Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 160_Semoga Aku Mampu


__ADS_3

Leo menyilangkan keduanya kakinya dengan anggun, kedua tangannya terlipat diatas dadanya, ia menyandarkan punggungnya dan mengalihkan pandangannya keluar. Dia menatap keluar kaca, memperhatikan kepadatan lalu lintas dan sesekali melihat langit yang muram. Dia menjilat bibirnya dan menarik nafasnya dengan dalam. Jika... Yuna tidak punya perasaan pada Vano, kenapa dia harus berbohong? Jika mereka sudah tidak saling menyukai lalu kenapa Yuna menjawab telfon dengan berbisik? Bukankah itu karena dia menjaga hati Vano? Jika Yuna sudah menghapus semua perasaannya pada Vano lalu kenapa dia harus gugup ketika mengetahui Leo sudah menjemputnya.


Asisten Dion meliriknya diam-diam, wajah bossnya sangat menyedihkan. Boss terlihat sangat marah namun menahannya, Dion melihat bagaimana gigi yang tertutup rapat itu sedikit bergerak, bagaimana tarikan nafas itu begitu berat, bagaimana tatapan mata itu memerah namun mencoba untuk tetap lembut.


"Boss, jika kau adalah wanita aku pasti sudah jatuh hati pada mu. Kau dingin tapi sesungguhnya sangat sejuk, segala gerakan mu sangat menawan, oohh lihatlah wajah halus mu boss... kau bisa mendapatkan wanita manapun. Wanita pasti dengan senang hati melempar dirinya dalam pelukan mu. Kau tampan dan uang mu sangat banyak. Kau memiliki banyak kesempatan untuk berselingkuh dari Nyonya muda boss," Dion menelan omongan yang dia pikirkan dalam hatinya, tentu dia tidak berani mengucapkan itu pada bossnya. Jika itu dia utarakan, dia pasti akan berakhir saat ini juga.


"Damn...," Leo tiba-tiba sedikit memekik dan memukul pegangan pintu mobil dengan kencang. Asisten Dion yang memperhatikannya diam-diam melonjak kaget. Tangan mulus bossnya jadi memerah. Dia kemudian, memberanikan diri untuk menawarkan air mineral pada bossnya. Tangannya mengulur dan memberikan air mineral pada Leo.


"Minum Boss," dia sungguh tidak tega melihat bossnya. 'Apakah aku akan seperti ini jika nanti aku bertengkar dengan istri ku?' batinnya.


Leo meliriknya dengan tajam.


"Sekali lagi kau bertingkah, ambil uang pesangon mu besok," ucapnya yang langsung membuat Asisten Dion hampir mati lemas.


"Maaf Boss," dia menarik tangannya dan menyimpan kembali air mineral itu.


Langit mulai menurunkan rintik hujan. Supir segera mengurangi laju mobilnya menjadi lebih pelan, ini ketiga kalinya dia mengurangi kecepatan.


Yuna... Vano. Leo menyebut dua nama itu dalam hatinya. Hehh... dia tersenyum dengan itu. Seperti apa perasaan mereka berdua? Seberapa indah perasaan yang mereka miliki?


Leo menyaksikan hujan yang begitu deras dari tempat dia menyandarkan punggungnya. Dia menjadi laki-laki terlemah jika itu menyangkut hati dan perasaannya.


Supir tiba-tiba menghentikan mobil dengan mendadak. Membuat Asisten Dion sedikit tersungkur kedepan, begitu juga dengan Leo.


"Kau berniat berhenti jadi supir ku? Menyetirlah yang benar atau turun saat ini juga dan jangan menampakkan diri mu di depan ku lagi," Leo mengomelinya dengan sangat kesal.


"Itu boss," supirnya menunjuk kedepan. Ada driver ojek online yang memotong laju mobilnya, motor itu berhenti di depan mobilnya. Seorang gadis turun dari jok belakang motor dan melepas helm yang dipakainya, dia memberikan helmnya pada sang driver dan berjalan ke arah depan mobil, dia berdiri tepat didepan mobil. Hujan yang begitu deras membuatnya basah kuyup.


