
"Sayang," Yuna menatap wajah Leo yang begitu tampan meski masih sedikit pucat. Tangannya terangkat dan menyentuh wajah rupawan ini. Leo menggenggam tangan Yuna yang berada di pipinya. "Bisakah kau tidak pergi?" tanyanya namun sebenarnya itu adalah permohonan. Leo menyunggingkan senyumnya.
"Ini harus segera di kerjakan sayang. Aku akan terus mengabari mu, dan menelfon mu, okey. Ini hanya empat hari dan aku pasti akan mempercepatnya." Ia menarik Yuna dalam pelukannya.
"Kau harus janji kau akan selalu baik-baik saja," ucap Yuna memberi syarat. Leo sedang tidak enak badan dua hari ini. Dia takut Leo kenapa-napa, apa lagi mereka akan berjauhan.
_Leo pergi bersama Papa, pagi ini. Yuna langsung di jemput supir dan membawanya ke rumah Mama.
"Sayang, malam ini kau menginap di sini saja ya," ucap Mama lembut. Yuna mengangguk setuju. Itu lebih baik agar dia tidak merasa kesepian.
Neva sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
"Non, ajak Den tampan Raizel naik mobil ini dong," Pak supir mulai kumat kepo tentang Raizel.
"Aku tidak ada apa-apa dengan dia Pak supir," jawab Neva.
"Bapak lihat beritanya kok Non," ujar Pak supir. "Romantis," lanjutnya. Neva menatap Pak supir dari belakang dengan heran. "Anak Bapak ngefans banget Non. Tolong ya Non Neva cantik," Pak supir mulai merayu.
"Tapi aku sungguh tidak ada hubungan dengan dia Pak supir," ucap Neva mencoba menjelaskan. Pak supir mengangguk tapi tidak mempercayainya.
Tak lama ponsel Neva berdering. Raizel Artis Gila nama kontak yang tertera di kontak Neva.
"Mau apa lagi?" tanya Neva ketus setelah mengangkat panggilan dari Raizel.
"Ya ampun, galak amat Beib," sahut Raizel di sebrang sana yang langsung membuat mata Neva melotot. Kata terakhirnya.
"Raizel... jangan bikin hidup ku bertambah kacau," ujar Neva kesal. Pak supir menahan senyumnya mendengar Neva menyebut nama Raizel.
'Katanya nggak ada hubungaaan,' batin Pak supir. Dia berharap bisa bertemu dengan Raizel lagi.
"Kau sudah berangkat?" tanya Raizel tak menghiraukan ucapan Neva yang menyebut dirinya pengacau.
"Sudah, kenapa?" jawab Neva sekaligus bertanya. Dia masih memasang wajah kesal. Mama sampai menegurnya gara-gara Raizel. Belum lagi banyak chat bully dari teman-temannya. Hallo teman... ini Neva lho, apa kabar jika yang dekat dengan Raizel adalah rakyat biasa? Betapa bully-an itu semakin menjadi. (Batin Thor)
"Dengarkan aku...," ucap Raizel yang langsung di potong oleh Neva.
"Males," ucapnya.
Raizel tertawa mendapat jawaban itu.
"Dengarkan Beib, atau kau akan menyesal," ujar Raizel dengan penekanan pada kalimat terakhirnya. Neva sangat kesal dengan panggilan Raizel padanya. Beib apaan?
"Raizel... aku akan memotong lidah mu jika kau berani memanggil 'Beib' lagi pada ku," Neva mengancamnya. Pak supir yang menguping semakin menahan tawanya. Si Nona yang kesal tapi wajahnya memerah.
"Okey, aku minta maaf, Dear...," jawab Raizel dengan sengaja.
"Ahh, kau...," Neva kehabisan kata-kata. Dia diam.
Raizel tersenyum puas dengan itu.
"Kau pandai juga ternyata," asisten Raizel berkomentar. Raizel langsung membawa pandangannya pada asistennya, ia menatap asisten dengan tajam.
