
Sebatas Ibu Untuk Anakmu (41)
" Ah, sudah jangan bahas itu. Masa lalu." Salma tidak ingin menjelaskan apapun. Kejadian di masa lalu yang ia sendiri sudah lupa. Kalau bukan karena bertemu dengan teman lamanya, sudah pasti dia tidak akan ingat saat itu lagi.
" Ish, aku penasaran."
Melihat wajah suaminya, Salma jadi menahan tawa.
"Jangam bilang kalau kamu..."
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Salma malah tersenyum dan tidak melanjutkan perkataannya.
" Kenapa malah tersenyum?. Apa ada yang lucu?"
" Ya, mas lucu kalau cemburu. Tapi, aku suka." Salma merangkul lengan Rama dan menyandarkan kepalanya di bahu Rama.
" Ya, aku cemburu. Dia melihatmu bahkan tidak berkedip."
" Biar saja , nanti juga berkedip." kelakar Salma.
Rama tidak menanggapi. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.
" Apa kamu juga cemburu karena aku menemui Dewi diam-diam?,"
" Tidak. Aku hanya kecewa."
" Yakin kamu tidak cemburu?,"
"Hmm." Salma menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu berarti aku boleh menemuinya lagi?," goda Rama.
Tatapan tajam Rama dapatkan. Bukannya takut, Rama malah tertawa.
" Ucapan dan tindakan tidak selaras."
"Aww " pekik Rama karena mendapatkan cubitan di pinggangnya.
Sontak semua mata melihat ke arahnya.
" Haha . Maaf, sayang. Aku tidak mungkin menemuinya lagi kalau bukan denganmu." Rama mencium pipi Salma tanpa sadar telah menjadi tontonan teman-temannya.
Salma hanya menundukkan kepalanya. Fokus memakan jagung bakarnya. Ia sadar sudah menjadi tontonan. Sementara Rama hanya meminta maaf karena sudah membuat keributan.
" Ayo pulang. Aku sudah selesai." Salma langsung mengajak suaminya pergi.
" Ayo." Rama ikut berdiri.
" Kami duluan ya." Rama berbicara pada teman-temannya.
" Kalian akan menginap dimana?," tanya Andika.
" Di hotel." jawab Rama. Salma hanya diam. Ia tidak tahu mengenai rencana untuk menginap di hotel.
" Tidak ingin bergabung dengan kami. Menginap di Villa keluargaku. Kamarnya ada banyak kok." tawar Khalila.
" Tidak terima kasih."
__ADS_1
" Jangan lupa datang ke acara pernikahanku dua Minggu lagi ya?,"
" Insya Allah kalau tidak ada halangan." jawab Salma.
Andika pun meminta nomor ponsel Rama agar bisa bertukar kabar.
Mereka pun pergi menuju kosan tempat Salma tinggal selama ini.
" Kita akan menginap di hotel?," Salma ingat perkataan suaminya tadi.
" Iya. Tidak mungkin aku menginap di kosanmu. Itu kan kosan perempuan. aku juga tidak mungkin menginap sendiri di hotel."
Salma pun mengangguk.
" Mas, kamu merasa tidak kalau Faisal mirip salah satu teman kita?," tanya Salma hati-hati.
Rama diam sejenak. Ia pun baru menyadarinya tadi. Saat melihat wajah temannya itu.
" David?," tanya Rama.
" Apa kita memikirkan hal yang sama ?,"
" Sepertinya. Karena aku juga belum berbicara lagi dengan Dewi mengenai ayah kandung dari Faisal. Jadi, aku tidak tahu siapa ayah kandungnya" Jelas Rama.
Semenjak ia mengatakan tahu rahasia mengenai Faisal, Rama belum pernah membahas mengenai ayah kandung Faisal.
" Bagaimana kalau dugaan kita benar?,"
" Entahlah. Yang pasti aku tidak mau kehilangan Faisal." Jawabnya sambil tetap fokus pada jalan yang sedang ia lewati.
...******...
" Sayang, kalau Ical tidak makan, nanti Ical sakit." Bu Marisa yang dari tadi di abaikan terus membujuk Faisal agar mau makan.
" Kenapa Ayah pergi sendiri? Ical juga mau ketemu Bunda." kesalnya sambil bersedekap. Bibirnya mengerucut.
Bu Marisa ingin tertawa dengan tingkah Faisal. Tapi, ia tahan sekuat tenaga. Bisa tambah marah kalau ia menertawakan cucunya itu.
