Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 130_Teruslah Bahagia


__ADS_3

Dari kota K, Leo langsung membawa Yuna ke rumah orang tuanya.


"Sayang...," Mama langsung memeluk Yuna dengan tangis bahagia. "Mama bersyukur, kamu kembali nak. Maafkan Lee ya sayang, maaf jika kamu harus menderita karenanya," Mama mengusap punggung Yuna penuh kasih.


Kemudian, Yuna memberi salam pada Papa yang berdiri di samping Mama.


"Pa... terima kasih sudah menamparnya," canda Yuna dengan sengaja. Dia melirik Leo.


"Papa bahkan hampir membunuhnya sayang, sini...," Papa langsung memeluk Yuna. Papa sangat bahagia, harapannya sangat tinggi pada menantunya ini. Papa ingin Yuna selalu ada untuk Leo, agar Leo tidak kembali gila karena Kiara. "Kau putri Papa, jadi Papa harus selalu melindungi mu. Termasuk dari si gila ini," tangan Papa terangkat dan memukul kepala Leo dengan pelan. Kemudian, Papa memeluknya juga. Beliau bernafas lega. "Sayang... teruslah bahagia, jangan pernah meninggalkan satu sama lain. Tuhan telah menyatukan kalian dalam ikatan suci pernikahan. Itu bukan ikrar main-main, itu butuh tanggung jawab yang besar. Teruslah bahagia nak...," ucap Papa dan kemudian melepas pelukannya.


"Kau putra Papa..." Papa menatap Leo dengan hangat. "Kau adalah laki-laki, tugasmu membimbing dan membahagiakan istri mu, jangan sampai kau membuatnya terluka. Kau laki-laki... kau harus punya komitmen yang kuat. Kau mengerti?"


Leo mengangguk dengan senyum pasti.


"Baik Pa."


"Jika sampai kau membuatnya terluka, Papa akan benar-benar membunuh mu."


"Tidak akan, aku tidak akan membuatnya terluka. Aku akan membuatnya bahagia lebih dari siapapun," ucap Leo sambil menatap Yuna dari samping. Yuna langsung menoleh ke arahnya dengan senyum merona. Leo menariknya mendekat dan memeluk pinggangnya.


"Lee... Mama dan Papa sangat bahagia saat ini karena kalian kembali bersama. Jaga terus hubungan kalian ya nak...," Mama menatap Putra dan menantunya dengan penuh kasih.


"Pasti Ma...,"


"Malam ini, menginaplah di sini. Sore nanti Kak Dimas kesini."


"Baik," jawab Leo. Lalu, dia pamit untuk istirahat, tangannya masih terus memeluk pinggang Yuna dan sesekali menggelikitiknya dan kemudian dia menggendongnya.


"Ma... aku akan membuatkan mu cucu yang lucu," Leo berteriak tanpa menoleh. Yuna langsung memukul dadanya pelan.


Mama dan Papa saling berpelukan dan tersenyum bahagia, mereka bernafas dengan lega.


"Pa, bagaimana jika malam ini, kita mengundang keluarga Mahaeswara?"


"Jangan dulu, menantu mu baru saja kembali. Kita harus makan malam keluarga. Mungkin minggu depan kita bisa mengundang keluarga Mahaeswara. Tapi kenapa Mama tiba-tiba ingin mengundang mereka?"


"Eh, tidak ada apa-apa. Hanya saja, rasanya kita sudah lama tidak makan malam bersama mereka," jawab Mama. Tentang Vano dan Neva adalah rahasia dua Nyonya.


Setelah percakapan itu, Neva berlari dari luar dengan semangat.


"Ma.... Mana Kakak ku yang paling tampan? Dia kesini bukan? Kak Lee membawa Kak Yuna bukan? Aku akan mencincangnya jika dia sampai tidak berhasil membawa Kak Yuna kembali," Neva mencerocos begitu saja. Mama tertawa kecil menatap putrinya.

