Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 279_Menantu Vs Mertua


__ADS_3

Yuna baru saja selesai mandi, dia melangkah keluar dari kamar mandi dan dia menemukan Leo sudah tertidur di samping baby Arai. Mereka berdua tidur dengan kompak, diatas ranjang. Mata Yuna dipenuhi kelembutan menyaksikan dua laki-laki yang saat ini tertidur dengan pulas. Ia segera mengganti bajunya dan kemudian merangkak naik ke atas ranjang.


Dengan pelan dan hati-hati ia mengecup pipi baby Arai. Namun, gerakannya yang pelan dan hati-hati masih membuat baby Arai kaget, ia langsung mengeluarkan suaranya dengan pelan, suara khas tangisan bayi. Namun itu tidak lama, karena Yuna dengan cepat memberinya asi. Dia menjadi merasa bersalah karena kecupannya membuat baby Arai terbangun.


"Stt, stt, stt," tangan Yuna mempuk-puk pantat baby Arai dengan pelan.


Leo masih tertidur dengan nyenyak saat baby Arai sudah kembali tertidur. Pelan, Yuna turun dari ranjangnya dan melangkah keluar kamar. Ia meminta Bi Sri untuk mengantar sarapannya kekamar.


Antara tega dan tidak, Yuna membangunkan Leo. Dia tahu jika semalaman Leo tidak tidur.


"Sayang," panggilnya pelan. Tangannya mengusap rambut Leo dengan lembut. Tak ada tanggapan, Leo masih memejamkan matanya dengan lelap. Yuna kembali memanggilnya dengan pelan, ia takut suaranya membuat baby Arai terbangun.


Leo membuka matanya sebentar untuk menatap Yuna kemudian ia terpejam lagi.


"Sarapan dulu yuk," ucap Yuna. Tangannya masih mengusap rambut Leo. Setelah kelahiran baby Arai, Leo hampir tidak tidur malam sama sekali, dia selalu terjaga sepanjang malam untuk membangunkan Yuna tiap dua jam sekali.


"Sayang aku ngantuk," jawab Leo dengan masih memejamkan matanya.


"Aku tahu, tapi kau harus tetap sarapan," ujar Yuna. Tangan Leo mengulur dan menarik Yuna dalam pelukannya. Ia mencium bibir Yuna.


"Ini sarapanku."


"Hei, jangan mengalihkan," tangan Yuna mengusap pipinya. Ia merayu Leo untuk bangun dan memakan sarapannya. Ia menjabarkan pentingnya sarapan.


"Baiklah Nyonya cerewet," jawab Leo pada akhirnya. Ia menoleh kearah Baby Arai dan mendekatkan wajahnya, ia bermaksud untuk menciumnya tapi Yuna dengan cepat menahan Leo.


"Jangan cium dia," bisik Yuna.


"Hum?? Kenapa?" Tanya Leo. Ia berganti menatap Yuna.


"Cium aku saja," jawab Yuna dengan senyum menggoda. Tangan Leo terangkat dan langsung menyusup diantara rambut Yuna.


"Nyonya, jangan mencoba untuk menggodaku. Kau sedang nifas," ujar Leo dengan masam. Ia gemas pada Yuna tetapi dalam satu waktu, ia menjadi putus asa.


"Itu hanya mencium," jawab Yuna dengan wajah polos. Ia berkedip pelan dengan senyum tertahan.


"Mencium mu ...." ucapan Leo menggantung, karena Yuna langsung mengunci bibirnya. Ia mencium dan membuat gigitan lembut dibibir Leo. Tangan Leo semakin menyusup ke sela-sela rambut Yuna. Lidah mereka bertemu, bersatu dalam isapan lembut penuh gairah. Tak lama, Yuna menyudahi ciumannya.

__ADS_1


"Ayo sarapan, kantuk mu sudah hilang bukan?" Yuna menarik dirinya dari dekapan Leo. Ia segera beranjak.


"Hhaahh, kau licik Nyonya," Leo menatapnya dengan kesal. Yuna menggodanya dan tidak berniat untuk tanggung jawab. Ia memanyunkan bibirnya dan langsung menghadap ke samping, memeluk guling dan membelakangi Yuna.


"Hei, ayo sarapan," ajak Yuna lagi. Dia menggoyang-goyangkannya bahu Leo.


"Males," Leo menjawab dengan ketus. Ia kembali memejamkan matanya. Yuna tersenyum lebar melihat Tuan suami ngambek. Pelan, ia duduk di pinggir ranjang.


"Bagaimana jika aku juga tidak sarapan?" Ujarnya dengan menahan senyum. Cara terakhir untuk membujuk Tuan tampannya.


"Terserah," jawab Leo yang membuat Yuna langsung melebarkan matanya. Ini jawaban yang sangat luar biasa. Yuna menebak jika Leo akan langsung menyetujuinya saat dia membuat ancaman tapi ternyata jawabannya adalah terserah.


Leo masih memejamkan matanya dan bahkan masih mengerucutkan bibirnya. Dia tahu Yuna mengancamnya dengan menggunakan dirinya, dia sudah hafal trik istri cantiknya. Dia tahu, Yuna tidak akan melakukan itu, kerena saat ini, Yuna harus memberi asi pada baby Arai jadi mommy tidak bisa egois.


