Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 226_Mantan Terindah 2


__ADS_3

"Kiara sangat seksi kan?" Tanya Yuna dengan mengerucutkan bibirnya lancip dan dengan perasaan yang cemburu.


"Iya," iya jawab Leo dengan sengaja. Itu langsung membuat Yuna membalikkan badannya dan memukul dada Leo berkali-kali.


"Kau ... kenapa kau jawab iya!!! Kau menyebalkan. Jadi ... kau lebih tertarik dengan dia dari pada aku?!"


"Mana ada, tentu saja lebih tertarik pada mu," jawab Leo.


"Kau bohong, Leo!! Kau menyebalkan," Yuna berteriak dengan sangat kesal. "Kiara sangat seksi dan kau pasti begitu ngiler setelah melihat keseksiannya,"


"Siapa yang bilang aku ngiler? Buktinya, aku meninggalkan dia, dan tidak menerkamnya,"


"Tetap saja, kau mengakui jika dia seksi. Ohh ... jangan-jangan kau sering memikirkannya? Memikirkan body seksinya?


"Tidak. Cuma kamu yang ada di pikiran ku," jawab Leo.


"Bohong," ucap Yuna dengan melotot kesal.


"Jujur," jawab Leo lembut.


"Aku tidak percaya pada mu," ucap Yuna. Kemudian dia kembali membelakangi Leo.


"Kau cemburu Nyonya?"


"Tentu saja, jangan tanya lagi. Bagaimana bisa aku tidak cemburu saat suami ku memuji keseksian wanita lain di depan ku. Laki-laki bodoh ... jangan mendekati ku."


Leo tersenyum jahil. "Lalu ... jika aku tidak boleh mendekati mu, apa aku harus mendekati Kiara?"


"LEO ... " Yuna langsung kembali menghadapnya dan mencubit pinggangnya dengan sangat-sangat kesal. Leo tertawa terbahak-bahak. Antara cubitan yang terasa geli di pinggangnya dan merasa lucu karena menggoda Yuna dengan rasa cemburunya yang membuat semakin menggemaskan. Namun, lama-lama cubitan itu terasa sakit di pinggang nya. Jemari lentik itu seperti kepiting yang mencapit dengan kuat.


"Au .... " Leo mengambil tangan Yuna dari pinggangnya.


"Apa?" Yuna melotot kesal kearahnya.


"Bercanda," ucapnya dengan senyum.


"Aku sedang serius? Kenapa kamu bercanda?"


"Ok, ok maaf," Leo menarik Yuna untuk lebih dekat. Dia meletakkan tangan Yuna di pinggangnya. Matanya menatap Yuna dengan lembut tapi penuh tanda tanya.


"Apa kau bertemu dengan Kiara di restoran itu?" Leo bertanya dengan serius.


Yuna mengangguk, "Ya, aku bertemu dia di toilet," jawabnya.


"Apa dia melakukan sesuatu pada mu?" Tanya Leo. Yuna menggeleng.

__ADS_1


"Tidak, dia hanya menunjukkan foto itu. Foto dia yang hanya memakai selimut dan disamping nya ada jas milik mu," jawab Yuna. "Kau sungguh tidak menghianati ku bukan?"


Leo mengusap pipinya dengan lembut, kemudian meninggalkan ciuman di keningnya. Dia bersyukur karena Kiara tidak melakukan apa-apa padanya.


"Aku mencintai mu," ucapnya.


___ Pagi hari.


Di kediaman keluarga Mahaeswara. Setelah sesi sarapan telah usai.


"Papa akan mengundang keluarga Nugraha untuk makan malam sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuan yang Leo kirim," ujar Tuan besar Mahaeswara yang di sambut dukungan dari Nyonya Mahaeswara.


"Mama setuju, dengan begitu ... dua keluarga akan semakin dekat," ucap Mama. "Tuan muda, bagaimana menurut mu?" Nyonya Mahaeswara menoleh ke arah Putranya.


"Ide bagus," jawabnya.


"Bagaimana hubungan mu dengan Neva?" Tanya Mama Vano. Mendengar itu, Tuan besar Mahaeswara langsung menatap Istrinya dengan tanda tanya. Sementara Vano menggeser duduknya dan berdiri.


"Tidak ada perubahan," jawab Vano. Kemudian, dia membalik badan untuk pergi.


"Jika kau suka ... katakan," ucap Mama Vano dengan sedikit mengeraskan suaranya. "Kapan kau maju jika kau ragu untuk mengatakannya," sambung Mama Vano lagi.


"Aku sudah mengatakannya," jawab Vano tanpa menoleh. Mata Mama melebar dan langsung memuncak rasa penasarannya. Ada lengkungan dibibirnya tapi kemudian segera hilang. Apa Putranya di tolak?


"Dia menolak mu?" Tanya Mama dengan khawatir. Dia berharap jawaban Vano adalah tidak.


Mama menunduk kecewa. Di tolak. Pupuslah sudah harapannya untuk menjadikan Neva sebagai menantu.