"Diam atau ku potong lidah mu," ucapnya setelah menjauhkan ponsel dari bibirnya.
"Sadis kau Rai...," asistennya memanyunkan bibirnya.
"Neva dengarkan aku...," ucap Raizel. Tak ada jawaban. "Hallo...," panggil Raizel.
"Hmm," jawab Neva singkat sesingkat-singkatnya.
"Aku berada tak jauh dari kampus mu. Saat ini ada wartawan yang menunggu di depan gerbang kampus mu," jelas Raizel.
"Apa? Ada wartawan lagi?" Neva merasa frustasi mendengar itu. Tidak ada Leo yang membuat mereka tidak mendekat. "Apa yang harus ku lakukan?" tanyanya penuh harapan. Dia tidak mungkin bolos lagi seperti kemarin.
Seperti harapan Raizel, Neva bertanya seperti yang sudah dia presiksi. Raizel tersenyum menang...
"Tidak ada jalan lain selain lewat belakang kampus," jawab Raizel. Mendengar itu Neva langsung melotot.
"Belakang kampus?" tanyanya tak yakin.
"Yup, aku menunggu di sana," dan Raizel langsung memutus panggilannya. Neva kesal setengah mati karena itu. Memutus panggilan tanpa menunggu persetujuannya.
Neva tidak percaya begitu saja. Dia tetap meminta Pak supirnya untuk mengantar ke depan gerbang utama kampus. Benar saja... ada beberapa wartawan yang menunggu di sana. Neva menepuk keningnya pelan.
"Pak, tolong putar balik. Kita ke arah belakang kampus," ucapnya pada supir.
"Siap," Pak supir menjawab dengan semangat. Dia berharap bisa bertemu dengan Raizel hari ini. Mobil berputar arah menuju belakang kampus. Dan sudah ada mobil terparkir di sana. Ponsel Neva kembali berdering. Raizel Artis Gila.
"Apa?" jawab Neva.
"Kau melihat mobil ku?" tanya Raizel.
"Ohhh, jadi mobil jelek itu adalah mobil mu?" Neva membully-nya. Raizel tertawa di seberang sana. Hanya Nona Neva seorang yang menyebut jika mobilnya jelek. Ini bahkan di rancang secara khusus untuknya. Mobil ini sekelas dengan mobil-mobil para Artis papan atas Hollywood.
"Tidak apa-apa mobilnya jelek, yang penting orangnya tampan," ucapnya dengan sangat PeDe. Neva tertawa kecil.
"Pak, tolong mendekat ke mobil itu," pinta Neva.
__ADS_1
"Laksanakan," pak supir semangat. Mobil Neva berhenti tepat di depan mobil Raizel.
"Jangan sampai ada yang mengambil foto ku dan dia. Kau harus mengawasinya dengan teliti," Raizel memperingatkan asistennya.
"Siap juragan bawel," ucap asistennya.
"Bagus," Raizel mengacungkan jempolnya. "Aku mencintai mu," lanjutnya.
"Najis," jawab asistennya bergidik tapi dengan tawa. Kemudian, Raizel memakai kaca matanya dan keluar dari mobil. Dia melangkah menuju mobil Neva. Tangannya mengetuk kaca pintu mobil Neva pelan.
"Apa ide mu?" tanya Neva setelah membuka separo kaca pintu mobilnya.
"Keluarlah," jawab Riazel.
"Beri tahu aku dulu, apa ide mu," ujar Neva tak mau mengalah. Kemudian, Raizel menunjuk asistennya yang sudah berdiri di samping tembok belakang kampus. Dia menyiapkan tangga untuk memanjat. Tangga lipat itu sudah terpasang dengan sempurna.
"Manjat?" tanya Neva. Ia ragu.
