Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 197_Malam Yang Membingungkan


__ADS_3

Mobil Vano berhenti tepat di depan gerbang rumah besar dengan pagar yang menjulang tinggi.


"Wah, wah... ini rumahnya," asisten Raizel langsung berkomentar. Bro supir memarkirkan mobil sedikit jauh dari area, agar tidak begitu ketara jika mereka membuntuti. Raizel mendekat kedepan agar bisa mengamati apa yang sedang terjadi di dalam mobil itu. Namun, tidak bisa... posisi mobilnya berada di belakang mobil milik Vano. Dia mulai mengumpat.


"Terima kasih Kak Vano," ucap Neva dan langsung membuka sabuk pengamannya. Dia menoleh ke arah Vano sebelum benar-benar keluar. Vano tersenyum membalas tatapan matanya. Tangannya mengulur dan mengusap rambut Neva pelan. Matanya sedikit melirik jepit rambut yang terpasang di rambut Neva. Sangat indah dan cocok terpasang di rambut Neva.


"Selamat malam gadis," ucapnya. Suaranya yang khas menghangatkan hati Neva.


"Selamat malam, Kak Vano," jawab Neva. "Terima kasih sudah di jemput," lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Vano. "Hmmm, Kak Vano sampai hafal jadwal ku, hahaaa... suatu kehormatan untuk ku," lanjutnya lagi dengan tawa kecil.


"Hmmm, kau harus membayarnya," jawab Vano. Mata mereka masih saling menyapa. Membayar? Neva mengerutkan keningnya.


"Apa?" tanya Neva. Vano terdiam sejenak sebelum memberi jawaban.


"Hmmm," tangannya berpindah ke pipi Neva dan mengusapnya pelan. Tangan halus dan lembut ini membuat jantung Neva langsung berdetak dengan sangat kencang, aliran darahnya mengalir cepat, matanya berkedip dengan tidak normal.


'Ini seperti dulu, ketika kita di festival lampion. Kiss? Atau....,'


"Sudah malam, masuklah," ucap Vano lembut. HAHH???


'*Apa? Gitu doang? Hahaa... otak ku terlalu liar dan hati ku terlalu berharap. Berharap? Tidak boleh. Sadar... please sadar*.'


"Baik," jawab Neva setelah menentramkan hatinya sendiri, "Selamat malam Kak Vano...." lanjutnya. Kemudian, dia keluar dari mobil.


"Bye...."


Neva melambai pelan ketika mobil itu perlahan meninggalkannya.


Sejujurnya, bukan kata itu yang ingin di ucapkan oleh Vano. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Gadis itu memikirkan sesuatu dengan sangat terperinci. Apalagi jika itu menyangkut Kakaknya. Jadi... mendapatkan restu dan maaf yang tulus dari Leo adalah yang harus dia dapatkan terlebih dahulu.


Neva membalik badannya. Tangan kanannya memegang dadanya yang masih terasa berdegup. Tepat ketika pintu gerbangnya terbuka, sebuah suara memanggil dan menghentikan langkahnya.


"Neva...." Panggil Raizel menghentikan langkah Neva untuk masuk. Neva segera menoleh dan membalik badan. Matanya langsung melebar, otaknya berdenyut, dan tubuh yang tiba-tiba kaku. Raizel.


"Raizel... bagaimana dia bisa tahu alamat ku?" Batinnya. Raizel melangkah mendekatinya. Dia berdiri tepat di depan Neva. Mata mereka saling menatap. Postur tubuh Raizel yang tinggi membuat Neva mendongak.


"Raizel... kau benar-benar Stalker," Neva menatapnya dengan waspada.


"Kenapa kau berpikir kalau aku Stalker?" Tanya Raizel heran, "Aku hanya ingin dekat dengan mu," ucap Raizel. "Aku menghubungi mu, tapi kau menolaknya," lanjut Raizel.


Security Neva mulai berisik. Mereka melihat Raizel dan ingin meminta foto. Jika mereka heboh. Mama akan tahu dan langsung keluar. Mamanya yang super kepo.


