Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 204_Kembali


__ADS_3

"Sedang apa?" isi pesan yang sama dari dua orang yang berada. Dejavu, ini pernah terjadi sebelumnya, Neva tertawa melihat dua pesan yang sama ini.


"Jadi apa kau sungguh pacaran dengan artis itu?" Tanya Nora setelah melihat Neva senyum-senyum sendiri. Dia mengikuti gosip itu, tentang Neva dan Raizel. Neva langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Nora.


"Gosip Kak," jawab Neva segera.


"Tapi kalian cocok lho. Dia keren," ucap Nora memberi komentar. Mereka berdua tengah berada di kamar Baby Dim.


"Aku nggak kuat Kak, sumpah. Dia terlalu keren buat ku. Yang ada... aku bakalan dapat banyak musuh jika sama dia," kata Neva memberi penjelasan. Nora terkekeh mendengarnya.


Neva tidak membalas dua pesan itu. Dia asik bermain dan bercanda dengan Baby Dim. Dia tidak tahu betapa sadisnya dia dalam pandangan dua orang pengirim pesan itu. Chat di baca dan tidak di balas? Sungguh menyakitkan.


Ponsel Nora berdering, ada panggilan masuk dari Dimas.


"Iya sayang, kau sudah makan?" Tanya Nora pada Dimas. "Bagaimana keadaan Lee? Apa dia sudah membaik?" tanyanya menyambung ucapan Dimas di seberang sana. Dia lupa jika ada Neva di situ. Mendengar ucapan Nora, Neva segera mengangkat wajahnya dan menatap Nora yang tengah berbicara pada Dimas.


Keadaan Lee? Membaik? Otak Neva seolah berdenyut, jantungnya seolah berhenti. Ada apa dengan Kakaknya?


"Kak Nora," panggilnya pelan pada Nora.


"Ya?" jawab Nora langsung menoleh. Upss... dia baru menyadari bahwa dia telah membahas sesuatu yang dirahasiakan. Dia berharap Neva tidak mendengarnya.


"Aku ingin bicara dengan Kak Dimas," ucap Neva.


Kemudian, Nora berbicara sebentar pada Dimas lalu memberikan ponselnya pada Neva. Neva meminta izin pada Nora untuk membawanya keluar. Dia keluar dari kamar Baby Dim dan melangkah menuju kamarnya. Dia mengambil nafasnya panjang.


"Kak Dimas," panggilnya pelan.


"Iya," jawab Dimas. Dia sudah tahu dari Nora bahwa Neva telah mendengar percakapannya.


"Kak Lee kenapa?" Tanyanya pelan dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak bisa berpikir apapun, hanya ada kekhawatiran setelah dia mendengar ucapan Nora.


"Dia baik-baik saja sayang," jawab Dimas lembut.


"Kak Dimas bohong," ujar Neva. Suaranya sedikit tercekat.


"Kak Dimas nggak bohong. Lee baik-baik saja," jawab Dimas lagi dengan lembut.


"Kak Dimas kasih tahu aku dong, aku bukan anak kecil, okey. Aku menyadari ada yang aneh dengan kalian. Kenapa? Kenapa tidak memberi tahu ku? Kenapa Kak Lee? Kenapa dia? Kak Dimas jangan bohong," Dia mulai emosi, air matanya mulai jatuh. Emosinya semakin menusuk, dia sangat sedih, cemas, khawatir.


"Sayang, dengarkan Kak Dimas," Dimas mencoba menenangkan Neva terlebih dahulu. "Kau tenang dulu okey," lanjutnya. Diam... Neva sesenggukan disana. "Kau sudah tenang...." ucap Dimas.


"Huum," jawab Neva tanpa membuka mulutnya.


"Kakak Lee, beberapa minggu yang lalu mengalami kecelakaan," Dimas sangat hati-hati dalam menyampaikannya tetapi tetap saja Neva langsung menangis histeris mendengar itu. "Neva... dia baik-baik saja. Dia sudah pulih," dia mengeraskan suaranya agar di dengar dengan baik oleh Neva.


