
Leo dan Yuna tengah menyaksikan televisi di ruang tengah ketika mobil Vano berhenti di depan gerbang rumah mereka. Terlihat Neva memencet sandi dan mempersilahkan mobil Vano masuk ke halaman rumah Kakaknya. Leo dan Yuna saling berpandangan.
Yuna menatap kedalam mata Leo, mencoba menenangkan hatinya. Ia meletakkan toples kopi sangrai diatas meja. Kemudian, ia mendekatkan diri pada Leo. Ia mengecup bibir Leo lembut.
"Sayang... kau percaya padaku bukan?" tanyanya. Ia masih saja khawatir jika Leo menganggap bahwa pertemuannya dengan Vano akan menjadi sesuatu yang istimewa bagi dia dan Vano.
Leo mengangguk, "Ganti baju mu," pintanya yang di jawab anggukan oleh Yuna. Yuna memang selalu memakai baju seksi jika mereka tengah berdua.
"Sayang," Yuna menggenggam tangan Leo dengan erat namun lembut, "Kau juga percaya pada dia bukan?" tanyanya pelan dan hati-hati. Ia takut Leo akan langsung kehilangan mood manisnya.
"Kau terlalu banyak berfikir Nyonya," jawab Leo. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Yuna pelan. "Segera ganti baju mu," lanjutnya. Yuna mengangguk, kemudian ia beranjak dan melangkah.
"Yuna...," panggil Leo menghentikan langkahnya.
Yuna membalik badan dan menatap Leo. "Ya," katanya. Leo berdiri dari duduknya dan berjalan menujunya. Ia berdiri di depan Yuna dan menunduk untuk mencium kening istrinya.
"Aku mencintaimu sayang," ucapnya. Ia menatap Yuna dengan kasih yang begitu tulus. Sejujurnya setiap melihat Vano, ia menjadi ingat kejadian malam itu, ketika tangan mereka saling menggenggam, ketika pipi yang sering dia cium disentuh oleh Vano, dan ketika Yuna memeluk Vano untuk menghalau pukulan yang akan ia layangkan.
Tangan Yuna mengulur dan meraih tangan Leo. Dia meletakkan telapak tangan Leo pada dadanya.
"Sayang, pahamilah bahwa jantung ini berdegup hanya untuk mu, bahwa debaran ini adalah milikmu, bahwa detakan ini hanya karena mu." ucapnya. Leo merengkuh Yuna dalam pelukannya. "Aku minta maaf atas segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Maaf karena aku pernah begitu dekat dengannya," ucap Yuna.
Hanya ingin menemui satu orang saja, mereka sangat dramatis. Ini karena Tuan suami mempunyai rasa cemburu tingkat tinggi, ini karena Tuan suami memiliki rasa khawatir yang berlebihan, ini karena Tuan suami mempunyai kecemasan yang akut dan ini karena cinta dalam hatinya begitu besar untuk wanita dalam pelukannya.
__Disana.
"Kak Vano yakin mau menemui Kakak ku?" tanya Neva.
Vano mengangguk dan menoleh ke belakang, "Iya, kenapa tidak," jawabnya.
"Kakak juga pasti akan bertemu Kak Yuna,"
"Kenapa? Apa kau cemburu?"
"Hahaa yang benar saja." ucap Neva kemudian membuka pintu mobil dan langsung disusul Vano.
Neva mengetuk pintu pelan, ia tidak memencet bel karena dia tahu jika kedatangannya pasti sudah terlihat dari dalam.
Pelan, pintu itu terbuka dan memperlihatkan seseorang dibalik pintu. Ia menatap sekilas pada Vano dan langsung mengalihkan pandangannya pada Neva.
__ADS_1
"Kak Lee...," ucapnya dengan memamerkan senyum manis. Sejujurnya, dia takut membawa Vano pulang dan bertemu Kakaknya.
"Selamat malam Leo...," sapa Vano bersahabat. Dia sedikit membungkukkan badannya untuk Leo. Leo mengangguk sebagai tanggapan tanpa melihat wajahnya dan mempersilahkan mereka masuk.
Ternyata... dia masih belum mampu menghilangkan rasa cemburunya pada Vano. Ternyata... dia masih belum mampu untuk menghapus semua yang telah terjadi di masa lalu. Namun dia harus bisa mengatasi ini, untuk adiknya.
Melihat Leo yang tanpa ekspresi ketika membuka pintu, membuat Neva semakin gelisah. Bagaimana jika Kakaknya kembali marah padanya. Dia melirik Leo yang duduk didepannya.
"Kak Lee dimana Kak Yuna?" tanya Neva memulai untuk mengurangi rasa gelisahnnya.
"Ada di dalam," jawab Leo. Tak lama setelahnya, Yuna keluar dengan membawa nampan berisi teh hijau di tangannya, melihat itu, Neva segera berdiri bermaksud untuk membantunya namun tangan Leo lebih dulu mengambil nampan itu dari Yuna dan meletakkannya di atas meja.
"Kak Yuna...," Neva langsung menghamburkan pelukannya. "Hai Baby Lee," lanjutnya. Tangannya mengusap perut Yuna pelan dan lembut. Sudut bibir Vano otomatis terangkat mendengar itu.
"Selamat Yuna," ucap Vano. Dia menatap Yuna dengan senyum. "Dan selamat Tuan muda Leo," kini Vano mengalihkan pandangannya pada Leo. Seperti biasa, Tuan muda itu hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Terima kasih Vano," Yuna yang menjawab. Kemudian, dia duduk di samping Leo dan Neva kembali duduk di samping Vano.
