
Acara telah usai. Tamu dan keluarga sudah mulai meninggalkan gedung utama. Sementara itu, Vano dan Neva melangkah masuk ke dalam kamar pengantin. Kamar yang telah di hias dengan saaangat cantik dan romantis. Aroma harum nan eksotik, lilin-lilin kecil menyala seolah memberi kehangatan. Vano menutup pintu kamar dengan pelan kemudian dia menggendong Neva di depan.
"Aaaaaa ...." Neva memekik karena gerakan refleks Vano yang menggendongnya.
"Hukhmm," Vano lebih meninggikan tumpuannya. Membuat kedua tangan Neva bergelayut manja di leher kokohnya. "Pengantinku yang sangat sangat cantik," puji Vano dengan kekaguman dimatanya. Dia menunduk dan menyatukan kening mereka.
Vano membawa langkahnya untuk lebih masuk kedalam dan merebahkan tubuh Neva di atas ranjang yang bertabur kelopak-kelopak bunga.
Mata mereka saling menatap dengan intens, ini adalah pertemuan pertama setelah mereka menjadi pingitan. Tangan Vano mengulur untuk mengusap rambut istrinya. Kemudian, ia membuat kecupan kasih di kening Neva. Beberapa detik bibirnya tetap disana, matanya terpejam dengan untaian do'a yang ia panjatkan dalam hati.
"I love you," ucap Vano setelah menyudahi kecupannya. Neva mengangguk.
"I love you too," jawabnya. Hidung mereka bertemu, saling bersentuhan penuh rindu. Aroma nafas bak wewangian surga yang memabukkan raga. Perlahan kedua bibir itu bertemu. Menyampaikan keindahan cinta yang tak terucap. Saling terpaut dengan lekat. Tangan Vano berada di pinggang Neva lalu dengan sangat pelan ia membawa tangan itu untuk lebih ke atas. Memegang tengkuk Neva untuk memperdalam ciumannya. Bulan tidak terlihat dari sini, gorden itu tertutup dengan sangat rapat. Namun sinar teduhnya seolah menyinari dua hati insan yang memadu kasih.
Dibawah temaram lampu dan liukkan api lilin kecil deru nafas itu terdengar semakin syahdu. Tangan Vano berpindah ke pundak Neva lalu merambat ke lengannya hingga telapak tangan. Dua telapak tangan itu bertemu dan saling mengenggam erat. Vano membawa ciumannya kebawah, membuat kecupan manis di leher Neva. Membuat jantung Neva semakin berdetak tidak karuan.
"Sayang," suara Neva serak dengan nafas yang tersengal. Vano tidak menjawabnya, bibirnya masih melukis gelora asmara di leher istrinya. "Sayang," Neva sedikit mendorongnya. Itu membuat Vano berhenti dan menatapnya dengan lembut. Dia tersenyum.
"A- aku mandi dulu," ucap Neva pelan dengan suara yang masih serak.
"Tidak perlu, nanti kita mandi sama-sama," jawab Vano menggoda. Neva memukul dadanya dan mengalihkan pandangan. Dia merasa malu.
"Sejak kapan kau menjadi mesum," ucap Neva.
Vano tersenyum seringai, "Sejak saat ini, tentu saja," jawabnya. Dan jari telunjuknya mengusap bibir Neva.
"Umm sayang biarkan aku mandi dulu," ujar Neva. Dia kembali menatap Vano.
"Ok," Vano menyetujuinya. Dia menyingkir lalu duduk di sisi ranjang. Neva bangkit. Dia berdiri untuk membuka gaun pengantinnya. Kedua tangannya mencoba untuk meraih lalu menurunkan resleting di bagian belakang tetapi tidak bisa. Neva mencobanya lagi dan masih tidak bisa.
Vano yang sudah membuka jas memperhatikan Neva yang kesulitan untuk membuka resleting.
"Sini," katanya. Dia mengulurkan tangannya dan membuat Neva mendekat ke arahnya. Neva diam dan patuh.
"Resletingnya sangat susah untuk dijangkau," ucap Neva. Vano berdiri tepat di belakangnya dan perlahan tangannya menarik turun resleting gaun berwarna putih itu. Resleting itu terbuka dengan sempurna, memperhatikan lekuk tubuh bagian belakang Neva. Lekukan kulit putih bersih itu membuat Vano menelan ludahnya.
