Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 213_Makan Bersama 3


__ADS_3

"Karel, siapa yang kau tunjuk selanjutnya," tanya Vano.


"Nona ini....," jawab Karel menunjuk Alea. Alea langsung menoleh ke arah Karel. Dia tidak menyangka jika urutan ketiga adalah dia. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya pada Leo. Menatap wajah rupawan itu dengan debaran jantungnya yang menderu.


"Hmm, aku...," suaranya menjadi bergetar karena degupan di jantungnya.


Awalnya Yuna masih tertawa kecil tetapi kemudian dia menarik tawanya. Tiba-tiba, dia mengingat adegan malam itu, ketika Leo baru saja kembali, ketika mata Leo menatapnya dan mengucapkan kata cinta padanya. Leo menoleh kearahnya Yuna, menyadari genggaman tangan Yuna pada tangannya yang begitu erat. Ekspresi wajah Yuna yang sedih dan memikirkan sesuatu. Tangannya membalas genggaman tangan Yuna. Sementara tangan yang satunya menyentuh pipinya.


"Tuan muda Lee... aku__"


"Hahaaa... tidak-tidak," potong Karel. "Mohon maaf Nona," ucapnya pada Alea dan menguncupkan kedua tangannya. Karel menatap Yuna dan tersenyum tipis tanpa makna. "Wajah Tuan muda Leo terlalu mudah untuk membuat seseorang baper," lanjutnya. Dia menjadi merasa bersalah dengan Yuna. Meskipun teman, tentu saja Yuna tidak suka jika suaminya dirayu oleh wanita lain. Alea mengangguk.


"Bettul, cewek-cewek dilarang merayunya," sahut Vano. Dia cukup tahu ekspresi Yuna. "Giliran, kamu saja," ujar Vano menunjuk Dion.


"Yuhuuu, dengan senang hati," jawab Dion dengan semangat. Sementara Alea mengalihkan pandangannya ke bawah, dia menunduk. Dia menjadi sangat iri dengan Yuna. Yuna... wanita yang sangat beruntung. Sepertinya bukan hanya Leo yang begitu mencintainya tetapi juga si Artis, Asisten, Supir dan mungkin juga Vano, batin Alea.


Asisten Dion segera berdiri dengan semangat.


"Dion," suara Leo mencekam. Dia memanggil Dion tanpa menoleh ke arahnya. Dia masih memperhatikan Yuna. Asisten Dion menjadi mendelik, dia melihat ke arah Vano dan Vano memberinya isyarat untuk kembali duduk dan diam. Asisten Dion segera kembali duduk.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Leo menarik Yuna dan memeluknya. Namun, Yuna mendorongnya dengan halus dan tersenyum padanya.


"Tidak apa-apa," jawabnya. Dan kemudian menoleh ke arah semuanya. "Hhaaa maaf, aku mengacaukan suasana," ucap Yuna dengan senyum.


"Aku yang minta maaf," sahut Karel. Dia menatap Yuna dengan perasaan yang sangat bersalah. Awalnya, dia hanya asal menunjuk, karena nona disampingnya seolah antusias dan sangat menginginkan kesempatan untuk melakukan gombalan receh tapi siapa sangka jika wajah Yuna langsung berubah.


"Tidak Kak Er," jawab Yuna. Vano memperhatikan Alea yang sedikit menunduk lalu memperhatikan Yuna yang cemas. Apa ada sesuatu? Batinnya.


"Hai, kau... yang besok wisuda," seru Vano dan menoleh ke arah Neva. Dia mencoba membawa suasana agar kembali santai dan tidak tegang.


"Yess," jawab Neva. Dia sama seperti Vano. Dia cukup tahu bagaimana Kakaknya. "Apa kau siap jika aku meminta hadiah?" lanjut Neva dengan menatap Vano.


"Siap...." jawab Vano.


"Waah, Nona Neva besok wisuda. Selamat," ujar Karel. Neva mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya. "Aku juga ingin memberi hadiah untuk nona Neva," lanjut Karel.


