
Di siang yang sama di kota K.
Leo mengantar Yuna ke asrama Adel. Dia menunggu di dalam mobil di depan asrama Adel.
"Huwaa... aku bahagiaaaa. Muach, muach..." Adel mencium gemas pipi Yuna. Jika Leo melihatnya, dia pasti akan memprotes tindakan Adel ini, untung saja dia hanya menunggu di luar. "Kau layak mendapatkan cintanya, kau layak mendapatkan dirinya. Aku sangat bahagiaaa...," Adel memeluk Yuna penuh haru. Kemarin, hatinya terasa sakit ketika tengah malam dia menemukan Yuna dengan wajah yang sedih.
"Ayo kita makan bersama Del. Kau mau makan apa? Aku akan mentraktir mu hingga puaaas...,"
"Ayoo, kita makan sampai kenyaang," Adel menyetujui dengan semangat. Dia tahu jika dari kemarin Yuna makan dengan tidak benar karena perasaannya yang buruk. Jadi saat ini, dia harus memastikan bahwa Yuna makan dengan banyak.
"Selamat siang, Tuan muda Leo," sapanya ramah setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang. Leo menjawabnya dengan anggukan pelan dan tersenyum.
Kemudian, mobilnya melaju pelan.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Leo tanpa menoleh. Dia fokus pada jalanan. Jalanan kota K sangat tenang dan senggang, berbeda sekali dengan jalanan Ibu kota yang selalu padat.
"Kau mau kemana Del?" Yuna melemparkan pertanyaan Leo pada Adel.
"Hmm, aku ikut kalian aja," jawab Adel.
"Giman kalau kita ke Rumah makan Bang Dul...,"
"Waahh keren. Kita akan makan ndas manyung* pedas. Aku kangen bangeeet...," Adel menyetujui.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di tempat makan yang Yuna dan Adel setujui.
Yuna dan Adel berjalan bergandengan dan Leo berjalan sendiri membuntuti mereka berdua dibelakang. Mereka duduk di tempat duduk yang tidak jauh dari jendela kaca.
Rumah makan ini sangat terkenal di kota K, menyajikan makanan khas kota K dengan penyajian yang ndeso, di tambah cita rasanya yang lezat membuat para penikmat kuliner selalu kangen dengan rumah makan satu ini.
Yuna dan Adel memesan banyak makanan... Nasi gandul, soto kemiri, bandeng presto, daan... ndas manyung pedas.
"Sayang... apa kau pernah mencoba ini sebelumnya?" tanya Yuna setelah pesanan mereka datang. Leo memperhatikan menu yang Yuna pesan untuknya.
Leo menggeleng. "Aku hanya pernah menontonnya di acara kuliner."
"Setelah mencobanya kau pasti akan langsung ketagihan, sayang," Yuna mulai menyendok miliknya.
"Bagaimana makan mu belakangan ini?" Leo menoleh kearahnya. Dia menatap Yuna dengan khawatir, ia takut Yuna tidak makan dengan benar belakangan ini. Pertanyaan Leo membuat Yuna yang bersiap makan menjadi menurunkan sendoknya lagi.
"Aku...," dia menoleh dan membalas tatapan Leo padanya. "Aku sangat banyak makan, aku selalu rindu masakan rumah ketika tinggal bersama mu, jadi ketika aku pulang kerumah, aku hampir menghabiskan semua makanan yang tersedia. Kau tidak akan memprotesku bukan, jika aku gendut?"
"Bagus... kau harus makan yang banyak," Leo mengusap rambutnya dengan perhatian. "Jika perlu, aku akan membawa juru masak di rumah mu bersama kita."
"Masakan Bi sri tentu paling lezat, kau tak perlu melakukan itu. Umm... bagaimana dengan mu? Apa kau makan dengan benar?"
"Aku tidak ada nafsu makan. Aku memikirkan mu setiap aku bernafas. Bagaimana aku bisa makan ketika aku hampir mati karena merindukan mu."
"Uuhh... sayang, kau manis sekali," Yuna mengusap pipi Leo dengan gemas. "Sejak kapan kau pandai merayu."
"Aku tidak merayu," mereka saling berpandangan penuh cinta. Mereka lupa jika ada Adel bersama mereka.
