
Neva tersenyum, lalu tangannya terangkat dan mengusap pipi Vano dengan halus, "Semangat sayang," ucapnya. Wajah Vano seketika langsung memerah mendengar itu. Tangannya memegang telapak tangan Neva yang berada di pipinya. Dia mengambilnya dan menggenggamnya.
"Coba ulangi lagi, aku tidak begitu jelas mendengarnya," ucapnya dengan senyum dibibir. Neva mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada pengulangan," jawab Neva dengan wajah bersemu merah. Dia masih merasa malu dengan panggil sayang pada Vano.
"Hmmm, ulangi," pinta Vano. Tangan kirinya menyentuh pipi Neva dan membuat gadis itu menatapnya. Dia menatap Neva dengan lembut, tatapan mata yang menunggu.
"Semangat, Kak Vano," ujar Neva dengan senyum lebar.
"Apa?"
"Semangat, Kak Vano," ucap Neva lagi.
"Apa?"
"Kakak Vano, semangat," Neva berucap dengan sedikit mengencangkan suaranya. Dia memberi semangat pada Vano yang akan menemui Papanya.
"Apa?" Vano masih belum menerima ucapan semangat dari Neva.
"Semangat Kak Vano. Kak Vano semangaaat," jawab Neva.
"Apa?"
"Semangat sayang."
Cup ... Vano langsung mencium bibir Neva dengan lembut tetapi singkat.
"Bibir mu sangat manis ketika menguncupkan itu," ucapnya dengan nada romantis tepat di depan wajah gadisnya. Neva mengerutkan bibirnya dengan wajah yang bersemu merah muda, dengan gigi yang rapat. Tangannya terangkat dan memukul bahu Vano.
"Jangan mencium bibirku," ucapnya dengan masih mengerutkan bibirnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Hmm, kita belum menikah," jawab Neva. Wajah Vano masih begitu dekat dengannya. Hidungnya bahkan hampir menempel.
"Sayang, bagaimana jika kita menikah?" Tanya Vano pelan tetapi penuh dengan perasaan. Tangannya masih menggenggam tangan Neva. Dia memiliki harapan dalam hatinya, dia ingin gadis ini bilang 'Yess'.
Neva menatapnya dengan ragu. Dia mencoba kembali memahami apa yang baru saja dia dengar. Menikah? Dia baru saja lulus dan dia masih ingin melanjutkan studinya. Dia termenung beberapa saat.
"Maaf," ujar Vano rendah, ia mengusap rambut Neva pelan. "Jangan dipikirkan. Aku tidak memaksa mu. Aku bersedia menunggu hingga kau telah siap bahkan jika itu seribu tahun lagi," ucapnya dengan pengertian. Ya, tentu dia tidak akan memaksa Neva untuk bilang Yess.
"Seribu tahun lagi?" Tanya Neva. Dia menatap Vano dengan teduh. Vano mengangguk. Kening mereka saling bersentuhan.
"Seribu tahun lagi. Sebuah perumpamaan bahwa aku tidak akan pernah lelah untuk menunggu mu, gadis," jawab Vano dengan keteguhan hati. Jantungnya berdegup kencang. Pun dengan Neva. Jantung mereka berdegup seirama dengan alunan lagu tentang cinta yang begitu indah dan menggoda.
"Terima kasih," ucap Neva.
Kemudian, setelah itu, mereka berdua keluar dari mobil. Dengan bergandengan tangan mereka menuju pintu utama. Neva menoleh ke arah Vano sebelum dia membuka pintu. Dia tersenyum dalam sudut bibirnya. Ini adalah pertama kalinya dia membawa pulang laki-laki yang akan dia kenalkan pada orangtuanya sebagai kekasihnya.
Pelan, tangannya mengulur dan membuka pintu. Dia membawa Vano masuk dan mempersilahkannya untuk duduk. Kemudian, dia melangkah ke dalam. Ada Mama di ruang tengah, Mama sedang belajar merajut. Neva meletakkan buah tangan dari Vano untuk mamanya di atas meja.
"Papa ada diruang kerja," tutur Mama. Neva mengangguk lalu berjalan ke arah samping di lantai tiga, ruang kerja Tuan besar Nugraha. Neva mengetuk pintunya pelan.
