
Pagi harinya...
"Kak... Papa ingin bertemu," suara Neva terdengar sedih di sebrang sana.
"Iya," jawab Leo singkat dan memutus panggilan.
Setelah membersihkan dirinya. Dia segera mengendarai mobilnya, Ia tahu kabar itu pasti sudah sampai di telinga orang tuanya. Bi sri yang menyampaikan itu.
Leo sudah bisa menebak, jika dia pasti akan di hajar oleh Papanya nanti. Ini pernah terjadi, dulu ketika dia memutuskan untuk memaafkan Kiara setelah menghianatinya. Dia sudah siap untuk ini.
Mobil Leo parkir dengan pelan di halaman rumah orang tuanya. Dia keluar dari mobil dan melangkah pelan menuju ruang keluarga. Papa sudah menunggunya dengan wajah yang sangat marah. Leo melihat ke arah sofa, ada Mama yang menangis dan Neva yang mencoba menenangkannya.
Leo menghampiri Papa dan berdiri di depannya. Plak... satu tamparan keras langsung Papa layangkan ke wajahnya, tangan Papa hingga membekas di wajahnya.
"Kau kembali mengecewakan kami Lee. Sepertinya Papa harus menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhnya, agar kau tidak gila."
"Pa...,"
Plak... Papa menamparnya lagi. "Tutup mulut mu. Papa tidak ingin mendengar apapun dari mu," suara dan mata Papa di penuhi amarah. "Dia adalah istri mu, tapi kau lebih memilih perempuan itu?!" Papa menamparnya Lagi. "Kau akan dilaknat karena menyakiti dan mencampakkan istri mu," Papa menunjuk tepat di depan wajah Leo, lalu segera pergi meninggalkannya dengan amarah yang masih mendalam di dadanya. Papa sangat kecewa dengan putranya.
"Ma...," Leo jongkok di depan Mamanya. Dia paling tidak tega melihat Mamanya menangis, ia merasa sakit melihat Mamanya menangis dan itu adalah karena dirinya.
__ADS_1
"Kamu mengecewakan kami nak...," suara Mama tercekat. Dia menatap putranya dengan pandangan kecewa. Leo mengenggam tangan Mamanya. "Baru kemarin kalian dari sini, baru kemarin Mama merasa sangat bahagia dan kamu dengan cepat mengambilnya, Mama salah apa pada mu nak?"
"Ini bukan salah Mama, ini salah ku," Leo memeluk Mamanya. "Maafkan aku Ma....,"
"Mama capek Lee... Mama capek dengan sifat mu," Mama menangis tanpa henti dan kemudian melepaskan pelukan Leo dan meninggalkannya, dia sangat kecewa pada putranya.
"Neva...," Leo memanggil Neva yang terlihat menyeka air matanya. Neva berdiri dan memalingkan wajahnya.
"Apa kita saling kenal? Siapa kau? Aku tidak punya Kakak seperti mu, kau monster tak berperasaan," ujar Neva. Dia kemudian melangkah pergi dan kembali menangis. Ini adalah salahnya, Neva menyalahkan dirinya. Neva merasa menjadi tokoh yang menghancurkan kebahagiaan Yuna, tokoh yang memberi harapan palsu pada Yuna karena pada kenyataannya Kakaknya tidak mampu meninggalkan mantannya itu. Neva sangat bersedih karena yang membuat Yuna hancur adalah dirinya, andai dia tidak memberi ide itu pada Kakaknya, maka mungkin Yuna tidak akan mengalami semua ini.
_Pagi hari di rumah Yuna.
Ayah dan Nenek sedang duduk di ruang utama ketika Yuna datang. Mereka seolah sudah tahu apa yang terjadi, Adel mengenggam tangan Yuna. Yuna melangkah dan berdiri di depan Ayah dan Neneknya.
"Ayah... Nenek...," dia berucap dengan pelan dan menunduk.
