Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 115_Yuna


__ADS_3

Taksi sudah menunggu di luar. Yuna menyeka sisa air matanya. Dia kembali tersenyum dan memperhatikan setiap sudut rumah ini.


Kemudian, dia benar-benar melangkah, tangannya mengulur memegang gagang pintu utama. Dia selalu membuka pintu ini ketika menyambut Leo, mungkin ini terakhir kalinya dia memegang gagang pintu ini.


Dia menarik gagang pintu pelan dengan segala emosi yang bercampur dalam hatinya. Namun, pintu itu tidak bisa dia buka. Seseorang menahan dengan tangannya.


"Jangan pergi," ucapnya. Dia berdiri tepat di belakang Yuna, tangannya menahan pintu. Yuna diam dan masih mencoba membuka pintu.


"Ku mohon, jangan pergi Yuna...," pintanya dengan tulus. "Maafkan aku."


"Ku mohon, biarkan aku pergi Leo. Aku lelah... aku ingin pulang, biarkan aku pulang."


"Tidak boleh, aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan ku," ucap Leo dengan sedih. Yuna menarik nafasnya.

__ADS_1


"Kau begitu mudah meninggalkan ku, dan saat ini kau bilang, aku tidak boleh meninggalkan mu? Hah, kau sangat egois. Biarkan aku pergi dan kau akan dengan bebas bertemu dengan Kiara. Kita... cukup sampai disini, aku tidak ingin bersama mu lagi Leo."


Leo segera memeluknya.


"Sayang... ku mohon jangan ucapkan itu." ucapnya, dan langsung menggendong paksa Yuna untuk meninggalkan pintu utama. Leo membawanya menaiki tangga dan membawanya masuk ke ruang belajar. Membuat Yuna duduk di kursi dan mereka duduk berhadapan.


Leo menatapnya dengan sedih, tangannya mengulur dan meraih tangan Yuna, namun Yuna segera menepisnya.


"Sayang... aku minta maaf. Aku menyakiti mu terlalu dalam, aku membuat mu terluka, aku membuat mu menangis. Yuna... ku mohon maafkan aku. Aku janji akan memperbaiki semuanya, semua yang ku lakukan pada mu, semua yang membuat mu terluka. Aku janji tidak akan pernah menemuinya lagi. Aku janji tidak akan mengecewakan mu. Sayang... ku mohon jangan pergi, aku minta maaf," Leo berkata dengan tulus.


Leo selalu seperti itu, berbuat manis setelah dia melakukan kesalahan. Membuat Yuna langsung luluh dan bermurah hati segera memaafkannya. Sebenarnya, memaafkan Leo bukan karena Yuna bermurah hati tetapi karena cintanya lebih besar dari hanya sekedar diam dan tidak segera memaafkannya. Namun, kali ini dia benar-benar merasa lelah, dia tidak ingin lagi menjadi Yuna yang seperti itu. Dia tidak bisa mempercayai ucapan dan bahkan janji Leo padanya. Leo selalu dia maafkan, kemudian mengulanginya lagi, dimaafkan lagi, dan mengulanginya lagi. Leo pada dasarnya tidak bisa melepas Kiara dengan sepenuhnya, bantin Yuna.


"Biarkan aku pergi Leo. Aku ingin sendiri...," ucap Yuna singkat dan segera berdiri. Dia segera melangkah keluar tanpa memberi kesempatan pada Leo untuk mampu menahannya lagi.

__ADS_1


Leo tidak bisa menahannya, dia sungguh pergi. Secepat apapun kakinya berlari, dia tetap tidak mampu mengejarnya. Secepat apapun dia menyetir mobilnya, tetap saja dia tidak mampu mengejarnya. Dia tiba di bandara tepat ketika pesawat Yuna mengudara.


Dia laki-laki... namun air matanya menetes. Kenapa harus terulang kembali? Dia menahan sesak dalam dadanya, dia teramat sedih, hingga tidak memiliki emosi lain selain itu. Dia menyadari bahwa ini adalah salahnya, dia yang tidak bisa tegas dengan Kiara, perasaannya pada Kiara bukan lagi rasa cinta tetapi lebih kepada rasa kasihan, dia terlalu mengasihani gadis itu. Hingga membuat Yuna terluka.


Mata Yuna yang menatapnya malam itu masih terbayang jelas di ingatan Leo. Matanya memohon untuk jangan pergi, suaranya memohon untuk jangan pergi, bibirnya memohon untuk jangan pergi, namun pada akhirnya dia tetap pergi.


Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Hingga tengah malam, Leo baru kembali. Dia tahu Yuna sudah tidak ada di rumahnya lagi. Dia melangkah pelan dan meraih gagang pintu... tangannya terhenti, dia diam. Entah kapan terakhir dia memeganng gagang pintu ini. Selalu ada Yuna yang membukakan pintu sebelum dia mengetuknya, selalu ada Yuna yang menyambutnya dengan senyum cantik dan terkadang dengan tingkah lucu.


Leo menunduk, dia menarik tangannya dan terpaku di depan pintu hingga hampir satu jam. Pikirannya kosong, hatinya rapuh.


"Yuna ...." dia menggumam pelan dengan kesakitan yang luar biasa dalam hatinya.

__ADS_1



__ADS_2