
Mama sudah bangun lebih dulu, beliau yang memandikan Baby Arai.
"Si ganteng gembul," ujarnya gemas sambil mencium pipi Baby Arai. Matahari belum menampakkan dirinya, Mama duduk di karpet diruang tengah. Kemudian, tak lama Yuna menyusul dan duduk di samping mama.
"Apa semalam dia rewel Ma?" tanya Yuna. Seperti biasa, ketika ada Mama dirumah maka Baby Arai akan tidur bersama Omanya.
"Tidak, dia anteng meskipun jam jam tiga sudah bangun," jawab Mama. "Habis mandi, pasti bentar lagi bobo lagi," tangan mama mengusap pipi halus nan gembul milik Baby Arai.
"Aku bahkan masih ngantuk, kenapa kalian sudah berkumpul disini," seru Neva dan langsung menyerbu pipi gembul yang halus milik Baby Arai. "Wanginya ...." katanya dengan terus mencium pipi halus itu. Mama memukul bahu Neva.
"Hentikan Tante, kau bau belum mandi," ujar Mama.
"Biarin, biarin," Neva dengan keras kepala tidak menghiraukan mamanya. Dia masih asik mencium pipi keponakannya. Tangan mungil itu mengenai wajah Neva. Kaki imut itu juga terkadang menendang-nendang dan mengenai Neva. "Ma, kita bawa pulang yuk," kata Neva tanpa menyudahi ciuman di pipi keponakanya.
"Kamu mau diomelin Kakakmu?" kata mama dengan terkekeh. Kemudian, Baby Arai menangis dengan kencang, dia merasa terganggu dengan ciuman bertubi dari Neva dan lagi dia sudah mulai ngantuk dan ingin ASI.
"Kaaan, dia tidak mau kau bawa pulang," seru Mama dengan tawa dan menepuk pundak Neva.
"Hahaa, si pintar. Muach muach," Neva melepaskan Baby Arai.
"Uuuuhh sayang," Yuna mengambil anaknya dan memangkunya. Mencium pipinya. Baby Arai masih menangis. Yuna pamit untuk membawa Baby Arai kekamarnya. Dan benar saja, setelah ASI Baby Arai langsung terlelap.
Pagi hari setelah sarapan Vano datang sesuai janjinya pada Neva. Mereka berdua akan bersepeda santai pagi ini.
"Kalian janjian lagi?" tanya Mama saat Neva memakai sepatunya. Vano berbincang dengan Papa diruang tamu.
"Iya," jawab Neva. Mama menatapnya.
"Tidak baik juga terlalu sering bertemu gadis. Buruan menikah saja deh, itu lebih baik," ujar Mama.
"Mama ah," jawab Neva. Hanya itu jawabannya. Kemudian, dia pamit pada mama.
"Kak Yuna, aku pinjam sepedamu," kata Neva pada Yuna.
Yuna mengangguk dengan senyum, mereka berdua masih canggung setelah bola-bola coklat itu. "Iya, pakai saja," jawab Yuna.
"Terima kasih," ucap Neva. Kemudian dia keluar menghampiri Vano. Dia pamit pada Papa.
Papa, Mama, Neva dan Vano meninggalkan kediaman Leo setelah sore hari. Mama dengan berat hati berpisah sebentar dengan cucunya.
"Minggu depan, menginap lah kerumah," ujar beliau.
"Siap Oma," jawab Yuna mewakili suara Baby Arai.
Setelah mereka semua kembali. Leo membawa Yuna dan anaknya ke kastil pinggir pantai.
__ADS_1
________
Pukul tujuh malam, mereka sampai di kastil. Disana, Baby Arai telah disambut dengan khusus oleh penjaga dan asisten kastil. Ini adalah pertama kalinya Baby Arai datang ke kastil pinggir pantai.
Kastil adalah tempat ternyaman untuk beristirahat. Kamar Baby Arai telah disiapkan dengan satu perawat yang akan menjaganya.
Yuna dan Leo mencium anaknya yang telah terlelap dengan hati-hati. Baby Arai tidur di kamarnya sendiri. Kemudian, mereka berdua menuju kamar.
Leo duduk di sofa. Dia mematikan ponsel miliknya dan juga mematikan ponsel milik Yuna. Tidak ada yang boleh menganggu mereka lagi. Sementara Yuna langsung membuka pintu balkon begitu dia sampai. Keluar sebentar untuk menghirup udara yang terasa begitu nyaman. Kemudian, dia ikut duduk di sofa lalu meletakkan kepalanya di paha Leo.