"Di mana mobil mu?" tanya Neva. Raizel langsung menunjuk mobilnya yang parkir sedikit jauh dari area rumahnya. "Okey," Neva menarik ujung jaket Raizel untuk menjauh dari gerbang dan menuju mobil milik Raizel. Bibir Raizel tersenyum puas.


"Wah, wah... si bodoh berhasil," asisten melebarkan matanya dan segera membuka pintu mobil setelah Raizel dan Neva semakin dekat. Dia keluar dan pindah ke depan bersebelahan dengan Bro supir.


Neva dan Raizel masuk kedalam mobil.


"Jadi, apa mau mu?" tanya Neva langsung pada inti. Dia sudah cukup sabar pada Raizel yang membuat harinya kacau akhir-akhir ini. Raizel yang tiba-tiba muncul dalam kehidupannya.


Raizel menatap kedepan pada asisten dan Bro supir yang menguping. Dia melotot dan mengulurkan tangannya untuk menutup sekat. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada Neva.


"Kau mau tahu apa yang ku inginkan?" tanya Raizel. Dia menatap Neva dengan pandangan tajam tetapi penuh kekaguman, "Aku ingin kau jadi pacar ku," ucap Raizel tenang langsung ke poin. Otak Neva semakin berkedut mendengar itu. Sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Kau...." dia menunjuk Raizel dengan masih terus tertawa. "Kau... Apa kau sedang berlatih salah satu adegan yang kau perankan? Apa itu kata-kata yang sedang kau hafalkan Raizel?" Tanya Neva dengan tawa yang masih ada di bibirnya. Raizel diam memperhatikannya. Dia membiarkan Neva yang terus tertawa. "Hahaa.... sorry, kau sangat lucu Raizel, hingga membuat ku ingin terus tertawa. Aduuhh... rasanya perut ku sakit karena tertawa," ujar Neva dengan tawa.


Kedua tangan Raizel mengulur dan dia semakin mendekat ke arah Neva. Sejurus, Neva langsung menarik mundur dirinya. Saat ini, dia bersandar di pintu mobil dengan kedua tangan Raizel yang menahannya. Mata Neva berkedip dengan sangat cepat, jantungnya berdebar karena Raizel yang tiba-tiba begitu dekat tangannya. Sangat dekat, nafas Raizel bahkan terasa hangat di wajahnya.


"Bagaimana jika dalam film ku ada adegan kiss," Dia mengingat pesan dari Raizel beberapa jam yang lalu. Upss, jangan-jangan, dia mau praktek, pikir Neva. Dia langsung mengangkat kedua telapak tangannya dan menutup mulutnya. Dia langsung waspada. Dia menutup mulutnya dengan kuat, sealah akan ada pencuri.

__ADS_1


"Rzahahl, aphg yhgn kap lkahgn? Mnaiahr," ucap Neva dengan memelototi Raizel. Raizel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Neva yang tidak jelas karena dia membekap mulutnya sendiri dengan kuat. Begitu lucu, Raizel semakin suka.


"Jhfff khgfgj hjigg gjhgj," jawab Raizel ngasal mengikuti ucapan Neva yang tidak beraturan dalam pendengarannya. Neva semakin memelototinya. "Ucapan mu terdengar seperti itu gadis bodoh," lanjut Raizel.


Neva membuka telapak tangannya. "Apa yang kau lakukan Raizel?" Dia mengulangi ucapannya dan langsung kembali menutup mulutnya. Harus waspada.


"Ayo jadian," ucapnya yang membuat Neva ingin muntah darah saat ini juga. Apa-apaan ini...


Neva membuka telapak tangannya, "Apa kau sedang berlatih untuk film baru mu?" Tanyanya dan langsung menutup mulutnya lagi. Raizel kesal dengan pertanyaan ini. Gadis ini selalu saja menganggapnya berakting.


Tangan Raizel berpindah, kedua telapak tangannya memegang pipi Neva dan membuat Neva menatapnya.