Leo shock melihatnya, dengan kecepatan kilat dia menyambar payung yang ada didalam mobil dan melangkah keluar. Ia melangkahkan kaki menuju Yuna dengan perasaan yang bercampur. Kecewa, bahagia, kesal, rindu, marah, sayang, sedih, dan semua emosi yang membelenggu hatinya, semua pertanyaan yang menguasai otaknya.


Dibawah guyuran hujan yang begitu deras, mata mereka bertemu, menyampaikan sesuatu yang tak tersampaikan. Langkah kaki Leo telah sampai padanya, telah sampai didepannya. Dia dengan gagah berdiri memegang payung untuk wanita yang dia cintai. Dibawah guyuran hujan yang begitu deras, mereka saling menatap namun membisu.

__ADS_1


"Ohh, Nyonya muda..." Dion yang menyaksikan dari dalam mobil menjadi sangat terharu, dia mendekat kedepan.


"Seharusnya kau diam dan lakukan seperti yang ku lakukan," supir kini bersuara.


"Wah, Bro... apa ini karya mu? Keren...," Dion menepuk pundak Albar sang supir dan memberinya dua jempol.


"Nyonya muda mengirimi ku pesan dan aku hanya mengikuti permintaannya. Melajukan mobil dengan pelan agar dia bisa menyusulnya, aku membagikan lokasi mobil ini pada Nyonya," jelasnya. Kemudian, dua motor polisi berhenti di sebelah mobil mereka.


"Wah, wah... Nyonya muda dalam masalah," Dion melihat dua polisi itu. Dia kemudian segera menyambar payung dan dengan kecepatan kilat berdiri didepan dua polisi itu. Dia tidak ingin polisi ini mengacaukan moment indah yang tercipta dibawah guyuran hujan disiang ini. Dia memamerkan senyumnya dan memberikan segepok uang pada oknum polisi ini, masing-masing mendapatkan satu. Kemudian, dia berjalan menuju driver ojol dan memberinya segepok juga.


"Mas, ini terlalu banyak," ucap sang driver setelah menerima uang ditangannya dengan sangat terkejut.


"Tidak apa-apa, ambillah. Terima kasih sudah mengantar Nyonya kami dengan selamat dan tepat waktu," jelas Dion dengan senyum.


"Tapi ini terlalu banyak Mas," ucap driver ojol itu.


"Boss kami sedang bahagia dan anggap saja kamu juga ikut merasakan kebahagiaannya, okey," Dion menepuk driver ojol dan kemudian melangkah meninggalkannya, ia kembali masuk kedalam mobil. Sementara driver ojol itu memperhatikan uang dalam genggamannya, ini senilai sepuluh juta. Mimpi apa aku semalam, batinnya.


Leo begitu mencintainya, mencintai gadis didepannya ini. Pandangannya sangat teduh dan lembut meski menyimpan kekecewaan.


"Kenapa kau kesini?" tanyanya sedikit tercekat.


"Aku menyusul mu. Aku mencoba menghubungi mu dan tidak bisa, aku menghubungi kantor mu dan dia bilang kau akan pergi keluar kota. Berapa lama? Sampai kapan? Aku bahkan tidak tahu. Aku tidak akan menanyakan kenapa kau tidak mengabari ku, aku... hanya ingin menemui mu dan ingin bilang sesuatu pada mu..." suara hujan yang sangat deras membuat Yuna sedikit mengeraskan suaranya. Dia menatap mata Leo... "Aku minta maaf," ucapnya dan setetes air matanya menetes di pipinya. "Aku telah berbohong kepada mu, aku bertemu dengannya disiang itu tapi sungguh itu adalah pertemuan yang tidak disengaja. Aku minta maaf," mata Yuna melihat keatas dan mengalihkan pandangannya. Bibirnya bergetar menahan tangis. "Leo... bolehkah aku memeluk mu?" tanyanya. Dia menelan ludahnya dan kembali menatap mata Leo.


"Huum," Leo mengangguk dan Yuna langsung menghambur kedalam pelukannya.


