
Sosok laki-laki yang memiliki postur tubuh tinggi, kulit putih dengan mata hanzel. Dia tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Ya ... dia adalah dr. William.
"Hai Nyonya Leo," sapa dr. William dengan senyum menatap Yuna. Dia sudah diberi tahu semuanya. Siapa nama pasien yang akan dia tangani. Bagaimana rekam medisnya. Dalam waktu singkat dia bisa memahami semuanya.
Yuna membalas tatapan mata dr. Willam sekilas. Kemudian ia membungkukkan badannya. Ini bahkan lebih rendah dari pada saat ia membungkuk memberi salam pada Perdana Menteri.
"Saya Yuna. Senang bisa bertemu dengan anda dr. William. Ini adalah anugerah luar biasa. Saya mohon dengan sangat, tolong segera tangani suami saya. Saya mohon dengan sangat, bantu suami saya. Saya mohon dokter ...."
Dokter William maju satu langkah, kedua tangannya mengulur dan memegang bahu Yuna.
"Tidak perlu seperti ini, bangunlah," ucapnya.
Yuna mengangkat kepalanya dan langsung menarik mundur dirinya menghindari kontak fisik dengan dr. William. Dokter William tersenyum tipis dan memperhatikan tangannya.
"Ajudan Perdana menteri sudah memberi tahu semuanya dan saya sudah menerima rekam medis suami Nyonya," ujar dr. William. Yuna mengangguk dengan kelegaan hati. Dia sedikit bernafas lega. Dalam hati ia mengucap syukur tanpa henti. Ia juga mengucapkan terima kasih pada Edellyn dan Perdana Menteri atas bantuan mereka.
"Ini bukan apa-apa, Nyonya Leo. Suami anda telah menyelamatkan putri ku. Jadi izinkan kami untuk membalas budi kebaikan suami Nyonya," jawab Sang Mentari. Kemudian, beliau mengalihkan pandangannya pada dr. William. "Lakukan yang terbaik atau aku akan mendepak mu dari negara ini," ujarnya pada dr. William.
Dr. William terkekeh mendengar ancaman itu, "Siap laksanakan Perdana menteri. Saya pasti akan memberikan yang terbaik," jawabnya.
Kemudian mereka semua berjalan menuju ruang Leo. Banyak perawat dan dokter yang berjejer dan langsung membungkuk saat rombongan Perdana menteri melewati mereka. Dan mereka tercengang saat melihat dokter tampan yang cerdas ada disamping Sang Menteri. Siapa gerangan yang mampu menghadirkan mereka berdua secara bersamaan? Begitu batin semua perawatan dan beberapa dokter yang mereka temui sepanjang jalan menuju ruangan Leo.
Sementara Yuna berjalan dibelakang mereka berdua. Dia bersebelahan dengan Edellyn. Lalu dibelakangnya ada banyak ajudan yang mengawal.
__Suasana sepi dalam kecemasan hati Tuan besar Nugraha. Ini hampir tengah malam. Dimana Yuna? Pikiran dan kekhawatiran beliau terbelah. Memikirkan tentang nasib putranya, dan sekarang memikirkan keberadaan Yuna yang tak kunjung kembali. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada menantunya itu.
__ADS_1
"Biar aku yang mencarinya Pa," ujar Vano mencoba menenangkan Tuan besar Nugraha. Namun ... belum sempat Tuan besar Nugraha menanggapi, terdengar derap kaki yang melangkah menuju mereka.
Tuan besar Nugraha dan Vano langsung berdiri saat mengetahui siapa yang datang. Lantai ini, khusus disewa untuk perawatan Leo. Kenapa Perdana Menteri kesini? Batin Tuan besar Nugraha bingung. Tetapi juga bahagia karena bisa bertemu langsung dengan Perdana Menteri hebat ini. Kemudian, beliau semakin terkejut saat sepasang mata tuanya melihat menantu yang sedari tadi ia tunggu ada dibarisan rombongan Perdana Menteri.
Tuan besar Nugraha dan Vano langsung membungkukkan badannya memberi salam saat Perdana Menteri berhenti di depan mereka berdua. Lebih tepatnya, berhenti di depan ruangan dimana Leo dirawat.
Yuna dengan langkah pelan berdiri di samping Tuan besar Nugraha. Dia dengan bahasa Inggris yang fasih menjelaskan dan memperkenalkan secara singkat.