"Masuk," sebuah suara yang khas mempersilahkannya untuk masuk. Neva membuka pintu ruang kerja papa dengan pelan. Kemudian, melangkah masuk kedalam.
"Papa," ucapnya setelah berdiri di samping papanya. Saat ini, papa sedang berdiri di depan rak buku besar. Beliau segera mengembalikan buku ditangannya pada tempatnya setelah kedatangan Neva.
"Ya," jawab Papa. Neva mendongak untuk menatap papanya. Dia diam beberapa saat kemudian maju untuk lebih dekat dan langsung memeluk papanya.
"Pa, ada seseorang yang ingin berkenalan dengan mu," ucap Neva. "Emm, bukan. Ada seseorang yang ingin ku kenalkan padamu," sambung Neva segera.
Tangan Tuan Nugraha mengusap rambut putrinya dengan perhatian, "Siapa?" Tanya Beliau berpura-pura tidak tahu. Nyonya Nugraha sudah memberi tahu padanya semua yang terjadi pada Neva dan Vano, bahkan tentang penolakan Leo dulu.
"Dia, laki-laki yang berhasil mengisi hati ku," jawab Neva rendah masih dalam pelukan papanya.
"Putri Papa sudah memiliki kekasih, itu artinya sebentar lagi kau akan meninggalkan rumah ini," tutur Papa penuh dengan kelembutan dalam suaranya. Tangannya masih mengusap rambut putrinya pelan.
__ADS_1
"Hmm, kenapa papa sudah memikirkan hal itu," Neva cemberut mendengar itu. Dia belum membayangkan itu dalam waktu 'Sebentar lagi' dalam pemikiran papanya. "Aku masih putri kecil yang manja," lanjut Neva.
Papa terkekeh. Kemudian melepaskan pelukannya. "Ayo temui dia," ujar Papa.
"Janji tidak akan menolaknya," ucap Neva dengan masih melingkarkan tangannya di pinggang papanya. Dia takut jika, Papanya menolak Vano.
"Tergantung," Jawab Papa dengan senyum lebar.
"Tergantung apa? Tidak ada tergantung, papa tidak boleh menolaknya," Neva menggoyangkan lengan papanya. Papa terkekeh dengan ini. "Dia laki-laki yang baik, dia dewasa, dia mapan, dia tampan. Kurang apa coba?" Neva mempromosikan Vano pada Papanya.
"Oh ya?" Tanya Papa berpura-pura tidak tahu siapa kekasih putrinya.
Neva mengangguk, "Pa, dia adalah Tuan muda Mahaeswara," tutur Neva rendah. Entah kenapa, ketika bibirnya melafalkan nama itu, jantungnya berdegup dengan indah.
"Waahh, putri Papa pintar mencari pasangan," ujar Papa memuji Neva dengan tawa ringan. "Pewaris tunggal Mahaeswara," lanjut Papa dengan bercanda.
Neva tertawa kecil mendengar papanya. "Papa matre," ledeknya. Kemudian, mereka berdua tertawa. Tentu tentang kekuatan dan materi adalah nomor kedua dalam memilih pasangan untuk Neva. Karena, kekuasaan dan materi yang dimiliki keluarga Nugraha tidak akan pernah kurang. Jadi, apa yang Papa lihat dalam memilih calon menantu untuk putrinya? Akhlak.
"Bukan papa yang matre tapi kamu. Kamu sendiri yang memilih dia. Pewaris tunggal Mahaeswara," goda Papa lagi.
"Aku tidak memikirkan itu, Papa yang memikirkannya," balas Neva.
"Kau wanita, tentu saja harus cari laki-laki yang mapan," jawab Papa dengan senyum lebar.
"Hmm, jadi Papa tidak akan menolaknya bukan?" Tanya Neva memastikan jika papanya tidak akan menolak Vano. Dia pasti akan patah hati jika sampai papanya tidak merestui.
___
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih semuanya Sahabat Sebenarnya Cinta π
Jangan lupa like koment vote ya kawan. Aku padamu. Luv luv... π₯°ππππ
__ADS_1