Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 57 Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (57)


" Entahlah. Sebelum ada bukti aku belum berani menuduh."


" Bagaimana kalau pelakunya benar-benar dia?," timpal Aisyah.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Berhari-hari di rawat di rumah sakit, hari ini Salma akhirnya di perbolehkan pulang. Begitu pun dengan bayi mungilnya. Bersyukur sekalipun lahir lebih awal, kondisinya baik-baik saja.


" Hei, cantiknya ayah." goda Rama sambil menoel pipi sang anak yang ada dalam gendongannya.


Namun, bayi itu tetap tidur nyenyak walaupun ada yang mengganggu tidurnya.


Sementara Salma yang duduk disebelahnya hanya tersenyum melihat interaksi suaminya itu.


Di depan kemudi, Andre merasa senang melihat kebahagiaan sahabatnya. Hari ini ia dan Insi memang sengaja menjemput Salma dari rumah sakit saat tahu Salma dan bayinya sudah di perbolehkan untuk pulang.


 Sementara Aisyah tidak bisa ikut karena anaknya sedang sakit.


Andre tersenyum melihat sang istri yang menemaninya duduk di kursi samping kemudi. Ia sedang asyik memakan camilan yang baru di belinya.


" Mau beli sesuatu lagi?," tanya Andre pada Insi yang semenjak hamil selalu ingin membeli aneka jajanan.


Tubuh kurusnya kini semakin berisi. Namun, Insi yang pada dasarnya tidak terlalu peduli jika bertambah gemuk pun tak mempermasalahkannya. Ia tetap makan sesuai keinginannya. Tidak membatasi hanya agar tubuhnya tetap ideal.


" Ini masih banyak. Belum lagi, Tante Marisa bilang masak banyak, jadi aku harus menyisakan ruang di perutku agar bisa memakan masakannya."


Jawaban Insi hanya membuat mereka yang ada di dalam mobil geleng-geleng kepala. Karena dari tadi Insi seolah tak pernah kenyang.


" Ndre, soal insiden yang di alami Salma bagaimana?," tanya Rama yang belum sempat bertanya masalah kecurigaan adanya seseorang yang sengaja membuat Salma terjatuh.


" Berdasarkan Cctv, memang ada seseorang yang mendorong Salma. Namun, masih di selidiki siapa dia. Karena ia memakai topi, kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya sehingga tidak terlalu jelas siapa dia.


Tapi, dari gerak-geriknya orang ku bilang sepertinya dia perempuan."


Deg


" Dewi?," celetuk Insi.


" Tidak tahu. Kita masih menyelidikinya. Karena dia yang kita curigai, jadi kita sedang mencari tahu dimana Dewi berada saat kejadian yang menimpa Salma." jelas Andre.

__ADS_1


Mereka pun mengangguk.


" Kemarin Tante Ana menjenguk ke rumah sakit. Dia sempat cerita kalau dia kehilangan kontak dengan Dewi." jelas Salma singkat teringat akan cerita ibu kandung Dewi yang sedikit resah karena tidak bisa menghubungi anaknya.


" Tante Ana juga merasa sedikit khawatir jika Dewi yang mencelakaiku. Padahal aku tidak mengatakan bahwa aku terjatuh karena ulah seseorang." jelas Salma.


Kemarin ia sempat bingung saat ibu kandung Dewi meminta maaf jika apa yang menimpa Salma adalah perbuatan Dewi.


" Mungkin dia sempat mendengar obrolanku dan Andre di telpon sesaat sebelum kedatangannya ke rumah sakit." jelas Rama.


Sementara di rumah, Faisal sudah tidak sabar ingin segera melihat adiknya. Selama sang bunda di rumah sakit, ia hanya melihatnya sekali. Saat bersama ayahnya juga Oma dan Opanya.


" Nek, adik masih lama sampainya?," tanya Faisal yang melihat ke arah gerbang. Berharap melihat kedatangan adiknya.


" Sebentar lagi. Katanya sudah sampai di gerbang perumahan" jelas Bu Marisa saat ia terpaksa menghubungi Rama karena Faisal terus merengek ingin tahu adik dan kedua orangtuanya sudah sampai dimana.


Hingga akhirnya, sebuah mobil yang membawa keluarga kecil Rama pun berhenti di depan rumah.