"Kak Er, kau belum memberi ku hadiah dan kau berencana untuk memberinya hadiah?" Sahut Yuna, dia mulai membawa suasana lagi.


"Hhaaa, tenang saja. Aku sudah menyiapkannya untuk mu," jawab Karel. "Hadiahnya sangat besar dan ada di dalam mobil," lanjutnya.


"Okey," jawab Yuna. Dia mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Leo di bawah meja tapi Leo menahannya. Hatinya Yuna tiba-tiba terasa sangat sakit mengingat tatapan mata dan ucapan cinta malam itu. Dia juga ingat, pagi hari di meja makan ketika Leo keluar dari dapur dan Alea membuntutinya dari belakang. Mereka berdua habis dari dapur bersama. Yuna menghela nafasnya panjang.


Yuna segera mengangkat tangan sebelahnya dan meminta pelayanan untuk segera menyiapkan makan malam.


"Rencana malam ini adalah... aku harus segera tidur agar tidak memiliki mata panda esok hari," ucap Neva, "Besok aku harus tampil cantik bukan di acara wisuda ku?" lanjutnya.

__ADS_1


"Nona selalu cantik," jawab Karel memuji.


"Hei kau...." Vano langsung menyahutnya. Dia menatap Karel dengan tajam. "Siapa kau berani memujinya," ucapnya dengan gaya bicara dingin ala Leo. Karel menutup mulutnya. Neva mengerutkan alisnya dan menatap Vano. Vano menoleh dan membalas tatapan mata Neva padanya. "Sayang, hanya aku yang boleh memuji mu," ucap Vano dan masih dengan gaya bicara Leo.


"Pufffhh," Neva menahan tawanya.


"Uuhhh, sayang. Kau manis sekali," jawab Neva dengan menirukan gaya bicara Yuna. Dan Yuna langsung tertawa dan itu. Dan semuanya menjadi ikut tertawa dengan lega. Betapa Yuna dicintai banyak orang.


Leo mulai tidak nyaman, dia mulai tidak suka dengan acara ini. Tapi dia tetap bertahan untuk duduk karena Yuna menginginkan makan malam bersama ini.


"Leo, berapa nilai yang kau berikan pada kami?" Tanya Vano.


"Tidak ada, kau sangat buruk," jawab Leo tanpa menoleh ke arahnya. Dia masih memperhatikan Yuna. Yuna yang tidak menatapnya. Namun kemudian Yuna menoleh ke arahnya. Menatap matanya dan mengusap wajahnya.


"Tuan suami," Panggilannya mesra.


"Hmm," jawab Leo. Matanya dipenuhi kesejukan ketika Yuna membalas tatapan matanya.


"Cinta ku pada mu itu... ibarat garam di laut," ucap Yuna. Leo mengerutkan alisnya dengan senyum tertahan. Dia tahu Yuna akan menggombal. "Tidak terlihat tetapi selalu ada selamanya," lanjutnya. Dan Leo langsung tersenyum lebar.


"Cuit, cuit," Dion bersiul kencang dan di iringi tepuk tangan dari semuanya.


"Tuan tampan," panggil Yuna lagi. Leo menatapnya penuh kasih.


"Kau tahu kenapa donat itu bolong?" Tanyanya. Leo menggeleng dengan senyum tertahan.


"Nggak tahu...." Karel, Dian dan Albar yang menjawab dengan serempak. Yuna tertawa kecil mendengar mereka menjawab dan kemudian meneruskan ucapannya.


"Karena yang penuh itu perasaan ku untuk mu," lanjut Yuna dengan wajah merah. Dia langsung membenamkan wajahnya di pelukan Leo. Leo mendekapnya, mengusap punggungnya dengan lembut.


"Suit, suit...," Dion kembali bersiul dan disusul tepuk tangan dari semuanya.


"Yuna romantis banget," ucap Alea dengan tepuk tangan.