"Lpsaskhfn ygu Riagfl" ucap Neva dengan tidak membuka bekapan pada mulutnya. Dia semakin takut. Raizel tidak perduli dengan apa yang Neva ucapkan padanya. Dia membuat Neva tetap menatapnya.


"Neva dengar aku," ucap Raizel serius. Dia menarik nafasnya panjang, "Aku memang sering berakting, banyak piala yang ku dapatkan. Namun, ada waktu dan ada saat di mana aku berkata dengan serius. Aku akting karena memang aku adalah aktor. Namun, bukan berarti aku tidak memiliki kehidupan yang normal. Aku mencintai mu Neva, jadilah pacarku," ucap Raizel dengan serius. Dia sendiri tidak menyadari jika dia bisa serius.


Diam, tiba-tiba hening, mata mereka saling menatap tetapi sama-sama saling diam. Beberapa saat, Neva hanya mampu memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Dia mengambil nafasnya panjang. Kemudian, dia membuka telapak tangan dari mulutnya.


"Raizel, ini bukan waktunya untuk bercanda," jawab Neva. Wajahnya masih dalam genggaman kedua telapak tangan Raizel.


"Aku tidak bercanda Neva, aku serius. Jadilah pacar ku," ucap Raizel dengan sungguh.


"Maaf, Raizel," ucap Neva. Dia menyingkirkan tangan Raizel dari pipinya. Dan langsung membuka pintu mobil. Ia keluar dan melangkah pergi dengan langkah yang cepat.


"Hei, tunggu aku," Raizel membuntutinya. Dia menyamai langkah Neva.


"Apa lagi?" Tanya Neva. Dia merasa kesal pada Raizel. Dia terus melangkah.


"Kita jadian, okey," ucap Raizel dengan sangat PeDe.


"Mimpi saja kau," jawab Neva. Neva masih terus berjalan dan Raizel masih terus membuntutinya.


"Hhaaaa.... aku lupa jika kau adalah artis gila," Neva semakin kesal dengannya. Kapan dia akan berhenti mengikuti? Batin Neva.


"Iya... memang aku gila. Aku tergila-gila pada mu Nona Neva," balas Raizel.


"Pufffhh...., aku mimisan mendengarnya," ujar Neva menahan senyumnya. Raizel ini benar-benar menguji kesabarannya.


Hingga mereka sampai di depan gerbang. Gerbang yang langsung terbuka ketika Neva berdiri di depannya. Security langsung menghampirinya, eh bukan... tepatnya menghampiri Raizel. Selama ini, security itu dipameri oleh pak supir yang beberapa kali berkesempatan bertemu dengan Raizel dan bahkan berfoto bersama.


"Pak, usir dia," ucap Neva tegas pada security nya. Namun yang ada, security itu malah meminta foto pada Raizel. Kapan lagi ketemu artis ini... batin mereka.


"Usir dia atau ku pecat," Neva mengeraskan suaranya. Dia kesal setengah mati pada dua security nya. Mendengar perintah tegas, Raizel segera menyingkirkan dua security itu. Dia langsung memegang pergelangan tangan Neva.


"Aku tidak menerima No, aku hanya mau Yess," ucapnya mendominasi dan memaksa.


"Usir dia pak, atau kalian ku pecat," Neva mengulangi perintahnya. Matanya melihat kearah rumahnya. Dia takut Mama keluar.


Security dengan sigap menangkap kedua lengannya Raizel. Begitu tangan Raizel terlepas dari lengannya, Neva segera berlari untuk masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan," perintah Raizel. Ucapannya seperti hipnotis. Kedua security itu langsung melepaskannya.


Neva masuk ke dalam rumah dan langsung menutupnya kembali. Dia berdiri dan menyandarkan punggungnya sebentar di pintu. Tangannya memegang dadanya yang berdegup.


Sentuhan lembut tangan Vano pada pipinya. Sentuhan paksa kedua telapak tangan Raizel pada wajahnya. Malam yang membingungkan...


Dia melangkah dan menaiki tangga.


