Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 317_Aku Ingin Selalu Bersamamu


__ADS_3

Mentari belum menampakkan dirinya, bulan masih terjaga dengan cahayanya. Yuna mengerjapkan matanya dan langsung disambut senyum manis dan kecupan lembut di keningnya.


Yuna langsung kembali meringkuk memeluk suaminya. "Pukul berapa sekarang?" tanyanya.


"04.30" jawab Leo. Tangannya mengusap rambut Yuna. "Mandi, sebentar lagi pagi."


"Hu'um," Yuna mengangguk. Kemudian, melepaskan pelukannya. Dia duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Apa Baby Arai sudah bangun?" tanya Yuna.


"Sudah. Aku baru saja dari bawah. Dia sudah wangi, Momm kalah dengannya," jawab Leo. Dia mencubit pipi Yuna.


"Tentu saja. Itu karena Daddy membuatku begadang," Yuna membela diri. Leo tertawa mendengar itu. "Kau sudah mandi?" Yuna bertanya sambil mencium pipi Leo. Wangi.


Kemudian, Yuna beranjak dan masuk ke kamar mandi. Dia melangkah pelan, dan terkejut karena bathub sudah disiapkan dengan gelembung sabun. Lilin-lilin kecil yang beraroma wangi, strawberry, dan sekuntum mawar.


Dia tersenyum dengan bahagia. Tuan suami yang paling manis. Batinnya.



Masih dalam keterkejutannya, sebuah tangan melingkar di perutnya. Leo memeluknya dari belakang. Mencium telinga Yuna dan berbisik ....


"I love you."


Senyum merekah menghiasi bibir Yuna, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Tangan kanannya terangkat dan mengusap pipi Leo. Kemudian dia membalik badannya. Tangannya melingkar di leher kokoh Leo.


"Aku sangat-sangat mencintaimu, sangat," jawab Yuna dengan debaran pada jantungnya. Leo tersenyum, tangannya menyingkirkan selimut yang Yuna pakai untuk menutupi tubuhnya hingga selimut itu terjatuh di lantai. Pahatan surga yang begitu indah dan menawan memanjakan matanya, menguasai pikirannya, membuatnya terjerat dan terkurung dalam kegilaan. Kemudian, Leo menunduk dengan anggun. Dia mencium bibir Yuna dengan lembut tetapi dalam. Lalu mengangkat Yuna dan membawanya masuk kedalam bathub. Mereka bercumbu dengan romantis.


Yuna membuka baju Leo yang telah basah lalu meletakkannya di lantai. Yuna dengan anggun mengambil satu buah strawberry lalu memberi suapan pada Leo.


"Sayang ini asam," ucap Leo mengomentari rasa strawberry. Sebelum Yuna sempat untuk menjawabnya, Leo segera melanjutkan. "Bagaimana jika ganti saja dengan bibir mu yang manis."


Yuna tersipu, "Kata-katamu semakin liar ," ujar Yuna.


"Tapi kau suka kan?" goda Leo. Yuna langsung membuat cipratan air ke wajah Leo.


"Kau memang sangat nakal Tuan suami," ujarnya dengan terus mencipratkan air dan gelembung sabun pada Leo.


Leo tertawa kecil sambil membersihkan gelembung sabun yang mengenai wajahnya. Lalu tangannya menarik halus Yuna, membuat Yuna duduk di pangkuannya.


"Aaaaa," Yuna memekik.


"Sttttt," suara seksi Leo membelai telinganya.


Yuna memejamkan matanya sesaat menikmati sentuhan nafas dan kecupan halus Leo pada telinga, leher dan pundaknya.


"Sayang, sebentar lagi pagi," ujar Yuna menahan gelora yang mulai bangkit dalam dirinya. Dia membuka matanya. "Sayang, hentikan. Sebenarnya lagi pagi," ujarnya lagi. Leo menurut, dan tidak membuat kecupan dimanapun.


Kemudian, Leo mengambil spons halus. "Biarkan aku menggosok punggungmu," ucap Leo. Yuna mengangguk. Dengan perhatian Leo menyabuni Yuna.