" Ical kan besok harus sekolah. Kalau Ical bolos, nanti bunda sedih. "
Tidak apalah menjual nama sang menantu agar cucunya tidak lagi merajuk.
Faisal diam membenarkan jawaban sang nenek. Alih-alih mengatakan Salma akan marah, Bu Marisa lebih mengatakan Salma akan sedih. Karena Faisal sangat sayang pada ibu sambungnya itu, maka Faisal selalu berusaha membuat hati bundanya senang.
" Ayah juga kan mau lihat bunda dulu. Bunda ada disana atu tidak. Kalau ada, ayah bilang nanti kita susul ayah kesana." Jelas Bu Marisa.
Akhirnya, Faisal mau mendengarkan alasan yang membuat ayahnya pergi tanpa pamit.
" Apa benar Ical nanti ketemu Bunda. Sama nenek juga?,"
" Iya. Tapi, nanti tunggu ayah nelpon ya. Mungkin besok ayah telpon." Faisal mengangguk antusias.
" Sekarang Ical makan dulu. Kalau Ical tidak makan, nanti bisa sakit. Kalau Ical sakit, kita tidak jadi nyusul ke tempat bunda."
" Ayo nenek Ical mau makan. Aaaa .. " Ical membuka mulutnya lebar-lebar.
Mana Mau Faisal gagal bertemu bundanya. Dia sangat ingin bertemu Bundanya. Sangat rindu.
Bu Marisa pun senang saat Faisal lahap makannya.
__ADS_1
...******...
" Mas, aku mau ke kamar mandi dulu. Lepas ya." pinta Salma mengiba.
Sejak ia tidur, ia ada dalam dekapan suaminya. Bahkan saat ia terbangun pun posisinya masih sama. Jika Salma memberi jarak sedikit, Rama langsung menarik tubuh istrinya itu agar kembali pada posisinya.
Rama seolah tak ingin melepaskan istrinya walau sejenak. Ia takut istrinya pergi lagi. Padahal, Salma juga tidak akan pergi kalau tidak di izinkan.
Apalagi semalam, Rama terus mengatakan tidak akan mengizinkan istrinya itu pergi kemanapun tanpa dirinya. Apalagi ia juga sudah tahu Salma berhenti mengajar.
" Ya, sudah ayo!," Jawaban Rama membuat Salma mengerutkan keningnya. Maksudnya apa dengan kata " ayo".
Namun belum selesai mendapatkan jawaban, Rama sudah menggendongnya menuju kamar mandi.
" Mas!," pekik Salma terkejut saat merasakan tubuhnya melayang.
" Tadi, katanya mau ke kamar mandi."
" Iya, tapi aku masih bisa jalan." Salma mencebik
" Yang penting ke kamar mandi kan?!," ucapnya sambil menurunkan Salma di depan pintu kamar mandi.
Salma hanya diam dan langsung masuk ke kamar mandi.
Saat keluar, ia terkejut karena suaminya masih ada di depan pintu kamar mandi.
" Kenapa mas berdiri disini?,"
" Takut kamu butuh sesuatu." jawabnya.
" Aku mau jalan. Aku masih kuat."
" Baiklah."
" Ini jam berapa ?" Salma melihat jam di ponselnya ternyata masih jam setengah satu pagi.
"Ayo tidur lagi." Ajak Rama yang sudah kembali berbaring.
Perjalanan dengan membawa mobil sendiri cukup melelahkan. Apalagi ia hanya istirahat sebentar saat menemani Salma tadi kosan.
Salma pun membaringkan tubuhnya di samping suaminya.
Lagi-lagi Rama menarik Salma dalam pelukannya.
" Aku benar-benar rindu. Apa anak kita boleh di tengok?," tanyanya dengan mata terpejam.
Salma mengerutkan keningnya. Padahal jelas terlihat kalau lelah, tapi masih ada tenaga untuk nengokim bayi.
" Sayang...." Panggil Rama dengan suara parau nya.
" Mas kan lelah. Sudah melakukan pejalan jauh. Istirahat sebentar lalu pergi lagi menemaniku jalan-jalan."
" Kalau cuma untuk nengokim dia, aku punya banyak tenaga. " Jawab Rama sambil mengusap perut istrinya.
Salma diam sejenak sambil melihat ke arah suaminya. Salma hanya menggeleng. Sudah jelas sebentar lagi masuk dunia mimpi. Masih banyak meminta. Ralat. Tidak banyak. Hanya satu.
Salma akhirnya hanya tersenyum.
" Benar kan?," monolognya sambil mengusap pipi Rama.
__ADS_1
TBC