"Dari mana saja kamu?" suara Ayah langsung menjawabnya.
"Dia menginap di asrama ku, paman," Adel yang menjawabnya. Mata Ayah langsung menatap Adel dengan tajam dan kembali menatap Yuna.
"Yuna, Ayah bertanya pada mu," ujar Ayah dengan suara menahan amarah.
__ADS_1
"Aku... aku, menginap di asrama Adel, yah."
"Kau... kesini tanpa suami mu dan kau tidak langsung kembali ke rumah tapi malah menginap di asrama Adel. Apa itu kelakuan yang benar? Apa kau tahu bagaimana cemasnya kami? Apalagi suami mu. Dia terus menerus menelfon kemari, kenapa Hp mu tidak bisa di hubungi? Kau masih saja anak nakal, kapan kau akan berubah? Kau sudah punya suami dan masih saja tidak bisa menjaga sikap mu. Dia memberi mu izin untuk berlibur kesini bukan berarti kami seenaknya menjadi liar, rasanya Ayah ingin menghukum mu lagi."
Adel dan Yuna saling menatap mendengar ucapan Ayah. Berlibur? Leo menghubungi Ayahnya dan bilang jika Yuna hanya sedang berlibur? Itu berarti Ayah belum tahu keadaan yang sebenarnya.
"Yuna meminta maaf Yah, tidak akan mengilanginya lagi."
"Kau sangat pandai memelas. Sana... buruan hubungi Leo, bilang jika kau sudah sampai di rumah. Dia pasti stres memikirkan mu."
"Baik...," Yuna menjawab dengan patuh.
Kemudian, Ayah segera berangkat ke pabrik.
"Sini...," Nenek melambai dan memintanya duduk. Yuna dan Adel duduk di sebelah Nenek.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Nenek mengusap tangan Yuna. Yuna segera bersandar di bahu Nenek. "Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Nenek. Yuna mengangguk pelan.
"Pertengkaran suami istri itu wajar, sayang. Apa dia begitu menyakiti mu hingga kau kembali?" Yuna mengangguk lagi. "Tidak apa-apa sayang. Memang ada kalanya kalian harus terpisah sebentar untuk menanyakan dan memahami seberapa besar cinta kalian, seberapa besar rindu kalian. Waktu berpisah adalah waktu yang tepat untuk merenung. Coba Na pikirkan, ada berapa banyak kebaikan yang dia berikan pada Na, dan pikirkan ada berapa banyak kesalahan yang dia lakukan pada Na. Jika... kesalahannya lebih banyak dari kebaikannya maka, Na harus kembali bertanya pada hati kecil. Seberapa besar cinta Na untuknya. Tidak ada manusia yang sempurna sayang, tidak ada pernikahan yang tanpa kelokakan dan sandungan. Pernikahan bukanlah dongeng Cinderella yang bahagia selamanya bersama pangeran. Kelokan dan sandungan itu pasti ada, sekecil apapun itu. Apa kau mengerti nak...," Nenek mengusap rambutnya penuh kasih. Yuna mengangguk dan memeluk Nenek, ia seperti mendapat embun sejuk dalam hatinya yang gundah.
"Dia menghawatirkan mu, segera menghubunginya," ucap Nenek, namun Yuna segera menggeng. Dia tidak berniat untuk menhubungi Leo, untuk apa? Leo pasti sangat bersyukur karena dirinya pergi, saat ini mungkin Leo sedang bermesraan dengan Kiara. Bukankah Kiara sedang sakit, Leo pasti mengurusnya sepanjang hari dan mereka tertawa bersama. Yuna berfikir dalam hatinya. Kelihatan khawatir? Ah... Leo sangat pandai berakting, dia hanya menjaga nama baiknya. Yuna tidak ada niat sama sekali untuk menghubunginya. Hpnya bahkan sudah dia nonaktifkan dari kemarin.
__ADS_1