Faisal yang tidak sabar langsung berlari ke arah mobil yang baru berhenti.


" Assalamu'alaikum, sayang." panggil Rama saat ia sudah berhenti di depan Faisal.


" Wa'alaikumussalam, ayah. Aku mau lihat adik bayinya." seru Faisal antusias sambil melompat-lompat berharap bisa melihat bayi mungil yang ada dalam gendongan sang ayah.


" Cantiknya adik bayi." Faisal hanya berani melihat tapi tidak berani menyentuh karena ingat ucapan neneknya bahwa kulit bayi sensitif dan tidak boleh sembarang di sentuh.


Salma yang baru keluar dari mobil, tersenyum melihat betapa antusiasnya Faisal melihat adiknya. Namun, ia tidak gegabah menyentuh kulit adiknya.


" Ayo masuk ke rumah, nanti Ical boleh pegang dan cium adik bayi di rumah." Ajak Salma menuntun Faisal.


Faisal sudah mencuci kedua tangannya, ia kini duduk di samping sang adik yang masih terlelap. Sementara Andre dan Insi sudah pulang kembali setelah makan siang bersama.


" Bun, adik namanya siapa?," tanya Faisal menyentuh pipi adiknya.


" Nanti tanya ayah ya. Ayah yang ngasih nama." jawab Salma dan Faisal hanya mengangguk.


" Adik bayi kenapa tidur terus, Bun. Tidak bangun-bangun." Faisal gemas karena adiknya tidak terbangun padahal ia sudah menyentuh pipinya.


" Adik bayi memang begitu. Bangun kalau lapar atau pipis. Tapi, kadang juga malah tetap nyenyak tidurnya."


" Apa Ical dulu juga begitu?,"

__ADS_1


" Semua bayi yang baru lahir memang begitu, sayang." Salma tidak bisa menjelaskan secara spesifik bagaimana Faisal ketika bayi karena ia tidak tahu.


" Kenapa begitu, bunda?," tanya Faisal penasaran.


Menurut pandangannya, hanya tidur dan tidur itu membosankan. Jangankan lama, hanya sebentar saja membosankan. Faisal membandingkan dengan dirinya yang harus seharian di tempat tidur karena sakit.


" Ical saja yang tidur terus bosan. Lebih menyenangkan bermain di luar." tambahnya polos.


Salma tersenyum. " Karena adik bayi kan belum bisa bejalan bahkan berlari seperti Ical."


" Tapi, di video yang Ical lihat, anak jerapah langsung berlari padahal baru lahir. Kenapa adik bayi tidak?,'


Rama yang baru masuk ke dalam kamar langsung tergelak saat Faisal membandingkan adiknya dengan anak jerapah.


" Hei jagoan, ini kado dari siapa?," tanya Rama yang baru menyadari ada sebuah kado yang di sudut ruangan. Kado yang cukup besar.


" Ini kado dari kakak untuk adik bayi." Jawab Faisal sambil membusungkan dada.


" Kakak?,"


" Ical mau di panggil kakak," ucapnya. Rama dan Salma pun mengangguk.


...******...


" Bersiap-siap," Bisik seorang pada bawahan yang ada di depannya.


Mereka sedang melakukan pengepungan. Beberapa personil polisi sudah bersiap hendak menangkap buronan yang terdeteksi ada di penginapan tersebut.


Mengetahui bahwa penyewa belum melakukan check out, mereka pun bersiap dengan seorang yang berpura-pura menjadi petugas penginapan.


Sementara di dalam sebuah kamar mandi, seorang perempuan sedang berganti pakaian. Ia memakai wig yang akan menutupi rambut aslinya. Tidak lupa pakaian lengan panjang dan celana jeans panjang serta jaket.


Tok...Tok ..Tok..


Polisi yang menyamar mengetuk pintu penginapan. Karena setelah berkali-kali mengetuk tidak ada yang membuka bahkan ketika di katakan bahwa ia adalah petugas penginapan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka paksa pintu karena khawatir sasaran melarikan diri.


Brakkk


Dengan beberapa kali tendangan, pintu berhasil terbuka. Namun, nihil kamar dalam keadaan kosong. Mereka bergegas menuju pintu yang tertutup rapat yang mereka yakini sebagai kamar mandi.


Brakkk

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan apa yang ada di dalamnya.


TBC


__ADS_2