"Terima kasih," ucap Neva. Namun tangan Vano tidak membiarkannya pergi. Tangan kanan Vano dengan cepat memeluknya dari belakang. Tangan kirinya dengan halus merapikan rambut Neva kedepan. Ia menunduk dan mencium tengkuk Neva. Seketika sekujur tubuh Neva menjadi merinding, ia merasakan geli saat mendapat kecupan pada bagian itu.
"S- sayang," ujar Neva pelan dengan menahan nafas. Dia grogi dan sungkan setegah mati. Bagiamana jika dia bau keringat? Bagaimana jika dia tidak bisa memberikan yang terbaik di malam pertamanya, dan masih banyak lagi yang ia pikirkan. Dia tidak ingin mengecewakan Vano pada malam pertamanya, jadi dia ingin membersihkan dirinya terlalu dahulu tapi tangan dan bibir Vano tidak membiarkannya. Gaun berwarna putih itu bahkan sudah turun hingga pinggangnya. Bibir Vano berkelana dengan liar dan tidak memberikan izin pada pujaannya untuk bisa lepas. Dia sudah sangat menahannya saat beberapa kali memiliki kesempatan. Lalu ... setelah mereka sah, untuk apa ditahan lagi. Itu hanya akan membuang waktu dengan percuma.
Neva mulai terbawa dan hanyut dalam pemujaan Vano. Dia bahkan tidak sadar jika gaun putihnya telah terlepas secara sempurna.
Vano kembali merebahkan tubuh Neva di atas milyaran kelopak bunga yang harum. Tangannya dengan sangat lembut menanggalkan apa yang masih ada di tubuh Neva. Kemudian menggantinya dengan kehangatan yang tidak akan pernah Neva lupakan selamanya.
Vano mencium kening Neva. Kemudian ia membisikkan ungkap dari dalam hatinya. Ungkapan cinta di bawah ridho Tuhan. Dan inilah dua manusia yang merajut dan menggoreskan pena pada kehidupan baru mereka. Mereka bersatu.
Warna merah semerah kelompok-kelopak mawar itu membuat Neva mengigit bibirnya, ujung matanya bahkan berair. Vano mencium keningnya dengan lembut penuh kasih. Dia mencium mata Neva.
"Sayang, apa sangat sakit?" tanyanya pelan. Neva mengangguk. Tangannya memeluk Vano erat.
***** (Uhukkk. Readers dilarang ngiler π€£π€£π€£)
Pagi harinya.
Neva lebih dulu bangun dari Vano, gadis itu mengerjapkan matanya pelan dan sedikit bergerak refleks menarik badannya mundur dari pelukan Vano. Namun kemudian dia segera mengerti dan kembali fokus. Dia dan Vano sudah sah menjadi suami istri. Sudut bibirnya terangkat membuat senyuman lucu. Dia menertawakan dirinya sendiri karena sempat kaget ada Vano yang telanjang dada tengah memeluknya. Kemudian, pipinya berubah menjadi semu merah ketika mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Neva menunduk dengan senyum malu di bibirnya. Ia mendekatkan dirinya pada Vano dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Vano.
Rasanya dia kesulitan untuk bernafas saat indera penciumannya mengendus aroma tubuh Vano. Dia segera menarik dirinya.
"Hufff, aku bisa pingsan jika terus berada dalam pelukannya," gumamnya pelan sambil mengatur nafas. Neva segera beranjak untuk membersihkan dirinya. Kemudian, setelah mengganti baju, ia naik ke atas ranjang dan memperhatikan wajah Vano yang masih tertidur dengan nyenyak.
"Sayang bangun," ucapnya pelan. Tangannya mengulur untuk menyentuh pucuk hidung Vano.
_____________
Di rumah besar keluarga Nugraha.
"Tarra ... sarapan siapa ini?" Yuna berseru dengan ceria memamerkan mangkuk kecil di tangannya. Baby Arai yang berada di atas karpet lembut langsung menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan bahagia. Kedua tangan Baby Arai bersatu membuat tepukan bahagia.
"Yuuuk, kita sarapan pagi," seru Yuna lagi dengan semangat.
"Amm mamm, mam amm," baby Arai berceloteh riang. Dia segera membalik badan dan merangkak. Bukan ke arah Yuna tetapi ke arah meja makan miliknya.
