Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 216_Wisuda


__ADS_3

"Besok acara wisuda Neva, kau harus dandan yang cantik. Dan Papa akan membicarakan ini dengan Nugraha," ucap Papa. "Dia teman yang baik, dia pasti akan membantu."


Alea tidak memberi jawaban. Apa ucapan Papanya itu benar. Tapi... bukankah itu akan menyakiti Yuna. Dia beranjak dari duduknya masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka agendanya dan membaca tulisan tentang pertemuan pertamanya dengan Yuna. Bersama Yuna dia begitu di hargai meski Yuna adalah istri dari Tuan muda Leo tetapi mereka berteman dengan hangat. Dia ingat pertama kali berkenalan dengan Yuna. Wanita itu tidak memandang sebelah mata atas dirinya yang bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan status Yuna.


"Cinta... aku tidak menginginkan mu untuk ada di hatiku. Aku tidak mengizinkan mu untuk bersemayam di hati ku. Sebuah rasa yang datang begitu saja dan memporak-porandakan hatiku dan bahkan akal fikiran ku. Aku ingin berontak tetapi terkadang aku ingin menikmatinya.


Berhenti.... berhentilah pada sesuatu yang salah. Atau semesta akan menghukum mu."


Alea menutup agendanya. Dia meletakkan kepalanya di atas lengan yang dia lipat di atas meja. Mulutnya menggumam pelan, menyenandungkan lagu sendu tentang cinta yang tak bisa dimiliki. Dia ingat dulu ketika jatuh cinta pada Vano lalu dia harus pergi karena kasus Papanya. Pupus. Sekarang.... degupan jantungnya untuk laki-laki yang telah menikah dan itu adalah lelaki dari sahabatnya sendiri. Dia tidak ingin menjadi wanita yang sangat menjijikan dengan hadir di antara hubungan mereka.


Pelan, dia mengangkat kepalanya dan mengambil ponselnya. Dia membuka chatnya pada Leo. Hanya ada tiga balasan dari Leo dari sekian banyak pesan yang dia kirim. Dan itu tentang Yuna. Saat ini, nomor ponselnya telah diblokir oleh Leo. Dia tersenyum tipis dan mematikan ponselnya kembali.


___Di malam yang sama. Di rumah Tuan muda Leo.


Leo baru saja menyelesaikan dongengnya untuk Yuna.


"Tidurlah," ucapnya setelah meninggalkan ciuman di kening Yuna.


"Sayang," panggil Yuna pelan.


"Ya," jawab Leo. Dia mendekap Yuna dengan hangat.


"Apa kau tahu, di meja panjang di pinggir pantai itu... ketika Alea menatap mu, ada sesuatu yang sakit di sini," Yuna merenggangkan tubuhnya kemudian, mengambil tangan Leo dan meletakkan di dadanya. "Rasanya sangat sesak hingga membuat ku ingin menangis," lanjutnya. Leo menarik tangannya dan mengusap rambut Yuna pelan.


"Kau cemburu? Hmm?" ucapnya dengan senyum menggoda.


"Tentu saja... kenapa bertanya lagi," jawab Yuna dengan suara yang tidak lembut lagi. Dia menatap Leo dengan kesal.


"Hmmm senangnya...," ucap Leo masih dengan senyumnya.


"Senang apanya?" Yuna memencet hidung Leo dengan kencang hingga membuat Leo bernafas dari mulutnya. "Apanya yang menyenangkan? Aku bersedih dan kau senang. Aku ingin menangis dan kau bahagia? Hmm? Suami macam apa kau ini...," Yuna semakin mengencangkan tangannya di hidung Leo. Dia super kesal.


"Sayang, lepasiin sakit," ucap Leo dengan suara mirip robot karena hidungnya ditutup oleh Yuna. Dia memegang tangan Yuna dan mencoba untuk melepaskannya.


"Aku serius, Leo," ucap Yuna dengan cemberut. Kemudian, melepaskan tangannya dari hidung Leo.


"Auuhh. Hidungku...," ujar Leo dengan mengusap hidungnya.


"Aku serius...," ucap Yuna dengan manyun. Leo terkekeh dan menariknya.


"Bagaimana jika kau menjauh darinya?" Tanya Leo.


"Kenapa sampai harus menjauh?"


"Kau tidak suka dia menatap ku bukan?"


Yuna mengangguk, "Aku melihat ada yang lain dari sorot matanya ketika menatap mu," jawab Yuna. Dia memperhatikan wajah Leo dengan seksama dan kemudian mengangkat tangannya untuk diletakkan di wajah Leo. Lalu mengacak-acaknya dengan gemas. "Aaaaaaa... kenapa kau begitu tampan? Aku tidak rela...," Yuna berteriak dengan terus mengacaukan wajah Leo. Dia berhenti sejenak dan kembali menatap Leo dengan seksama, "Aaaaa... kau kasih saja tampan. Tidakk...."