__ADS_1


"Mereka baru saja naik ke atas. Kamu jangan menganggunya." jawab Mama. Sedetik kemudian, Leo berjalan dengan tergesa menuruni tangga.


"Tepat," ucapnya setelah melihat Neva. "Sini...," dia menarik Neva untuk mendekat. "Beri aku pembalut mu," Leo meminta sesuatu yang membuat mereka bertiga saling berpandangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak bersama.


"Aduuh... sepertinya ada yang gagal memberi Mama cucu nih," Mama dengan sengaja meledeknya.


"Ah, ini cuma beberapa hari kan. Mama tenang saja, aku akan berusaha keras setelah ini," Leo bersemangat dan tertawa ringan.


Dia segera kembali ke kamar setelah Neva memberinya pembalut, ia langsung memberikannya untuk Yuna yang sudah menunggu di kamar mandi.


Leo sedang menonton telefisi saat Yuna keluar dari kamar mandi, ia kemudian duduk di sebelah Leo. Dia memperhatikan Tv sebentar, seperti biasa Leo menyaksikan berita bisnis. Yuna kemudian tiduran di sofa, dia menaruh kepalanya dipaha Leo, ia memainkan Hpnya dan menyalakan sinyal internet pada Hpnya. Dia sudah bisa menebaknya, ada banyak pesan dari Vano.


"Sayang, apa kau mau nonton kartun?" Leo menawarinya, tapi Yuna menggeleng. Leo mengusap rambutnya pelan. Hp Yuna bergetar karena ada pesan baru yang masuk, pesan dari Vano.


"Yuna, apa yang terjadi? Kau sungguh baik-baik saja bukan?" isi pesan terbaru dari Vano. Yuna membalasnya dengan cepat.


"Aku baik-baik saja kawan. Kau tidak perlu cemas."


"Aku tidak percaya, kenapa kau menonaktifkan Hp mu?"


"Kemarin aku liburan ke kampung halaman, hehee. Aku baik-baik saja kawan." balasnya lagi dan segera menghapus semua pesan Vano dalam ponselnya. Dan dia kembali menonaktifkan ponselnya.


"Apa kau mau minum air hangat? Aku akan mengambilnya untuk mu, aku pernah dengar jika menstruasi itu menyakitkan," Leo menawarinya, namun Yuna menggeleng. "Sayang...," Leo memanggilnya dengan pelan. Dia menunduk menatap Yuna.


"Aku ingin bertanya sesuatu pada mu. Apa kau tak keberatan untuk menjawabnya?"


"Apa?" Yuna membalas pandangan Leo.


"Bagaimana hubungan mu dengan Vano?" Leo bertanya dengan hati-hati.


"Hubungan seperti apa yang ingin kamu ketahui?"


"Aku melihat mu memasuki kantornya pagi itu. Kau bahkan sampai tahu dimana letak kantor Vano. Kau membiarkan tangannya mengenggam jemari mu, kau juga membiarkan dia menyentuh pipi mu di malam itu," Leo bertanya dengan masih hati-hati dalam menyampaikannya. Hatinya terasa sakit dengan pertanyaannya sendiri. Dia sangat cemburu dan tidak rela tangan dan pipi Yuna disentuh oleh orang lain. "Yuna, apa aku boleh tahu seperti apa hubungan kalian?"


Yuna menarik nafasnya panjang. Dia meraih tangan Leo dan mengenggamnya.


"Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau harus janji... kau tidak akan marah," ucap Yuna. Leo mengangguk. Hatinya menjadi sangat gelisah, jawaban Yuna membuat dirinya sangat gelisah. Harus janji tidak boleh marah, itu berarti memang sesuatu yang bukan sederhana.


"Apa kau ingat, ketika kau menolak untuk makan siang bersama ku? Kau bahkan bilang selanjutnya tidak perlu lagi membawakan mu makan siang."


Leo mengangguk, ini juga yang dia dengar dari Vano.