"Ehem," suara dehem Mama mengagetkannya. Neva segera menoleh.

__ADS_1


"Eh, Mama...." ucapnya langsung tersenyum dan memamerkan giginya.


"Bukankah kau pulang di jemput Vano?" tanya Mama. Mereka berdiri di bawah tangga. Neva mengangguk. Apakah dua Nyonya masih saling berbagi info? Batinnya.


"Mama masih memiliki misi dengan Tante Mahaeswara?" tanya Neva. Mama menggeleng.


"Tidak, kita menyerahkan semuanya pada kalian. Supir yang memberi tahu Mama," ucap Mama menjelaskan. Neva mengangguk. "Jika kamu di jemput Vano, lalu... kenapa kamu kembali dengan Raizel?" tanya Mama penuh penekanan. Neva memejamkan matanya sebentar dengan sangat rapat. Mama melihatnya. Batinnya.


"Ceritanya panjang Ma. Neva lelah....," jawab Neva sambil bergelendot manja pada Mama. "Aku, cerita besok aja, okey," lanjutnya.


"Kamu itu wanita nak, jaga sopan santun mu. Jaga akhlak mu, jaga nama baik keluarga. Kau sudah besar, kau pasti tahu yang Mama maksud," ujar Mama penuh perhatian pada putrinya.


Neva mengangguk pelan, "Iya Ma...." ucapnya.


"Sudah malam, segeralah bersihkan diri mu dan segera tidur," ucap Mama. Neva mengangguk lagi dan kemudian, dia melangkah menaiki tangga.


Di dalam kamar, dia duduk dan memperhatikan dirinya di dalam cermin. Ia mengambil jepit rambut di kepalanya, kemudian memperhatikannya dengan seksama dengan seuntai senyum. Kemudian, matanya beralih pada permainan musik bola kristal salju dengan dua burung flamingo di dalamnya. Dia menghela nafas.


'Jadilah pacar ku,' Dia tertawa kecil mengingat ucapan Raizel padanya beberapa menit yang lalu.


"Dia benar-benar gila," gumamnya. Kemudian, dia membelai ponselnya dan mencari kontak Raizel artis gila dan mesum. Dia memencet tombol blokir. Selesai.


"Huff semoga hari-hari ku kembali normal."


____ Jalanan Negara A pada malam hari yang ramai tetapi hampa dan sepi bagi seseorang.


Malam hari, di hari ini... langkah kaki itu menyusuri jalanan dengan langkah ringan. Tangannya masuk kedalam saku jaket hangatnya. Dia membeli sesuatu untuk wanita yang dia cintai.


Besok... dia akan kembali. Tentu dia tidak memberi kabar terlebih dahulu. Dia ingin tiba-tiba kembali dengan membawa semua rindu yang ada pada dirinya. Cuaca dingin membuat nafasnya mengeluarkan asap.


"Sayang, aku merindukan mu," gumamnya. Dan salju kembali turun. Dia berhenti dari langkahnya dan menengadahkan telapak tangannya untuk menangkap salju.


Dan Brakkkkk..... gelap. Kemudian disusul dengan suara riuh dan suara sirine yang bersahutan.


**Suara sang malam dan siang seakan berlagu.


Dapat aku dengar rindu mu memanggil nama ku.


Saat aku tak lagi di sisi mu.


Ku tunggu kau di keabadian.


Aku tak pernah pergi selalu ada di hati mu.


Kau tak pernah jauh selalu ada di dalam hati ku


Sukma ku berteriak menegaskan ku cinta pada mu.


___


Catatan penulis


Thor lagi jahat🙄


Eh, eh....ada yang nyoba nggak, membekap mulut lalu bicara? Hahaaa coale Thor praktek pas nulis bagian itu😆 Temenin praktek napa.... Hayoo bisa ngomong dengan jelas nggak? (membekap mulut dengan kuat)


Ini bab bonus lhooo🥰 Kasih sun manjah si jempol yach kesayangan 😘


*Bcl_Cinta Sejati ost Habibie Ainun

__ADS_1


__ADS_2