
Mereka berlima, Leo, Yuna, Alea, Asisten Dion dan Supir Albar memasuki restoran yang sudah dibooking oleh Tuan muda Lee.
Leo dan Yuna lebih dulu masuk lalu dibelakang mereka berdua, ada Asisten Dion, Alea dan Supir Albar.
Leo memeluk pinggang Yuna hingga mereka telah sampai di pinggir pantai.
"Waaahhh...." seru Alea takjub. Sementara Albar dan Dion hanya menyimpan kata itu dalam hati.
"Uhum," Yuna terbatuk. "Dion, Albar... kalian boleh bersenang-senang di sini. Big Boss ini...." Yuna menoleh ke arah Leo dan mengusap bahunya dengan lembut. "Dia membebaskan kalian. Saat ini, kalian adalah kalian bukan bawahannya. Ayo kita berteman," ucap Yuna. Albar dan Dion saling menoleh dan dengan kompak membungkuk di hadapan Leo.
"Terima kasih Boss," ucap Albar.
"Aku mencintai mu Boss," ucap Dion. Leo mengangguk sebagai tanggapan.
"Selamat bersenang-senang," jawab Leo. Albar dan Dion tersenyum dengan sangat bahagia. Si Boss berbicara pada mereka selain tentang kerjaan, ini ajaib.
"Alea, ayo," ajak Albar.
"Ayo ikut kita, agar kau tidak melihat adegan romantis yang membuat mu berkhayal," sambung Dion dengan tawa tingan. Alea sedikit melirik ke arah Leo sebelum menyetujui untuk bersama dengan Albar dan Dion. Mereka bertiga berjalan ke arah pantai.
Tangan Leo masih memeluk pinggang Yuna dan berjalan bersama menuju tepi pantai tak jauh dari Alea, Albar dan Dion.
Dion dan Albar sudah membuka sepatunya, mereka berdua juga sudah membuka jasnya. Sementara Alea diam dan berdiri di tepi pantai menyaksikan mereka berdua.
"Alea, ayo...." seru Dion yang di jawab gelengan oleh Alea. Dion segera menghampirinya dan menarik tangannya.
Yuna tersenyum memperhatikan mereka bertiga. Kedua tangannya melingkar di pinggang Leo.
"Sayang, apa kau tidak ingin bermain pasir?" tanya Yuna dengan masih memperhatikan mereka bertiga.
"Itu permainan anak kecil," jawab Leo.
"Bagaimana jika hari ini kita menjadi anak kecil?" Ujar Yuna. Dia mendongak dan menatap Leo. Leo langsung membalas tatapan matanya.
"Ku mohon jangan ceroboh," ujar Leo dengan serius. Dia miliki firasat buruk tentang ucapan Yuna 'Menjadi anak kecil'
"Tidak akan," jawab Yuna. "Janji," lanjutnya dengan mengacungkan dua jarinya. Tangan Leo terangkat dan mengusap rambutnya.
"Apa kau tahu, jika kau selalu mengingkari janji mu?" Ujar Leo. Yuna langsung membatu mendengar itu. Benar. Dia memang sering ingkar janji. "Kenapa?" Tanya Leo terkekeh melihat Yuna langsung diam. Kemudian, ia mengetuk pelan kening Yuna dua kali. "Aku akan menghukum mu jika kau sampai berani ceroboh," ujar Leo.
"Boss...." Dion berteriak dari tempatnya berdiri. Dia sudah basah karena Albar mendorongnya hingga membuatnya terjatuh dan basah. Begitu juga dengan Albar yang mendapat balasan dari Dion.
Mendapat panggilan dari Dion, Leo segera mengarahkan pandangannya pada Dion. Dion berdiri bersebelahan dengan Albar.
"Boss... Saranghaeyo," seru Dion dengan menyatukan kedua tangannya di atas kepala membentuk love.
Kemudian, disusul Albar yang membentuk telapak tangannya menjadi Love dan meletakkannya di depan dadanya.
"Wo ai ni Boss," seru Albar memamerkan bentuk dari tangannya.
Yuna tersenyum lebar melihat itu, kemudian, dia mendongak untuk menatap Leo. Sudut bibir Leo sedikit terangkat membentuk senyuman tipis.