Adel sungguh merasa dirinya seperti obat nyamuk yang tak dianggap, ohh... inikah rasanya menjadi obat nyamuk yang sering dibicarakan para jomblowan-jomblowati?! Sangat menyiksa.
"Uhuk..." Adel terbatuk untuk menyadarkan mereka berdua. Tepat... mereka berdua langsung melepas pandangan masing-masing.
Leo, menyendok miliknya dan memberikannya pada Yuna.
"Bukankah kau yang tidak makan dari kemarin? Kenapa malah memberikannya pada ku?" Yuna bertanya, dan langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan.
"Kau harus makan sebelum aku, kau sangat lambat dalam menghabiskan makanan mu." jawab Leo.
__ADS_1
"Aaahh... ya ampuun. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ku di dalam lautan," Adel teraniaya melihat ini. "Huff, ini sungguh ujian bagi jomblo," lanjutnya dengan tawa kecil.
"Umm... aku lupa bercerita pada mu," Yuna langsung menjawab. Dia mengingat sesuatu.
"Jangan bicara ketika kamu makan, sayang..., habiskan dulu makanan mu," Leo langsung menegurnya dengan suara yang perhatian. Yuna mengangguk dengan patuh.
"Haiii...," segerombolan cewek-cewek tiba-tiba datang menghampiri mereka. Ada empat cewek.
"Hai...," jawab Yuna dan Adel bersamaan.
"Lama tak bertemu Say, apa kabar?" mereka menyapa dengan ramah. Mereka adalah teman-teman SMA Yuna dan mereka mengenal Adel juga.
Setelah berbasa-basi yang sok akrab, akhirnya mereka ikut bergabung di meja Yuna. Mereka menambahkan bangku. Mereka dengan sangat sopan namun terdengar centil menyapa Leo. Leo hanya mengangguk sedikit menanggapi sapaan mereka, dia bahkan sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk melihat teman-teman Yuna. Mereka sangat berisik, sejujurnya Leo tidak menyukai ini.
"Pesanlah, aku yang traktir," ucap Yuna dengan sungkan. Dia tidak memilili teman akrab semasa sekolah, hanya sebatas kenal saja. "Sayang... berhenti menyuapi ku. Ada teman-teman ku, okey," Yuna berbisik pelan. Leo menoleh ke arahnya dan menjawab.
"Aku tidak perduli," dia kemudian memberi suapan lagi pada Yuna.
"Aaahh, ya ampuun... romantis sekali...," keempat cewek itu berujar dengan kompak.
"Yuna, kau sangat beruntung punya pacar seperti ini."
"Aahh dia sangat tampan. Aku baru tahu jika kota K kita menyimpan cowok tampan seperti pacar Yuna."
"Dan sepertinya dia tajir," kalimat ini diucapkan dengan berbisik.
"Kenalin dong, Yuna...," wajah mereka mengandung tikungan tajam.
"Sayang... jangan membuat ku mengulangi ucapan ku," Leo memperingatkan sebelum Yuna mampu membuka mulutnya untuk menjawab teman-temannya. Yuna dengan patuh menghabiskan makanannya tanpa mengeluarkan suara apapun.
Adel, disisi lain merasa bersyukur dengan kehadiran teman-teman Yuna ini, karena merasa ada yang menemaninya menyaksikan adegan yang membuat jomblo berkhayal.
"Uhh manis banget," seseorang dari empat teman Yuna berkomentar.
"Nggak, aku baru sekali ini melihatnya."
"Kenapa kita melewatkan cowok keren ini, selama ini."
"Belum terlewat."
"Benar."
Setelah menyelesaikan makannya, seperti biasa, Leo dengan anggun menyeka ujung bibirnya, dan dia juga melakukannya untuk Yuna. Dia menyeka bibir Yuna dengan lembut dan perhatian. Dia hanya menghabiskan satu porsi nasi gandul. Teman-teman Yuna sangat berisik menurutnya, jadi dia tidak ingin lama-lama.
"Aaaak... indahnya."
"Mata ku meleleh."
"Hati ku meleleh."
"Yuna, dari mana kau mendapatkan pacar sekeren ini?"
"Yuna, pacar mu sungguh laki-laki yang gentle."
Yuna tersenyum dan menatap ramah pada teman-temannya.
"Dia bukan pacar ku...," ujar Yuna yang langsung membuat mereka melebarkan matanya dan menajamkan pendengarannya. Ini menjadi angin segar untuk mereka. "Dia suami ku."
