Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 198_Maafkan Aku Sayang


__ADS_3

**Suara sang malam dan siang seakan berlagu.


Dapat aku dengar rindu mu memanggil nama ku.


Saat aku tak lagi di sisi mu.


Ku tunggu kau di keabadian.


Aku tak pernah pergi selalu ada di hati mu.


Kau tak pernah jauh selalu ada di dalam hati ku


Sukma ku berteriak menegaskan ku cinta pada**


Lirik lagu soundtrack film romantis yang di adabtasi dari kisah seorang tokoh mengalun merdu dari siaran radio yang di putar di rumah bunga. Sesekali, Yuna menyahutnya. Sesekali juga Alea menyahutnya. Mereka berdua seperti duet saling bergantian.


"Lagu yang indah tetapi bikin sedih," ujar Alea setelah duduk di depan Yuna. Dia menulis kata cinta di kertas untuk sebuah pesanan bunga sore ini. "Yuna, apa kau ingin sesuatu?" Alea mengangkat wajahnya dan menatap Yuna.


"Tidak ada, jika aku menginginkan sesuatu, ada Albar di luar," jawab Yuna. "Eh...." Yuna menyentuh lengan Alea. "Apa kau sudah punya pacar?" Tanya Yuna. Alea membeku mendapat pertanyaan itu. Ini seperti pertanyaan, kapan nikah. "Emmm, maaf jika pertanyaan ku kurang sopan, Alea," ucap Yuna merasa bersalah setelah melihat perubahan di wajah Alea.


"Belum," jawab Alea pelan. "Aku pernah jatuh cinta, dulu," lanjut Alea. Dia menatap Yuna. "Saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jatuh cinta pada sahabat ku. Sifatnya sangat manis dan sangat baik, hingga membuat ku jatuh hati pada nya," Alea memulai kisah cintanya.


"Lalu?" Tanya Yuna ingin mendengar lebih banyak lagi.


"Lalu... emmm aku tidak berani mengutarakannya. Hingga kasus Papa mencuat dan membuat ku keluar dari sekolah itu karena malu," lanjut Alea menceritakan kisah cintanya. Yuna menatapnya dengan tenang.


"Apa akhirnya dia tahu perasaan mu?" tanya Yuna.


Alea menggeleng, "Tidak," jawabnya. Wajah Yuna langsung berubah menjadi sedih. Cinta terpendam dan tidak pernah berkesempatan untuk memberi tahu seseorang yang di sukai.


"Dia tidak pernah tahu perasaan ku hingga saat ini," lanjut Alea.


"Apa setelah sekian lama berpisah, kau pernah bertemu dengan dia lagi?" tanya Yuna. Dia turut sedih dengan kisah Alea.


"Iya, pernah. Di sore itu... aku begitu bahagia. Sangat bahagia," jawab Alea. Matanya menerawang mengingat kejadian sore itu, Vano yang tiba-tiba ada di depannya. Bagai mimpi tetapi dia sadar, dia tidak mungkin menyakiti hati putri dari Tuan besar Nugraha yang telah begitu banyak berjasa pada keluarganya.


"Lalu?" Yuna semakin penasaran. Alea tersenyum menatapnya dan kemudian menunduk.


"Dia sudah punya pacar," jawabnya.


"Hmmm," Yuna mengambil nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan lembut. "Aku sedih dengan kisah cinta mu Alea," ucap Yuna.


"Hahaa... itu sudah berlalu, Yuna. Aku tidak mengharapkannya lagi," jawab Alea dengan senyum.


Kemudian, ponsel Yuna berdering. Panggilan masuk dari Karel.


"Yuna," sapa Karel di sebrang sana.


"Ya Kak Er," jawab Yuna. Kemudian mereka ngobrol beberapa kata dan panggilan berakhir.


__Malam hari, di hari ini... langkah kaki itu menyusuri jalanan dengan langkah ringan. Tangannya masuk kedalam saku jaket hangatnya. Dia membeli sesuatu untuk wanita yang dia cintai.


Besok... dia akan kembali. Tentu dia tidak memberi kabar terlebih dahulu. Dia ingin tiba-tiba kembali dengan membawa semua rindu yang ada pada dirinya. Cuaca dingin membuat nafasnya mengeluarkan asap.


"Sayang, aku merindukan mu," gumamnya. Dan salju kembali turun. Dia berhenti dari langkahnya dan menengadahkan telapak tangannya untuk menangkap salju.


Sepanjang bola matanya melihat sebuah mobil yang melaju dengan tidak beraturan dan dengan kecepatan tinggi. Sepasang bola matanya melihat seseorang gadis dengan earphone di telinganya.


Dan... tangan Leo menangkap gadis itu, memeluknya dan melindunginya. Brakkkkk..... mobil itu banting stir dan menyerempet beberapa pengguna jalan, lalu menabrak papan iklan, mobil itu masih bergentayangan dan berakhir ketika mobil itu menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


Papan iklan itu roboh dan jatuh tepat dipunggung Leo. Dia masih mendekap gadis ini... seorang gadis remaja. Dengan sekuat tenaga, dia menyingkirkan papan iklan itu dari punggungnya.