"Sayang," panggil Yuna.
"Ya?" Jawab Leo dan langsung membawa pandangannya pada Yuna.
"Ayo bermain bersama mereka," ajak Yuna. Namun sebelum mereka menuju Dion Cs. Seseorang datang dan langsung menuju Leo dan Yuna.
"Selamat sore Tuan muda Leo," sapa Karel dengan ramah setelah dia berada di samping Leo. Leo dan Yuna langsung menoleh ke arah Karel.
Leo mengangguk sebagai tanggapan pada sapaan Karel.
"Hallo Kak Er," sapa Yuna dengan senyum bahagia. "Aku terlalu asik menyaksikan mereka," Yuna menunjuk Dion Cs, "Maaf tidak menyadari kedatangan Kakak," lanjut Yuna.
"Tidak apa-apa," jawab Karel dan dengan senyum memperhatikan Yuna dengan perut buncitnya. "Aaahh Nyonya muda, kau lucu sekali," ucap Karel. Lalu menatap wajah Leo dengan senyum. "Tuan muda Leo, mohon maaf saya harus memuji Yuna," ucap Karel. Leo membalas pandangan Karel dengan pandangan tidak suka.
"Jaga lidah mu, atau kau akan menyesal," jawabnya dengan ancaman. Karel tersenyum dengan itu. Yuna sudah mengirim pesan padanya untuk mengerjai Tuan muda yang selalu serius ini.
"Yuna, kau semakin cantik. Kecantikan mu bahkan mengalahkan bibidari kahyangan," puji Karel dengan menatap Yuna. Yuna ingin menjawab Karel tetapi Leo langsung menyahutnya.
"Karel Erlangga," suaranya memanggil nama Karel dengan penekanan. Seolah, kau habis hari ini juga.
"Siap, Tuan muda, apa kau akan memarahi ku? Jika iya, maka... aku akan..." Karel melirik ke arah Dion, "Kabuuuurr...," lanjutnya dan langsung berlari dengan segera melepas sepatunya. Apa-apaan itu tadi?? Pikir Leo. Karel berani pergi sebelum Leo menyelesaikan kalimatnya?
Yuna melambai pada pelayan dan meminta menyiapkan sesuatu.
Tak lama, Karel datang dengan Dion dan Albar.
"Boss, apa boss mengancam dia?" Tanya Dion dengan menunjuk Karel yang berdiri di belakangnya.
"Kita akan bersama dia dan melindunginya," sambung Albar dan berdiri di depan Karel. Albar dan Dion seperti pahlawan bertopeng yang siap melindungi Karel.
Leo tersenyum sinis dan mencekam. Sejujurnya, Albar dan Dion langsung ketakutan melihat senyum horror itu tetapi mereka memiliki Nyonya muda yang akan membela mereka jika terjadi sesuatu.
"Kalian...." suara Leo terdengar begitu menakutkan.
"Boss, hentikan," ucap Dion. Kemudian, dia melirik Karel dan Albar. "Kabur...." seru mereka bertiga dan langsung ngacir kembali ke pantai. Apa-apaan itu tadi? Pikir Leo lagi.
"Sayang, apa kau tidak berniat mengejar mereka?" Tanya Yuna.
"Tidak. Tidak ada gunanya. Aku akan mengurusnya besok," jawab Leo datar. Yuna menepuk keningnya pelan.
'Asataga... harusnya kau mengejarnya dan memukul mereka dengan kesal karena mereka melawan mu' batin Yuna. Kemudian, Alea melangkah menuju mereka. Dia berdiri di samping Leo.
"Yuna," Panggilannya.
__ADS_1
"Iya," jawab Yuna.
"Apa kau haus?" tanya Alea dan bersiap membuka tas miliknya.
"Hhm, tidak Alea, terima kasih tawarannya," jawab Yuna dengan senyum.
"Maaf, Tuan muda Lee, apa anda haus?" Tanya pada Leo.
"Simpan suara mu. Berhenti berbicara dengan ku," jawab Leo dengan dingin. Itu langsung membuat Alea menunduk dalam kesedihan. Dia ingin menangis. Yuna memperhatikannya dengan pandangan rasa bersalah. Ucapan Leo pasti menyinggungnya.