Raizel mengangguk, "Iya, ayo buruan. Jangan sampai wartawan lebih dulu menemukan kita," ucap Raizel. Neva mengangguk dan menyetujui ide itu. Dia membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Pak supirnya langsung menyusul.
"Den, Raizel... boleh minta foto bareng?" tanyanya ramah. Raizel mengangguk menyetujui. Pak supir langsung membuka kamera pada ponselnya. Ia membuat dirinya foto bersama Raizel dan tidak menyertakan Neva ada pada sesi foto itu.
"Terima kasih Den Rai," ucap Pak supir yang di jawab anggukan oleh Raizel.
"Ayo," Raizel meraih tangan Neva, tapi Neva segera menepisnya. Asisten tertawa melihat itu. 'Kasiaaan,' batinnya.
Asisten segera pergi setelah si Boss dan gadis incarannya telah sampai di tempat yang sudah dia siapkan.
"Naiklah," ucap Raizel.
Neva ragu. Tangannya memegang rok yang dipakainya dengan erat. "Aku aku memenjarakan mu jika kau berani mengintip," ancam Neva.
"Tidak akan," jawab Raizel.
"Ada undang-undangnya kau tahu. Pasalnya sudah sangat jelas. Kau tahu siapa aku? Ku pastikan hidup mu bagai di neraka jika kau berani mengintip," ucap Neva dengan ancaman. Matanya menatap Raizel dengan tajam.
"Aku bahkan sudah terpenjara," jawab Raizel. "Terpenjara dalam hati mu," lanjutnya. Bibir Neva langsung berkedut menahan senyum, tapi tidak tertahan, dia segera mengigit bibirnya.
"Teks halaman berapa adegan itu?" tanya Neva dengan malu. Artis ini benar-benar pandai membuat orang tersipu. Seperti perannya dalam sebuah film yang menjadi raja gombal pada wanita.
"Ini bukan teks. Ini dari sini...," jawab Raizel menunjuk dadanya. "Apa kau melihatnya?" tanya Raizel.
"Melihat apa?"
"Nama mu yang tertulis di sini," jawab Raizel.
"Tutup mata mu artis gila," ujar Neva pada Raizel.
"Iya," jawab Raizel patuh dan menutup matanya.
Neva telah sampai di atas, ia duduk di atas pagar tembok. Kemudian, Raizel menyusulnya. Raizel menaiki tangga dan setelah sampai di atas dia duduk berhadapan dengan Neva. Dia tersenyum pada Neva, senyumannya seperti hipnotis yang seolah memaksa Neva untuk membalas senyuman itu.
"Rai...," asisten memanggil Raizel. Mendengar teriakan, Raizel dan Neva kompak menoleh dan 'Clik,' satu foto terbuat pada pagi ini. Raizel langsung melotot dan memamerkan tinjunya pada asisten. Awas saja kau, batinnya.
Kemudian, mereka berdua turun.
"Huf..., aman," ucap Neva sambil membersihkan telapak tangannya.
"Kau sudah sarapan?" tanya Raizel. Dia duduk di atas rumput di bawah pohon.
"Sudah," jawab Neva. Dia mengikuti Raizel untuk duduk di atas rumput di bawah pohon.
"Apa kamu tidak ada syuting hari ini?" tanya Neva.
"Ada," jawab Raizel.
"Kenapa kau malah kesini?"
"Aku sudah bilang pada mu. Penyebab kekacauan adalah aku jadi aku akan membuat mu tetap aman," jawabnya. Lalu menoleh ke arah Neva. Namun dia tidak mendapat balasan, Neva menatap kedepan dengan senyum. Indah... mata Raizel berkedip dengan enggan, dia tidak ingin melewatkan senyum itu.
"Maafkan aku," ucap Raizel kemudian, setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Untuk?" tanya Neva.
"Aku membaca beberapa komentar pedas terhadap mu di akun gosip itu," jelas Raizel. Dia masih menatap Neva dari samping.