"Are you okay?" Tanya Leo setelah melepaskan pelukannya. Dia menatap seorang remaja putri di depannya. Gadis ini kira-kira seumuran dengan Neva. Gadis ini membalas tatapan Leo padanya.


"Yes, I'm. Thanks, sir," jawabnya dengan suara yang gemetar, "What about you? Your ear is bleeding," lanjutnya. Matanya memperhatikan telinga Leo yang berdarah. Darah segar menetes dari telinganya.


"I'm okay," jawab Leo. Tangannya terangkat dan menyeka darah yang perlahan menetes ke pipinya. Gadis di depannya masih terlihat sangat shock. Leo sedikit berteriak memanggil bantuan medis yang sibuk mengurus para korban kecelakaan malam ini.


Kemudian, gadis itu di bawa tim medis. Sementara Leo kembali berdiri. Dia membawa langkahnya untuk menuju mobil miliknya. Telinganya terasa sangat sakit perih dan bahkan tangannya juga. Dia mengangkat tangannya dan memperhatikan jari-jarinya yang sudah penuh dengan darah. Tak lama, pandangannya kabur, dia seperti tidak memiliki tenaga lagi dan bruk.... dia terjatuh dengan telungkup di jalan. Gelap.


Kemudian disusul dengan suara sirine yang bersahutan.


___Di rumah Mama


Setelah menyelesaikannya sarapannya. Neva pamit pada Mama. Dia melangkah untuk masuk kedalam mobil tapi security segera menghampirinya.


"Maaf, Non Neva," ucap security dengan sopan.


"Ya," jawab Neva. Dia menoleh pada security yang berdiri di sampingnya.


"Ini, Non...." security mengulurkan tangannya dan memberikan sesuatu pada Neva. Sebuah ponsel, Neva mengerutkan keningnya tak mengerti. "Ponsel Den Raizel terjatuh semalam," ucap Security menjelaskan.


Neva menerimanya. "Terima kasih Pak," ucapnya. Kemudian, dia bergegas masuk ke dalam mobil.


"Ponselnya terjatuh? Itu artinya aku harus bertemu dengan dia lagi untuk mengembalikan ini? Aaaa.... kenapa untuk menghindari dia saja begitu susah?" Neva membelai ponsel milik Raizel. Tidak aktif, ternyata dalam keadaan off. Tentu saja, karena ketika Raizel kabur dari adegan ciuman itu, dia langsung me-nonaktifkan ponsel miliknya.


Neva menekan tombol on. Dan hanya butuh waktu sebentar ponsel itu kembali menyala. Ada banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk. Dia tidak memperhatikannya, namun ketika dia membuka chat milik Raizel, matanya dibuat melotot dan wajahnya merah padam. Nama kontak yang membuatnya marah, kesal dan juga malu hingga hampir pingsan. Apa-apaan Raizel ini. Rasanya dia ingin mencincang Raizel si gila dan memasukkannya ke dalam karung, kemudian membuangnya ke dasar laut terdalam.


Panggilan masuk pada ponsel milik Raizel. Asisten Rese. Neva memencet tombol hijau. Dengan berbicara pada asistennya, Neva berharap tidak bertemu dengan Raizel lagi, tapi tidak... dia harus bertemu dengan Raizel.


Neva menerima panggilan tetapi dia diam.


"Hallo," suara itu memanggil. "Hallo," panggilnya lagi.


"Di mana Raizel?" Sahut Neva. Mata asisten langsung terbelalak lebar dan mulutnya terbuka lebar.


"Apa ini Nona Neva?" tanyanya sedikit ragu. Raizel yang berada di sampingnya langsung merebut ponsel dari tangan Asistennya.


"Uhum," dia berdehem terlebih dahulu sebelum menempelkan ponsel pada telinganya. "Hai, Neva...." ucapnya dengan berseri. Dia berterima kasih pada ponsel miliknya yang hilang.


"Temui aku di belakang kampus di bawah pohon," ucap Neva pasti dan langsung memutus panggilan.


Yess, Yess.... Raizel melompat girang dan memukulkan tinjunya ke langit.


"Serius dia yang nemuin?" tanya asistennya.


"Yup," jawabnya. "Bro.... ke belakang kampus," ucapnya pada Bro supir. Bro supir mengangguk patuh dan membawa mobil ke belakang kampus sesuai yang diinginkan si Boss.


Dia menunggu di belakang kampus, duduk di atas rumput di bawah pohon. Dia menunggu seorang gadis. Tak lama, gadis yang dia tunggu terlihat berjalan menghampirinya.


Neva berjalan dengan sangat kesal. Nama kontak apa itu? Gila. Dia mengumpat sepanjang perjalanan setelah tahu nama kontaknya dalam ponsel Raizel.


Raizel segera berdiri dan tersenyum melihat Neva.


"Hai," sapanya setelah mereka berdiri berhadapan. Neva menatapnya dengan sangat kesal hingga ubun-ubun. Dia segera membuka tasnya dan mengambil ponsel milik Raizel.