Leo tertawa dengan ulah Yuna yang berusaha untuk menghancurkan wajahnya.

__ADS_1


___Di tempat lain. Di malam yang sama di kamar Tuan muda Vano.


Laki-laki itu berdiri di balkon kamarnya. Membiarkan wajahnya diterpa angin malam yang sangat dingin. Dia membuka kotak kecil di tangannya. Sebuah cincin. Dia tersenyum tipis memperhatikan ini dan kemudian menutupnya kembali.


"Kau sudah tidur?" Dia mengirim pesan pada Neva.


"Aku hampir tidur, tetapi pesan Kak Vano membuat ku terjaga kembali. Ada apa?" Balas Neva.


"Tidak ada, aku hanya Merindukanmu," balas Vano.


Diseberang sana, seseorang merona ketika membaca pesan itu. Dia mendekap ponselnya sebentar dan membiarkannya. Dia sengaja tidak segera membalas pesan. Dia sengaja membuat sang pengirim pesan menunggu. Cring... ponselnya mendapat pesan baru dari seseorang yang sama.


"Apa setelah membaca pesan ku, kau jadi tidur dengan nyenyak?" isi pesan itu. Neva tersenyum lebar membaca pesan itu.


"Hmmm rasanya malah membuat ku tidak bisa tidur," balasnya.


Vano tersenyum membaca balasan dari Neva. "Apa kau memikirkan ku?" balasnya.


"Ge-Er," balas Neva dengan emot melet.


"Aku akan datang besok," balasnya.


"Datang kemana?" Balas Neva pura-pura tidak tahu apa yang di maksud Vano.


"Ke acara wisuda mu," balas Vano.


"Aku Bossnya siapa yang mengatur ku libur atau tidak libur."


"Oke. Sampai jumpa besok Kak Vano." balas Neva.


"Selamat malam gadis."


"Malam Kakak."


Chat berakhir. Vano menggenggam kotak kecil di tangannya dengan senyum. Kemudian, dia melangkah masuk dan menutup pintunya.


___Pagi hari.


Neva duduk di barisan depan dengan beberapa wisudawan berprestasi lainnya.


Papa, Mama, Kak Dimas, Leo, Yuna dan Papa Alea.


Alea tidak ikut dalam acara ini. Dia tidak ingin mengacaukan suasana. Dia sadar tatapan mata Yuna padanya ketika di meja panjang di pinggir pantai malam kemarin. Tatapan mata Yuna yang sedih, hingga membuat Yuna terdiam beberapa saat. Dia tidak ingin Yuna membencinya.


'Bagaimana jika Leo J itu yang menginginkan mu. Laki-laki di dunia ini sama. Mereka menginginkan banyak wanita. Apalagi Lee yang memiliki banyak harta, pasti dia mendamba banyak wanita disisinya,' ucapan Papanya membayanginya. Namun dia memikirkannya kembali. Bahwa Tuan muda itu bukan seperti yang Papanya ceritakan, bahwa Tuan muda itu sangat mencintai istrinya rasa-rasanya sangat mustahil jika Tuan muda itu seperti yang Papanya ceritakan. Jatuh cinta itu tidak bisa memilih tetapi ketika cinta itu hadir pada seseorang yang tidak seharusnya dicintai maka berhenti adalah keputusan yang tepat. Berhenti dari rasa yang salah, berhenti dari buaian rasa yang indah tetapi keliru. Berhenti dari semua yang dirasakan. Iya, berhentilah.


Acara telah sampai pada pertengahan tetapi Vano tidak kunjung datang. Neva mengecek ponselnya dan tidak ada pesan sama sekali. Dia menoleh ke belakang dan mencari sosoknya tetapi tidak ada. Dia tidak datang.


'Dia membohongi ku,' ucapnya dalam hati. Dia masih terus menunggu tetapi hingga acara selesai. Seseorang yang di nanti tidak juga menampakkan diri. Kecewa? Tentu saja.

__ADS_1


"Hmm, putri cantiknya Mama sudah sarjana," Mama mencium pipinya dan memberinya bunga setelah acara selesai. Kemudian Papa, kemudian Kak Dimas.


"Hmm adik kecil. Selamat. Kak Dimas udah nyiapin hadiah lho," ucap Dimas dan memeluk Neva setelah dia memberi buket bunga.


"Terima kasih Kakak," ucap Neva. "Aku akan menolak hadiahnya jika itu murah," lanjutnya dengan tawa kecil.


"Hhaaa tidak akan, mana berani Kak Dimas memberi mu hadiah murah," jawab Dimas. Kemudian melepas pelukannya.


"Bagus," ucap Neva. Kemudian, Yuna.


"Sayang, selamat," ucap Yuna dengan memberinya boneka wisuda.


