
Vano dengan pelan melangkah dan berdiri di belakang Neva dan Yuna.
"Hai...," sapanya ramah, membuat Neva dan Yuna menoleh bersamaan.
"Tuan muda Vano...," Neva menjawabnya dengan ramah. Yuna hanya tersenyum tipis dan segera berpaling dari pandangannya.
"Anak kecil, ini ada hadiah dari Mama," Vano menyerahkan bingkisan dari Mamanya pada Neva.
"Terima kasih, Paman."
"Hei, kenapa kau masih memanggil ku Paman?" Vano memprotesnya.
"Kau masih menyebut ku anak kecil," jawab Neva memberi alasan.
"Itu karena kau memang anak kecil, kecil, kecil banget...,"
"Kau paman tua, tua banget dan masih jomblo. Weeek...,"
"Siall... kau berani meledek ku?"
"Hhaahaa... kenapa tidak, paman tua jomblo...," Neva menjawab dan segera kabur. "Aku akan berterima kasih pada Tante. Kak Yuna... aku tinggal sebentar," Neva segera melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Yuna memejamkan matanya sebentar karena kepergian Neva. Dia meninggalkan meja utama karena menghindari Vano, tapi sekarang malah begitu dekat.
"Hai... kawan," Vano menyapa Yuna dengan bersahabat dan duduk di sebelahnya. Yuna sedikit menoleh ke arahnya. "Bagaimana kabar mu?"
"Kabarku baik, Vano," jawab Yuna pelan, suaranya sedikit tercekat.
"Apa kau ganti sim card? Kenapa nomor mu tidak bisa di hubungi?" tanya Vano. Yuna menjawab dengan anggukan. "Karena kau menghindari ku?"
"Bukan Vano... hanya saja, nomor itu sudah tersebar dan banyak penipu yang sering menelfon. Jadi, aku menggantinya saja," jawab Yuna memberi alasan, dia tidak mungkin bilang iya. Meskipun memang alasan sebenarnya adalah memang menghindarinya.
"Apa kau sungguh baik-baik saja Yuna?" suara Vano berubah ketika menanyakan ini. Dia menatap Yuna dari samping.
"Apa kau tidak punya pertanyaan lain Vano? Berapa kali kau mengulangi pertanyaan itu?"
"Karena aku sangat menghawatirkan mu Yuna," jawab Vano dengan tulus.
Yuna diam dan mengambil nafasnya dalam, dia merasakan sesak pada dadanya.
"Yuna.. malam itu, kau terlihat sangat sedih, dia menyakiti mu bukan? Pagi itu, kau datang ke kantor ku dengan wajah yang sembab, dia menyakiti mu bukan? Lalu setelah itu, kau menghilang. Kau tidak bisa dihubungi."
"Vano...," Yuna menoleh kearahnya, menyebut namanya dengan samar. Mereka saling berpandangan.
__ADS_1
Leo menyaksikan itu dari tempat duduknya. Hatinya sangat sakit, mata mereka saling menatap, mata mereka saling menyapa.
"Vano, tolong jangan bahas apapun. Ku mohon," Yuna berucap dengan pandangan yang sangat gelisah. Dia kemudian berpaling dan menunduk.
"Maaf, Yuna," Vano menjawab pelan dan juga menunduk. Beberapa menit mereka saling diam, menyimpan sesuatu dalam kalbu. Sungguh memang bahasa kalbu adalah bahasa yang paling susah untuk di mengerti dan di pahami.
Vano tahu, Yuna adalah wanita yang telah termiliki, namun dia tidak bisa menghentikan perasaannya untuk tidak mencintainya, dia menyakiti perasaannya sendiri.
Yuna sangat menghargai Vano. Dia tidak ingin sahabatnya ini terluka karena dirinya. Semakin Vano mencintainya, maka dia semakin merasa bersalah. Semakin Vano memikirkannya, maka dia semakin merasa berdosa. Dia ingin hubungannya dengan Vano murni hanya sebatas teman, namun... ternyata itu sungguh sulit. Vano bahkan sudah terang-terangan tentang perasaannya. Dan Leo, sudah memintanya untuk tidak saling bertemu, tentu dia akan melakukan itu, ia akan menjaga hatinya untuk Leo.
"Hmm, Yuna... apa kau tahu, apa slogan para karyawan sekarang?" Vano mencoba membawa suasana lebih santai, agar Yuna tidak menjadi diam padanya.
"Apa?"
"Selamat siang Direktur, Nona Yuna mana?" Vano mencubit lehernya agar menghasilkan suara yang kemayu. Dia menirukan suara resepsionis kepo.
"Serius? Yang benar saja!!"
"Huum, suer," Vano mengangguk dan mengacungkan dua jarinya. Yuna mulai mengangkat wajahnya kembali dan memperlihatkan senyumnya.
"Mereka sangat bersemangat dan lucu, kau harus memberi mereka bonus Tuan muda."
"Sudah pasti. Aku bukan Boss yang pelit. Bahkan jika ada salah satu dari mereka yang bisa merayu mu hingga pingsan, aku akan memberinya hadiah satu rumah mewah." ucap Vano dengan bercanda.
"Wah, wah... sepertinya tidak akan ada yang bisa, karena kau adalah masternya, kau sangat pandai merayu. Apa kau ingat di restoran waktu itu? Pelayan cantik itu sungguh hampir pingsan karena rayuan mu," Yuna mulai tertawa dan membuat suasana tidak canggung.
