan oleh Dewi.


Bu Ana cukup heran. Dewi yang biasanya marah dan mengatakan banyak alasan untuk membela diri kini hanya diam.Bahkan tidak mencela saat Bu Ana mengungkapkan harapannya.


Foto mantan suaminya masih terpajang di atas meja.


" Tapi, aku hanya ingin kamu bukan orang lain." ucapnya.


" Namun, kenapa kini kamu malah mempertahankannya di sisimu. "


Sebuah telpon masuk dari pria yang sudah memberikannya kartu sakti.


" Iya, sayang. Aku akan bersiap." Ucapnya.


Benar-benar berbeda. Ia dan Bella memang berbeda.


TBC

__ADS_1


__ADS_2