Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 146_Yess


__ADS_3

Leo mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya. Ada titipan oleh-oleh dari Dimas.


"Sayang, kenapa kamu tidak mau membalas uluran tangan Catherine, bukankah itu bisa membuatnya tersinggung?"


"Aku tidak menyentuh wanita yang tidak ku sukai. Sepanjang aku hidup, cuma Mama, Neva, Nenek, Kiara dan kamu, wanita yang pernah ku sentuh," jawab Leo tanpa menoleh. Yuna memutar pandangannya, dia memperhatikan Leo dari samping dan merasa sedikit terkejut, ia merasa bahwa laki-laki ini sungguh tidak tertarik pada apapun selain apa-apa yang dia sukai.


"Itu hanya sekedar berjabat tangan, menurut ku tidak berlebihan."


"Itu artinya aku menyentuh tangannya."


"Hmm, tapi setidaknya kau bisa menguncupkan kedua tangan mu."


"Aku tidak terbiasa melakukan itu. Aku sudah mengangguk sebagai tanggapan, bukankah itu cukup?"


"Oh, okey." Yuna mengangguk.


Leo serius memperhatikan jalan. Sedari dulu... dia memang tidak mudah bergaul dan tidak mudah akrab dengan seseorang. Dia hanya butuh Kiara dan tidak butuh siapapun lagi jika Kiara sudah bersamanya. Hingga akhirnya dia menjadi pribadi yang jarang bergaul, serius, pendiam dan dingin. Dirinya yang tidak mudah bergaul dan cuek membuat ia terkesan angkuh di mata orang lain, namun dia tidak keberatan dengan itu. Dan juga, dia sangat tidak suka jika ada wanita yang mendekatinya, bahkan jika hanya untuk menatap wajahnya saja, dia merasa risih dengan pandangan wanita padanya, apalagi hingga menyentuhnya.


"Sayang, satu lagi wanita yang belum kau sebutkan," Yuna menoleh lagi kearahnya. Dia tersenyum jahil. "Nora, kau bahkan pernah menciumnya," Yuna berkata dengan kesal namun jahil. Mendengar itu, Leo dengan cepat menepikan mobilnya. 'Upss, aku sungguh pandai mencari neraka untuk diri ku.' Yuna menggeleng pelan dan menepuk keningnya.


"Sayang, aku hanya bercanda," Yuna sedikit menjauh dari Leo dan menatapnya dengan senyum cantik di bibirnya. Leo menatapnya dengan tajam. "Sayang, kau tidak akan menurunkan ku di pinggir jalan kan?" ucapnya manis, matanya merayu dengan menggemaskan. Leo masih menatapnya tajam. "Sayang, maaf aku salah. Aku ceroboh dengan ucapan ku. Aku minta maaf, aku tahu kau tidak sengaja dan bahkan tidak sadar melakukan itu. Ummm... sayang, hukuman puasa satu bulan mu, ku potong lima belas hari, gimana? Setuju?" Yuna merayunya dengan manis, ucapannya sangat sedih. Leo masih tidak melepas tatapan tajam matanya. "Umm... baik, aku menghapus semua hukuman mu. Bagaimana? Kau setuju? Kau tidak marah lagi bukan Tuan suami paling tampan?" Yuna masih mencoba bernegosiasi dengannya. Tapi Leo masih saja menatapnya tajam dengan ekspresi wajah yang dingin.

__ADS_1


"Kenapa masih menatap ku seperti itu? Aku tahu aku salah, aku cuma bercanda, aku tidak bermaksud menyinggung mu, dan aku sudah minta maaf," suara cerewet Yuna akhirnya keluar. Dia tidak lagi berucap manis dan merayu. "Apa? Kau mau menurunkan ku di pinggir jalan? Silahkan... kau pikir aku takut? Jangan mencari ku jika aku tidak kembali ke rumah. Turunkan aku sekarang juga dan jangan pernah menyesal jika seseorang melirik dan menggoda ku," kini Yuna yang mengancam, dia membalas tatapan mata Leo dengan tajam. Leo segera memegang pipi Yuna dan langsung mencium bibirnya.


"Kau sangat cerewet Nyonya," ucapnya. Kemudian, ia kembali melajukan mobilnya. "Ingat, hukuman ku sudah di hapus."


"Leo, kau.... benar-benar licik," Yuna memukulnya.


___Di tempat yang berbeda.


"Neva, maafkan Mama jika merepotkan mu," Vano berbicara setelah menyelesaikan makan malamnya. Ini adalah makan malam pertamanya setelah Leo membuatnya sibuk.


"Nggak ngerepotin kok, aku lagi senggang aja," jawab Neva. "Uhuk, ku pikir, laki-laki dewasa tidak menyukai kartun kotak berwarna kuning, tapi sepertinya seseorang sangat menyukainya," Neva berucap dengan sedikit mengalihkan pandangannya.


"Hahaha, apa Kakak yang dewasa ini sungguh menyukai Spongebob?" Neva menatapnya.


"Itu hadiah dari seorang teman," Vano menjelaskan. "Dia menyukai Spongebob dan dia memberikannya pada ku."


"Hmm, okey. Aku tidak jadi meledek mu."


"Kau sungguh tidak sopan adik kecil, kau berencana meledek Kakak mu."


"Upss, sorry," Neva nyengir memamerkan giginya. "Kak... apa aku boleh bertanya?" Neva sungguh nekat dengan apa yang ingin dia tanyakan, dia ingin tahu yang sebenarnya.

__ADS_1


"Apa?" Vano menjawab setelah menyeruput minumannya.


"Apa Kakak sudah punya pacar?" tanya Neva dengan suara yang sedikit tertahan. Dia sedikit menyembunyikan wajahnya, namun matanya melirik Vano. Vano langsung tertawa mendengar pertanyaannya.


"Pacar?" jawab Vano, tangannya sedikit mengusap hidungnya yang terasa gatal. "Belum," lanjutnya. Sejujurnya, dia kurang nyaman mendapat pertanyaan itu.


"Oh, okey. Terima kasih sudah menjawabnya." Neva berucap pelan. Padahal sebenarnya dia ingin berteriak, Yeeeessss....


Vano melihat jam di tangannya.


"Neva."


"Iya."


"Maaf tidak bisa menemani mu ngobrol lebih lama. Ada yang masih harus ku kerjakan. Ayo ku antar pulang terlebih dulu."


"Jika Kakak sibuk, aku bisa menghubungi supir ku."


"Aku akan mengantar mu."


"Okey."

__ADS_1


__ADS_2