"Tidak masalah, aku tidak membacanya. Bukankah kau bilang mereka akan lelah sendiri nantinya," jawab Neva. Dia kemudian menunduk. Padahal sejujurnya, dia hampir tidak bisa tidur karena bully-an teman-temannya dan nomor baru yang tiba-tiba masuk dan mengiriminya chat.
'Neva bisa mendekati Raizel karena anak dari keluarga konglomerat,'
'Neva bagian dari sampah jika dia bukan putri Tuan besar duit banyak,'
'Neva gadis tak tau diri yang mendekati pangeran,'
Dan masih banyak lagi. Dia menyimpannya sendiri karena dia tahu, jika Leo sampai tahu bully-an ini maka mereka semua akan habis dan mungkin akan merana selama hidupnya.
"Ini untuk mu," Raizel menyerahkan sesuatu pada Neva. Neva menoleh ke arahnya. Permainan musik bola kristal salju dengan dua burung flamingo di dalamnya. Tangan Neva mengulur dan menerima hadiah dari Raizel.
__ADS_1
"Kenapa kau memberi ku ini? Ini seperti permainan anak-anak," ucap Neva.
"Jika seseorang tidak bisa tidur, biasanya dia memiliki banyak sekali pikiran-pikiran aneh dalam otaknya. Jika, suatu saat kau tidak bisa tidur, semoga ini bisa menemani mu. Semoga ini bisa menghilangkan pikiran-pikiran aneh dan menggantinya dengan pikiran tentang keindahan," jelas Raizel. Dia masih memperhatikan Neva.
"Okey," Neva mengangguk. "Aku akan menyimpannya, terima kasih, Raizel," ucap Neva. Kemudian, dia memasukkan hadiah itu di dalam tas miliknya. "Emmm, sudah jam masuk kelas. Aku pamit," ucap Neva. Dia beranjak dari duduknya. Raizel mengikutinya. Mereka berdiri berhadapan. "Selamat pagi, Raizel. Semoga hari mu menyenangkan," ucap Neva dengan senyum. Dan kemudian, ia melangkah pergi meninggalkan Raizel.
"Neva," panggil Raizel menghentikan langkah Neva.
"Ya?" Jawab Neva dan langsung menoleh.
Raizel menunduk sebentar dan mengusap hidungnya. Kemudian, kembali menatap Neva.
"Celana dalam mu berwarna merah," ucapnya. Mata Neva langsung melotot dan bahkan hampir terlepas dari tempatnya. Otaknya membeku beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali dengan berlari ke arah Raizel. Dia menyiapkan bogem untuk Raizel yang mengintipnya. Raizel segera kabur dari kejaran Neva.
"Ampuuun....," dia berlari menjauh dan mengitari pohon.
"Kau cowok biadab. Kau akan membusuk di penjara," Neva malu setengah mati. Warna merah itu bukan celana dalam tetapi hot pants. Raizel tertawa terbahak-bahak dan terus berlari menghindari bogem dari Neva.
___ Malam hari di rumah Mama. Pukul 22.00
Yuna tidak bisa memejamkan matanya. Di atas ranjang luas dia merasa sangat gelisah. Tidak ada pelukan hangat dari Leo, tidak ada dongeng indah yang di bacakan Leo untuknya. Dia mengambil ponselnya dan mengecek chatnya pada Leo. Terakhir Leo mengiriminya pesan adalah ketika dia telah sampai dan hingga saat ini, tidak ada pesan lagi.
"Sayang, kau sedang apa?" ketiknya dan mengirimkannya untuk Leo. Hanya centang satu, itu artinya, ponsel milik Leo dalam keadaan off. Yuna semakin gelisah. Dia beranjak dan menuju kamar mandi. Ia membasuh mukanya kemudian kembali dan menuju balkon.
"Begitu sepi jika tanpa mu. Kau baik-baik saja bukan di sana? Pasti, karena ada Papa bersama mu," Yuna menatap langit malam tak berbintang, "Sayang, aku rindu," gumamnya.