Tidak ingin membuang banyak waktu, mereka langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan Leo. Neva yang saat ini berada di dalam segera berdiri dan memberi salam pada semua.
Perdana Menteri dan putrinya berdiri di samping ranjang Leo. Menatap dengan sedih kondisi Leo saat ini.
Perdana menteri mengambil nafasnya dalam. Beliau tidak bisa membayangkan jika laki-laki gagah ini tidak melindungi putrinya. Beliau sedih dengan rasa haru dalam hatinya. Beliau berjanji dalam hati untuk bisa membantu dan mengembalikan kondisi Leo sehat seperti semula. Semoga dia bisa, batinnya.
Edellyn duduk di samping ranjang Leo. Menatap wajah rupawan yang terpejam.
Sementara itu, dr. William diam memperhatikan Leo. Dia tersenyum dan kemudian menatap Yuna yang berdiri di samping Leo.
"Sudah?" tanyanya pada semua. "Silahkan memberikan semangat pada pasien. Dan jangan berhenti berdo'a," lanjutnya. Kemudian, dr. William membalik badan melangkah keluar. "Segera bawa pasien keruang operasi," perintahnya pada tim yang berjaga dan siap disana.
Suasana kembali tegang. Tuan besar Nugraha langsung menghampiri putranya. Mengenggam tangan Leo.
"Lee, Papa, Mama dan semuanya menunggu mu untuk kembali kerumah dengan sehat. Kami menyayangi mu. Semangat nak ... kau harus sembuh," ujar Tuan besar Nugraha. Beliau menunduk dan mencium kening putranya.
Kemudian, Neva yang berbicara pada kakaknya. Dia mengucapkan kata-kata motivasi untuk kakaknya lalu dia mencium kening Leo.
__ADS_1
"Aku menunggumu untuk menemani ku berdansa Kak," ucapnya pada akhir kalimat.
Kemudian, Yuna yang mendekat. Dia tengah membuat panggilan pada Mama. Beruntung, Baby Arai masih terbangun dan dia tengah berceloteh. Yuna mendekatkan ponsel itu pada Leo. Memperdengarkan celoteh putra kecilnya.
"Daddy ... apa kau mendengar ku?" ucap Yuna mewakili Baby Arai. Suaranya tercekat. "Daddy, kau adalah superhero yang sangat hebat. Daddy harus semangat menjalani ini. Aku menunggumu Daddy, mengenggam tangan ku, mengajari ku berjalan, membawaku berlari dan kita akan berkejaran di tepi pantai bersama," Yuna menyeka air matanya yang mulai menetes. Kemudian memberi kesempatan pada Mama dan Kak Dimas diseberang sana untuk juga memberi semangat pada Leo.
"Lee, apa kau ingat saat kau terjatuh dan lututmu berdarah? Kau menangis kala itu dan Mama tertawa karena kau begitu cengeng. Namun ternyata kau tumbuh menjadi laki-laki yang kuat. Nak ... Mama mencintaimu semangat dan segera kembali ke rumah dengan sehat. Bukalah matamu, ada baby Arai yang sangat membutuhkan kehadiran mu," ujar Mama dengan terisak. Kemudian, beliau mengakhiri panggilannya. Mama tidak kuat lagi. Setelah itu Mama menangis histeris dalam pelukan Dimas. Kecemasan memenuhi dirinya.
"Lee pasti sembuh Ma," ujar Dimas mencoba menenangkan Mama.
Kemudian, tim perawat membawa Leo dari ruangannya menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Yuna masih ikut disamping Leo. Ia ikut berlari saat perawat mendorong ranjang rawat Leo. Hingga genggaman tangannya harus terlepas saat ia berada di depan ruang operasi. Genggam tangannya memudar.
"Sayang aku mencintaimu," ucap Yuna terakhir kali sebelum perawat membawa Leo masuk.
Yuna berdiri mematung menatap nanar ruangan itu. Sebelum pintunya ditutup ia melihat dr. William yang sudah siap dengan seragam kebesarannya. Dokter William yang sudah menunggu di dalam.
Yuna menatap dokter William dari jauh, lalu ia membungkukkan badannya isyarat bahwa ia memohon untuk memberikan yang terbaik bagi suaminya. Dokter William tersenyum dan mengangguk memberikan jawaban.
________
Catatan penulis 🥰
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang 🥰 Terima kasih aku padamu.
Maaf kalau ada typo-typo ya... mohon koreksinya.
__ADS_1
Lanjuuut....
Bersambung...