Kandas... mereka langsung patah hati besama-sama.
"Serius?"
__ADS_1
"Yang benar saja, kapan kalian menikah?"
"Iya, kenapa kau bahkan tidak mengundang kami. Kau jahat teman."
"Dan tidak ada kabar jika kau sudah menikah."
Leo mengangkat tangannya meminta tagihan.
"Siapa dia? Orang mana? Alumni mana? Dari keluarga mana?" mereka berempat masih sangat penasaran, karena ketampanan Leo langsung melelehkan mata dan hati mereka.
"Sayang, ayo," Leo berdiri dan di ikuti Yuna.
"Teman-teman, maaf saya harus pamit. Sampai ketemu lagi," Yuna pamit pada semuanya dan menyambut uluran tangan Leo. Dia mengenggamnya dengan erat, ia tahu apa yang dipikirkan keempat cewek-cewek ini. Mereka berdua kemudian jalan keluar.
"Uhum..." Adel berdehem dan membuat keempat cewek itu menoleh ke arahnya.
"Del, siapa cowok tadi? Kenapa wajahnya asing buat kita. Apa dia bukan dari kota K?"
"Yup..., dia bukan dari kota K," jawab Adel.
"Ooohh... pantas saja. Jadi, siapa dia, Del?"
"Dia adalah Leo J. Putra dari Presiden Bank swasta yang merajai negri ini." Adel bercerita dengan sombong.
"Huwaaa..." mulut mereka terbuka lebar.
"Sungguhkah?"
"Keren...,"
"Mantaappp."
"Kenapa Yuna seberuntung itu. Seharusnya aku saja."
"Ahh, Yuna pasti merasa dirinya bak Cinderella sekarang. Pantas saja dia tidak pernah menghadiri undangan reuni SMA."
"Hmm, dia menjadi sangat sombong."
"Bukankah dari semenjak sekolah dia sudah sombong?"
"Iya, benar. Ditambah dengan statusnya sekarang, itu pasti membuat dirinya besar kepala."
"Bagaimana cowok sekeren itu bisa jatuh cinta pada Yuna yang bahkan dia tidak punya teman."
"Benar, hubungan mereka pasti sangat garing banget."
"Uhum... simpan perasaan iri kalian, sampai jumpa," ucap Adel. "Oh iya, makanan masih sisa banyak dan tidak tersentuh, silahkan bungkus jika kalian mau," Adel segera berdiri dan melangkah pergi menyusul Yuna. Dia melangkah dengan senyum puas, ia merasa puas memperkenalkan siapa Leo pada teman-teman Yuna yang berwajah cantik namun punya tikungan tajam.
Tepat ketika dia di samping mobil Leo dan bersiap untuk membukanya, dia menyaksikan adegan yang membuatnya panas dingin dan langsung membeku. Gilaa... mereka tengah ciuman di dalam mobil. Adel merasa dikutuk saat itu juga, dia segera membalik badannya, dan memaki dirinya dalam hati. Dia datang seperti setan gentayangan yang mengacaukan dua insan yang di mabuk asmara.
Kisah beberapa menit sebelum Adel datang.
Leo merasa sangat kesal pada teman-teman Yuna yang sangat berisik dan membuatnya tidak nyaman. Dia sama sekali tidak menikmati makanannya. Kemudian, Yuna meminta maaf untuk kejadian yang tidak terduga itu. Awalnya... Yuna hanya mencium pipi Leo, namun, Leo segera menangkapnya dan menyerbu bibirnya.
"Sayang... ada Adel," Yuna segera mengambil tissu dan mengusap bibir Leo yang terkena lipblam dari bibirnya. Kemudian, mereka duduk dengan tenang. Namun, Adel tak kunjung masuk. Yuna menurunkan kaca dan memanggilnya.
"Del...,"
"Eh, hahaa... kaki ku kesemutan," dia menjawab dengan canggung. Kemudian, dia masuk dan duduk di kursi penumpang. Dia melirik Leo dan Yuna secara bergantian, otaknya menjadi mesum dan liar, ia sungguh merasa teraniaya, dia telah salah karena menyetujui untuk bersama mereka. Jiwa jomblonya berteriak.
____
__ADS_1
*Kepala ikan manyung