
Neva melepas pelukan Vano. Kemudian dia membuka cake tiramisu yang dia bawa. Meletakkannya di atas piring lalu mengambilnya.
"Aaa," dia membuka mulutnya untuk meminta Vano membuka mulutnya. Vano dengan patuh membuka mulutnya. Lalu mengunyahnya perlahan. Hmm cake tiramisu yang lezat dan sangat lembut di mulut. "Enak nggak?" tanyanya. Vano mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Kemudian Neva mengambil lagi dan memberikannya pada Vano. "Aku akan mengikuti kelas untuk bisa bikin cake ini," ucap Neva.
"Calon Nyonya muda Mahaeswara terbaik," Vano dengan senyum menyambut niat Neva. "Semangat sayangku," katanya sambil mengepalkan tangannya memberi semangat. Neva mengangguk dengan senyum lebar dan bertambah semangat.
"Kau harus menghabiskannya nanti," ucap Neva. Dia menyuapi Vano lagi.
"Pasti," jawab Vano sebelum menerima suapan dari Neva. Kemudian, Neva menyuap untuk dirinya sendiri.
"Aku ada meeting penting siang ini. Mau ku antar pulang atau tunggu aku disini?" tanya Vano setelah ia menghabiskan cake di mulutnya. Namun sebelum Neva mampu menjawab, ia langsung melanjutkannya, "Ku harap kau memilih yang terakhir, menunggu ku disini. Aku janji akan segera menyelesaikannya."
Neva terkekeh, "Itu tidak ada pilihan namanya," kata Neva.
"Ya, tidak ada pilihan," jawab Vano. "Kau harus tetap disini."
"Aku bawa mobil sendiri," ujar Neva nyengir memamerkan giginya. "Mobil baru dooong," lanjutnya sombong. Vano melebarkan matanya lalu terkekeh.
"Humm Nona, bolehkah aku nebeng?" tanyanya.
"Tidak," jawab Neva cepat.
"Ok aku jadi supir mu saja," Vano menawar.
"Di terima," jawab Neva. Mereka berdua menghabiskan cake. Lalu setelah itu, Vano pamit padanya untuk meeting.
"Apa kau ingin sekertaris Mayla menemanimu?" Vano membenarkan jasnya.
"Tidak perlu, aku mau nonton drama Korea terbaru saja," jawab Neva yang disambut anggukan Vano.
Vano mengulurkan tangannya dan mengusap lengan Neva pelan.
"Tunggu ya sayang. Aku tidak lama," kata Vano.
__ADS_1
Neva mengangguk. "Jangan terlalu terburu-buru, selesaikan dengan baik. Aku tidak apa-apa menunggu di sini. Semangat," jawab Neva. Vano tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Dia mencium kening Neva pelan.
"Terima kasih sayang," ucapnya. Neva tersenyum dengan manis. Hari dimana dia memutuskan untuk menerima Vano adalah awal dari hari indah yang pernah ia jalani. Memiliki hati terus berbunga-bunga, hati yang terus menerus merekah indah. Vano selalu berlaku manis dan lembut padanya. Melindunginya, menyanyinya. Pria dewasa yang memanjakannya. Neva manja dan Vano dewasa, dua paduan yang unik.
Neva tersenyum, tanpa komando dia menghambur ke dalam pelukan Vano. Kedua tangannya melingkar di pinggang Vano. Kepalanya bersandar di dada Vano. Matanya terpejam mendengarkan irama degupan jantung Vano dan jantungnya yang menyatu. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.
Vano membalas pelukan Neva. Tangan kanannya mengusap rambut Neva dengan perhatian.
"Dari kantor nanti, kita beli ice cream," ucap Vano. Neva mengangguk. "Kau mau apa lagi?"
"Tidak ada," jawab Neva. Dia membuka matanya. "Intinya hanya ingin bersamamu," Neva mengucapkan kalimat itu dengan pelan. Dia sedikit malu sebenarnya untuk mengucapkan itu tapi ia tidak ingin memendam rasa dan kata apapun saat ini. Ingin bebas mengutarakan isi hatinya tanpa harus menyembunyikannya.
Vano tersenyum, "Bagaimana jika gantian?"
Neva mengerutkan keningnya untuk berfikir, "Apanya yang gantian?" tanyanya kemudian.