Mereka berbincang-bincang dengan senyum dan sesekali saling menggoda.
"Sayang aku haus," kata Yuna.
"Mau apa?" tanya Leo perhatian. Yuna menaikkan satu alisnya.
"Air putih hangat saja," ujar Yuna. Leo mengangguk. Kemudian, Yuna mengangkat kepalanya dari paha Leo.
Leo mencium bibir Yuna singkat, "Tunggu, aku akan mengambilnya untuk mu," katanya. Kemudian dia segera melangkah ke luar.
"Sayang," panggil Yuna menghentikan langkah Leo yang hendak menuruni tangga. Leo mendongak.
"Ya," jawabnya.
Leo mengangguk dan bilang, "Siap."
Yuna kembali kedalam kamar, dia masuk ke dalam kamar mandi sebentar lalu keluar setelah mengganti bajunya dengan gaun malam merah panjang menerawang. Dia bahkan memakai heels, itu ... agar dia tidak perlu menjinjit saat mencium bibir Leo. Dia sengaja meminta coklat hangat pada Leo agar Leo lebih lama berada di luar.
Dia menyalakan lilin dan memutar lagu romantis dalam kamarnya. Dia tahu, suaminya telah lama menunggu ini, suaminya dengan sabar menunggu moment ini. Dia akan menghabiskan malam ini dengan sempurna, dibawah rasa rindu yang begitu menggebu.
Yuna melangkah ke balkon dan berdiri disana. Menatap laut yang berkilau karena sinar rembulan yang bulat.
Leo yang membawa coklat hangat pesanan Yuna langsung menyusul wanitanya yang berdiri di balkon kamar mereka. Indra penciumannya termanjakan oleh harum lilin yang Yuna nyalakan. Jantungnya berdegup saat netranya melihat sosok anggun berdiri membelakanginya. Gaun merah panjang menerawang menampakkan lekuk tubuh Yuna dengan samar. Sinar bulat rembulan membuatnya terlihat semakin menggoda.
Leo menelan salivanya, dan meletakkan secangkir coklat hangat diatas meja balkon.
"Sayang," panggilnya.
"Hmmm," jawab Yuna tanpa menoleh kearah Leo. Matanya masih menatap laut dengan ombak yang berkejaran. Leo melangkah mendekat ke arah Yuna. Jemarinya menyentuh punggung Yuna yang tidak tertutup. Menggerakkannya dengan halus dan lembut. Gerakan halus yang membuat Yuna geli dan tanpa sadar menegakkan punggungnya, bahasa tubuh yang mengisyaratkan bahwa ia sangat menikmati sentuhan ini. Matanya terpejam, seiring jemari itu semakin bergerak keatas dan menyibak rambut Yuna kesamping. Leo menunduk, membuat kecupan halus di tengkuk wanitanya. Mata Yuna masih terpejam dengan kedua tangan yang memegang erat besi balkon.
Tanpa menyudahi kecupannya yang semakin liar, jemari Leo mulai menelusup masuk ke dalam gaun malam merah yang Yuna kenakan. Menangkap sesuatu yang indah dalam genggaman tangannya, bermain-main disana.
"Umm," Yuna mengigit bibirnya, menahan rasa geli di sekujur tubuhnya. Deru nafasnya mulai tidak tidak teratur. Leo menyudahi aksinya. Dia kemudian, membawa Yuna untuk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Tangan Leo mengulur dan mengusap rambut Yuna dengan kasih yang melimpah dari hatinya. Mata mereka bertemu, menyampaikan hasrat yang telah lama mereka pendam. Leo merengkuhnya, mencium keningnya, matanya, hidungnya, pipinya, dan telinganya ...
"Aku mencintaimu Yuna," bisik lembut dengan kecupan mesra di telinga. Bisik lembut dengan hembusan nafas yang menggoda. Tangan Yuna melingkar di pinggang Leo. Dia mengangguk.
"I love you too Leo," balas Yuna berbisik di telinga Leo. Mendebarkan jantung, melemahkan pikiran. Semua yang ada dalam otak adalah kamu.
Mata mereka kembali saling menatap, hidung mereka bertemu dan kemudian bibir mereka bersatu. Mengecup, meneguk candu dan mulai menari dengan rasa haus yang tidak ada batasnya. Ketika bibir itu bertemu ada gelora api yang terasa membakar, api gairah yang membara.