"Hmm, sekarang gantian. Biar aku yang menggosok punggungmu," ucap Yuna setelah Leo selesai menyabuninya.


"Ok," jawab Leo. Dia mengubah posisinya menjadi membelakangi Yuna.


Pelan, tangan Yuna mulai menggosok punggung Leo. Dia melakukannya dengan sangat lembut. Namun kemudian tangannya terhenti. Dia meletakkan spons itu pada tempatnya. Matanya memperhatikan punggung Leo dengan sedih.


"Apa ini sakit?" jari Yuna menyentuh dan mengusap bekas operasi di punggung Leo dengan pelan dan hati-hati. Hatinya ngilu dan berubah menjadi begitu khawatir. Dia ingat sebuah kekhawatiran dalam hatinya malam itu, malam sebelum keberangkatan Leo keluar negeri. Di bawah instrument yang mendayu penuh perasaan, kekhawatiran tiba-tiba saja muncul dan menggenggam hatinya. Mungkin kecelakaan Leo adalah jawaban dari perasaan yang tiba-tiba muncul malam itu.


Leo meniup gelembung sabun ditangannya, dia tersenyum tipis.


"Tidak," jawabnya kemudian. Saat ini memang tidak terasa sakit, tetapi sejujurnya beberapa jam yang lalu dia merasakan nyeri pada tulang punggungnya. Rasa nyeri yang belakangan lebih sering ia rasakan.


Yuna menunduk dan mencium punggung Leo. Menempelkan bibirnya pada bekas operasi itu. Kemudian, kedua tangannya melingkar di perut Leo dan ia menyandarkan kepalanya dipunggung. Pipi kanannya menempel pada punggung itu.

__ADS_1


"Pantas saja kau begitu kurus saat kembali dari luar negeri," ujar Yuna pelan tetapi jelas.


"Itu karena aku merindukanmu," jawab Leo dengan senyum kecil dibibirnya. Tangan kanannya memegang tangan Yuna yang ada di perutnya.


"Pembohong," Yuna cemberut.


Leo terkekeh, "Kenapa menyebutku pembohong?"


"Apa yang kau sebut rindu itu tidak mau mengabariku? Tidak ingin menelponku? Pura-pura sibuk, menyembunyikan keadaanmu, menolak berbicara denganku dan ... yaahh kau tahu sendiri apa yang kau lakukan saat itu."


"Itu karena aku mengkhawatirkanmu sayang. Kau tengah mengandung, aku tidak ingin kau khawatir dan cemas," Leo menjelaskan maksudnya.


"Tapi kau malah semakin membuatku cemas dalam seluruh waktu yang ku lalui," jawab Yuna pasti. Dia tidak suka Leo menyembunyikan keadaannya.


"Aku minta maaf," ucap Leo.


"Jangan ulangi lagi," sahut Yuna galak.


"Baik," Leo menjawab dengan patuh.


"Jangan kenapa-kenapa lagi."


"Baik."


"Kau harus selalu baik-baik saja."


"Baik."


"Jangan pernah sembunyikan apapun dariku."


"Baik."


"Sekecil apapun itu, kau harus jujur padaku," pada kalimat ini, Yuna menekan ucapnya.


"Baik."


"Tidak bisa. Harus bermain," jawab Leo pasti.


"Aaaaa ... kenapa kau teliti," Yuna tertawa dan mengeratkan pelukannya. Leo tertawa karena lolos dari jebakan Yuna.


"Aku bahkan siap jika harus bermain sekarang."


"Ummm ... kita harus segera turun," kilah Yuna.


"Tapi kau yang menggodaku sayang," Leo sedikit menggerakkan punggungnya. Sesuatu yang kenyal dan menggairahkan begitu terasa dipunggungnya.


Yuna tersenyum lebar. Lalu melepaskan pelukannya. "Tahan sampai nanti malam," ujar Yuna dengan senyum. Dia beranjak.


"Nyonya penggoda," kata Leo. Dia menangkap tangan Yuna.


"Sayang, Baby kita menunggu dibawah," Yuna menatap Leo. Leo mengangguk dan melepaskan tangannya. Kemudian, Yuna keluar dari bathtub dan membersihkan dirinya dibawah shower. Leo diam memperhatikan Yuna dari tempatnya.