"Menginap," jawab Vano. Tangannya tak lagi mengusap rambut Neva tetapi memeluknya. Kedua tangannya memeluk gadisnya.
"Apa? Menginap? Yanga benar saja."
"Kita tidak satu kamar."
Vano tersenyum lalu mendekatkan bibirnya di telinga Neva. "Kita menikah," bisiknya. Setelah mendengar dua kata itu, tangan Neva langsung memukul punggung Vano. Vano tertawa kecil dengan itu. Dia sudah bisa menebak jika Neva pasti akan memukulnya.
"Selalu saja begitu," Neva memanyunkan bibirnya. Vano masih tertawa ringan. "Tidak adakah jawaban lainnya?"
"Tidak ada. Apalagi, jawabannya memang hanya satu," jawab Vano. Dan Neva kembali memukul punggungnya.
Kemudian, sebuah ketukan pintu membuat pelukan mereka terlepas.
"Masuk," jawab Vano. Pintu ruangan Vano terbuka dan sekertaris Mayla masuk untuk mengabarkan bahwa meeting sudah siap. Hanya itu, lalu sekertaris Mayla pamit.
"Aku kembali bekerja dulu," ucap Vano. Neva mengangguk. Kemudian, Vano beranjak dari duduknya dan keluar ruangan.
Neva menonton drama Korea terbaru diaplikasi berbayar. Dia menyandarkan punggungnya di sofa tapi kemudian, kepalanya semakin turun hingga pada akhirnya dia merebahkan dirinya di sofa. Setelah selesai. Dia memainkan telpon tempo dulu. Dia tertawa kecil, sambil bercerita panjang lebar pada Lula.
__ADS_1
Satu setengah jam kemudian, Vano keluar dari ruang meeting nya. Dia dengan segera melangkah menuju ruangannya. Rasanya sangat berbeda. Hari-harinya lebih memiliki warna. Dia merasa lebih bersemangat.
Tangan Vano pelan membuka gagang pintu, dan langsung melangkah ke dalam. Bibirnya melengkung melihat Neva. Ternyata, gadisnya tertidur.
Vano mendekat kearah Neva. Ia duduk di sisi sofa. Matanya menatap lembut gadis yang tengah tertidur itu. Dengan sangat pelan dan hati-hati, ia menurunkan kepalanya lalu mencuri ciuman di bibir mungil milik Neva. Sekali. Tapi kemudian, ia mengulanginya lagi.
_________
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Leo baru saja kembali dari kantornya. Dia memang sudah mulai beraktivitas di kantor seperti biasanya. Hanya saja, dia mengurangi jam kantornya. Leo akan pulang dua jam lebih cepat dari biasanya.
Mobil Leo penuh dengan kado. Kado-kado dari karyawannya untuk baby Arai. Dia tidak sabar lagi untuk segera sampai rumah lalu langsung mencium anaknya dan yang pasti mommynya juga.
Masuk dalam jalan kawasan rumah miliknya, jalanan sepi. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga pada kelokan terakhir, ia harus membanting stir. Mobilnya berdecit. Leo menghentikan mobilnya dengan tepat untuk menghindari seseorang yang tiba-tiba menghadang laju mobilnya.
Beruntung, Leo memiliki skil yang bagus. Jika tidak, maka seseorang itu mungkin akan langsung mati tertabrak olehnya. Leo mengatur nafasnya karena kaget. Kemudian, dia membawa pandangannya pada sosok yang berdiri tepat di depan mobilnya.
Kiara.
Dia sudah gila. Pikir Leo. Kenapa menghadang dengan tiba-tiba tepat di depan mobil Leo. Bagaimana jika dia tertabrak.
Leo menurunkan sedikit kaca mobilnya, "Menyingkirlah," dia berteriak pada Kiara.
"Tidak. Tabrak dan bunuh saja aku dengan tangan mu, Lee," jawab Kiara lantang.
_______
Catatan Penulis π₯°
Jangan emosi, jangan emosi.
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯°π
Cling, Thor menghilangkan... kaburrr. Takut jantungan di amuk masa ππ€π€π€π€ π¦Έ
__ADS_1
Lanjuuut Kalian luar biasa π₯°
Bersambung ....