Angin pantai yang dingin turut mengikat mereka, membuat raga tidak ingin berjauhan. Saling mendekap dengan hangat dan penuh kasih. Deru nafas semakin memburu seiring dengan dalamnya cumbuan penuh rayu.
Tanpa melepaskan ciuman, Leo mengangkat Yuna. Membawa wanitanya masuk kedalam. Lalu membuat Yuna duduk disisi ranjang. Tidak ingin bulan, bintang dan angin mengintip menyaksikan keindahan tubuh istrinya, Leo beranjak dan melangkah untuk menutup pintu balkon dan gordennya dengan rapat.
Yuna duduk di ranjang, kedua kakinya menyilang. matanya menatap wajah Leo yang ada sedikit jauh darinya.
Leo membawa langkahnya menuju bidadari yang menunggunya di sana. Langkahnya begitu teratur dengan degupan jantung bagai debur ombak yang berkejaran.
"Kau sangat cantik sayang," pujian yang terangkai dari bibir manis Leo membuat Yuna tersenyum dengan rona dipipinya. Leo mengusap pipi Yuna, bibirnya, lehernya lalu semakin turun kebawah. Leo bersimpuh di hadapan Yuna. Tangannya membuka heels istrinya dengan perhatian. Jemarinya mengusap kaki Yuna dengan halus.
Yuna memejamkan matanya. Ketika tangan halus Leo menyentuh kakinya, ada kehausan dalam hati dan dirinya. Dan dia mengigit jarinya dengan sensual saat perlahan bibir Leo membuat kecupan pada ujung kakinya.
Ada api yang seperti menghangatkan seluruh tubuh mereka, api gelora gairah yang mereka tahan selama ini.
Gaun malam berwarna merah itu telah terlepas seiring hawa panas yang menjalar di sekujur tubuh. Bibir Leo berkelana dengan teratur, menjelajahi setiap lekuk tubuh indah istrinya. Meninggalkan banyak jejak merah disana. Bibirnya yang basah terus berkelana dan menikmati semuanya.
"Uhmm, Le ... o," serak suara Yuna memanggil nama sang suami, desahan halusnya menggema pada dinding hati sang pujaan.
Leo semakin menggila ketika bibir ranum Yuna menyebut namanya dengan desah lembut dan nafas yang tercekat. Dia diam sejenak hanya untuk menikmati pahatan surga yang dia miliki. Begitu indah dan menggoda.
Yuna membuka matanya, dia menatap sayu Leo yang berdiri di depannya.
"Sayang, kenapa berhenti," suara seksi nan manja menggoda Leo untuk bermain lagi.
"Kau sangat seksi sayang," rangkaian pujian itu Leo ucapkan lagi. Pujian dalam nafas yang berkarat. Yuna yang biasanya malu-malu mendapat pujian, kini malah dengan sengaja membuat senyuman sensual dibibirnya. Wajah jelita yang sangat menggoda.
Yuna beranjak dari tempatnya, dengan gerakan pelan tetapi pasti dia berdiri dan menempatkan dirinya didepan Leo. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Leo, lalu berpindah ke bibir Leo.
Bibir kecil imutnya berkelana menyusuri leher kokoh suaminya. Kecupannya bagai anggur yang memabukkan. Sentuhan jemari lentiknya pada bagian-bagian tubuh tertentu membuat Leo semakin terkurung dalam hipnotis permainan Yuna. Yuna telah berhasil menanggal seluruh pakaian yang Leo kenakan. Yuna sangat nakal malam ini. Dia yang akan memegang kendali dalam permainan malam ini.
Dua bibir saling merayu dalam lekat kecupan hangat. Lidah mereka saling terpaut lembut dan menggelitik. Bagai sihir, bibir mereka hanya meneriakkan nama sang pujaan. Peluh keringat menetes membasahi tubuh indah mereka yang masih melekat dan menari dengan penuh gairah. Mereka tidak mengingat apapun selain keromantisan yang mereka ciptakan. Mereka bahkan seakan memerintahkan pada mentari untuk tetap diam dan jangan dulu datang menghampiri. Mereka berdua masih merindukan malam. Masih merindukan teriakan dengan nafas yang tersengal.
Bulan diluar sana bersinar dengan begitu terang. Membiarkan dua insan melebur menjadi satu. Melebur dengan manis dan romantis.
______
Catatan Penulis
__ADS_1
JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.