Tangan Leo meraih tangan Yuna dan menggenggamnya di bawah meja. Hening... lima menit terasa begitu sangat lama. Neva memperhatikan Leo, Yuna dan Melirik Vano.
"Uhum...," Yuna sedikit terbatuk dan Leo langsung menoleh ke arahnya. "Silahkan di minum Vano," ucapnya bersahabat untuk mengatasi situasi canggung nun beku ini.
"Oh, iya terima kasih Yuna," jawab Vano dan kemudian menyesap teh hangat di cangkirnya.
Neva segera mengambil cangkirnya kemudian menyesap tehnya.
"Hmmm, benar-benar pass," ucapnya dengan mengacungkan jempol untuk Yuna setelah dia menikmati beberapa teguk teh buatan Yuna. "Sepertinya sebentar lagi Kak Lee akan melupakan teh buatan Mama," lanjut Neva dengan senyum. Begitu kaku, begitu canggung dan begitu tegang. Ini karena Kakaknya terlalu kaku dan tidak mudah bergaul dengan seseorang, apa lagi ditambah tentang Vano yang pernah dekat dengan wanitanya. Neva tahu Leo sangat tidak nyaman dengan pertemuan ini namun dia mencoba menerimanya.
"Tuan muda Leo, bagaimana kabarmu?" tanya Vano canggung. Pertanyaan yang terlalu formal. Mendapat pertanyaan dari Vano, Leo sedikit menoleh ke arahnya.
"Baik," jawabnya singkat. Selesai dan kembali hening. Jika Yuna dan Neva tidak bisa mencairkan suasana, apalagi Leo. Yuna dan Neva saling lirik... waktu detik perdetik terlalui begitu lama.
"Emmm, Silahkan di minum Vano," ucap Yuna. Kemudian, ia memejamkan matanya rapat. Ia sudah mengulangi ucapan itu hingga lima kali, dan lima kali itu pula Vano menyesap teh nya. Ini adalah ucapan yang sama untuk yang keenam kalinya.
"Tapi teh ku sudah habis Yuna," jawab Vano memperlihatkan cangkirnya yang kosong.
"Pfffffhhh," seketika Yuna dan Neva tertawa kecil.
Kemudian, Yuna berdiri, bermaksud untuk menuangkan teh untuk Vano. Tangan Leo menggenggam tangannya lebih erat tapi kemudian melepaskannya dan membiarkan Yuna menuangkan teh untuk Vano.
__ADS_1
"Kak Yuna biar aku saja," Neva memegang tangan Yuna yang berada tepat di atas teko. Yuna mengangguk dan kembali duduk.
"Silahkan Kak Vano," ucap Neva setelah selesai menuangkan teh di cangkir Vano.
Vano mengangguk dengan senyum. 'Aku kembung' batinnya. Yuna melirik Vano yang juga terlihat canggung. Kemudian, ia kembali masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa cake dan buah-buahan. Leo dengan cepat menerimanya dan meletakkannya di atas meja.
Cake imut berbentuk Spongebob.
"Kau masih suka Spongebob?" tanya Vano setelah memperhatikan cake imut diatas meja. Leo langsung membawa pandangannya untuk menatap Vano. Pandangan mata terkejut, menyelidik dan cemburu. Laki-laki ini bahkan tahu kartun kesukaan Yuna.
"Tentu saja, dia masih sangat lucu," jawab Yuna setelah kembali duduk di samping Leo.
Vano mengangguk. "Spongebob Squarepants...," Vano menirukan suara Spongebob.
"Patrick star si bodoh...," ucap Yuna.
"Aku mungkin bodoh, tapi aku tidak dungu," Vano menyahutnya dengan menirukan salah satu ucapan Patrick. Yuna menjadi tersenyum lebar. "Tahukah kamu apa yang lebih lucu lagi dua puluh tiga?" Tanya Vano, ini adalah percakapan antara Patrick dan Spongebob. Yuna menaikkan alisnya pura-pura berfikir.
"Apa?" tanyanya kemudian.
"Dua puluh empat," jawab Vano dan mereka berdua saling tertawa.
"Patrick, jadi ini kerjaan mu?? duduk dan menonton Tv."
"Hey, kawan... ini tidak segampang yang kamu lihat. Kadang, aku kehilangan remote, kadang aku harus memperbaiki antena TV dan kadang pantatku sakit," pecah.... Yuna dan Vano menjadi tertawa terbahak-bahak karena menirukan percakapan Spongebob dan Patrick. Tapi... upss... mereka segera menghentikan tawa dan kembali diam.
"Neva... kenapa kau diam. Seharusnya kau bilang seperti ini...." Yuna bersiap memberikan contoh suara Squidward, "Diaaaam, kalian berdua mengganggu tidur ku," ucap Yuna bermaksud mengajak Neva untuk mencairkan suasana canggung ini.
"Tapi aku tidak suka Spongebob," jawab Neva segera.
Yuna mengangguk. "Oh, Okey." kembali hening.
Yuna memperhatikan Leo, entah kemana pandangannya, ia tidak menatap Vano, tidak juga menatap Neva, tidak juga menatap keluar, tidak juga menatap dirinya. Tangan Yuna mengulur dan menyentuh jemari Leo. Ia menggenggamnya. Tak ada penolakan tetapi Leo tidak membalasnya.
___
Catatan Penulis
Cover lama adalah milik Thor sendiri. Sunrise di jembatan cinta Pulau Tidung.
__ADS_1
Sedangkan Cover baru adalah Cover yang di berikan oleh pihak MangaToon.
Heheee sekian curhatannya...ππ π₯° Terima kasih kawan... muach π