"Maaf Tuan muda Lee," ucapnya tercekat dan kemudian berbalik dan melangkah menjauh.
"Sayang, kau menyinggungnya," ucap Yuna. Dia menyentuh lengan Leo.
"Aku tidak perduli," jawab Leo.
"Ada banyak orang di sekeliling mu. Bukan hanya ada Mama, Papa, Kak Dimas, Neva dan Aku," Yuna sengaja tidak menyebut Nora karena Leo tidak menyukainya. "Lihatlah mereka," Yuna menunjuk Dion Cs. "Mereka orang-orang yang menyayangi mu juga," ujar Yuna.
"Itu karena aku membayarnya," jawab Leo. "Apa mereka akan tetap bersama ku jika aku tidak memiliki uang?" lanjut Leo. Yuna mengambil nafasnya. Dia harus berfikir keras.
"Mmmm, mungkin ada beberapa orang yang memiliki sifat yang tidak tulus tapi aku yakin mereka orang yang tulus terhadap mu," jawab Yuna. Leo mengangguk, dia tidak ingin berdebat dengan Yuna. Jika saat ini yang berbicara padanya adalah Kak Dimas, atau Papa sekalipun maka dia tidak akan mengangguk begitu saja, dia akan melakukan debat panjang. Namun, yang berbicara padanya adalah Yuna, wanitanya. Jika Yuna kalah dalam berargumentasi maka Yuna pasti akan ngambek, jika Yuna ngambek, Tuan suami pasti sangat pusing dan tidak memiliki mood apapun selain gelisah. Jika Yuna ngambek maka hari ini tidak akan menjadi hari yang indah. Jadi... dia mengangguk dengan mudah. Selesai. Nyonya tidak akan berbicara lagi. Dia menjadi seseorang yang maha mengalah jika sudah berurusan dengan Yuna. Dia kalah tetapi merasa menang.
"Aku mau ke Alea dulu," ujar Yuna dan langsung melangkah tetapi Leo menahan tangannya.
"Kenapa kau begitu perhatian dengan dia?" Tanya Leo.
"Karena dia teman ku," jawab Yuna. Leo menyunggingkan bibirnya sinis. Kemudian, dia menarik Yuna dan mencium rambutnya.
'Jika kau tahu bahwa dia terus terusan mengirimi ku pesan, apa kau masih akan begitu baik padanya? Aku tidak lagi melihat ketulusan dari seseorang yang kau sebut teman. Atau ini hanya perasaan ku saja?'
"Kau harus segera kembali," ucap Leo lalu melepaskan Yuna. Yuna mengangguk lalu dia melangkah mendekati Alea yang berdiri di bibir pantai. Dia meminta maaf padanya untuk sikap dan perkataan Leo. Dia menjelaskan bahwa Leo tidak bermaksud seperti itu, Leo hanya sedang kesal pada Dion jadi dia melampiaskannya.
Sementara di sana. Karel mendekati Leo dan mengajaknya untuk bergabung, tentu saja Leo menolaknya.
Kemudian, Yuna dan Alea menghampiri mereka. Yuna membuat permainan kursi panas.
Dia mengajak Leo untuk bergabung, dan memang permainan ini untuk dia.
"Sayang," Yuna membujuknya. Tangannya melingkar di pinggang Leo dengan manja, matanya menatap Leo dengan permohonan. Dan Tuan suami tidak akan tahan dengan itu. Pada akhirnya, dia menyetujui untuk bergabung bersama.
Yuna berdiri sebagai juri dan Alea yang membawa bedak tabur bayi. Siapapun yang kalah akan dicoret wajahnya menggunakan bedak.
Permainan kursi panas di mulai. Yuna memainkan lagu dari ponselnya dan Leo, Karel, Dion dan Albar mengelilingi kursi, ketika lagu berhenti maka mereka akan berebut kursi untuk duduk.