Neva menangis tak terbendung, air matanya mengalir dan tak bisa dia hentikan. Pantas saja panggilan teleponnya tidak pernah diangkat. Pantas saja pesannya juga jarang di balas.


"Kak Dim," panggilnya dengan sesenggukan.


"Iya," jawab Dimas.


"Aku ingin telfon Mama," ucapnya.


"Okey, tapi kau harus tenang dulu, okey. Kakak Lee baik-baik saja," ujar Dimas dengan lembut. Kemudian, setelah bertukar beberapa kata, dia mengakhiri Panggilannya.


Neva segera membuat panggilan Video pada Mama.


"Hallo sayang," sapa Mama setelah tersambung. "Kenapa putri Mama, kenapa menangis?" Tanya Mama setelah melihat Neva yang sembab dan masih ada sisa air matanya.


"Aku ingin melihat Kak Lee," ucap Neva langsung pada apa yang dia inginkan.


"Kak Lee sedang di kantor, ada apa? Nanti Mama sampai kan," ujar Mama dengan pelan karena berbohong.


Neva menarik nafasnya panjang. Dia sangat kesal dengan Mamanya.

__ADS_1


"Aku sudah tahu semuanya Ma, sampai kapan Mama mau menyembunyikan keadaan Kak Lee," ucap Neva kesal. Dia mulai menangis lagi. Mama tertegun sesaat dan menoleh ke arah Leo.


"Sayang, Kakak Lee baik-baik saja," ucap Mama kemudian. Neva masih sesenggukan di sana. Rasanya dia sangat marah pada Mama, pada Papa, pada Kak Dimas dan pada Leo. Kenapa mereka tidak memberi tahunya.


"Aku ingin melihatnya," ucap Neva dengan serak. Mama memutar pandangannya pada Leo.


Leo mengangguk, menyetujui keinginan Neva untuk melihatnya. Dimas baru saja mengirim pesan padanya dan bilang jika Neva sudah tahu semuanya.


"Okey, ponselnya Mama bawa ke Kakak...." ucap Mama. Perlahan.... kamera itu memperlihatkan wajah Leo di sana. Leo tersenyum menyapa tapi Neva menangis sejadi-jadinya. Dia bersyukur melihat Kakaknya.


"Hei, jelek kenapa nangis?" Ucap Leo dengan suara pelan, "Aku baik-baik saja, lihatlah," lanjutnya.


"Itu... kenapa telinganya? Tangannya," sahut Neva. Dia merasa sangat kesal pada semuanya.


"Ini luka kecil," jawab Leo.


"Luka kecil? Luka kecil sampai kau harus pelan-pelan dalam berbicara? Pantas saja, Kak Lee nggak pernah mau angkat telepon, nggak pernah mau terlihat di video call. Kak Lee nggak tahu kan bagaimana cemasnya Kak Yuna setiap hari, Kak Lee nggak tahu kan bagaimana Kak Yuna tidak pernah meninggalkan ponselnya. Dia begitu merindukan mu.... kau keterlaluan Kakak."


"Kak Yuna akan lebih menderita lagi jika dia tahu kondisi ku. Jadi memang sebaiknya ini di rahasiakan. Kau harus janji pada ku, jangan sampai Kak Yuna tahu," ucap Leo. Neva mengangguk dalam isaknya.


"Kak Lee," Neva. memanggilnya pelan.


"Hmm."


"Aku...." Neva menggantung ucapnya. "Tidak ada," lanjutnya dengan senyum. Dia ingin bilang jika dia sudah berbicara pada Yuna tentang dia yang tahu hubungan Yuna dan Vano dulu tapi dia mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Kakaknya. Leo pasti tidak akan memaafkannya jika sampai membuat Yuna sedih, apa lagi saat ini mereka tengah jauh.


"Ku dengar sidang mu lancar?" Tanya Leo.


Neva mengangguk, "Iya," jawabnya. Dia mengambil tissue dan membersihkan ingusnya.


"Kau mau hadiah apa?" Tanya Leo dan mereka saling bicara beberapa menit sebelum Mama meminta ponselnya lagi.