"Kau mencari ini?" tanyanya dengan sinis dan memamerkan ponsel Raizel di tangannya.


"Aku mencari mu," jawab Raizel.

__ADS_1


"Hhh, kau pikir aku suka dengan gombalan-gombalan receh mu? Norak. Aku bukan lawan main pada film mu yang begitu meleleh ketika mendapatkan gombalan," ucap Neva.


"Siapa yang gombalin kamu?"


"Intinya adalah berhenti mendekati ku. Berhenti menapakkan diri mu. Kau mencari ini bukan?" Neva menggerakkan ponsel di tangannya. Dan sedetik kemudian dia melempar ke tanah dengan sangat kencang. Mata Raizel mengikuti arah ponselnya yang terbanting ke tanah.


Tidak puas sampai di situ, Neva melangkah dan menginjak ponsel milik Raizel. Menginjaknya dengan sangat kesal. Ucapan Raizel, nama kontak.... dia merasa di lecehkan.


"Kau pikir itu lucu Raizel? Kau pikir itu asik? Kau mengintip ku. Kau bilang celana dalam ku berwarna merah," Neva mengomelinya. Pada kalimat terakhir, Raizel menjadi tertawa kecil tapi dia segera menahannya.


"Itu bukan celana dalam, itu namanya hot pant. Apa kau tahu perbedaannya? Silahkan tanya Embah. Kau keterlaluan, Raizel, kau bahkan memberi nama kontak ku dengan nama memalukan itu. Kau Artis gila dan mesum. Benar-benar mengerikan," Neva mencerocos dengan terus menginjak-injak ponsel milik Raizel. Sementara Raizel hanya diam dan berdiri di tempatnya menyaksikan Neva. Hingga akhirnya Neva berhenti menghancurkan ponselnya dan mengangkat wajahnya.


"Aku menghancurkan ponsel mu," ucap Neva menatap Raizel.


"Tidak masalah. Apa kau sudah puas?" Tanya Raizel santai.


"Belum, aku ingin menghancurkan mu juga hingga berkeping-keping," jawab Neva.


"Raizeel...." sebuah teriakan langsung membuat mereka menoleh.


"Sial," ucap Raizel. "Teruskan omelan mu nanti, okey," ucapnya dan langsung memanjat dinding lalu menghilang. Neva segera mengambil ponsel milik Raizel yang sudah hancur. Bisa panjang urusannya jika ada yang menemukan ponsel ini.


___Mama langsung terbang ke negara A ketika mendapat kabar dari Papa. Begitu juga Kak Dimas.


Jarak tempuh dari negara ini ke negara A membutuhkan waktu dua belas jam.


Matanya terbuka dengan perlahan, dia mengatur nafasnya dan memutar pandangannya.


Senyuman hangat dan pandangan lega langsung mengapa.


"Aku di rumah sakit Pa?" tanyanya setelah sadar penuh. Papa mengangguk lalu memencet tombol yang berada di dinding. Tak butuh waktu lama beberapa tim medis dan dokter ahli langsung datang ke ruangan. Beberapa menit memeriksa lalu berbicara beberapa kata pada Papa. Dokter mengatakan bahwa, keadaan Leo baik-baik saja, telinganya akan membaik beberapa hari kedepan. Punggung dan lengannya mendapatkan penanganan yang tepat dan akan membaik juga dalam beberapa hari, hanya butuh istirahat total.


"Pa, berapa jam aku tertidur?" Tanyanya pada Papa setelah dokter dan tim medis meninggalkan ruangan.


"Hampir sebelas jam," jawab Papa. Beliau duduk di samping ranjang rawat Leo.


"Mana ponsel ku?" Leo meminta ponselnya.


"Kau istirahat saja," jawab Papa enggan memberikan ponsel pada Leo. "Papa sudah mengirim pesan pada Yuna. Papa bilang padanya bahwa perusahaan kita sedang mengalami krisis, jadi kau akan lebih lama untuk kembali," jelas Papa. Leo mengangguk dan memejamkan matanya.


"Maaf kan aku sayang," ucapnya dalam hati. Dia berjanji pada Yuna untuk segera kembali, dia berjanji untuk selalu baik-baik saja.


"Mama dan Kak Dimas sedang perjalanan kesini," ucap Papa. Leo mengangguk.


____


Catatan Penulis


Bang Lee nggak apa-apa kok. Bab yang tadi kan masih bersambung. Sedihnya Thor, pada bilang nggak mau baca 🥺


Maaf kan ya... bikin cemas🙏


Lagunya juga terdengar dari radio, bukan soundtrack kehilangan antara mereka berdua.


Thor mo sedih dan semedi dulu🥺😴


Thor tanpa pembaca itu... ibarat pelangi tak berwarna. Hampa dan enggan untuk kembali muncul. (Lebayyyy🙄)


Tengkyu semuanya. Aku pada mu.... luv luv 🥰

__ADS_1


Ahaaiii curcol✌️✌️🙏🙏


__ADS_2