"Terima kasih Kak Yuna," ucapnya. Kemudian, dia menatap Leo dan langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Hmmm si gadis kecil sekarang sudah lulus," ucap Leo mengusap punggungnya. "Hadiah mu nanti ketika kita sampai di rumah," lanjutnya. Neva mengangguk. Namun tidak melepaskan pelukannya. "Kau menunggu seseorang?" Leo berbisik sangat pelan. Neva diam dan tidak menjawabnya. "Kau menunggu Vano?" Bisik Leo lagi. Neva masih diam dan tidak memberi jawaban. Leo menghela nafasnya dan membalas pelukan Neva padanya.


Mata Papa Alea memperhatikan Leo dan Yuna dengan seksama. Calon menantu... batinnya ketika memperhatikan Leo.


____Setelah semuanya selesai. Mama, Kak Dimas, Leo, Yuna dan Neva kembali ke rumah. Sementara Papa berbincang dulu dengan teman lamanya.


Ada sesuatu penting yang ingin dia bicarakan katanya.


Mereka cukup lama ngobrol dan berbasa-basi, hingga pada akhirnya Papa Alea mengungkapkan bahwa. Leo memiliki hubungan dengan Alea. Bahwa Leo mencintai Alea di belakang Yuna. Mereka berdua saling jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama.


"Laki-laki boleh memiliki dua cincin bukan? Tidak meninggalkan istrinya. Daripada mereka memiliki hubungan gelap, bukankah lebih baik di resmikan saja?" Ujar Papa Alea dengan meyakinkan Tuan Besar Nugraha.


Terperanjat dan sedikit shock mendengar apa yang di ucapkan oleh temannya ini. Tuan Wijaya. Namun Tuan besar segera mencerna semuanya. Dia menyesap minumannya terlebih dahulu sebelum memberikan pendapatnya. Dengan anggun Tuan besar Nugraha meletakkan cangkirnya di atas meja. Kemudian, membawa pandangan matanya kepada temannya Tuan Wijaya.


"Aku mengenal Putraku dengan baik Wijaya," ucap Tuan besar Nugraha. Dia menatap sahabatnya dengan dalam. "Dia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta. Tentang kecantikan, tentang kemolekan... putraku tidak akan tergoda dengan itu. Maafkan aku Wijaya. Aku lebih percaya tentang insting ku pada putra ku dari pada cerita mu," lanjut Tuan besar Nugraha. Dia ingat bagaimana Leo begitu tergila-gila dengan Kiara lalu hadir Yuna untuk menyembuhkan candunya. Yuna yang mampu mengubah Leo. Yuna yang begitu disayang oleh Nyonya besar dan Nona muda. Tuan besar Nugraha tersenyum menatap sahabatnya yang meniupkan asap rokok. Putrinya memiliki hubungan dengan Leo? Benarkah? Tuan besar Nugraha begitu menyayangi Yuna dia bahkan akan menghukum Leo dengan tangannya sendiri jika Leo berani menyakitinya. Kisah yang dulu, sudah cukup membuat mereka saling kehilangan. Jangan sampai menyakiti perasaan masing-masing.


"Itu terserah kamu Nugraha. Pada kenyataannya, Alea dan Lee memang memiliki hubungan," ujarnya lagi meyakinkan pada Tuan besar Nugraha.


"Wijaya... dengarkan aku. Jika kau tidak ingin hancur maka sudahi sandiwara mu. Aku mungkin tidak tega untuk menghancurkan mu karena bagaimanapun kita adalah teman. Namun tidak dengan putra ku. Jika kau berani menyinggung wanitanya maka dia akan menghancurkan mu dengan mudah bahkan lebih mudah dari pada membunuh seekor nyamuk," ucap Tuan besar Nugraha dengan penekanan dan ancaman. Sebenarnya dia tahu bagaimana watak temannya ini. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. "Jangan pernah berniat untuk masuk ke dalam rumah tangga putra ku, Wijaya. Atau kau akan benar-benar hancur," ucap Tuan besar Nugraha dengan sorot mata tajam. Tidak ada jawaban dan kata yang keluar dari mulut Tuan Wijaya, dia diam dengan mengeratkan giginya. Dia geram tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.


"Satu lagi dan harus kau ingat. Jangan sampai kau berani menyentuh menantu ku. Atau kau..," Tuan besar Nugraha membuat gerakan tangan yang memotong lehernya.


Tuan besar Nugraha tahu bagaimana Putranya. Dia akan murka jika sampai sesuatu terjadi pada wanitanya. "Kau harus ingat apa yang baru saja ku ucapkan, Wijaya."


_____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Huaaacchh 😪😴


mungkin judulnya kurang tepat ya. Thor udah terlalu ngantuk buat mikirin judul, hehee. Sorry. Mo merem dulu Yess.


Selamat membaca kesayangannya Thor. Mmuach.


Mau ngasih Like dan koment, Alhamdulillah. Nggak juga nggak apa-apa. Terima kasih... luv luv. 🥰

__ADS_1


__ADS_2