Leo kalah... dia paling lambat dari Karel Cs. Dia berkacak pinggang dengan kesal. Matanya menatap Dion dan Albar secara bergantian, pandangan intimidasi dari Boss. Pandangan mata yang seolah bilang, 'Berani-beraninya kalian. Hari ini terakhir bekerja dengan ku.'
Asisten Dion dan supir Albar nyengir memamerkan giginya. Mereka berdua saat ini dalam lindungan Nyonya muda, jadi mereka tidak mengindahkan tatapan mata tajam Bossnya.
"Kau kalah, aku akan mencoret wajah mu Leo," ujar Karel dengan semangat. Lalu di susul Dion dan Albar yang langsung berlari bersiap mencoret wajah Leo. Mereka berdua bersemangat.... kapan lagi, pikir mereka.
"Hei, Tuan muda, ini adalah permainan. Kau kalah dan harus mendapat hukuman," ujar Karel dan dia mengintruksikan untuk segera mencoret wajah Leo. Yuna menahan tawanya melihat wajah Leo yang merah karena menahan marah.
"Tidak bisa, diam kalian disitu," tolak Leo. Tangannya mengulur dan memberi isyarat pada mereka untuk tidak melakukan hal bodoh, menurut dia.
"Aaa.... kau kalah, sayang," ucap Yuna. Dia berada di pihak Karel Cs.
"Apa? Kau membela mereka?" Leo langsung menoleh ke arah Yuna dan menatapnya kesal.
"Aku harus adil sayang," jawab Yuna.
"Kau...." Leo ingin mencubitnya tetapi Karel Cs sudah mengambil bedak di tangannya dan bersiap untuk mencoret wajah Leo. Leo menoleh dan Karel sudah berada di dekatnya. Sial, umpatnya dan langsung berlari. Karel dan Yuna saling lirik dan tertawa kecil.
"Boss, aku akan mengejar mu...." Dion dan Albar langsung mengejar Leo. Sementara Karel mengejar dari arah yang berbeda. Leo berlari sepanjang bibir pantai dan berputar kembali menghindari kejaran tiga orang itu. Dia mengumpat dalam hati namun tidak begitu kesal.
"Kalian tidak akan pernah bisa menangkap ku," dia berteriak dengan keras sambil membalik badan dan berlari dengan mundur. "Mimpi saja untuk menangkap ku," lanjutnya dan kemudian kembali berlari menghindari mereka.
Yuna menyaksikannya dengan tawa yang lebar dan perasaan yang bahagia. Sangat lucu, menyaksikan Leo yang berkejaran dengan Karel Cs. Semoga... ini adalah awal dari Tuan suami membuka diri dan mau berteman dengan siapapun, harapnya dalam hati.
Alea juga menyaksikannya, bibirnya terus menyunggingkan senyum. Dia kemudian, memperhatikan Yuna yang berdiri di depannya. 'Kau wanita yang beruntung Yuna,' ucapnya dalam hati.
Yuna berjalan dan mengambil minuman yang sudah tersedia. Dari jauh, dia melambai pada Leo. Melihat lambaian itu, Leo segera menambah kecepatan larinya dan menghampiri Yuna. Dengan nafas yang terengah-engah dia berdiri di depan Yuna.
Yuna tersenyum dan menyuruhnya untuk duduk.
"Berhenti, lepaskan dia," ucap Yuna pada Dion Cs.
"Siap Nyonya muda," jawab mereka serempak.
"Apa-apaan ini? Kau menjinakkan mereka dengan mudah?" Leo menatap Dion Cs dan Yuna secara bergantian.
"Diam dan minum ini," ucap Yuna dan memberi minuman pada Leo. Sementara Alea memberi minum pada Dion Cs.
Yuna mengambil handuk kecil dan dengan lembut menyeka keringat yang menetes di dahi Leo.
"Sepertinya kau berlari dengan bersemangat," ujar Yuna.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh ku," jawab Leo.
"Hei, Tuan muda. Kau kalah dalam permainan," Karel langsung menyahut. "Kau tetap harus mendapat coretan," lanjut Karel.
"Siapa kau berani mengatur ku?" Jawab Leo dengan nada tinggi.
