Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 180_Lupakan


__ADS_3

"Arnis Calling," Vano menerima panggilan itu.


"Apa gadis bawel?" ucapnya kesal.


"Hallo calon suami," sapanya dengan nada bercanda tetapi dia berharap dalam hatinya jika ucapannya benar. "Kau di mana? Kenapa ramai sekali?" Arnis balik bertanya.


"Di festival lampion. Ada apa menghubungi ku bawel?" tanya Vano. Ia melangkah sedikit menjauh dari Neva.


"Astaga... pertanyaan mu seolah kau tidak suka dengan telfon dari ku. Ck, okey," Arnis mengerucutkan bibirnya di sebrang sana. "Besok aku ke Ibu Kota. Bisa menjemput ku di bandara?"


Mereka berdua ngobrol dalam panggilan telepon.


Sementara itu, di sana. Sepasang bola matanya menatap punggung itu dengan pandangan yang indah. Jantungnya berdegup, tangannya menjadi dingin, dan wajahnya menjadi memerah. Sentuhan tangan lembut di pipinya, hangat nafas yang membelai wajahnya, dan hidung yang saling bersentuhan...


'Dia... dia... mau ngapain tadi? Berbisik pada ku? Atau Kiss?' Aaaa... Neva memegang dadanya karena degupan pada jantungnya terasa sangat kencang hingga membuatnya merasa sesak.


'Bagaimana ini? Kenapa jantung ku seolah tak bisa ku kendalikan? Sadar Neva... Dia mencintai Kakak ipar mu, sadar Neva... Kau akan semakin terluka nantinya.' Dia menarik nafasnya berkali-kali dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Kemudian, dengan perlahan, ia membalik badan dan melangkah pergi.


'Ini salah... seharusnya aku tidak mendekat, ini salah... seharusnya aku menjauh dari dia. Bagaimana jika dia mendekati ku hanya agar bisa dekat dengan Kak Yuna? Tidak... dia bukan laki-laki seperti itu, dia memiliki hati yang lembut. Aku tidak ingin dia terluka, aku tidak ingin melukainya. Bagaimana jika mereka berdua saling bertemu? Apa mereka bisa mengatasi perasaan yang pernah ada pada hati mereka. Neva... lupakan dia, lupakan... lupakan...," Neva semakin membawa langkahnya pergi untuk menjauh, ia berlari kecil sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Lupakan... itu yang terus ia bisikkan dalam hatinya. Lupakan dia.


Dia berdiri di pinggir jalan dan mengulurkan tangannya untuk menghentikan taksi. Tepat... taksi itu langsung berhenti di depannya, ia segera membuka pintu taksi tetapi kemudian seseorang menutup kembali pintu taksi itu. Ia menoleh...


"Aku akan mengantar mu," ucapnya. Kemudian, ia menghampiri supir taksi dan memberinya uang. "Aku sudah bilang, aku akan mengantar mu," dia berdiri di depan Neva, "Aku menyuruh supir mu kembali karena aku akan mengantar mu, bukan membiarkan mu pulang dengan menumpang taksi."


___ Mereka duduk di bangku taman. Neva sedikit menjauhkan dirinya. Beberapa menit hening sebelum akhirnya Neva mulai berbicara. Ia menarik nafasnya panjang sebelum benar-benar membuka mulutnya.


"Kak...," panggilannya pelan.


"Ya?"


"Boleh aku tahu sesuatu?" tanya Neva. Sebenarnya dia ragu untuk menanyakannya, ia takut Vano tersinggung. Dia menggenggam minuman kaleng di tangannya dengan erat.


"Boleh, tanyakan saja dari pada itu membuat mu terus berpikir dan tidak menemukan jawabannya," jawab Vano dengan pengertian. Nada suara Neva begitu ragu-ragu.


Neva mengangkat wajahnya dan menoleh untuk menatap Vano. Dia kembali menarik nafasnya.


"Bagaimana hubungan mu dengan Kak Yuna?" tanyanya pelan namun sangat jelas. Vano tersenyum mendengar pertanyaan itu. Yuna... seseorang yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Yuna... seseorang yang membuatnya konyol karena menyukai sebuah boneka kecil kotak berwarna kuning. Yuna... seseorang yang dulu pernah begitu indah di hatinya. Yuna...

__ADS_1


"Kita bersahabat," jawabnya. Matanya menatap kedepan dan dengan seuntai senyum dia melanjutkan ucapannya, "Sahabat yang paling berharga," lanjutnya. ''Kau adalah sahabat ku yang paling berharga, jadi kau boleh mengandalkan ku kapan saja," ucapan Yuna di siang itu terngiang begitu saja di telinganya.


"Sahabat?" tanya Neva untuk meyakinkan.


Vano mengangguk, "Iya, sahabat."


"Boleh aku bertanya sekali lagi?"


"Silahkan," jawab Vano. Dia menoleh dan membalas tatapan mata Neva padanya.


"Aku minta maaf sebelumnya, jika pertanyaan ini menyinggung mu dan membuat mu tidak nyaman. Aku benar-benar minta maaf," ujar Neva. Vano tertawa mendengarnya.


"Tanyakan saja. Lebih baik kau bertanya dan tidak hanya menduganya saja," kata Vano dengan masih sedikit tertawa. Dia sudah tahu dan bisa menebak kemana arah pertanyaan Neva.


"Apa Kak Vano mencintainya?"