"Sayang," Yuna menggoyangkan bahu Leo lagi. "Umm ... ayo sarapan."


"Apa hadiahnya?"


"Diriku," jawab Yuna cepat. Ia yakin, ini akan manjur. Dan benar saja, Leo langsung membalik badannya kearah Yuna.


Mereka berdua sarapan dengan tenang. Leo menambahkan sayuran di piring Yuna. Ibu menyusui harus banyak makan sayuran.


Setelah selesai sarapan, Leo membasuh dirinya dan langsung menenggelamkan diri di ruang kerja. Ia tidak menagih hadiah yang Yuna janjikan. Lebih tepatnya tidak untuk sekarang.


Di ruang kerja, ia segera mempelajari file-file yang kemarin Dion kirim untuknya. Kemudian, ia melakukan konferensi pagi hari. Sedikit lagi ... proyek besarnya bersama Papa akan terwujud.


_____


Di rumah besar keluarga Nugraha.


Neva menceritakan niat Vano pada Mamanya.


"Putri Mama sudah dewasa," ujar Mama. "Mama akan bicarakan ini dengan papa dan kakak," lanjutnya.


Neva mengangguk dengan senyum. Pada siang harinya. Ia dan Mama berniat untuk berkunjung ke rumah Leo, mereka kompak akan menginap tiga hari disana. Rasa rindu pada baby Arai sudah tidak terbendung. Rasanya ingin selalu berdekatan. Namun, rencana mereka berdua harus sedikit tertunda karena ada undangan makan siang dari Nyonya Mahaeswara.


"Emmm, calon mertua," ledek Mama dengan senyum lebar. Tapi Neva menatap Mamanya dengan serius.

__ADS_1


"Ma, apa ibu mertua itu menakutkan?" Tanyanya dengan rendah. Saat ini mereka berdua berada di dalam mobil menuju restoran tempat dimana Nyonya Mahaeswara tengah menunggu. Mama tersenyum lebar mendengar pertanyaan putrinya. Beliau tahu tentang pemikiran seorang gadis terhadap sosok ibu mertua.


Tangan mama pelan menepuk punggung tangan putrinya.


"Apa Mama menakutkan buat Kak Nora dan Kak Yuna?" Jawab Mama balik bertanya. Neva menatap Mamanya dan menggeleng.


"Mama baik sama Kak Nora dan Kak Yuna, Mama sayang sama menantu Mama, seperti sayang Mama pada anak Mama sendiri," jawab Neva.


"Berarti, apa sosok Ibu mertua itu menakutkan?"


"Jika melihat Mama, jawabannya, tidak. Tapi ... bukankah karakter ibu mertua itu berada-beda?" Tanya Neva lagi.


"Dulu Mama juga memiliki pertanyaan dan ketakutan tersendiri terhadap sosok ibu mertua, tapi almarhum dan almarhumah kakek dan nenek mu, sangat baik. Dulu Mama menjadi seorang menantu, sekarang Mama menjadi seorang mertua," jawab Mama dengan perhatian. Beliau mengingat bagaimana orangtua suaminya memperlakukan dirinya dengan baik. Maka ketika dia berada di posisi itu, dia juga berusaha untuk menyaingi menantu-menantunya. Tidak ada kasih yang beliau bedakan.


"Jadilah menantu yang baik dan patuh nak. Sayangi ibu mertua mu seperti kau menyayangi ibumu. Kasih mu akan terbalas olehnya," jelas Mama lagi.


"Tapi bagaimana jika, suatu saat nanti ada pemikiranku dan pemikirannya yang berbeda?" Neva bertanya lagi. Sosok Ibu mertua adalah sosok yang menakutkan setelah ibu tiri, menurut kamus persinetronan dan cuitan warganet.


"Kau masih muda, jadi kau yang harus mengalah."


"Bagaimana jika mertua tidak sebaik Mama? Bagaimana jika saat aku sudah mengalah dan mertua masih memiliki alasan untuk membenci?" Neva masih memiliki banyak pertanyaan. Mama terkekeh mendengar itu.


"Apa kau sering nonton FTV azab Nona?" Tanya Mama dengan tawa.


"Hahaa iya, beberapa kali," jawab Neva. "Derita seorang menantu," lanjutnya menyebutkan sebuah judul FTV azab.


"Ada juga, menantu yang jahat dengan ibu mertuanya," sahut Mama. "Derita seorang Ibu mertua," sambung Mama menyebutkan sebuah judul FTV azab. Kemudian mereka berdua menjadi tertawa terbahak-bahak dengan dua judul itu.


Tak lama, mobil yang mereka tumpangi parkir dengan pelan di area restoran mewah. Dan tepat saat itu juga, sebuah mobil parkir di samping mobil milik Nyonya Nugraha.


___


Terima kasih yang masih setia menunggu kisah ini πŸ₯° Padamu kesayangan, luv luv πŸ˜˜πŸ™


Jan lupa jempolnya digoyang. Like komen vote, okey. Terima kasih πŸ₯°πŸ™


Lanjuuttt ... Kalian luar biasa πŸ₯° Ilupyu full 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2