Leo yang baru saja menuruni tangga langsung menuju anaknya dan mengangkat tubuh mungil itu untuk membuatnya duduk di tempat makan. Dengan perhatian, Leo memakaikan celemek makan pada Baby Arai. Si kecil seperti sudah terbiasa, dia tidak meminta makanannya sebelum Sang Daddy selesai memakaikan celemek untuknya. Dia juga akan tetap diam sebelum sendok makan berada di depan mulutnya.
"Nice," puji Leo.
Mama yang selalu gemas melihat cucunya itu langsung menghampiri.
"Hmmm, fotocopy an Lee memang luar biasa," ujar beliau setelah meninggalkan ciuman gemas di pipi Baby Arai. "Sini, Momm ... biar Oma yang menyuapi si tampan menggemaskan ini," Mama meminta mangkuk milik Baby Arai dari Yuna. Namun Baby Arai langsung memprotes.
"Sama saja, tidak akan merubah rasa," ucap Mama Nugraha dengan senyum menggoda cucunya. Baby Arai mulai menggerakkan kedua kaki dan tangannya. Ia ingin meminta mangkuk miliknya dan kemudian memberikannya pada Momm.
"Sama Oma saja ya sayangku ...." Mama Nugraha mulai mengaduk bubur yang ada di mangkuk.
"Uuu, aammm ooo," Baby Arai masih menolak dengan celotehnya yang lucu. Dia kemudian menoleh ke arah Leo. "Addd hmm ddd," dia menggerakkan kaki dan tangannya dengan lincah. Matanya menatap Leo, dia meminta bantuan untuk mengambil mangkuk miliknya dari Oma.
Leo tertawa kecil melihat itu. Dia mengusap rambut anaknya dengan halus kemudian berpindah mengusap bahu anaknya. Leo mendekat, menggenggam kedua tangan anaknya dengan kasih. Meminta anaknya untuk tenang, dan Super Daddy akan membantunya.
"Ok, pintar," ucap Leo setelah Baby Arai tenang dan diam dengan patuh menunggu sarapan miliknya.
"Aduuhh, aduhhh ... cucu Oma memang paling top," Mama memberikan jempol untuk Baby Arai. Kemudian, dengan rela memberikan mangkuk itu lagi pada Yuna. Baby Arai menyambutnya dengan senyum lebar dan tepuk tangan dengan lucu. "Aaahh astagaaa ...." Mama mencubit gemas pipi imut Baby Arai. Kemudian pamit untuk menemui Kakak Zora.
Leo duduk di samping anaknya dengan diam, dia menekuk kedua kakinya. Sesi makan tidak boleh berisik.
Setelah membaca do'a, Yuna mulai menyuap anaknya. Dia duduk di depan Baby Arai.
"Aaa ...." dan sendok kecil itu masuk ke dalam mulut Baby Arai. Putra kecil Leo itu sangat teratur dalam mengunyah makanan. Dia diam dan tidak berisik.
"Aaa ...." ucap Yuna lagi. Mulut mungil itu terbuka tetapi Yuna malah membelokkan sendok itu ke arah Leo. Leo menatapnya sebentar lalu membuka mulutnya. Haemm. Bubur yang lembut di mulut.
"Hamm mam addd," Baby Arai berteriak dan kedua tangannya mengulur untuk memprotes Mommynya. Kakinya bergerak dengan cepat seolah ingin berlari menghampiri Yuna dan mengigitnya. Yuna tertawa melihat anaknya yang kesal.
"Momm, jahil," ujar Leo. "Jangan khawatir Baby, Daddy akan menghukum Momm nanti. Ok," Leo membela anaknya. Kemudian dia mendekat ke arah Yuna dan menepuk pantatnya. "Uhumm nakal."
Yuna menghentikan tawanya dan menatap Leo. "Jangan modus," ucapnya. Leo menyentil hidung Yuna pelan lalu mengambil mangkuk yang ada di tangan Yuna.
__ADS_1
"Ayo segera habiskan sarapan, setelah ini pulaaaang," seru Leo. Dia memberi suapan pada Baby Arai dengan perlahan. Setelah hampir habis, Yuna beranjak untuk mengambil air mineral. Dia menuangkannya ke dalam gelas milik Baby Arai. Kemudian, dia meletakkan di atas meja makan baby Arai. Kedua tangan imut Baby Arai langsung mengambilnya dan kemudian membawa minuman itu ke mulutnya. Meminumnya hingga habis.