__ADS_1


Yuna melanjutkan. "Itu adalah awal aku dekat dengannya. Kemudian, aku juga tidak tahu bagaimana aku dan dia menjadi semakin dekat, seperti mengalir begitu saja. Aku sudah pernah bilang pada mu, bahwa ketika aku bersedih karena mu, dia akan ada untuk menghibur ku. Jangan salahkan dia, tapi salahkan aku. Aku yang datang padanya, jangan salahkan dia, aku yang merasa membutuhkannya."


Leo mengangguk dengan hati yang tersakiti. Dia mengangkat wajahnya dan tidak menatap Yuna lagi, ia menatap telefisi namun tidak menontonnya. Hatinya sakit dan menambah rasa benci terhadap dirinya sendiri. Bukan salah Yuna, bukan juga salah Vano, tapi salahnya. Leo sangat tahu bahwa ini adalah salahnya.


"Kau sudah berjanji untuk tidak marah," Yuna berujar pelan dan cemas. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Leo, dia membawa wajah Leo untuk menatapnya lagi. "Apa kau marah?" tanya Yuna khawatir. Leo menggeleng.


"Aku ingin bertanya satu lagi, apa kau akan menjawabnya?"


"Aku tidak akan menjawabnya, kau menyebalkan. Kau pasti akan mendiamkan ku lagi." Yuna mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau punya perasaan pada Vano?" Leo tetap menanyakan apa yang ingin dia ketahui. Yuna diam dan dia langsung mengalihkan pandangannya.


Leo tersenyum dengan pahit, hatinya sakit, lebih dari ribuan pisau yang mencabiknya. Yuna tidak perlu menjawabnya, Leo sudah bisa menebak jawabannya. Dia menarik nafasnya dengan sangat dalam, menahannya sejenak sebelum akhirnya mengelurakannya kembali. Hatinya memang sangat sakit, namun dia tidak menyalahkan siapa-siapa selain dirinya. Tangannya mengusap kening Yuna dengan perhatian.


"Yuna... kau tidak perlu khawatir. Aku tidak menyalahkan dia, aku juga tidak menyalahkan mu. Aku yang salah," ujar Leo menjelaskan perasaannya. Yuna kembali menatapnya. "Yuna... aku punya permintaan pada mu. Semoga kau tidak keberatan melakukannya."


"Apa?"


"Vano mencintai mu dan kamu adalah milik ku. Bisakah kalian tidak saling bertemu?" pinta Leo. Tangannya masih mengusap kening Yuna, telapak tangannya hangat penuh perasaan.


Yuna mengangguk pasti. "Iya," jawabnya.


"Terima kasih, sayang," ucap Leo tulus.


Yuna mengangkat kepalanya dari paha Leo, dan kemudian duduk. Dia langsung memeluk Leo.


"Entah seperti apa hubungan ku dengan Vano, itu sudah berlalu. Sayang... ku mohon jangan pernah salah faham. Aku menjaga hati ku, kamu menjaga hati mu. Kita sama-sama pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kita berjauhan, bagimana rasanya ketika aku tanpa mu dan kamu tanpa ku." Yuna berujar dengan teratur, dia tidak ingin Leo salah faham, dia tidak ingin menyakiti Leo. Tangannya memeluk Leo dengan erat.


Leo membalas pelukan Yuna dengan erat dan mencium keningnya. Sungguh Leo takut ditinggalkan, dia takut kehilangan. Dia ingin Yuna selalu ada untuknya, dia ingin Yuna selalu ada bersamanya. Dia ingin Yuna hanya miliknya, tidak ada yang boleh menyentuhnya.


_____


Catatan GaJe penulis.


Hai... Ummm... Hari ini, Hari ulang tahun Author🙈 hehee.


Author berterima kasih untuk teman-teman semuanya yang selalu ngasih semangat buat Author. Aku cinta teman-teman semua. Salam kenal dan salam sahabat😘 🙏


Kasih hadiah like n koment dooooong😉


"Emang sebegitu pentingnya ya thor like n koment?"

__ADS_1


"Iyah... karena itu yang bikin Author semangat" 😊🙏


Terima kasih😘


__ADS_2