Sebatas Ibu Untuk Anakmu

Sebatas Ibu Untuk Anakmu
SIUA 58 Hukuman


__ADS_3

Sebatas Ibu Untuk Anakmu (58)


Brakkk


Dengan beberapa kali tendangan, pintu berhasil terbuka. Namun, nihil kamar dalam keadaan kosong. Mereka bergegas menuju pintu yang tertutup rapat yang mereka yakini sebagai kamar mandi.


Brakkk


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan apa yang ada di dalamnya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


" Untung aku bisa selamat." seorang perempuan menghela nafas menyandarkan punggungnya ke jok mobil.


" Bantuan ini tidak gratis, nona." seorang pemuda di sampingnya menarik sudut bibirnya.


Flashback on


"Apa yang kau lakukan?!," seorang pemuda marah karena ada perempuan yang tidak ia kenal menerobos masuk ke kamar penginapannya.


" Tolong aku. Aku mohon," Perempuan yang tidak lain adalah Dewi itu menangkupkan kedua tangannya.


Ia sedang benar-benar ketakutan. Tadi, ia melihat polisi yang ada di resepsionis sedang bertanya nomor kamar penginapan miliknya.


 Dewi yang awalnya akan pergi dan mengembalikan kunci, segera kembali dan saat melihat ada pintu kamar yang terbuka, ia menerobosnya tanpa memikirkan apapun.


Ketakutan harus tinggal di dalam penjara membuatnya tidak berpikir panjang. Yang penting, ia bisa meloloskan diri dari kejaran polisi saat ini.


" Apa?,"


" Tolong tutup dulu pintunya. Aku mohon." jawabnya was-was. Sambil melihat keluar khawatir jika ada yang melihatnya.


Pintu langsung di tutup. Mereka kini berdiri saling berhadapan.


" Tolong bawa aku keluar dari sini."


" Kenapa?,"


" Polisi itu sedang mencariku." jawabnya bingung harus menjelaskan seperti apa.


" Kamu buronan?,"


" Hanya salah paham. Tapi, kalau aku tertangkap sekarang, aku tidak bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Mereka orang yang berkuasa." Dewi akhirnya memilih berbohong agar orang di hadapannya mau menolongnya.


Sang pria diam tidak langsung percaya. Melihat gerak-gerik wanita di depannya. Terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu.


" Baiklah. Tapi, ini tidak gratis." ucap sang pria menyeringai.

__ADS_1


Dewi tanpa pikir panjang langsung mengangguk. Ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dengan pakaian yang sudah ia beli dengan cara online.


Mereka pun keluar penginapan dengan berusaha bersikap seperti biasa. Bahkan saat melewati para polisi yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


Sang pria merangkul pundak Dewi berakting mereka layaknya sepasang kekasih. Hingga akhirnya mereka bisa keluar dari sana dan langsung pergi entah kemana Dewi pun tak tahu.


Flashback end


" Apa yang kau inginkan? Uangku tak banyak."


Uang hasil menjual perhiasan miliknya memang tinggal sedikit lagi. Setelah terpakai begitu banyak untuk membayar penginapan selama beberapa hari ini. Juga membeli ponsel baru karena ia tak mau menggunakan ponsel lamanya.


" Aku tak butuh uang. Uangku banyak." jawabnya sambil mengamati Dewi dengan pandangan yang entahlah.


...******...


" Dia kabur?," tanya Rama pada Andre yang datang menemuinya di rumah makan dan memberikan kabar terbaru mengenai Dewi.


Setelah di telusuri dari Cctv, sosok yang mendorong Salma akhirnya terkuak. Perempuan itu benar-benar Dewi.


Ia berjalan dengan perlahan menuju mobil yang terdaftar atas nama Dewi setelah di cek dari plat mobilnya.


Mereka pun melaporkan temuan mereka pada polisi. Dimana polisi akhirnya bertindak cepat dan menemukan tempat persembunyian Dewi, namun nihil. Kedatangan mereka sepertinya sudah di ketahui Dewi karena Dewi sudah tidak ada di tempat.


" Lalu bagaimana?," tanya Rama.


Tindakan yang sudah menjurus ke arah kriminal ini sangat meresahkan.


" Selama Dewi masih belum di temukan, sebaiknya jangan dulu membiarkan Salma sendirian. Takutnya Dewi lebih nekad." saran Andre.