"Awaa addd huumm," Baby Arai mengulurkan kedua tangannya. Mata bulatnya menatap Leo dengan imut. Ia ingin meminta gendong. Leo tersenyum dan kemudian membungkuk. Kedua tangannya bersiap untuk mengambil anaknya dari meja makan tetapi kemudian Yuna menghentikannya.
"Sayang," panggil Yuna. Dia merasa khawatir. Leo tersenyum dan tetap mengambil Baby Arai dari meja makan.
"Tidak apa-apa," jawab Leo. Dia menggendong Baby Arai di depan. Baby Arai dengan tawa imutnya bertepuk tangan dengan bahagia. Dia kemudian menempelkan bibirnya ke pipi Leo, lalu menarik mundur, mendekat lagi, menjauh lagi.
"Aaa waa aaa waaa waaa waaa waaa," begitu bunyi suara yang keluar dari mulut imut itu. Leo tersenyum lebar dan semakin menawarkan pipinya. "Hamm wawaaa waaa waaa," Baby Arai dengan bahagia terus mengulanginya. Yuna tersenyum lebar dan mengusap punggung anaknya. Kemudian ia menatap Leo.
"Pastikan kau baik-baik saja," ucap Yuna. Leo mengangguk pasti. Kemudian, Yuna membawa mangkuk kotor kebelakang.
"Hei diam di tempatmu," ucap Leo. Yuna langsung berhenti melangkah.
"Ya?"
Baby Arai sudah berhenti bermain-main dengan pipi Daddy-nya.
Leo menatap Yuna dengan tajam kemudian ia meninggikan suaranya.
"Mau kemana kau Momm? Kenapa tidak diam disini saja, apa kau tidak betah. Momm menyebalkan."
Plak ... tangan mungil itu memukul bibir Leo dengan sekuat tenaga. Leo menahan tawanya, begitu juga dengan Yuna yang akhirnya mengerti maksud Leo. Baby Arai menatap Leo dengan tajam.
"Sana, pergi saja jika kau mau. Dasar, Momm sangat nakal."
Plak. Tangan mungil itu memukul bibir Leo lagi. Kini bahkan hingga dua kali, wajah Leo tak luput dari sasaran.
Leo semakin bersemangat, dia menahan tawanya.
Leo mengomel lagi pada Yuna. Dan dia akan mendapatkan pukulan yang menurutnya manis.
Sekarang Yuna yang berakting. Dia memegang pipinya dan kemudian pura-pura menangis. Tak lama, bibir mungil itu terbuka dan ikut menangis. Tangisannya bahkan lebih kencang dari Yuna.
"Uuuuhhh sayang," Leo mengusap punggung anaknya dengan kasih. Putra kecilnya masih menangis. "Cup cup tampannya Daddy," ucapnya. Dia mencium pipi dan rambut anaknya.
"Hayoo tanggung jawab, dia nangis," ujar Yuna. Dia kembali melangkah ke arah Leo dan Baby Arai. Kemudian meletakkan mangkuk kotor itu di atas meja.
"Baaa ...." Yuna mencoba menenangkan anaknya. "Ciluuuk," Yuna bersembunyi di balik tubuh Leo. "Ba ...." dan dia muncul dengan tiba-tiba.
Tangisan Baby Arai mulai mengecil. Yuna mengulanginya lagi dan lagi hingga malaikat kecilnya itu tertawa terbahak-bahak.
"Daddy yang nakal. Dia usil, ya kan," ucap Yuna pada anaknya. Leo tersenyum lebar. Dia mencium anaknya berkali-kali.
"Kau hebat, jagoan," pujinya pada Baby Arai. "Kita akan melindungi Momm sama-sama, ok," lanjutnya. Leo suka saat Baby Arai memiliki emosi marah ketika melihat dirinya memarahi Yuna. Dia juga suka saat Baby Arai menangis karena melihat Yuna menangis. Dua laki-laki ini telah menempatkan kebahagiaan Yuna diatas dirinya sendiri. Tidak ada yang boleh menyakiti Momm.
Setelah itu, mereka pamit untuk kembali pulang. Ayah menginap semalam di rumah Yuna, kemudian pagi harinya mereka semua terbang ke kota K.
__________
Catatan Penulis π₯°π
Halooo... Apa kabar kesayangan ππ Sudah kangen belum?? π€π
Kenapa Extra partnya lama sangat Thor? Hmm selain Othor sibuk RL, Othor sengaja buat nahan Up. Biar rindu. Jadi ... apakah rindu itu berat, seperti apa yang dikatakan kang Dilan?
__ADS_1