"Aku ingin selalu bersamamu." ucap Leo dalam hati.


Setelah selesai membersihkan diri, Yuna segera memakai jubah handuknya.


"Sayang buruan, ayo kebawah," ucap Yuna. Dia mendekat ke arah Leo dan menunduk. "Muach," Yuna mematuk bibir Leo singkat lalu berjalan ke keluar kamar mandi.


_________


Yuna baru saja melepas ASI-nya. Dia meletakkan Baby Arai dalam box bayi dengan sangat hati-hati. Gerakan hati-hatinya, tetap saja membuat anaknya menggeliat. Yuna menepuk-nepuk paha Baby Arai dengan lembut, agar baby-nya kembali terlelap.

__ADS_1



Tak lama Leo datang dan mengacaukan segalanya.


"Selamat pagi sayang, tampannya Daddy," Leo mencium tangan anaknya. Kemudian dia menggenggamnya. "Bangun dong sayang," ucapnya. Lalu langsung menghujani anaknya dengan ciuman manis. Pipi gembul Baby Arai sangat menggemaskan.


Yuna menepuk bahu Leo. "Jangan ganggu, dia baru saja tidur."


"Biarlah," Leo dengan keras kepala masih mengganggu anaknya. Dia menciumi Baby Arai bertubi.


"Eeeee," bibir mungil merah muda itu terbuka dan mengeluarkan suara imutnya. Dia menangis sebentar tapi kemudian kembali tidur.


Leo terkekeh melihat kelakuan anaknya. Dia kembali menciuminya lagi. Kali ini dengan gerakan halus jarinya pada telapak kaki Baby Arai. Merasa kegelian, kaki Baby Arai menendang dan berusaha untuk menghindar tapi Leo sangat jahil, dia terus saja menggoda anaknya. Hingga Baby Arai benar-benar membuka matanya.


"Baaa ... si ganteng bangun kan," Leo langsung mengambil anaknya dari box bayi dan memangkunya. Baby Arai sudah bisa melihat, mereka berdialog dengan manis.


"Huuu, paaaa, aaa," bibir mungil itu mengeluarkan suara. Leo dan Yuna tersenyum lebar.


"Apa? Momm cantik?" kata Leo pada baby-nya. "Kau sangat pintar kawan. Momm memang sangat cantik. Oke, kita toss," lanjut Leo dan langsung menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan Baby Arai. Yuna tertawa melihat itu.


_______________________


Catatan Penulis πŸ₯°


Ada pertanyaan dari Readers.


Ayu.


Ka Nas terinspirasi membuat cerita SC ini dari mana? kenapa makin kesini makin seruuu😫😍


#tanya Ka Nanas (Author)


Jawab.


Ceritanya ngalir aja sih, sambil dengerin musik dan jari-jari mulai menari. Jika ditanya tentang inspirasi maka jawabannya adalah musik.


Dan yang pasti sebuah bakat dari Allah yang maha pemurah.


Dini


babang leo mau jadi selingkuhan ku ga?? atau ga vano gapapa


#tanyaleo#tanyavano#tanyakananas


Jawab.


Leo, "Tidak akan."


Vano, "Hahaa pertanyaanya lucu. Emm aku tidak akan selingkuh."


Eka.


"Neva kapan mau terima ajakan nikah Bang Vano? Kalau nolak terus tak tikung lho." 😎


#TanyaNeva


Jawab.


Neva, "Aku masih harus kuliah Kak. Dan lagi ... siapa yang berani nikung tunangan aku?" 😎


Silahkan buat temen-temen yang ingin juga bertanya. Bisa langsung pada kolom komentar atau diGC. Akan ada tiga komentar terpilih yang akan aku Up. Jangan lupa sertakan tagar. #Tanya

__ADS_1


Boleh koment lebih dari satu. Jadi, komentar tentang Bab hari ini dan Pertanyaan, silahkan dipisah πŸ₯°πŸ™ Okey. Tengkyu luv


Jangan lupa, like koment ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ˜˜


__ADS_2