Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 292_Kencan


__ADS_3

Mereka duduk bersebelahan. Lampu masih menyala dan beberapa makanan serta minuman datang.


"Film apa yang kau pilih?" Yuna lupa menanyakan ini. Jika dia yang memilih film maka bisa dipastikan dia akan memilih film Bollywood. Ada satu film Bollywood tengah tayang saat ini.


"Lihat saja," jawab Leo. Yuna mengangguk patuh, dia tidak bertanya lagi. Dia berpikir jika film yang tuan suami pilih adalah film romance 21+ pasti, apalagi yang tuan suami pilih selain romance 21+. Yuna mengambil pop corn dan memakannya.


Leo mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kanan Yuna. Yuna menoleh ke arahnya dengan senyum. Ia meletakkan pop corn di sampingnya.


"Sini, biar aku yang menyuapimu," Leo meminta pop corn. Yuna meletakkan pop corn dipangkuannya dan Leo menyuapinya. Lampu utama mulai padam, hanya menyisakan sorot lampu dari layar didepan mereka. Musik pengantar film mulai diputar. Dan itu langsung membuat bulu kuduk Yuna berdiri. Ia segera menoleh ke arah Leo.


"Kau memilih film horor?" mata Yuna melebar menatap suaminya. Leo mengangguk dengan senyum menang. "Kenapa harus film horor?" Yuna memprotesnya dengan kesal.


"Ada aku," jawab Leo dengan mendominasi. Tentu saja, laki-laki harus begitu, harus melindungi wanitanya. Dari apapun termasuk rasa takut.


Sejujurnya, Yuna enggan menonton film horor, bayang-bayang hantunya akan terus teringat dipikirannya. Namun ini adalah pilihan tuan suami, jadi dia akan mencoba menyukainya, seperti Leo yang juga perlahan menyukai film yang ia sukai.


"Pastikan ini tidak terlalu seram," ujar Yuna. Leo mengangguk. "Pastikan juga tidak membuat ku kaget," ujarnya lagi. Leo mengangguk lagi. Kemudian, film mulai dengan adegan senandung seorang nenek yang berada di tengah-tengah rumahnya yang luas. Entah apa yang nenek itu senandungkan, Yuna tidak tahu artinya tetapi suara nenek saat melantunkan gending itu langsung membuat Yuna merinding di sekujur tubuh. Ia memejamkan matanya dan langsung memeluk Leo. Ia menyembunyikan wajahnya dibahu Leo.


"Sayang, gending apa itu, sangat mengerikan saat didengar," Yuna mencengkeram lengan Leo. Leo menurunkan kepalanya dan berbisik di telinga Yuna. Ia semakin sengaja menakuti Yuna.


"Itu gending untuk memanggil ...."


"Aaa hentikan, aku tidak mau mendengarnya," Yuna berteriak.


"Jadi apa yang ingin kau dengarkan? Kata cintaku, kata rinduku, atau ... eranganku," Leo menggodanya.


"Kau kau kau," Yuna mencubit lengannya. Film itu masih saja memainkan gending itu, saat ini bahkan disertai angin yang berhembus kencang dan dalam gelap layar itu muncul sosok yang mengerikan. Yuna berteriak dengan kencang karena dia mengintip untuk menontonnya. Antara takut dan penasaran.


"Sini," Leo langsung berpindah untuk duduk satu bangku dengan Yuna. Ia memangku Yuna dan memeluknya.


"Maafkan aku," bisiknya. Yuna memeluknya dengan erat. Dan kemudian sedikit mengintip untuk menontonnya lagi. "Aku akan meminta mereka mengganti filmnya. Kau mau film Bollywood?"


"Jangan, biarkan. Ini saja," jawab Yuna.


"Tapi kau ketakutan."


"Ada kamu yang memelukku," Yuna menjawab dengan semakin mendekap tubuh Leo.


