
Vano kembali mengangkat wajahnya dan menatap gadis cantik didepannya.
"Neva, maukah kau menjadi istri ku? Menjadi ratu dalam hidup ku?" ulangnya. Neva tersenyum manis menatapnya.
Kemudian, Neva memberi salam pada keluarga Mahaeswara dengan sopan lalu ia juga memberi salam pada keluarganya.
"Sebelum aku memberikan jawaban, aku ingin berterima kasih kepada Om dan Tante yang telah memberikan restu pada Neva," ucap Neva. Ia menatap Tuan besar Mahaeswara dan Nyonya besar. Mereka berdua membalas tatapan Neva dan mengangguk dengan senyum. Kemudian, Neva membawa pandangannya pada Dimas, papanya, mamanya dan Leo. "Aku juga berterima kasih pada Papa, Mama, Kak Dim," Neva menatap Leo dengan senyum, tetapi ada air mata dipeluk matanya. "Dan Kak Lee. Terima kasih untuk restunya," Neva menyeka air mata yang terasa akan segera menetes. Ia menahannya. Ini harus dengan rasa bahagia dan senyum manis. Kemudian, ia membawa pandangannya pada laki-laki yang ada di depannya. Menatap kedalam matanya, meyakinkan hatinya.
"Dengan restu keluarga dan Ridho Tuhan, aku menerima pinangan mu," ujar Neva dengan keyakinan dihatinya. Dengan rasa bahagia yang menyertainya.
Vano tersenyum lebar mendengar jawab itu, ia menunduk sebentar untuk mengucapkan syukur pada Tuhan. Hatinya dibanjiri kebahagiaan, rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kemudian, kembali mengangkat wajahnya dan menatap Neva. Mereka saling menatap dengan pandangan penuh cinta yang bahagia.
Ungkapan syukur juga terucap pada setiap hati yang ada di acara itu. Semuanya tersenyum dengan bahagia.
Nyonya Mahaeswara berdiri lalu melangkah ke arah Neva. Beliau langsung memeluk gadis yang memang ia harapkan.
"Terima kasih sayang," ucap Nyonya Mahaeswara.
Kemudian, Nyonya Nugraha juga berdiri dan melangkah menuju Vano. Beliau langsung memeluk Vano.
"Terima kasih untuk cintamu pada putri Mama. Selamat Nak," ujar Nyonya Nugraha. Lalu kedua Nyonya membuka box kaca yang sudah di letakkan di atas meja khusus. Box kaca berisi cincin pertunangan Vano dan Neva. Cincin dengan inisial nama. Nyonya Mahaeswara dan Nyonya Nugraha mengambilnya satu.
__ADS_1
"De Vano Mahaeswara, semoga dengan restu yang kami berikan akan membawa hubungan kalian berdua menuju ke jenjang pernikahan dengan lancar tanpa halangan apapun," Mama memegang cincin pertunangan milik Vano.
"Neva D Nugraha, gadis cantik yang Mama cintai. Terima kasih sudah menerima Vano dengan tulus. Mama berdoa semoga kalian berdua dilimpahi kebahagiaan. Dengan restu kita semua, semoga dilancarkan sampai hari pernikahan nanti," Mama Mahaeswara tersenyum menatap calon menantunya. Beliau memegang cincin pertunangan milik Neva. Kemudian, Nyonya Mahaeswara memakainya untuk Neva. Ketika cincin itu perlahan masuk dijari manisnya, rasa bahagia semakin membuncah di hatinya.
Itu juga dilakukan oleh Nyonya Nugraha. Beliau memakaikan cincin untuk Vano. Setelah cincin pertunangan itu melingkar di jari manisnya, Vano langsung mencium tangan Nyonya Nugraha. Pun juga dengan Neva. Ia mencium tangan Nyonya Mahaeswara.
Tepuk tangan dan rasa haru menyertai acara ini. Kemudian, dua Nyonya saling berpelukan.
"Terima kasih telah menerima putraku dalam keluarga mu dengan kasih," ujar Nyonya Mahaeswara penuh haru.
"Sama-sama, aku juga berterima kasih karena putriku diterima dengan hangat di keluarga Mahaeswara," jawab Nyonya Nugraha. Impian dan do'a dua Nyonya telah terkabul. Semoga tidak ada halangan apapun untuk menjadikan hubungan ini suci dalam ikatan pernikahan.