"Aahh, bukan aku yang membuat peraturan tetapi Nyonya muda," jawab Karel dengan menahan tawa dan merasa menang dengan jawabannya. Jawaban Karel membuat Leo langsung putus asa seketika, dia menatap Yuna dengan sedih.
Asisten Dion dan Albar tertawa terbahak-bahak tetapi tanpa suara. Si Boss sangat lucu jika bersama Nyonya muda.
__ADS_1
"Jadi...." lanjut Karel ingin segera berkesempatan mencoret wajah Tuan muda Leo.
"Okey," jawab Leo terkalahkan. Dion dan Albar langsung menoleh ke arah Bossnya dan bersemangat. Mereka bersorak dalam hati. "Aku kalah dalam permainan dan aku akan menjalani hukuman," lanjutnya dengan melihat ke arah Yuna dengan tajam. "Kau puas Nyonya?" Tanyanya. Yuna tertawa kecil dan menepuk pundaknya.
"Aku akan mencoret wajah mu Tuan muda," ujar Karel yang di sambut semangat oleh Dion dan Albar.
"Aku tidak menyetujui untuk mengizinkan kalian mencoret wajah ku," jawab Leo. Lalu menatap Yuna, "Sayang, kau yang harus menghukum ku," lanjutnya. Dan langsung membuat Karel Cs lemas.
"Haaa... baiklah, baiklah," jawab Yuna dan meminta bedak pada Alea. Dengan pelan, dia membuat tiga garis di pipi sebelah kanan Leo dan tiga garis di pipi kiri Leo. "Selesai," ucapnya.
"Apa kalian puas?" Tanya Leo dengan ketus pada Karel Cs. Dan mereka semua tertawa terbahak.
Kemudian, Yuna mengambil foto. Mereka berfoto bersama. Yuna, Leo dan Alea berdiri, sementara Karel, Dion dan Albar jongkok di depan mereka.
Langit sudah mulai berubah warna, matahari mulai pamit, dan inilah keindahan senja.
Bersama dan saling melengkapi, bersama dan saling menerima, kelemahan mu adalah kelebihan ku. Yuna memeluk Leo dengan penuh cinta. Dia tahu, Leo orang yang sangat posesif padanya, dia tidak bisa bebas berteman dengan siapa saja tetapi dia bahagia. Dia tidak merasa terkekang karena dia memenuhi keinginan Leo dengan hatinya.
Setelah, mentari pamit dan lampu-lampu mulai menyala dengan terang, dengan cahaya kuning dan juga warna-warna lain. Mereka duduk dalam satu meja panjang. Yuna membuat panggilan video pada Neva. Dia mengajak Neva bergabung, dan yang membuatnya terkejut adalah ternyata Neva sedang bersama dengan Vano.
"Oh, kau bersama Vano?" seru Yuna di sebrang sana. Mendengar ucapan Yuna, Leo langsung membawa pandangannya pada layar ponsel milik Yuna. Benar... ada Vano di sana.
Yuna menatap Leo dan menyentuh tangannya.
"Jika kau tidak suka, aku tidak akan menyuruh mereka ke sini," ucap Yuna. Leo mengalihkan pandangannya pada Yuna, matanya begitu lembut ketika menatap Yuna.
"Undangan saja, tidak masalah," Jawab Leo. Yuna tersenyum. Dan mengundang mereka untuk bergabung. Dia mengirim pesan pada Vano agar tidak perlu canggung dan nikmati saja makan malam bersama ini. Itu juga yang dia kirim pada Karel, Dion, Albar dan Alea. Mereka semua akan menjadi kaku jika sudah berhadapan dengan Tuan muda satu itu.
Dion pandai membawa suasana dengan omongan recehannya. Dia juga menceritakan bahwa dia harus mandi dengan menggunakan sabun tujuh kali agar si Boss tidak menyebutnya bau dan setiap detik dia mencium keteknya sendiri takut dia bau dan membuat Bossnya marah. Leo menahan tawanya mendengar ocehan receh Dion.
"Apakah Boss mu mengalami gangguan penciuman?" Tanya Yuna dengan sengaja.
"Nyonya, aku tidak mengatakan itu. Tapi sepertinya iya," jawab Dion dan mereka langsung tertawa terbahak-bahak. Leo kesal setengah mati pada Dion tetapi dia ikut tertawa kecil. Yuna menoleh ke arahnya. Menyentuh tangannya dengan hangat di bawah meja.