"Neva, Kak Lee, harus banyak istirahat dulu ya. Besok telfon lagi," ucap Mama.


"Untuk apa? Kakak Lee sudah membaik hanya butuh istirahat sejenak, sudah ada Mama di sini," ucap Mama. "Jika kau kesini, Kak Yuna pasti akan curiga," lanjut Mama dan masih banyak lagi yang mama katakan untuk membujuk Neva agar tidak terbang ke sana.


_Ada puluhan pesan masuk ke ponsel Neva. Pesan dari Raizel. Saat mengirim pesan itu, dia berada di seberang jalan rumah Leo. Dia pikir Neva masih ada disana. Pada akhirnya, asistennya yang turun dan menanyakan keberadaan Neva.


Raizel harus kembali dengan kecewa karena tidak ada Neva disana. Dan bahkan chatnya tidak di balas sama sekali.


Di tempat lain di waktu yang sama. Seseorangmembelai ponselnya dan sedikit ragu untuk untuk kembali mengirim pesan lagi.


"Keluar negeri? Benarkah kau akan pergi?" ucapnya pelan pada malam yang dingin. "Apa itu untuk menghindari ku?" Dia kembali melihat ponselnya dan masih tidak ada balasan.


Kemudian, dia melihat status terbaru pada akun Neva.


"Semangat," Hanya kata itu. Status itu sesungguhnya dia tujukan pada Leo dan Yuna. Karena kedua orang itu tidak memiliki akun sosial media jadi dia tidak memberi tag.


"Semangat," balas Vano. Dan dia langsung mendapat balasan dari Neva.


"Terima kasih, Kakak," Vano tersenyum membacanya dan tidak membalas lagi. Dia tidak begitu suka saling bertukar pesan di sosial media karena itu akan menjadi konsumsi publik. Dia membalas pesan seperlunya saja.


Di sisi lain, Raizel merasa cemburu dengan komentar Vano dan balasan Neva padanya. Dia kesal setengah mati. Tangannya mulai mengetik sebuah komentar untuk status Neva tetapi dia menghapusnya lagi, mengetik lagi, dihapus lagi hingga beberapa kali.


"Arhggghhh," Raizel sangat kesal. Jika dia komentar di akun Neva, fansnya pasti akan menggila disana dan itu akan membuat Neva tidak nyaman. Dan pada akhirnya, dia mengirim pesan pribadi.


"Harus semangat dong," isi pesannya. Dan sialnya adalah... dia tidak mendapat balasan. Itu karena ketika dia mengirim pesan, Neva sudah menonaktifkan data seluler pada ponselnya.


"Sabar, Boss," ujar asisten mencoba menenangkannya.


"Sabar, sabar, kepala mu...."


___


Yuna dengan sangat bahagia mengusap perutnya, dengan sangat lembut, dan beberapa kali mengucapkan cinta dan doa untuk janin yang ada di dalam rahimnya. Malam hari selalu terasa sangat panjang, dan bahkan teramat sangat panjang. Malam hari, selalu menakutkan untuknya. Dia akan terbangun dengan tiba-tiba dengan perasaan yang begitu gelisah.

__ADS_1


Ponselnya bergetar dan menerima pesan baru.


"Sayang," pesan Leo padanya malam ini.


"Iya," balas Yuna. Kemudian, dia melakukan selfie dan mengirimnya pada Leo. "Kita bersiap untuk tidur," tulisnya.


"Selamat tidur, kesayangan," balas Leo.


"Sayang, apa kau tahu jika Neva akan melanjutkan kuliah ke luar negeri?" Tanya Yuna pada pesannya.


"Iya. Dia cerita pada mu juga?" Jawab Leo sekaligus bertanya.


