Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 135_Dia Cantik


__ADS_3

Vano menyetir mobilnya dengan tenang. Neva duduk di bangku penumpang dan memainkan Hpnya.


"Kak Van...," dia memanggil Vano dan menatapnya dari kaca spion.


"Iya, adik kecil," Vano masih merasa lucu dan imut dengan panggilan Neva padanya.


"Beri aku nomor telepon mu," ucap Neva. Vano mengulurkan tangannya dan meminta ponsel Neva. Kemudian, mengetik nomor ponselnya dan menyimpannya.


"Terima kasih...," ucap Neva setelah menerima ponselnya kembali.


"Kau mau langsung pulang?"


"Iya, Mama pasti sudah menunggu. Sebenarnya hari ini ada janji dengan Mama," tepat setelah Neva menyelesaikan kalimatnya, ponsel miliknya menerima pesan dari sang Mama.


"Kak Van."


"Iya."


"Aku minta tolong boleh?"


"Apa?"


"Mama pesan beberapa perlengkapan melukis. Apa kakak bisa mengantar ku?"


"Iya, dimana kita bisa membelinya?"


Vano menyetujui dan kemudian mereka menuju tempat dimana Neva biasa membelikan untuk Mamanya.


"Tante melukis?" tanya Vano. Dia berdiri di samping Neva dan dengan sabar menemaninya memilih pesanan Nyonya Nugraha.


"Iya, hanya sekedar hobi saja, kata mama," jawab Neva.


Vano mengangguk. Kemudian, matanya melihat seseorang yang langsung membuatnya tersenyum, jantungnya masih saja berdegup cepat. Sungguh dia tidak bisa mengendalikannya. Tanpa bicara, kakinya melangkah begitu saja membawanya pada seseorang itu.


"Yuna...," dia memanggil dengan pelan. Seseorang itu menghentikan tangannya yang sedang memilih warna, ia segera menoleh.


"Vano...,"


"Hai... kau melukis?" tanyanya setelah memperhatikan keranjang Yuna.

__ADS_1


"Ini..., hanya iseng aja. Kau ngapain disini? Apa kau melukis juga?"


"Hahaa, tidak, aku tidak berbakat untuk itu. Aku menemani Neva."


"Neva?" Yuna segera mencari sosoknya dan dia langsung menemukan Neva yang sibuk memilih. Yuna kemudian memutar pandangannya dan menatap Vano tapi tidak mengatakan apa-apa.


"Kenapa?" tanya Vano membalas tatapan mata Yuna. Yuna menggeleng dan kemudian dia melangkah namun Vano menahannya.


"Yuna, beri aku nomor ponsel mu."


"Maaf Vano," Yuna menarik lengannya. Ia berjalan dan menghampiri Neva.


"Neva."


"Kak Yuna...," Neva langsung memeluknya. "Apa Kak Lee juga disini?"


"Tidak, aku sendirian. Kau,?" Yuna menjawab sekaligus bertanya.


"Aku dengan...," Neva menunjuk seseorang yang berdiri di belakang Yuna.


Yuna tidak menoleh, karena dia tahu itu adalah Vano. Awalnya dia pikir, Vano berbohong padanya namun ternyata memang benar, mereka kesini bersama.


"Karena kita bertemu di sini, bagaimana jika kita menikmati sore bersama di cafe sebelah? Aku yang traktir," ujar Neva dengan semangat.


"Aku yang traktir," Vano langsung menyahut Neva.


"Aha, ada Kakak tampan yang akan mentraktir kita. Bagiamana?"


"Terima kasih tawarannya, tapi maaf aku tidak bisa," jawab Yuna dengan mengusap pundak Neva pelan. "Tuan Mahaeswara, saya permisi," Yuna memberi salam pada Vano. "Neva, aku duluan ya...," ucapnya dan segera berjalan menjauh. Vano menatap punggung yang meninggalkannya dengan sedih, matanya terus memperhatikan Yuna yang sedang membayar belanjaannya, ia terus memperhatikan Yuna yang perlahan keluar dan memasuki mobil yang mengantarnya.


"Hei...," Neva menyenggol lengan Vano. "Dia cantik bukan?"


"Iya, dia sangat cantik," Vano menjawab tanpa melepas pandangannya pada Yuna yang bahkan sudah pergi dengan mobil.


"Hahaa... tentu saja. Kak Lee memang sangat pandai mencari istri, selain cantik dia juga baik dna sederhana," Neva melanjutkan. Vano tersenyum getir mendengar ucapan Neva dan membuatnya sadar bahwa Yuna memang wanita yang telah termiliki. Dia menghela nafasnya panjang.


"Neva."


"Hmm."

__ADS_1


"Ayo makan cake bersama di cafe sebelah."


"Siap. Oh iya, bagaimana jika Kakak mentraktirku ice cream juga?"


"Okey."


__Di kantor Leo.


Yuna membuka pintu setelah mengetuknya pelan. Leo segera berdiri dan melangkah menghampiri istrinya.


"Kau sudah mendapatkan apa yang kau butuhkan?" Leo memeluk pinggangnya.


"Hu'um," Yuna memperlihatkan tentengan di tangannya. Kemudian, Leo membawanya ke sofa.


"Aku membeli teh untuk mu. Teh ini sangat bagus untuk membuat badan mu tetap hangat." Yuna menaruh teh di atas meja.


Mendengar ucapan Yuna, Leo menatapnya nakal.


"Coba ulangi sayang?"


"Teh ini... sangat bagus untuk menghangatkan tubuh mu. Teh ini..." Yuna mengulangi dengan menekan kata 'teh ini.'


"Menghangatkan tubuh ku? Aah... aku lebih tahu yang paling bagus dari pada teh ini."


"Jangan coba-coba Big boss," Yuna menatapnya tajam dan galak.


"Apa yang coba-coba? Memangnya kau tahu apa yang ku maksud?" Leo bermain matanya menatap Yuna dengan menggoda.


"Kau tuan mesum, apa lagi di otak mu selain itu."


"Hahaa, karena kau sudah mengetahuinya, jadi... aku tidak ragu lagi untuk melakukannya," dan Leo langsung menyerbunya. Tanganya dengan cepat menyusup ke dalam baju Yuna, ia mencium Yuna tanpa ampun.


"Oh, Asisten Dion?" ucap Yuna kaget. Membuat Leo langsung berhenti dan duduk dengan benar, dia bersumpah akan menghukum orang satu ini yang mengacaukan moment indahnya, ia membenarkan dasinya dan menoleh pelan. Zonk.... Oo... Oo... tak ada siapapun. Dia langsung memutar pandangannya pada Yuna.


"Kau menipu ku?" Leo menatapnya dan ingin segera memangsanya. Yuna tertawa puas karena berhasil mengerjainya.


"Ummm..., kau harus segera pulang, jika kau menginginkannya sayang," ucapnya menggoda. Dia segera berdiri dan kabur. "Bye...," dia melambai dengan genit sebelum menutup pintu.


"Kau...," Leo tersenyum merona dan bahagia. "Uhuum...," dia segera berdiri dan kembali ke meja kerjanya, Ia lebih bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2