Leo membalas pelukannya dan mencium rambutnya yang basah. Dia mengusap punggung Yuna dengan perhatian, ia menghembuskan nafasnya yang tertahan dengan pelan. Kekecewaannya atas kebohongan Yuna bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kekecewaan Yuna padanya. Kebohongan Yuna bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan luka yang dia sebabkan. Bukankah memang dia adalah penyebab semuanya, dia menerimanya, menerima setiap luka dan sakit yang dia rasakan dihatinya, kemarin, hari ini, atau esok dan bahkan di masa depan.


Jika... seandainya Yuna memang masih memiliki perasaan pada Vano maka kini saatnya untuk dia menghapus semua rasa itu dan memiliki hati Yuna dengan utuh. Jika dia marah, itu sama saja memberi luka baru untuk Yuna, jika dia marah itu sama saja dengan membiarkan Yuna kembali tidak nyaman bersamanya. Jika dia marah itu hanya akan membuat Yuna mempunyai alasan untuk bisa lepas darinya. Bagaimana jika kemarahannya membuat Yuna berpaling dari dirinya? Bagaimana jika kemarahannya membuat Yuna meninggalkannya seperti dulu? Dia mengemas amarahnya dan menutupnya dengan rapat, mengubur rasa kecewanya dengan dalam. Jika dia mampu... dia tidak akan membukanya. Dia hanya akan mencintai gadis dalam pelukannya ini tanpa syarat. "Tuhan... semoga aku mampu," ucapnya dalam hati.


Asisten Dion dan Supir Albar menyaksikannya dengan penuh haru. Mereka kemudian melakukan toss.

__ADS_1


Leo melepaskan pelukannya dan merangkul Yuna dengan kasih yang melimpah. Ia membawa Yuna menuju mobil. Asisten Dion dengan sigap segera keluar mobil dan membukakan pintu mobil untuk Bossnya dan Nyonya mudanya.


Mobil melaju kembali setelah membuat kemacetan dijalan tol. Yuna tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada supir Albar.


"Kalian bersekongkol?" Leo menatap supir Albar dan kemudian menatap Yuna.


"Aku menghubungi ponsel mu, menghubungi kantor mu, menghubungi Dion dan tidak ada yang tersambung, jadi aku mengirim pesan pada Albar."


"Hmmm... kau sampai hujan-hujanan," Leo mengusap rambutnya dengan perhatian. "Kenapa tidak membawa mobil?" tanyanya.


"Awalnya aku bawa mobil, tapi mobil tidak efektif untuk mampu mengejar mu," jelas Yuna.


"Hmmm, kau pasti berjuang dengan keras," Leo memeluknya penuh kasih.


"Apa kau jadi keluar kota?" tanya Yuna, ia mendongak menatap Leo.


"Tidak, kita pulang ke rumah," jawabnya. Kemudian, tangannya menutup sekat bagian tengah. Dia mengangkat Yuna dan membuatnya duduk berhadapan di pangkuannya, dengan anggun dia menunduk dan mencium bibir manis itu. Mereka saling membalas ciuman dengan lembut.


"Bro, menurut mu, apa yang terjadi dibelakang?" Dion sedikit tertawa ketika menanyakan ini, otaknya mulai liar dan membayangkan adegan panas di dalam mobil. Albar tertawa dan menepuk pundak Dion.


"Apa yang kau bayangkan?" tanyanya. "Ku rasa, mereka hanya berciuman," lanjutnya memberi pendapat. "Kita harus mengantar mu ke bandara dulu bukan?"


Dion mengangguk. Astaga... dia belum melaporkan tiga puluh juta yang dia bagi-bagikan tadi.


_____


Catatan Penulis πŸ₯°


Novel ini terikat kontrak dengan pihak MT (MangaToon)/NT (NovelToon) jadi jika ada yang berniat untuk menjiplak nya, siap aja kena pasal. Semua karya kontrak dilindungi undang-undang. 😑😀🀬


Makin ngeri aja ama tukang nyuri karya orang lain 😀

__ADS_1


Klo nggak bisa nulis nggak usah nulis dari pada ngambil punya orang lain. πŸ™„


__ADS_2