Leo mengangguk, "Okey, kita lanjut nonton ini. Bilang jika nanti kau tidak ingin melanjutkannya," kata Leo dengan perhatian. Yuna mengangguk. Kemudian, Leo melepaskan pelukannya, ia mengatur posisi tempat duduknya, agar lebih nyaman. Ia juga memakaikan selimut untuk Yuna. Mereka berdua menonton dengan saling berpelukan.


"Sebenarnya aku sedikit suka dengan film horor tapi kadang ngeri dengan wajah hantunya dan lagi pasti bikin kaget," Yuna mulai bercerita. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo. "Dulu, aku sering menontonnya bareng Adel, kita akan berteriak bareng dan menutup mata. Hahaa lucu kan?" Yuna tertawa. "Aku ingin menonton dan penasaran, tapi aku malah menutup mataku, hhaaa," Yuna memeluk Leo. Dia tidak lagi terlalu fokus pada layar lebar didepan. Dia bercerita tentang dia dimasa remaja. Leo dengan sabar mendengarkannya. Ia mengambil tangan Yuna dan membawa tangan itu menuju bibirnya. Tentang film dan nonton itu tidak begitu penting. Momen berdua saling bercerita adalah poin yang lebih penting dari kencan ini.


"Ku pikir si gadis Rapunzel yang sedikit bar-bar tidak takut apapun," Leo menahan tawanya saat mengucapkan ini. Tangan Yuna masih berada di bibirnya, ia menciumnya lagi dan lagi, jari-jari lentik itu terkadang masuk ke mulutnya dan dia mengigitnya.


"Bukan takut sebenarnya, itu hanya merasa seram dengan bentuk wajah si hantu, dan kemunculannya bikin kaget," elak Yuna. "Apa yang ditakuti? Itu hanya sebuah film dan aku tahu mereka akting," lanjutnya. Yuna memiringkan tubuhnya, ia menarik tangannya dari bibir Leo lalu meletakkannya di atas perut Leo, ia memeluknya.


"Aku sering menontonnya tapi dengan menutup mata, hahaaa," kata Yuna. Leo mengusap lengannya. Pipinya menempel di rambut Yuna, sesekali ia meninggalkan kecupan disana. Kemudian, Yuna bercerita banyak hal tentangnya, tentang dia disama kecil dan hingga dia remaja. Dia bercerita bahwa dia pernah kabur ke Ibu Kota untuk menonton pertandingan sepakbola Timnas VS negara tetangga yang sampai saat ini seperti musuh bebuyutan.

__ADS_1


Leo tertawa mendengar cerita Yuna, sesekali dia menyahutnya dan mencubit hidung Yuna.


"Oh, ada lagi," Yuna mengangkat kepalanya yang bersandar di dada Leo. Dia mendongak dan menatap Leo. Leo membalas tatapan mata Yuna padanya. Dia menunduk dan mematuk hidung Yuna dengan gemas.


"Ada kejadian satu lagi yang membuatku kabur ke Ibu Kota," kata Yuna.


"Apa?"


"Aku mencarimu," jawab Yuna. Leo mengerutkan kedua alisnya.


"Mencariku?" tanyanya. Dia menunjuk dirinya sendiri. Yuna mengangguk pasti. Kemudian, ia menceritakan bahwa ia datang ke alamat yang ada di amplop coklat itu. Dia menceritakan bagaimana ia memanjat pagar, mengintip, melihat Kak Dimas yang ia kira adalah Leo, lalu tertangkap basah oleh Neva hingga membuatnya terjatuh dan membuat pantatnya kesakitan.


Tawa Leo pecah mendengar cerita konyol Yuna. Dia tertawa hingga perutnya sakit.


"Pantatku bahkan tiga hari baru sembuh," lanjut Yuna. "Ough, itu karena kamu yang sangat menyebalkan."


Leo semakin tertawa membayangkan pantat Yuna yang sakit selama tiga hari.