"Apa mereka memiliki hubungan? Vano dan putri Tuan besar Nugraha?" Tanya Tuan besar Mahaeswara pada istrinya.


"Awalnya Mama harap begitu tapi sepertinya harus kandas," jawab Mama dengan putus asa.


___ Siang hari, Yuna mendapatkan pesan dari Alea. Dia tersenyum tipis membaca pesan itu. Kenapa dia menghindari Alea hanya gara-gara dia tidak suka dengan pandangan mata Alea pada Leo. Apakah itu berlebihan? Bagaimana jika dia yang terlalu berburuk sangka pada Alea.


Pada akhirnya, dia yang mengundang Alea untuk datang ke rumah nya.


"Albar, bisa minta tolong jemput Alea di rumah bunganya?" Yuna berbicara pada Albar yang selalu siap.


"Baik Nyonya muda," jawab Albar dengan patuh. Kemudian, dia segera berangkat menuju rumah bunga.


Sementara itu, di sebuah restoran lokal. Dua tuan muda saling duduk berhadapan. Mereka dengan diam menikmati hidangan makan siang yang telah tersaji. Tidak ada kebisingan, karena mereka berada di ruang istimewa yang hanya ada mereka berdua.


Seperti biasa, Leo menyudahi sesi makannya dengan menyeka bibirnya dengan anggun.


"Aku sudah tahu apa tujuan mu," ucap Leo pada seseorang yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Sekali lagi, aku meminta maaf pada mu," ujar Vano dengan tulus. Dia membungkuk dalam duduknya. "Bahkan aku akan selalu meminta maaf pada mu," lanjutnya.


"Aku menyerahkan sepenuhnya pada Neva," ucap Leo menanggapi permintaan maaf Vano padanya. Dia tahu ... ini ada hubungannya dengan hubungan Neva dan Vano.


"Dia masih menolak ku," kata Vano putus asa yang langsung disambut tawa kecil oleh Leo.


"Itu karena kau tidak bisa merayunya," ucap Leo.


"Bukan, tapi karena dia terlalu menyayangi mu," jawab Vano. Dia menatap Leo dengan frustasi, "Rasanya, aku menjadi sangat cemburu pada mu. Kenapa dia lebih menyayangi mu," lanjutnya.


"Tentu saja," jawab Leo dengan sombong.


"Beritahu aku caranya," ujar Vano.


"Tidak ada, itu hanya karena aku Kakak nya," jawab Leo.


"Beritahu aku caranya menaklukkan hati adik mu," kejar Vano.


Tangan Leo mengambil sesuatu dari dalam saku jas yang dia kenakan. Leo bukan tipe orang yang mudah bercanda dan berbelit-belit. Dia lebih suka to the points dan langsung pada inti.


"Ini .... " ujar nya seraya menyerahkan sesuatu pada Vano. Dia meletakkan benda kecil itu di atas meja. Dengan perlahan Vano mengambilnya lalu memperhatikan benda kecil itu yang sekarang berada di tangannya. Boneka kecil berbentuk panda dengan inisial nama. "Berikan itu padanya, dia akan tahu maksud ku," jelas Leo.


Vano mengangguk dengan pasti.


"Aku permisi," ucap Leo lalu menggeser duduknya dan berdiri. Vano langsung ikiu berdiri dan membungkukkan badannya.


"Terima kasih untuk waktunya, Leo," ucapnya. Leo mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian, dia melangkah.


"Terima kasih untuk maaf dan restu mu Kakak ipar," lanjut Vano yang langsung menahan langkah Leo.


"Jangan terlalu PeDe, dia belum tentu menerima mu," ucap Leo dengan penekanan. Vano tersenyum mendengar itu.


"Aku yakin dia akan menerima ku, kali ini," batin Vano dengan percaya diri.


Leo melangkah untuk keluar. Dia melangkah dengan tenang dan mendominasi seperti biasa. Tidak ada yang berani mendekati nya. Hanya menatapnya dari kejauhan ketika dia melewati bangku-bangku pengunjung lain. Tidak ada yang berani mendekati nya. Hingga ... seseorang tiba-tiba datang dan terpeleset dengan anggun di depannya. Dia menjatuhkan dirinya dan seolah-olah itu terjadi karena ketidak sengajaan.


Leo tidak menangkapnya, tidak juga menyentuhnya. Tangannya secara refleks bergerak untuk menghindar dan bersembunyi di belakang tubuhnya. Namun, seseorang itu terjatuh dan menempel di dadanya. Leo segera mundur.


"Oh, maaf. Maaf Tuan muda," ucap seseorang itu meminta maaf dengan membungkukkan badannya. Kemudian, dengan segera dia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Leo.


Matanya dipenuhi kekaguman dan kerinduan ketika menatap wajah ini dari dekat.


"Lee .... " Panggilannya dengan suara lirih penuh kerinduan.


___

__ADS_1


Catatan Penulis


Jangan lupa like komen nya Yach kawan ..... Terima kasih luv luv.


__ADS_2