Kemudian, ia kembali ke dalam dan menutup pintu. Ia membuka chatnya pada Neva. Neva online saat ini.
"Kau belum tidur?" pesan Yuna pada Neva.
"Belum, Kak," balas Neva cepat. "Kak Yuna belum tidur?" balas Neva lagi.
"Aku tidak bisa tidur. Bolehkah aku ke kamar mu?" balas Yuna.
"Boleh banget Kak," balas Neva.
Yuna segera melangkah ke luar kamar. Dia menuju kamar Neva yang berada di lantai dua. Sementara kamarnya berada di lantai tiga.
"Sayang, kau belum tidur?" Mama yang baru saja dari dapur berpapasan dengan Yuna.
"Belum Ma," jawab Yuna.
"Apa ada yang kau rasakan? Bagian mana yang tidak enak sayang?" Mama menghampirinya dan mengusap perutnya lembut.
"Tidak ada Ma, hanya tidak bisa tidur," jawab Yuna.
"Kau merindukan Lee?" tanya Mama lagi dan sangat tepat. Yuna mengangguk. Mama mengusap rambutnya penuh perhatian. Mama tahu rasanya. Mama juga pernah merasakan ini, dulu ketika Mama masih muda.
"Kak Yuna...," Neva menaiki tangga menyusul Yuna.
"Kau juga belum tidur Nona?" tanya Mama pada Neva.
"Huum, belum," jawab Neva.
"Okey, ayo tidur di kamar Mama," ucap Mama.
Ranjang raksasa itu jelas masih luas untuk mereka bertiga. Yuna berada di tengah. Mama dan Neva memeluknya. Mereka bertiga tengah memperhatikan album foto Dimas, Leo dan Neva semasa masih kecil. Yuna tertawa terbahak-bahak ketika mendapat foto Leo kecil yang menangis karena lututnya yang berdarah.
"Hanya lutut berdarah dan dia menangis? Hahaa..., dasar cengeng," Yuna menertawakannya.
Setelah selesai melihat album, Yuna jadi mengingat sesuatu.
"Ma..." dia menoleh ke arah Mama.
"Ya," jawab Mama.
"Apa Leo akan muntah dan mual setelah dia mengkonsumsi mie instan?" tanya Yuna penasaran.
Mama menaikkan alisnya. "Tidak," jawab Mama. "Dia memang jarang sekali mengkonsumsi mie instan tapi dia tidak apa-apa jika mengkonsumsinya," lanjut Mama. Lalu Yuna menceritakan tentang mie instan itu dan apa yang terjadi belakangan ini pada Leo.
Mata Mama terbelalak lebar mendengarnya dan kemudian tertawa kecil, begitu juga dengan Neva.
"Ya ampun, dia pasti sangat manis," ucap Mama. "Ohh, Putraku... kau begitu mencintai istri mu," lanjut Mama dengan masih tertawa kecil.
"Emang bisa gitu Ma, suami yang ngidam?" Tanya Neva.
"Bisa dong," jawab Mama. Kemudian, Mama mencoba menghubungi Papa tapi tidak ada jawaban. Lalu Mama mengirimi Papa pesan yang sangat banyak. Mama memberi tahu jika putranya itu mengalami morning sick. Jadi Lee harus tinggal bersama Papa, dan petuah-petuah untuk Papa agar ekstra menjaga Lee.
"Jadi sungguh Leo ngidam Ma?" tanya Yuna lagi untuk meyakinkan. Mama menjawabnya dengan anggukan. Dan Yuna langsung tertawa dengan itu.
"Kasihan sekali kamu sayang," ucapnya.
___
Catatan Penulis
Jangan lupa kasih sun manjaaah dari jempol indah ya kawan.
__ADS_1
Vote juga bolehh hehe... luv luv. 😘 pada mu.