Rama akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan kembali lebih awal. Dia memang kini tidak terlalu banyak mengurusi langsung usahanya itu. Ia telah merekrut orang yybisa ia percaya.


Sesekali datang jika harus mengecek dan memantau saja.


Hingga mobil yang ia kendarai sampai di rumah. Ia melihat Istrinya sedang menemani Faisal menggambar. Sementara bati mungilnya tertidur pulas di sampingnya, di atas kasur bayi.


" Assalamu'alaikum." Ucap Rama tersenyum menghampiri istri dan anaknya.


" Wa'alaikumussalam." jawab Salma menyalami sang suami.


Faisal pun melakukan hal yang sama. Ia mencium tangan ayahnya. Rama pun berlalu ke kamar untuk berganti pakaian. Kebiasaan yang ia terapkan jika sudah beraktivitas di luar rumah sebelum menyentuh sang putri.


" Semua baik-baik saja?," tanya Salma melihat wajah sang suami yang tampak penuh beban.


" Dia melarikan diri." jawab Rama singkat tanpa menyebutkan nama. Bagaimana pun Faisal tahu jika Dewi adalah ibu kandungnya. Salah bicara bisa menimbulkan banyak pertanyaan dari putra sulungnya itu.


" Bagaimana bisa?," tanya Salma heran. Dia tahu apa yang menimpanya ulah sang mantan istri dari suaminya.

__ADS_1


Rama tidak pernah menutupi hal apapun. Termasuk tentang Dewi.


" Sepertinya ada yang menolongnya." Jawab Rama teringat ucapan Andre. Apalagi Cctv tiba-tiba rusak sehingga para polisi tidak bisa menemukan bukti apapun.


Hanya saja ada yang melihat sosok seperti Dewi dengan potongan rambut yang berbeda. Juga cara pakaiannya.


Itu yang di ucapkan pihak resepsionis yang memang sudah sering melihat Dewi. Kebetulan ia masuk kerja saat penggrebekan sudah selesai. Ia bertemu di tempat parkir dengan sosok mirip Dewi itu.


" Ya sudah, untuk masalah ini, kita serahkan saja pada polisi,"


Menurut Salma, Dewi tidak akan berani memunculkan dirinya sementara waktu ini, setelah ia tahu sudah jadi buronan polisi.


Rama menganggukkan kepalanya setuju. Tiba-tiba putri kecilnya menangis. Seolah tahu sang ayah yang sudah datang malah tidak menyapanya.


" Cup... Cup..Cup ... Dira sayang, kenapa nangis. Lapar?," Rama meraih putri kecilnya dan langsung menimang-nimangnya.


Salma tersenyum. seolah paham apa yang terjadi.


" Bukan lapar. Dia cemburu karena ayahnya tidak menyapanya." Ucap Salma tersenyum.


Rama yang gemas pun menciumi putri kecilnya yang tiba-tiba langsung diam setelah ia gendong.


Sheza Almahyra Khairina, adalah nama Putri kecil mereka. Baby Airin adalan panggilannya.


" Adik Airin kenapa bunda?," tanya Faisal yang langsung duduk di pangkuan bundanya.


Faisal langsung ikut menciumi adiknya yang menggemaskan itu.


...******...


" Maksud anda apa?," tanya Dewi geram pada laki-laki di depannya. Laki-laki yang sudah membawanya kabur dari kejaran polisi.


" Itu tugasmu. Sebagai bayaran karena aku telah menolongmu."


Dewi mere_mas kedua tangannya. Merasa tidak terima dengan apa yang harus ia lakukan. Baginya, ini adalah penghinaan.


" Apa tidak ada hal lain yang bisa aku kerjakan untuk membayar bantuan yang sudah anda berikan ?,"


Laki-laki itu hanya tersenyum sinis. "Tidak ada. Dan jangan harap bisa kabur karena kamu tidak bisa pergi kemanapun." ucapnya pergi meninggalkan Dewi seorang diri.


" Jangan kamu pikir akan bisa bebas. Ini baru permulaan." gumamnya pelan sambil melangkah menuju kamarnya.


Jangan kira laki-laki yang menolong Dewi tidak tahu apapun. Melihat penggerebekan yang di lakukan polisi di penginapan membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi. Hingga akhirnya ia mencari tahu siapa Dewi.


Entah sebuah kebetulan atau apa, ternyata Dewi adalah orang yang ia cari. Mangsa yang datang sendiri tanpa harus bersusah payah mencari. Ini awal dari hukuman yang akan ia berikan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2