"Iya," balas Yuna singkat. Lalu dia segera melakukan panggilan telepon. Namun Leo tidak mengangkatnya. Yuna mengulangi lagi dan Leo masih tidak menjawabnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku? Kenapa tidak mengangkat telpon dari ku? Rapat? Sibuk? Sesibuk apa? Apa tidak bisa sekali saja mengangkat telepon dari ku, apa tidak bisa bicara sebentar saja pada ku? Atau memang kau sengaja menghindari ku? Aku tanya pada mu, ada apa? Kau bilang, tidak ada apa-apa tapi segala sifat mu membuat ku berfikir bahwa terjadi sesuatu di sana. Kau kenapa? Tergoda bule cantik? Hahaaa...." Yuna begitu emosi ketika mengetik pesan ini. Leo selalu bilang tidak ada apa-apa tapi nyatanya dia berubah. Apa sebelumnya pernah Leo tidak mengangkat panggilannya, sesibuk apapun dia?


"Sayang, singkirkan pikiran aneh mu itu. Aku tidak suka," balas Leo. Tergoda bule cantik? Apa-apaan itu?


"Kau pikir aku suka? Kau pikir aku suka memiliki banyak pertanyaan di otakku? Kau kenapa? Kau kenapa? Kau kenapa? Berulang kali aku bertanya dan kau selalu menjawab tidak ada apa-apa. Apa Leo yang ku kenal seperti itu? Apa Leo akan mengabaikan panggilan ku? Apa Leo tidak ingin melihat wajah ku? Apa Leo bahkan tidak ingin mendengar suara ku? Apa jarak begitu cepat bisa merubah mu?" send. Yuna segera mengirim pesan lagi sebelum Leo mampu mengetik apapun.


"Kau tidak ingin mendengar suara ku bukan? Kau tidak ingin melihat wajah ku bukan? Okey. Kau silahkan sibuk dan terus sibuk. Aku tidak tahu sibuk apa yang kau maksud. Aku akan menonaktifkan ponsel ku," send.


"Sayang aku mencintai mu," balas Leo segera. Dan langsung membuat pertahanan Yuna pecah. Dia menangis.


"Apa yang kau sembunyikan dari ku? Ada apa dengan mu?" gumamnya.


__Leo mulai uring-uringan di sana. Dia mulai memarahi dokter yang tidak bisa membuatnya segera pulih. Dia tidak perduli lagi, dia ingin segera kembali. Namun Mama menasehatinya berkali-kali, Mama menenangkannya berkali-kali.


***@****


Beberapa hari kemudian.


Pagi hari di Negara A.


Mama membuat panggilan pada supirnya untuk menjemputnya di bandara tepat pukul sepuluh malam. Tidak boleh telat. Mama menoleh ke arah Leo. Putranya itu, pasti akan marah jika supirnya sampai telat.


"Apa ada nyeri yang kau rasakan?" Tanya Mama pada Leo sebelum mereka bersiap dan berangkat.


"Tidak ada, semuanya baik," jawabnya. Kemudian, Kak Dimas mendekat kearahnya dan langsung meninju bahunya.


"Ahhh" Leo memekik dan mengusap pelan bekas pukulan Dimas.


"Apa itu sakit?" Tanya Dimas dengan tawa ringan.


"Tidak," jawab Leo.


"Tapi kau memekik Tuan muda," ujar Dimas.


"Itu karena aku kaget," jawab Leo terkekeh.


"Apa Yuna tahu jika kau kembali hari ini?" Tanya Dimas. Dia mencoba memukul pelan punggung adiknya.


"Tidak, aku tidak memberitahunya. Ini akan menjadi kejutan," jawab Leo sambil menikmati tinjuan di punggungnya dari Dimas.


"Apa ini sakit?" Tanya Dimas lagi.


Leo menggeleng, "Tidak," jawabnya.


"Okey," ucap Dimas dan menyudahi tinjauannya.


_Pesawat mengudara tepat pukul 10.00 di perkirakan akan sampai pada pukul 22.00. Wajahnya berseri, hatinya merekah dengan degupan jantung yang begitu berirama dengan indah.


"Sayang, aku kembali," ucapnya dalam hati. Dia kembali dengan membawa semua rindu yang ada pada dirinya.


Mereka kembali bersama. Papa, Mama, Kak Dimas dan Leo. Kak Dimas mampir dulu ke rumah Mama sebelum dia kembali ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2