Leo menyaksikannya dengan mata yang tajam dan hati yang tersakiti. Yuna terlihat sangat bahagia, Yuna terlihat sangat menikmati obrolannya. Dia tertawa dengan lepas, dia tertawa dengan bahagia. Mereka sangat akrab, Vano sangat pandai membuat Yuna tertawa dengan cerita lucunya. Leo menderita menyaksikan itu. Dia mengingat bahwa Yuna tidak pernah tertawa lepas seperti itu ketika bersama dirinya. Bagaimana jika Vano sungguh mampu mengambil Yuna darinya?
"Papa, Paman, Kak Dimas. Mohon maaf saya pamit dulu. Selamat malam," Leo tidak bisa lagi melanjutkan obrolan bisnis mereka. Dia segera meninggalkan meja itu dengan perasaan sesak di dadanya. Dia melangkah menghampiri dua insan yang sedang bercerita di pinggir kolam renang.
"Sayang...," panggilannya tenang. Yuna segera menoleh dan langsung berdiri.
"Sayang... aku...," Yuna memegang lengan Leo dengan cemas. Dia baru saja mengobrol dengan Vano, ia takut Leo salah faham padanya.
"Sudah malam, kita harus pulang," ucap Leo menatap Yuna penuh kasih namun tersakiti.
"Baik," Yuna mengangguk. Leo hanya menatapnya, dia tidak memperhatikan Vano sama sekali.
"Tuan muda Vano, kita permisi," Yuna sedikit membungkukkan badannya pada Vano dan pamit dengan sopan.
Kemudian, mereka meninggalkan restoran itu. Leo menyetir mobilnya dengan tenang. Yuna terus menatap wajahnya dari samping. Wajah Leo tidak terlihat marah tapi dia diam.
"Sayang...," Yuna memanggilnya pelan. Ekspresi Leo kali ini, tidak bisa dia tebak, ekspresinya sangat rumit.
__ADS_1
"Iya," Leo menjawabnya. Tangan Yuna mengulur dan menyentuh pundaknya.
"Apa kau sedang marah?" tanya Yuna hati-hati.
Leo menggeleng pelan. "Tidak."
"Tapi kenapa kau diam?"
"Kapan aku diam? Aku masih menjawab mu."
Yuna menarik nafasnya dan menarik tangannya dari pundak Leo. Dia tidak tahu harus berucap apa lagi, Leo mungkin marah karena dia ngobrol dengan Vano.
Lima belas menit kemudian, mereka telah sampai di rumah. Leo segera membersihkan dirinya dan segera menghilang di dalam ruang belajar. Yuna sudah selesai mandi dan dia menunggu Leo hingga hampir satu jam tapi Leo tak juga keluar dari ruang belajarnya. Hingga akhirnya dia melangkah dan mengetuk ruang belajar dan segera masuk. Dia menemukan Leo tengah sibuk dengan laptopnya.
Pelan, Yuna melangkah kearahnya dan meraih tangan Leo dari kesibukan dengan laptop miliknya. Ia memposisikan dirinya tepat didepan Leo, dia dengan sengaja menghalangi laptop yang membuat Leo sibuk.
"Sayang...," Yuna memanggilnya dengan manja. Tangannya melingkar di leher Leo. "Kenapa kau masih sibuk disini?"
"Ada yang harus ku kerjakan," jawab Leo. "Kau belum tidur?" tanyanya dan memeluk pinggang Yuna.
"Bagaimana aku bisa tidur jika kau masih sibuk disini?" Yuna menjawab dengan sedih.
Leo sedikit menggeser tempat duduknya untuk mematikan laptop, menyimpan semua dokumen yang dia butuhkan untuk menyerang seseorang yang berani menyentuh miliknya. Dia kemudian membawa Yuna kembali ke kamar, ia memeluknya dengan hangat.
"Yuna..,"
"Hmm."
"Apa kau bahagia bersama ku?"
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu? Kenapa kau memiliki pertanyaan yang aneh?"
"Aku hanya ingin bertanya, jadi apa jawaban mu?" Leo mengulangi pertanyaannya.
"Sayang, apa pertanyaan mu ini menyangkut aku yang bertemu dan ngobrol dengan Vano? Apa itu yang membuat mu sibuk di ruang belajar?" Leo menatap mata Yuna, namun tidak mengatakan apa-apa. "Apa kau ragu pada ku?"
"Tidak. Aku hanya merasa, aku tidak mampu membuat mu bahagia bersama ku. Aku melihat mu terus tertawa bersama dia, dan aku tidak pernah bisa membuat mu tertawa seperti itu ketika bersama ku. Aku sangat cemburu pada Vano yang bisa membuat mu tertawa lepas dan merasa sangat bahagia," Leo menjawab dengan jujur. Ia sangat takut kehilangan Yuna, rasa takutnya mungkin melebihi besarnya gunung Himalaya.
Jawaban Leo membuat Yuna merasa bersalah. Dia langsung memeluk Leo.
"Sayang... kau tidak perlu merasa seperti itu. Tertawa bukan berarti sangat bahagia, terkadang ada satu tawa hanya untuk menutupi kegelisahan. Atau itu hanya sekedar lucu dan tidak ada artinya apa-apa. Bersama mu adalah kebahagiaan ku," Yuna mengusap rambut Leo dengan penuh kasih.
Mengganti kekhawatiran dalam hati Leo dengan sebuah cinta yang melebihi apapun.
__ADS_1
Sungguh Yuna tidak berpikir kenapa Leo sampai memiliki pemikiran seperti itu. Kenapa dia merasa rendah diri hanya karena melihat sebuah tawa.
***@***