Masih dalam pelukan Leo, Yuna menoleh ke arah semuanya. "Jomblo, jomblo, jomblo, jomblo," Dia menunjuk satu persatu yang berada disitu dengan senyum. "Kasiiiaann...," ucapnya dengan bercanda.


"Sial," umpat Karel dengan tawa. Umpatan yang juga di ucapkan Dion dan Albar dalam hati.


"Aahh, aku jadi pengen di gombalin nih," Vano menyahut sambil melirik Neva. Mendapat lirikan maut, Neva segera mengambil nafasnya.


"Kak Vano," panggil Neva dengan menghadap ke arah Vano.


"Ya," jawab Vano.


"Kakak tahu nggak, persamaan kakak ama Pare?"

__ADS_1


"Nggak tahu," jawab Vano dengan menggeleng imut seperti anak kecil. "Apa?" tanyanya.


"Sama-sama pahit," jawab Neva yang langsung membuat tawa kembali pecah.


"Astaga kau...." Vano menepuk keningnya pelan tanda jika dia kecewa dengan jawaban Neva.


Makanan telah siap. Mereka semua makan dengan tenang. Albar dan Dion menjadi sangat grogi karena melihat bagaimana cara makan orang-orang kaya yang begitu anggun dan teratur.


"Bro, aku akan membungkus ini," Dion berbisik pada Albar. Albar mengangguk. "Ini sangat lezat dan aku ingin memakannya dengan sangat rakus tapi si Boss begitu lembut. Ya ampun, itu tidak menikmati makan sama sekali," lanjutnya.


"Kau harus belajar mulai sekarang, barang kali kau berjodoh dengan putri konglomerat," jawab Albar berbisik juga. Karel menyenggolnya.


"Sttt, kalian berdua tidak sopan. Jangan berbisik," tegur Karel. Dan mereka berdua mulai diam.


Hening hingga acara makan malam selesai.


Tiba-tiba, ponsel Neva berdering. Panggilan Vidio dari Raizel. Neva ingin memencet tombol merah tetapi jari telunjuk Lula lebih dulu menggeser tombol hijau. Neva menatap Lula dan ingin menghajarnya.


"Neva, kau dimana?" tanya Raizel di sebrang sana. Leo langsung menoleh ke arah Neva. Begitu juga dengan Vano.


"Aku...," Neva mengarahkan kameranya pada Kakaknya lalu Yuna, Alea, Karel, Dion, Karel, Lula, dan yang terakhir Vano.


"Hai, kau bersama Tuan muda Vano?" Raizel gusar melihat Neva dengan Vano. Dia merasa sangat tidak suka dengan Tuan muda itu. "Aku kesana, bagi lokasi mu," lanjut Raizel.


"Ngapain? Kita mau udahan," jawab Neva.


"Raizel, kita ada di Restoran lokal Daizy segeralah kesini," Lula langsung menyahut. Dia ingin bertemu Raizel. Neva meninjunya dengan keras. "Nona please," Lula menatap Neva dengan memohon.


"Okey, kemarilah," ucap Neva pada Raizel. Lalu panggilan berakhir. Lula tersenyum puas dan mengucapkan terima kasih pada Neva. Paling tidak, dia bisa berfoto dengan Raizel.


"Raizel mau bergabung?" Tanya Yuna yang di jawab anggukan oleh Neva. "Hahaaa sepertinya makin seru nih," lanjut Yuna. Dia melirik ke arah Vano. Kemudian, melihat ke arah Leo.


"Kakak, mana yang akan kau pilih menjadi adik ipar?" Tanya Yuna pada Leo. Neva dan Vano langsung menoleh ke arah Leo.


____


Catatan Penulis ( Curhatan πŸ₯° )


Udah Up telat, dikit lagi... πŸ˜†πŸ˜†βœŒοΈβœŒοΈ


Thor ngeselin ih.


Maap yaaa.... ✌️


Like, koment....😘 tengkyu.

__ADS_1


__ADS_2