'Sayang teruslah bahagia dan tertawa. Memiliki teman adalah warna lain selain warna cinta yang kau kenal selama ini.'
Tak lama, Neva datang dengan Vano yang berada di samping kanannya dan Lula yang berada di samping kirinya.
"Waaahh...," ujarnya setelah sampai. Dia melangkah dan menghampiri Kakaknya, mencium pipinya singkat dan kemudian mencium pipi Yuna singkat lalu mengusap lembut perut Yuna.
"Baby... aku merindukan mu," ucapnya pelan.
"Selamat malam Leo," sapa Vano. Dia membungkukkan badannya, begitu juga Lula. Leo menanggapinya dengan anggukan.
"Silahkan duduk Vano," ucap Yuna mempersilahkan. Ada tiga kursi yang masih kosong. Yuna sengaja mengkosongkannya untuk Vano dan Neva.
Neva duduk disamping Leo dan Lula duduk di samping Neva. Semetara Vano duduk di samping Lula.
"Kau mau minum apa?" Tanya Yuna dan dia langsung mengangkat tangannya.
Albar dan Dion menjadi panas dingin karena tidak menyangka jika dia berkesempatan makan malam dengan dua Boss besar. Sementara Karel merasa sangat bersyukur karena memiliki kesempatan ini.
"Leo, apa kau makan nasi?" Tanya Vano tiba-tiba. Leo menoleh ke arahnya. Pertanyaan aneh, batinnya.
"Tentu saja," jawab Leo singkat.
Vano mengangguk-angguk. "Ku pikir kau makan bunga," jawab Vano. Leo menatapnya tajam dengan kening yang berkerut. "Karena, ketika bertemu dengan mu, hati ku menjadi berbunga-bunga," lanjut Vano tanpa melihatnya. Diam mencekam beberapa saat sebelum akhirnya pecah dengan tawa yang terbahak-bahak.
"Apa-apaan kau, menjijikan," ucap Leo. Yuna tertawa terbahak-bahak sambil menggenggam jemari Leo di bawah meja. "Sepertinya kau sangat bahagia melihat suamimu dirayu orang lain," Leo menoleh ke arah Yuna. Mendengar ucapan Leo membuat Yuna semakin tertawa. "Aahh... kau."
"Hei, kamu...." Vano menunjuk Karel.
"Aku?" Tanya Karel menunjuk dirinya sendiri. Vano mengangguk.
"Sekarang giliran mu merayu dia," ucap Vano sambil melirik Leo.
"Apa-apaan kau," ujar Leo. Dia tidak setuju. Tapi saat ini, semuanya tidak ada yang mengindahkan ucapan dan protesnya.
"Uhum," Karel berdehem.
"Tutup mulut mu, atau aku akan menghancurkan karir mu dalam hitungan detik," ancamannya. Namun Yuna memberi kode untuk lanjutkan. Okey ada Yuna di belakangnya, Karel tidak takut dengan ancaman itu.
"Tuan muda Leo. Anda seperti bendera," ucap Karel. Leo menatapnya tajam. "Bayang-bayang mu selalu berkibar di otak ku," lanjut Karel.
"Pufffhh," Pipi Yuna menggembung dan pecah tawanya. Neva menepuk-nepuk pundak Kakaknya dengan gemas. Mereka semua tertawa.
Astaga, mereka semua sudah gila, batin Leo.
"Karel, siapa yang kau tunjuk selanjutnya," tanya Vano.
"Nona ini....," jawab Karel menunjuk Alea.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Sebelumnya, kita kenalan dulu yach. Dari bab satu sampai bab dua ratus dua belas Thor belum memperkenalkan diri. π€βοΈ
Nama Thor udah sering muncul kan ya kalau lagi balas koment. Temen-temen bisa panggil aku...
"Nanas" π₯°π€ Salam hangat dari ku, pembaca kesayangannya Thor...ππ
Like, koment jangan lupa ya cinta...π₯°π
Tengkyuuu, luv luv.
__ADS_1