"Ketawanya biasa aja, tidak perlu sebahagia itu dengan penderita ku," Yuna menutup wajah Leo dengan telapak tangannya. Leo semakin tertawa dibuatnya. Kemudian ia mengambil tangan Yuna dari wajahnya.


"Tunggu, tunggu," Leo menahan tawanya. "Jadi itu alasan kenapa kau tidak mau menatap dan menyambut ku di malam pertama aku masuk ke kamar mu," tanya Leo. Yuna mengangguk. "Astaga ...." Leo kembali tertawa.


Yuna memukul dada Leo lalu kembali memeluknya. "Jadi katakan, kenapa kau sampai kesasar ke Kota K? Kota kecil yang mungkin tidak begitu menarik untuk pembisnis kelas kakap seperti mu. Ok, aku tahu kita bertemu di mini market dekat rumah ku tapi kau belum menceritakan kepada kau ada di kota K," tanya Yuna panjang lebar. Leo mencium rambutnya dan mengambil nafasnya.


"Aku mencari kota yang tenang," jawab Leo.


"Tidak apa-apa jika tidak menjadi yang pertama, yang penting aku adalah yang terakhir. Leo J milik Yuna," ucap Yuna dengan arogan. Dia merasa percaya diri. "Emm, terima kasih Kiara udah jagain jodohku, hahaaaa." lanjutnya dengan tawa. Kemudian mereka melakukan toss. Tidak perlu melankolis dalam mengenang masa lalu, terkadang itu menjadi sesuatu yang lucu jika kita melihat dari sisi yang lain.


Yuna dengan ceriwis kembali bercerita, dia masih duduk di pangkuan Leo. Leo menatapnya dengan penuh cinta. Yuna yang lucu dan ceria sungguh mengisi hari-harinya dengan tawa. Kemudian ia menarik Yuna dan memeluknya. Kedua tangannya melingkar untuk memeluk Yuna. Mereka berdua saling berpelukan dengan Yuna yang berada di atas tubuh Leo.


"Sayang," panggil Leo rendah.


"Ya."


"Ayo melakukan perjalanan lagi," ajak Leo.


"Ide bagus. Karena Baby kita masih kecil, bagaimana jika keliling Negara I saja. Kita datangi satu persatu wisata indah nan luar biasa yang negara kita miliki," usul Yuna.


"Ok," Leo menyetujui. "Kota mana yang jadi tujuan utama kita?"


"Kota K," jawab Yuna cepat. Leo terkekeh dan memencet hidung Yuna.


"Gadis pintar," katanya.


"Hahaa, pulang kampung," jawab Yuna.


Kemudian, setelah selesai nonton mereka berdua ketempat karaoke. Banyak sekali cemilan di meja.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana jika Baby Arai rewel?" Yuna menatap Leo.


"Aku baru saja mengirim pesan pada Mama, beliau bilang Baby Arai sudah tidur," jawab Leo dengan perhatian. Dia tahu kehawatiran Yuna.


"Bagaimana jika dia ingin asi?"


"Masih ada dua botol asi di kulkas," jawab Leo. Dia juga menanyakan itu pada mamanya. Yuna mengangguk.


"Setelah ini kita harus segera kembali," ujar Yuna. Kini Leo yang mengangguk. Kemudian, Yuna memilih lagu. Dia berdiri di depan Leo dan mulai bernyanyi. Ia memilih lagu yang bahagia agar bisa menari heboh dengan Leo. Dia mengulurkan tangannya untuk meminta Leo ikut berdiri.


Tidak menolak, Leo menyambut uluran tangan Yuna. Mereka berdua bernyanyi dan berjoged bersama. Terkadang mereka berdua juga jingkrak-jingkrak seperti kelakuan remaja. Mereka bernyanyi dan bergoyang dengan tawa. Dan satu yang baru Yuna tahu bahwa Leo jago dance.


