
Ayah Dewi beranjak dari duduknya meninggalkan istrinya seorang diri. Sementara Bu Ana hanya terisak melihat suaminya tak bisa ia luluhkan bahkan saat melihat Dewi seperti sekarang.
" Ayah masih belum mau menemuimu, Wi. Dia kecewa padamu." lirihnya pelan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Ada apa mas?," tanya Salma saat suaminya memintanya duduk untuk berbicara.
" Pengacara Dewi menemuiku, katanya Dewi ingin bertemu kita." jelas Rama pada Salma.
" Menemui kita?,"
" Dewi ingin meminta maaf."
Salma diam sejenak. " Lalu apa keputusan Mas?,".
" Aku tidak tahu. Aku masih khawatir. Dewi tidak mungkin berubah secepat itu kan? Aku takut dia hanya berusaha agar tidak mendapatkan hukuman yang berat," jelasnya mengutarakan isi hatinya.
Salma membenarkan. Namun, tidak bisa di pungkiri pula jika seseorang bisa berubah dengan cepat. Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia.
" Jadi?,"
" Kita bertemu di persidangan saja." putusnya. Ia tidak ingin datang seorang diri menemui Dewi karena takut Salma salah paham.
Namun, tidak pula ingin mengajak Salma karena khawatir Dewi melakukan hal nekad lainnya. Sekalipun itu di kantor polisi, Rama tidak ingin mengambil resiko. Dewi selalu tak terduga.
" Aku terserah Mas saja ."
Merekapun pada akhirnya hanya bertemu dengan Dewi saat persidangan. Dewi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan saat bisa menemui keduanya.
Ia benar-benar hanya meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Dewi pun tidak mengatakan apapun tentang vonis hukum yang ia terima. Ia menerimanya dengan lapang dada. Semua memang salahnya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Hari ini adalah hari pernikahan Zayden, sesaat setelah kembali ke kota ini, Zayden sekeluarga menemui keluarga Aisyah untuk menentukan tanggal pernikahan.
Setelah berembuk, mereka akhirnya memutuskan untuk menikahkan keduanya sebulan kemudian.
__ADS_1
Memilih untuk menyewa jasa WO agar semua bisa selesai tepat waktu. Juga agar sesuai apa yang diinginkan Aisyah. Ya, Zayden menyerahkan semuanya pada Aisyah. Mengikuti keinginan sang calon istri.
" Kakak sangat tampan," puji Salma saat menemani kakaknya bersiap.
" Ekhem..."
Zayden terkekeh. " Ck, aku kakaknya kalau kamu lupa," Zayden paham, Rama yang mulai posesif tak suka Salma memuji laki-laki lain sekalipun itu kakaknya.
" Dan aku suaminya kalau kamu lupa," timpal Rama tak mau kalah.
" Haiah,, kalian seperti anak kecil. Sudahlah ayo kita keluar. Acaranya sebentar lagi akan dimulai," Salma hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan tingkah dua laki-laki yang paling dia sayangi.
Salma langsung menarik merangkul keduanya untuk keluar dari kamar hotel, tempat mereka bersiap. Tangan kanan merangkul lengan sang suami dan tangan kiri merangkul lengan kakaknya.
Keduanya tidak protes dan mengikuti langkah wanita sangat berarti bagi keduanya.
Di kamar lain, Aisyah sudah selesai bersiap. Gaun berwarna putih itu tampak indah pada tubuh Aisyah.
" Kamu sangat cantik," puji seorang perempuan yang menemaninya.
" Alhamdulillah. Terimakasih." Jawab Aisyah sambil melihat ke arah sepupu jauhnya.
" Kenapa Kak Reina tidak mencoba kembali membuka hati?,"
" Ck, aku masih bersuami, Ai," jawab Reina tersenyum miris.
Bersuami? Itulah yang masih ia yakini sampai detik ini. Karena tak pernah ada kata cerai.
Awalnya ia percaya penuh pada apa yang kakaknya katakan bahwa suaminya pergi ke luar negeri karena itu Robi sang kakak membawanya tinggal.kw kediamannya.
Namun, lambat lain akhirnya ia tahu, kakaknya menyembunyikannya dari Jimmy. Karena sudah mengetahui apa yang terjadi pada pernikahannya.
Hari ini adalah pertama kalinya ia kembali muncul di muka umum setelah sekian lama bersembunyi.
Aisyah hanya diam. Masihkah status keduanya suami istri padahal yang ia tahu Robi sudah berusaha membuat keduanya sah berpisah di mata hukum.
__ADS_1
" Iya,, iya.. Maaf,"
Akhirnya hanya kata maaf yang bisa Aisyah katakan. Ia tak mau membuat sepupunya kembali memikirkan laki-laki yang telah membuat luka di hatinya.
Di depan penghulu, Zayden sudah bersiap mengucapkan ijab kabul bahkan kini tangannya sudah menjabat tangan ayah mertuanya.
Sementara Mempelai perempuan masih berada di ruangan yang dekat dengan tempat ijab kabul. Menyaksikan prosesi ijab qobul itu dari layar tv yang ada di ruangannya. Tidak hanya Aisyah, ada ibunya, Reina, Salma dan orang-orang terdekatnya.
Reina membeku saat ia melihat seseorang yang ia kenal di antara para tamu undangan yang hadir. Wajahnya jelas terlihat.
" Kak Rein,"
" Tidak apa-apa. Sepertinya aku mulai memikirkan untuk kembali menjadi pengantin dan mengakhiri hubungan yang sudah lama menggantung ini" lirihnya setengah berbisik.
Mereka kembali fokus karena Zayden mulai menyambut ijab yang di katakan ayah Aisyah.
"SAH!!"
" Barakallah...." Doa mulai di panjatkan. Hingga kata aamiin terdengar bersamaan setelah do'a itu di panjatkan.
Setelah MC mempersilahkan agar pengantin wanita masuk dan duduk di sebelah pengantin pria untuk menandatangani buku nikah, Aisyah pun keluar. Berjalan di apit ibu dan sepupunya.
Mata Aisyah berkaca-kaca. Kini statusnya sudah menjadi seorang istri.
Salma pun merasa bahagia akhirnya kakaknya melepas masa lajangnya. Bahkan ia menikahi sahabatnya.
" Kamu cantik," puji Zayden sambil mengambil tangan Aisyah untuk memasukkan cincin ke jari manisnya.
Aisyah hanya tersipu malu.
Satu per satu acara pun dilakukan. Setelah menandatangani buku nikah, mereka melakukan sesi foto berdua lalu bersama keluarga besar.
Di salah satu kursi, seorang laki-laki menatap salah satu keluarga mempelai yang ikut berfoto. Seorang perempuan yang menuntut anak laki-laki yang sangat mirip dengannya.
Jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
Kalian baik-baik saja. Batinnya.
TBC