Vano dan Neva saling melempar senyum. Mereka berdua saling menatap meski terhalang oleh dua Nyonya yang berada di tengah diantara mereka. Ya, memang ini sengaja. Vano dan Neva tidak boleh saling berdekatan, mereka boleh saling menatap tetapi tidak boleh saling menyentuh. Ini semacam rintangan untuk keduanya.
"Nona," seseorang disampingnya tiba-tiba menyodorkan sapu tangan untukny. Arnis gadis tomboi, dia tidak pernah membawa perlengkapan make up dalam tasnya, apa lagi sapu tangan. Arnis sedikit mengangkat wajahnya dan melirik sapu tangan yang disodorkan padanya. Dia mengulurkan tangannya dan menerima sapu tangan itu.
"Terima kasih," ucapnya. Lalu ia segera menggunakan sapu tangan itu untuk menyeka air mata dan ingusnya. Setelah menguasai hatinya. Ia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah seseorang yang memberinya sapu tangan.
"Terima kasih untuk ini," ucapnya memperlihatkan sapu tangan di tangannya. Seseorang itu mengangguk. "Sapu tangan mu kotor terkena ingus ku, hahaaa. Aku akan mengembalikannya nanti," lanjut Arnis.
"Tidak perlu dikembalikan Nona, ambil saja," jawab seseorang itu. Seorang cowok berperawakan sedang dan berkulit eksotis.
__ADS_1
Kemudian, acara dilanjutkan dengan foto keluarga. Dalam sesi ini pun, Vano dan Neva tidak boleh berdekatan. Mereka terpisah. Dua keluarga saling menjabat tangan dengan hangat.
Kemudian, acara dilanjutkan dengan makan malam mewah. Lalu dilanjutkan dengan acara santai. Dua keluarga berbincang dengan ramah.
Neva pamit sebentar pada meja dua keluarga, ia pamit untuk menyapa teman-temannya. Tapi kemudian Vano langsung menyusulnya. Pelan, ia menangkap lengan Neva dan membawanya ke dalam ruangan.
"Hei gadis," sapanya dengan senyum. Matanya terpesona oleh wajah ayu didepannya.
"Kau tidak boleh menyentuh ku Tuan muda," Neva menahan senyumnya. Tatapan mata Vano begitu tajam, itu membuatnya sangat grogi.
"Itu tadi, sekarang tidak," jawab Vano. Neva menatap matanya dan tidak mampu mengeluarkan suara apapun. Jantungnya berdegup kencang. Tangan Vano dengan lembut mengusap pipinya. "Kau sangat cantik sayang," pujinya yang membuat hati Neva meleleh, ia tersenyum. "Kau membuat ku lupa pada semua kalimat yang telah kurangkai, kau membuat terdiam dan hanya mampu berucap bahwa aku sangat menginginkan mu, Neva" lanjut Vano. Jantung Neva semakin berdegup. Vano menunduk, hidungnya bersentuhan dengan hidung Neva. Dia menggeseknya pelan. "Aku mencintaimu," ucapnya dengan pelan tetapi penuh perasaan. Neva mengangguk. Lalu Vano semakin mendekatkan wajahnya, nafas Neva terasa hangat diwajahnya. Dengan lembut ia mencium bibir Neva, menciumnya dengan penuh cinta. Neva memejamkan matanya, tangannya memeluk Vano. Namun tiba-tiba ....
Ups, Yuna melangkah masuk ke ruangan dan melihat adegan itu. Dia terpaku beberapa saat dan langsung menutup matanya dengan satu tangannya. Yuna tidak tahu jika ada Vano dan Neva di ruangan. Dia ingin melihat Baby Arai yang ada di lantai tiga bersama perawatannya.
"Aku tidak melihatnya, suwer" ucap Yuna dengan menahan senyum. Ia merasa sangat bersalah karena mengacaukan adegan mesra Vano dan Neva. Sementara Neva merasa malu setengah mati karena ciumannya dengan Vano dilihat oleh kakak iparnya.
Yuna berjalan dengan masih menutup matanya. Dia melangkah melewatinya Vano dan Neva. "Maafkan aku," ujarnya sebelum ia menaiki tangga.
___
Catatan Penulis π₯°
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya ya kawan. Like dan komen... okey. Padamu luv luv π₯°ππ Terima kasih.
Mohon maaf jika kadang ada tulisan yang typo ya. π