"Waaaahhhh, kau terhebat sayang," Yuna bertepuk tangan. "Ajari aku, ajari aku," Yuna langsung melompat dan menggenggam tangan Leo. Leo terkekeh.


"Jangan," ucapnya. "Aku akan mengajarimu cara bermain di atas ranjang saja," Leo menggodanya. Dan Yuna langsung mencubit pinggangnya.


"Tuan suami mesum," katanya sambil mengerucutkan bibir. Leo langsung mematuknya. Kemudian, mereka kembali bernyanyi lagi. Terkadang Yuna bak foto model yang berlenggak-lenggok genit di depan Leo. Leo langsung menangkapnya. Memeluknya dan tidak dibiarkan lepas lagi.


"Jangan menggoda sayang," ucapnya. Dia tahu saat ini dan mungkin masih beberapa hari kedepan mereka belum bisa bermain. Yuna masih dalam garis merah.


Yuna tersenyum cantik lalu menjinjit dan mencium pipi Leo. "Tidak," katanya. Kemudian, ia memilih lagu yang romantis. Mereka masih saling berpelukan saat menyanyikan lagu-lagu romantis. Sesekali mereka ciuman dengan penuh cinta. Yuna berdiri di atas kaki Leo dan mengikuti gerakan Leo.


"Sepanjang hidup bersamamu kesetianku tulus untuk mu hingga akhir waktu, kaulah cintaku - cintaku.


Sepanjang hidup seiring waktu aku bersyukur atas hadirmu kini dan selamanya aku milikmu, yakini hati ku." *


Leo menurunkan kepalanya, bibirnya menempel di telinga Yuna. "Kau adalah wanitaku, cintaku yang abadi," bisiknya lembut. Yuna tersenyum dengan rona merah dikedua pipinya. Leo membawa langkahnya dan menyandarkan Yuna didinding. Mereka saling bertukar pandangan. Kemudian Leo menunduk dan mencium bibir Yuna. Menciumnya dengan lekat. Yuna menyambut ciumannya dengan lembut. Tangannya memeluk Leo dengan erat.


Di luar hujan sangat lebat dan mereka tidak menyadari itu. Mereka berdua bahkan tidak memperhatikan jam yang saat ini menunjukkan pukul. 02.30. Kencan yang membuat lupa waktu. Kencan indah saat semua yang di lakukan adalah sah. Kencan indah untuk saling bermanja dan tertawa.


Baby Arai hanya tidur sebentar tadi, Mama membohongi Leo, itu agar Leo dan Yuna tidak khawatir dengan bayinya. Baby Arai tentu aman dan nyaman bersama nenek, kakek dan tantenya. Mama ingin memberikan waktu kencan untuk mereka berdua. Kencan berdua untuk sedikit menghilangkan rasa lelah sebagai orang tua baru dengan segala kerepotannya.


Saat ini mereka semua berkumpul di ruang tengah menemani Baby Arai begadang. Saat ini, Baby Arai ada dipangkuan Neva. Dan disamping Neva ada Vano yang dengan lucu mengikuti gerakan tangan mungil Baby Arai. Ya, Vano masih ada di rumah keluarga Nugraha, itu karena hujan yang sangat lebat dan tak kunjung reda.


____


Catatan Penulis πŸ₯°


Terima kasih untuk kesetiaannya pada kisah ini. Padamu kawan πŸ₯°


Umm ... boleh dong jika berkenan rekomendasikan novel ini pada temen2 yang lain yang belum kenalan ama Abang Leo dan Abang Vano. 😍


Terima kasih semuanya kesayangan Nanas. Ilupyu full πŸ₯°πŸ™


Oh iyaa, jangan lupa klik β™₯️ agar tidak ketinggalan kalau ada Up terbaru.


Jempol digoyang ya cinta. Like komen vote okey. Luv luv sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’–.

__ADS_1


__ADS_2