"Iya," Vano menjawab dengan jujur. Neva mengangguk dan langsung menunduk. "Aku mencintainya tapi itu dulu," lanjutnya. Ia menatap Neva yang menunduk di hadapannya. "Jika saat ini... aku bilang, jika aku mencintai mu, apa kau percaya?"


Neva sedikit tersentak mendengar ini. Dia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Vano padanya.


"Sebaiknya jangan," jawabnya. Dia segera menyambung ucapannya sebelum Vano menyahut. "Ada beberapa alasan yang sepertinya mudah untuk diselesaikan namun sebenarnya itu rumit. Ada beberapa alasan yang membuat ku menyerah. Aku tahu itu masa lalu, aku tahu itu telah berlalu, aku tahu kita melangkah kedepan tapi aku masih begitu bimbang. Kalian bertiga begitu rumit."


"Tidak, Kak Lee sudah memberikan restunya. Tapi aku tahu dia. Itu hanya di mulutnya saja, hanya untuk membuat ku bahagia. Aku tidak ingin dia membenci mu, aku tidak ingin dia menatap mu dengan kebencian." ujar Neva. Kemudian, ia segera berdiri dari duduknya. "Kakak... tolong antarkan aku pulang," ucapnya. Dia melangkah dihadapan Vano dan melewatinya...


Tap... tangan Vano meraih tangannya, menghentikan langkahnya dan membuat jantungnya kembali berdebar. Neva menatap lurus ke depan.


Tanpa melepaskan pegangan tangannya, Vano berdiri dan menempatkan dirinya di hadapan Neva.


"Aku akan menghapus keraguan mu," ucapnya. Mata mereka saling menatap.


"Jangan lukai hati Kakak. Jangan berharap pada cinta yang begitu sulit untuk bersama. Aku tidak ingin kau berada di tempat yang membuat mu tidak nyaman. Aku tidak mau kau berada di tempat yang ada seseorang yang memandang mu dengan kebencian. Dan pandangan itu adalah milik Kakak ku sendiri."


"Jika aku tidak keberatan dengan itu, kenapa kau begitu memikirkan tentang itu?"


Neva membalas tatapan matanya, ia menatap kedalam matanya, begitu indah, sangat indah. Perlahan ia memberi jawaban.


"Karena aku mencintaimu," ucapnya dengan ekspresi sedih di wajahnya. Genggaman tangan itu semakin erat. "Aku ingin kau disukai semua keluarga ku, aku akan sakit jika melihat mu dipandang dengan kebencian oleh Kakak ku. Aku akan sakit jika Kakak ku memendam semua kegelisahan hanya demi aku. Kak Lee dan Kak Yuna telah bersama... biarlah mereka bahagia, biar aku yang mengalah dan menyerah. Kita belum memiliki ikatan apapun jadi ini akan mudah untuk saling melupakan," lanjutnya.

__ADS_1


"Kau begitu memikirkan sesuatu dengan sangat baik. Namun, ada kalanya kau harus berfikir dengan santai," Vano mengusap rambutnya dengan lembut. Kemudian menggandeng tangannya untuk menuju mobil.


Mereka saling diam sepanjang perjalanan.


"Gadis... entah bagaimana ini akan terlalui. Mari jalani apa adanya, jangan mencoba untuk menghindar dari ku," pesannya pada Neva ketika mobilnya berhenti di depan gerbang rumah Neva.


"Okey, tapi kau harus janji..." Neva menoleh dan menatapnya. Ia memiliki permintaan.


"Apa?"


"Traktir aku ice cream.... hahaaa."


___ Pukul 01.00 Neva masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih terbayang adegan tabrakan itu dan.... sentuhan lembut itu.


"Apa yang akan terjadi jika ponsel itu tidak berdering? Hangat nafasnya, sentuhan lembut tangannya, belaian hangat nafasnya dan... sentuhan hidung bangirnya. Omg..." Neva mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Tidak boleh terjadi, tidak boleh. Lupakan Neva... lupakan, lupakan." Dia merasa setres memikirkan dirinya. Ia menarik selimut dan memejamkan matanya. Namun tidak bisa tidur. Kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya, ia keluar kamar dan menuju kamar Mama. Papa masih berada di luar negeri saat ini.


Tangannya mengetuk pelan, dan tak lama Mama membuka pintu untuknya.


"Kenapa? Tidak bisa tidur?" tanya Mama perhatian. Mama tahu jika putrinya ini habis jalan dengan Vano, supir yang memberi tahunya. Neva mengangguk dan masuk. Ia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang Mama.


"Bisa ceritakan kenapa kau tak bisa tidur nona?" tanya Mama. Mama tidur di samping Neva dan menghadapnya, beliau membenarkan rambut Neva yang berantakan.


Neva menatap Mama sebentar, kemudian memeluknya.


"Ma...,"


"Hmm.'


"Aku ingin melanjutkan kuliah di luar negeri," ucapnya pelan, ia tahu Mama pasti akan terkejut mendengarnya dan benar saja, Mama langsung melepaskan pelukannya dan menatap Neva dengan tajam.


"Kenapa? Banyak Universitas dalam negeri yang bagus, kenapa harus keluar negeri?"


"Aku ingin mencoba untuk mandiri Ma... tidak ada supir, tidak ada pembantu, tidak dilayani...," dia mencoba memberi alasan.


"Itu bisa kau lakukan disini tanpa harus ke luar negeri," Mama menjawab alasan yang Neva berikan.

__ADS_1


"Aku... ingin memiliki banyak pengalaman Ma. Ku mohon izinkan aku..."


__ADS_2